
Sebuah mobil berwarna hitam mengkilat, memasuki halaman rumah bu Aminh. Setelah tepat berada di depan pintu utama, mobil itu pun berhenti.
Jegleg. Suara pintu mobil yang dibuka.
Keluarlah seorang pria yang mengenakan celana panjang dan kaos oblong berwarna hitam.
Mba Airin dan bu Aminah yang sudah menunggu kedatangan mereka, langsung mendekat kerah mobil.
"Assalamu'alaikum, bu, mba...." sapa pria itu.
"Wa'alaikumus salam...." jawab keduanya.
Setelah berbasa basi sebentar, pria itu membuka pintu mobil yang sebelahnya lagi.
Dan terlihatlah Zea yang sedang duduk di sana. Yap, pria itu adalah Arka.
"Ayo sayang....."
Zea yang merasa pusing hanya diam saja, tidak menaggapi.
Arka pun membantu Zea turun dari mobil dengan sangat hati-hati. Lalu membawanya ke kamar mereka.
Zea duduk bersandar di sandaran ranjang.
"Mamah...." teriak Aira, dengan langkah kecilnya.
"Hai sayang...." sapa Zea.
"Maaf ya Ze, Airanya maksa...." jelas mba Airin yang berada di belakang Aira.
"Ia ngga papa mba..."
"Kangen banget ya sama mamah?" tanya Arka sembari membopong Aira.
"Ia..."
"Kalo sama papah kangen ngga?"
"Kangen...."
"Itu, kepala mamah kenapa?, ko ada putih putihnya?" tanya Aira dengan wajah bingungnya.
"Ini namanya perban sayang, kan kepala mamah luka, jadi harus di perban...." jelas Zea.
"Ohh gitu ya mah?"
"Ia sayang, sini mau peluk mamah ngga?"
Rasa pusing yang sedari rumah sakit dirasa Zea, kini hilang ntah kemana setelah melihat sang anak.
Aira menatap papahnya, seolah meminta persetujuan.
"Boleh sayang, tapi jangan pegang kepalanya ya..."
"Ia pah..."
Arka menurunkan Aira dari bopongannya. Lalu menaruhnya di atas kaki Zea yang sedang berselonjoran.
Zea dengan gemas memeluk Aira.
"Hem sayangnya mamah udah mandi ya, siapa yang mandiin?, oma atau bude?"
"Bude..."
"Ia, sekalian sama Alisa..." timpal mba Airin.
"Terimakasih ya mba, udah mau ngurusin Aira selama aku dirumah sakit...."
"Ia, sama-sama, udah kamu jangan khawatir, selama kamu belum sembuh total biar mba sama ibu yang ngurus Aira....."
"Terima kasih ya mba, semoga Alloh membalas kebaikan mba Airin sama ibu..."
"Amin, ya udah mba mau keluar ya..."
"Ia mba...."
Sepeninggalan mba Airin, Zea, Arka dan Aira bercanda ria. Mengobati rasa rindu yang sudah menggebu.
............................ .........
__ADS_1
Bintang dan bulan seolah berlomba sinar siapa yang paling memikat mata manusia, di gelapnya langit malam.
Suara jangkrik dan binatang nokturnal lainnya, seolah menjadi lagu pengantar tidur yang mengalun merdu.
Manusia manusia yang kelelahan sebahis seharian bekerja, sedang terlelap di kamarnya.
Namun ada beberapa manusia yang sedang bersimpuh, dibawah plafon kamarnya, memohon ampunan atas banyaknya dosa yang telah ia perbuat selama hidupnya. Dan juga memohon untuk dilapangakan hatinya, untuk menerima semua ujain yang diberi sang penciptanya.
"Mas....." lirih seorang perempuan, memanggil suaminya.
"Ia sayang...." jawab halus sang suami setelah menyudahi do'anya.
"Sini...." menepuk kasur disamping yang kosong.
Sang suami pun menurut. Ia melepas sarungnya, lalu naik ke atas ranjang dan berbaring di samping istrinya.
"Mas...."
"Ia, kenapa?"
"Kemaren bayar rumah sakitnya pakai uang siapa?"
"Kan pakai BPJS..." jawab sang suami.
"Jangan bohong mas, mana bisa pakai BPJS, kan harus ada rujukan dulu dari puskesmas, kalo mau pakai BPJS...."
Memang setau sang istri jika ingin berobat menggunakan BPJS harus ada surat rujukan dari puskesmas terlebih dahulu, baru dilayani.
"Beneran mas ngga bohong, kan keadaan kamu waktu itu gawat darurat, jadi ngga perlu surat rujukan dari puskesmas...." jelas sang suami.
"Emang ia mas?"
"He'em..."
"Alhamdulillah, terus uang buat makan mas?"
"Kan mas masih punya sedikit uang di kartu ATM...."
