
Setelah di lakukan serangkaian pemeriksaan oleh dokter ternyata Zea pingsan karena kelelahan. Padahal dari pagi tak ada hal berat yang Zea lakukan. Semakin aneh saja.
"Kenapa mas bilang aku pingsan?" Zea kembali bertanya.
"Kamu memang pingsan, mana ada orang tidur tapi sama sekali nggak gerak selema berjam-jam?"
Hufttt, Zea menghela nafas.
"Tadi pagi mas dan semuanya ke mana, ko nggak ada di rumah?"
Arka pun menceritakan kemana perginya semua orang tadi pagi.
Tadi pagi ada peristiwa yang mengejutkan para warga. Dimana ada makam seorang bapak haji yang baru meninggal satu minggu yang lalu, makam itu seperti bekas digali. Batu nisannya tidak ada di tempatnya, tanah yang seharusnya menggunduk menjadi rata.
Para warga pun heboh mendengar berita itu, sehingga mereka berbondong-bondong mendatangi pekuburan yang ada di ujung komplek mereka demi melihat makam itu. Termasuk Arka, bu Aminah, mba Airin serta para asisten rumah tangganya.
Dan ternyata memang benar, makam itu seperti bekas di galih. Setelah diadakan perundingan dengan Rt Rw serta keluarga almarhum, akhirnya makam itu di bongkar.
Warga tambah tercengang ketika melihat isi didalamnya. Mayat yang sudah mulai busuk itu, tak lagi terbungkus kain kafan. Tercecer begitu saja di bawah kayu 'jrujug'. Kain kafanya hilang ntah kemana.
Desas desus pun terjadi. Kisah lama yang sudah terlupakan kembali menjadi bahan pembicaran hangat di masyarakat.
Dulu saat pak haji itu masih berjaya, ada salah seorang warga yang sedang buang air besar di sebuah 'rerempunan' bambu saat menjelang maghrib, warga itu bertemu dengan seorang anak kecil yang hanya mengenakan celana **** saja tanpa kaos.
Warga itu pun bertanya pada si anak kecil, siapakah dirinya?. Anak kecil itu mengaku sebagai anak dari pak haji. Warga itu bisa menyimpulkan, bahwa anak kecil itu bukanlah manusia. Setelah mendapat jawaban, sang warga membiarkan anak kecil itu pergi.
Maka tak heran, bila sekarang kain kafan pak haji hilang diambil orang. Karena warga masih percaya, bahwa kain kafan seseorang yang pernah melakukan pesugihan atau penglarisan, kain kafanya sering dicuri untuk melakukan hal seperti itu lagi oleh orang lain.
Maka dari itu biasanya jika ada orang yang sebelum meninggalnya melakukan pesugihan dan semacamnya, biasanya setelah meninggal makamnya akan dijaga selama 40 hari, untuk menghindari hal seperti ini. Namun ntah kenapa makam itu tidak dijaga.
"Astaghfirullah hal azim...." Zea beristighfar, setelah mendengar cerita dari suaminya.
"Mas punya foto bapak haji itu?"
"Nggak, memang kenapa?"
"Nggak papa, cuma tadi...."
Zea pun menceritakan 'mimpi' aneh yang dialaminya.
"Kayanya orang yang seolah minta tolong itu, beliau deh mas...."
"Udah jangan su'udzon, nggak baik. Biar pun memang benar jika beliau melakukan hal seperti itu, biarlah itu menjadi tanggang jawab beliau sendiri. Tugas kita hanya mendo'akan agar dosa beliau di ampuni....."
"Amin...."
"Mau minum?"
"Ia..."
Setelah itu Arka melayani istrinya dengan senang hati.
..........................................
Waktu begitu cepat berlalu. Sudah satu minggu sejak Zea pingsan.
__ADS_1
Keluarga kecil itu juga sudah kembali lagi kerumah mereka. Pembangunan toko juga sudah dimulai. Dan kondisi Zea juga semakin membaik, walaupun masih harus kontrol rutin dua minggu sekali. Butik Zea juga semakin maju. Dan si kecil Aira sudah bertambah pintar.
"Pagi mba Zea....." sapa mba Kia.
"Pagi...."
"Mba mau buka toko apa?" tanyanya kepo.
"Liat aja nanti....."
Seperti biasa, para ibu-ibu pun turut berkumpul di rumah Zea.
Mereka juga sedang kepo-keponya, toko apakah yang akan Zea bangun?. Namun Zea masih saja tidak menjawab dengan jujur. Pasalnya ia percaya jika sesuatu masih di niatkan dan belum terjadi itu pamali untuk di sebar luaskan. Karena takut ada orang yang tidak suka dengan kita dan orang itu mendo'a kan yang buruk-buruk.
