
"Ko mas langsung iya iya aja sih, kan aku belum tau uangku cukup apa ngga..." protes Zea.
Cup.
Arka mengecup pipi istrinya.
"Aku ini suamimu Ze, apa salahnya mengabulkan keinginan istri?"
"Tapi mas, kamu aja sedang kena musibah..."
"Sutt, insyaallah mas masih punya cukup uang untuk membeli tanah itu...."
Zea jadi merasa tak enak hati.
"Emm, gimana kalo kita patungan aja?"
"Ngga, uangmu kamu simpan saja...."
"Tapi...."
"Ngga nerima penolakan, udah sekarang kamu mandi sama mandiin Aira, udah asar mas mau ke masjid dulu, assalamu'alaikum...." memberikan Aira.
"Wa'alaikumussalam...." menerima Aira.
Setelah itu Zea segera mandi sekaligus memandikan Aira.
....................................
"Kamu siap-siap yang...."
"Siap-siap kemana mas?" bingung Zea.
Bagaimana Zea tidak bingung, pulang-pulang suaminya langsung menyuruh untuk bersiap-siap.
"Kita jalan-jalan...."
"Oh...."
"Udah sana siap-siap...."
"Ia-ia, ayo Ai...."
Tanpa banyak tanya lagi, Zea segera mengambil alih Aira, yang berada di gendongan papahnya, untuk mengganti bajunya.
.........................
Sampailah mereka di alun-alun kota.
Suasana alun-alun sudah ramai di penuhi para muda mudi yang ingin menghabiskan malam Minggunya, bersama pacar ataupun teman.
Para pedagang juga sudah mulai menjajakan dagangannya. Menawari para pengunjung alun-alun.
"Ayo yang..."
"Ia mas...."
Arka mengajak Zea mengelilingi alun-alun, dengan dia yang mengemban Aira.
"Mas kita ke sana yu...." menunjuk penjual topi.
"Ayo...."
Arka menuruti kemauan sang istri.
"Cantik kan mas?" tanya Zea, setelah memakaikan topi rajut berwarna pink di kepala Aira.
"Ia..."
Arka tidak berbohong, karena topi itu memang begitu pas di kepala Aira, dan semakin menambah kesan lucu dan imut pada diri Aira.
"Yang ini pak...."
"30 ribu mba...."
Zea yang akan mengambil uang di dalam tas slempangnya kalah cepat dengan Arka.
"Ini pak...." menyerahkan uang lima puluh ribuan.
"Kembaliannya buat bapak aja...." lanjut Arka.
"Beneran mas?"
"Ia pak...."
"Terima kasih mas...."
"Ia pak sama-sama, mari...." pamitnya.
"Ayo yang...." menggandeng tangan Zea.
Merekapun meneruskan untuk berkeliling.
"Au" lirih Zea yang merasakan sakit di perutnya.
__ADS_1
"Kenapa yang?" panik Arka.
"Perutku melilit...."
"Apa kamu tadi ngga makan siang?"
Zea menggeleng.
"Ya sudah kamu tunggu di sini sebentar" ucap Arka sembari berlalu pergi.
Peluh sebesar biji jagung, turun membasahi dahi Zea. Tanda begitu sakit yang dia rasa.
"Makan ini dulu...." menyerahkan satu bungkus roti dan air mineral.
Zea langsung menerimanya lalu memakannya.
"Kenapa kamu ngga bilang kalo belum makan siang?"
"Hehehe, aku aja lupa kalo aku belum makan..." jawab Zea.
"Hem...." mengelus kepala Zea.
"Is mas, nanti jilbabnya jadi berantakan...." protes Zea.
Arka malah semakin gemas melihat tingkah Zea.
"Papah, jangan, kasian mamah...." ucap Aira.
"Hehehe, ia ia, ini udah..."
Kumandang azan maghrib terdengar di seluruh penjuru alun-alun.
"Alhamdulillah sudah maghrib..."
"Ayo ke masjid dulu..."
"Ia...."
..................................
"Sayang kamu duduk di sini ya, jangan ganggu orang yang lagi solat, tunggu mamah selesai ok?"
"Ia mah...."
"Ok pinter..."
Zea pun solat.
.......................
"Hehehe....."
"Ya udah ayo kita ke papah..."
Kemudian Zea membopong Aira, keluar masjid.
"Hai sayang-sayangnya papah...." sapa Arka.
"Hai papah...." jawab Zea.
"Sini sama papah...."
"Nda mau" tolak Aira.
"Mau cama mamah"
"Udah mas ngga papah..."
"Ya sudah, sini tasnya, biar mas yang bawa..."
Zea menyerahkan tas selempangnya.