"Ohh...."
"Sayang...."
"Ia..."
"Emang mas mau kemana?"
"Mas mau interview, disalah satu perusahaan milik sahabat baiknya almarhum ayah..."
Natah kenapa, sang istri merasa kurang setuju dengan ide sang suami yang akan bekerja di perusahaan sahabat ayahnya, itu.
"Mas yakin?"
"Ia, udah dari tiga hari lalu mas disuruh interview, tapi karena kamu belum boleh pulang, mas minta perpanjangan waktu sampai kamu diperbolehkan pulang...."
"Tapi kata mas, mau bikin toko?, nggak jadi?"
"Uangnya buat yang lebih penting dulu ya, kaya su*u untuk Aira, kamu ganti perban dan kontrol..."
"Kan orang kerja ngga langsung di bayar sayang, nunggu satu bulan dulu baru dibayar...." jelas sang suami.
Dengan sedikit keterpaksaan di hati, akhirnya sang istri menerima keputusan suaminya, untuk bekerja di kantor milik sahabat ayah mertuanya.
"Ya sudah kalo itu sudah jadi keputusan mas, Zea hanya bisa do'a in agar apa yang mas usahakan itu, dilancarkan oleh Alloh.... "
"Amiin, udah sekarang tidur lagi, baru jam setengah tiga tuh..." titah sang suami.
"Ia mas..."
******
Semburat merah di ufuk timur sudah mulai terlihat, pertanda matahari akan segera keluar dari persembunyiannya.
Para ibu-ibu rumah tangga, dan asistennya sudah sibuk berperang dengan wajan dan kompor, di dapur, demi menyiapkan sarapan untuk suamin dan anaknya.
Namun berbeda dengan Zea. Dia masih terlelap dalam tidurnya. Sementara Arka sudah sibuk mengurus Aira. Dari memandikan hingga memakaikan minyak telon dan bedak bayi.
Harum khas bayi menyeruak masuk kedalam hidung Zea, membuatnya terusik.
"Mas...." panggilnya setelah membuka mata.
__ADS_1
"Pagi sayang...." sapa Arka.
"Pagi mas..."
"Pagi mah...." sapa Aira.
"Pagi sayang, baru mandi ya?"
"He'em"
"Siapa yang mandiin, papah atau bude?"
"Papah...."
"Ohh, maaf ya sayang, mamah belum bisa mandiin kamu lagi...."
"Ia mah, kata papah, nanti kalo mamah udah sembuh, pasti mandiin dan main sama Ai lagi..."
"Ia sayang..."
"Ya sudah, Ai main sama bude Airin dan mba Alisa ya...." sela Arka.
"Ia pah, tapi Ai mau sayang mamah dulu...."
Arka mendekatkan Aira kearah Zea.
Cup. Aira mengecup pipi kanan Zea.
"Ih, mamah kan masih bau acem...." seloroh Arka.
"Ngga, mamah wangi" bantah Aira.
"Masa, kan mamah belum mandi dan sikat gigi" ucap Arka tambah menggoda.
"Papah jahat" rajuk Aira.
Zea hanya tertawa melihat tingkah suami dan anaknya itu.
"Mas, udah jangan digodain terus Ai nya...." lerai Zea.
"Ia ia, ya sudah mas mau ngantar Ai ke kamar mba Airin dulu ya...."
"Ia, jangan nakal ya sayang...."
"Ia mah...."
Arka pun pergi dari kamar itu dengan membopong Aira.
*************
"Sayang...." panggil Arka, setelah kembali dari kamar mba Airin.
"Ia mas...."
"Ayo mas bantu, ke kamar mandi dulu....."
"Ia...."
Arka pun membantu Zea ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Terimakasih ya mas...." ucap Zea, sekembalinya dari kamar mandi.
"Ia sayang...."
"Maaf juga, aku ngga bisa siapain pakaian...." tubuh Zea membeku, kala Arka mendaratkan ciuman di pipinya.
"Suttt udah, jangan minta maaf terus"
Kemudian Arka memegang kedua belah pipi Zea. Menuntunnya agar melihat kearahnya.
"Sayang mas mohon, kamu jangan minta maaf terus ya. Setiap kali kamu minta maaf, rasa bersalah ini semakin bertambah...."
Zea hanya mengangguk. Selanjutnya, Arka merengkuh Zea kedalam pelukannya.
"Udah, sekarang mas mau ambilin sayang, sarapan" mencubit gemas, hidung Zea.
"His, sakit tau mas" sewot Zea.
"Hehehe...." kekeh Arka sembari berjalan menjauh.
__ADS_1
"Terimakasih ya Alloh, Engkau telah memberikan hamba suami dan anak yang baik, serta menghadirkan orang-orang baik, di hidup hamba...." syukur Zea.