"Itu kepalanya masih sakit nggak mba Ze?" tanya bu Rt.
"Masih bu...."
"Maaf ya mba Ze, kemaren kita nggak jengukin sampean di rumah sakit...."
"Nggak papa bu, lagian juga nggak boleh banyak-banyak yang jenguk..."
"Ia sih...."
"Eh mba Ze, emang mba punya butik ya?"
"Hehe, Alhamdulillah bu...." jawab Zea.
"Wah benarkah, berati kalo aku belanja baju di butik kamu bisa dapat diskon dong Ze?" timpal mba Kia.
"Ia ia nggak papa, siapa tau mau beli gamis buat arisan ya kan bu-ibu?"
"Ia...." jawab semuanya.
"Assalamu'alaikum....." ucap seorang wanita yang membawa toples besar di kedua tangannya sembari 'mengemban' anak kecil lelaki di sebelah kirinya.
"Wa'alaikumus salam...." jawab semuanya.
"Mari mba duduk..." titah Zea.
Wanita itu pun menurut. Dia meletakan dua toples besar bawaannya di teras rumah Zea, kemudian ia juga menurunkan sang anak lelakinya.
"Mba jualan apa saja?" tanya Zea.
"Ini mba, ada arem-arem, tahu brontak, tahu mercon, tahu bakso, komplit pokonya, jajanan pasar juga ada...." jelas wanita itu.
"Sayang mau beli apa?" tanya Zea pada Aira, yang sedang asik bermain tanah dicampur air bersama Bimo, anaknya mba Kia.
Aira segera mendekat. Kemudian ia melongok isi toples yang telah dibuka oleh pemiliknya.
"Mau itu...." menunjuk arem-arem.
"Sama apa lagi sayang?"
"Sama itu..." menunjuk tahu telor.
__ADS_1
"Sudah?"
"Sudah..." berlari kembali ke arah Bimo.
"Ibu-ibu nggak ada yang mau beli?" tanya Zea pada ibu-ibu itu. Pasalnya mereka hanya melihat saja, tanpa memilih.
"Enggak mba...."
"Oh ya sudah. Ini semua saya beli ya mba..." ucap Zea pada penjual itu.
"Beneran mba?" tanya wanita itu tak percaya.
"Ia mba, ayo dihitung...."
"Massyaallah, terimakasih mba. Semoga Allah membalas kebaikan mba....."
"Amin. Besok mba lewat sini lagi ya...."
"InsyaAllah mba..." sembari mewadai semua makanannya.
Kegiatan transaksi pun telah usai. Wanita penjual makanan keliling itu pun sudah pergi dari rumah Zea.
"Ze, kamu nggak tau ya, siapa itu?" tanya mba Kia.
Zea menggeleng.
"Dia itu mantan *e*a*u* mba. Maka dari itu kami tidak ada yang mau membeli dagangnya..." terang bu Rt.
Zea kembali menggelengkan pelan kepalanya. Zea tak habis fikir dengan para tetangga.
"Memangnya kenapa kalo mba itu mantan *e*a*u*?"
"Ya gimana ya mba jelasinnya...."
"Hemm, seharusnya kita itu mendukung mba itu untuk jadi lebih baik lagi, bukan malah mengucilkannya. Allah itu lebih sayang pada umatnya yang pernah berbuat dosa lalu mengakuinya dan mengaku salah, kemudian bertaubat. Dibanding dengan para ulama yang tidak merasa punya salah dan merasa dirinya paling benar....."
Semua ibu-ibu terdiam di tempatnya.
"Sudah, silahkan dimakan....." membuka plastik berisi gorengngan yang tadi di belinya.
Dengan semangat, ibu-ibu itu mencomot satu persatu gorengan itu hingga tersisa satu. Zea hanya bisa tersenyum, melihat tingkah ibu-ibu itu.
Padahal tadi nggak ada yang tertarik untuk membeli, eh giliran geratisan mereka sampe berebut untuk mendapatkannya.
Zea membawa keresek berisi arem-arem dan nasi bakar ke dalam rumah. Rencananya akan ia berikan pada tukang yang sedang membangun totoknya, nanti.
"Mamah, Ai mau makan arem-arem nya...." ucap Aira saat dirinya baru kembali dari dalam.
"Ia, cuci tangan dulu yang bersih ya...."
"Siap mamah..."
"Ayo mas Bimo juga cuci tangan....." titah Zea.
Dengan semangat, Bimo meninggalkan mainannya dan menyusul Aira untuk cuci tangan.
__ADS_1