"Ya udah, ayo kita makan...."
"Ia..."
Mereka berdua berjalan menuju warung bakso.
Di sepanjang perjalanan, Arka dan Zea terus mengobrol. Sesekali mereka juga menggoda Aira.
Bruk.
Ada seseorang wanita yang menabrak Zea. Aira yang terhimpit badan wanita itu langsung menangis.
"Kalo jalan pke mata dong" sinis wanita itu.
Saat wanita itu bicara, tercium jelas bau alkohol yang khas, keluar dari mulutnya. Sudah di pastikan dia mabora.
Zea tak menanggapi ucapan wanita itu, dia sibuk menenangkan Aira.
"Ternyata kamu masih tetap sama dengan yang dulu, selalu melimpahkan kesalahan kepada orang lain" ucap Arka dingin.
Wanita itu langsung beralih menatap Arka.
__ADS_1
Sekian detik, wanita itu terpaku di tempatnya.
"Mas Arka"
"Apa kabar mas, aku kangen...." bergerak untuk memeluk Arka.
Bruk,
Dengan kasar Arka mendorong wanita yang akan memeluk dirinya itu, hingga wanita itu terjatuh.
"Kamu ngga kangen sama aku mas?" tanya wanita itu dengan mimik wajah yang dibuat sedih.
"Padahal aku kangen banget sama kamu mas, ternyata kamu benar, lelaki itu tak sebaik dirimu..." lanjut wanita itu dengan air mata buaya.
Arka hanya diam saja, membiarkan wanita itu menjalankan dramanya.
"Itu pasti anak kita kan?" menunjuk Aira.
Wanita itu mendekati Zea dan Aira.
"Hai sayang, ini mamah...." menyapa Aira.
Aira malah sekain menangis.
"Sini, berikan anak saya....." membentak Zea.
Semakin kencanglah Aira menangis. Dia ketakutan, karena bentakan wanita itu. Pasalnya selama ini tidak ada yang meninggikan suara apalagi membentak bila di hadapan Aira.
"Mohon maaf mba, tapi Ai nya ngga mau...." jawab Zea halus.
"Diam kamu, cuma suster ko belagu ngatur saya"
"Cukup Shiren, jangan kamu rendahkan istriku" bentak Arka.
Yap, wanita itu adalah mamah kandung Aira. Shiren.
"Hahah, dia istrumu mas?, apa seleramu sudah berubah, bagimana mungkin seorang Arka menyukai seorang wanita yang tubuhnya kaya triplek, rata depan dan belakangnya?"
Zea sama sekali tidak marah ketika di bilang tubuhnya mirip triplek. Baginya terserah saja orang lain mau menelai seperti apa, yang terpenting hanya suaminya lah yang bisa menikmati keindahan tubuhnya.
"Apa maumu?"
"Maafkan aku mas, aku ingin kembali merajut cinta denganmu...."
Zea benar-benar terkesima dengan cepatnya perubahan mimik wajah dan suara dari wanita itu. Yang tadinya marah-marah kini menjadi sedih dengan suara mendayu.
"Kita mulai dari awal, dengan membesarkan anak kita bersama...."
Arka tak menggubris ucapan wanita itu. Dia menggandeng tangan Zea lalu mengajaknya pergi.
"Mas Arka aku belum selesai bicara..." teriak wanita itu.
Arka tak peduli, dia terus melangkahkan kakinya, menjauh.
"Liat saja mas, aku tidak akan membiarkan hidupmu tenang...." guman wanita itu.
"Au kepalaku" guman Shiren sempoyongan.
..............................
Kini ketiganya duduk lesehan di warung bakso pojok kiri alun-alun.
"Mau bakso urat atau bakso apa yang?"
"Bakso urat" jawab Zea, singkat.
"Ok...."
Arka segera memesankan baksonya.
"Sayang tadi sekalian tak pesankan minumannya, es jeruk, ngga papa ya...."
"Ia" sibuk bermain dengan Aira.
"Kamu kenapa yang?" tanya Arka yang baru menyadari perubahan istrinya.
"Ngga papa"
"Silahkan mas mba...." ucap pelayan, sembari menaruh pesanan bakso dan muniman di meja mereka.
"Terima kasih mas...." jawab Zea.
"Ia mba sama-sama..."
Dengan cueknya Zea segera menyuapi Aira bakso.
"Enak sayang?" tanyanya.
"Ia, enak...." jawab Aira sembari mengacungkan satu ibu jarinya.
Emuach...
Dengan gemas, Zea mencium pipi Aira.
__ADS_1
Huuffttt, Arka yang merasa di cuekin hanya bisa menghela nafas berat.