Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 19.


__ADS_3

"Srlurt..."


Arka meminun tehnya sedikit demi sedikit.


"Duduk sini yang...." menyuruh Zea duduk di dekatnya.


Zea menurut.


Arka menuntun kepala Zea agar menempel di dadanya.


"Peluk mas yang...." suruhnya lagi.


Zea kembali menurut.


Zea memeluk tubuh suami nya dari samping kanan dengan kepala yang masih nempel ke dada Arka.


Tangan kanan Arka mengelus pelan kepala Zea yang tertutup jilbab.


"Huftt...." Arka menghela napas panjang, sebelum menceritakan kondisi lahannya.


"Pohon cabai mas hangus terbakar tanpa sisa Ze...."


"Innalillahi....." ucap Zea.


Kamudian Arka menceritakan sebab musababnya pohon cabainya bisa terbakar


"Ya sudah, ga papa mas, namanya juga musibah....."


"Tapi yang, hasil panen cabai itulah yang nantinya akan mas gunakan uantuk membayar resepsi pernikahan kita...."


"Resepsi ngga penting buatku mas, yang penting itu mas selalu ada di dekatku...." mulai menggombal.


"Di ajarin siapa ko udah berani ngegombal?" heran Arka.


"Ngga diajarin siapa-siapa, kan sama suami sendiri, jadi bebas dong mau ngapain aja...."


"Hem, gitu ya?"


"Ia...."


"Mas jangan khawatir aku akan selalu menemani mas dalam suka maupun duka...." lanjut Zea.


"Padahal pohon cabai itu baru pertama kali berbuah dan sedang lebat-lebatnya....."


"Mungkin Alloh mau menegur mas, jika uang yang dulu mas gunakan untuk modal tanam cabai itu bukan uang 'halal'.... " berucap dengan penuh kehati-hatian.


Lama, Arka terdiam. Memikirkan uacpan istrinya.


"Emang bisa gitu yang?"


"Ia mas, jika uang yang digunakan untuk modal usaha bukan uang halal, maka usahanya akan susah, istilahnya tidak berkah....." jelas Zea.


Arka masih mengingat-ingat uang darimana yang ia gunakan untuk menanam cabai itu.


"Tapi mas yakin, kalo uang modal tanam cabai mas itu uang halal...."


"Kalo gitu berarti ada sebagian hak orang lain yang belum mas kasihkan ke orang yang berhak itu...."


"Hak orang lain?"


"Ia, sebenarnya semua rezeki yang kita dapat itu ada hak milik orang lain juga, yang meminta dan tidak meminta...." jelas Zea.


"Astaghfirullah hal azim, ia yang, mas lupa untuk menyedekahkan sebagian rezeki mas...." tutur Arka cengengesan.


"Hemm, ya udah ngga papa, lain kali jangan lupa lagi ya...."


"Tolong ingetin mas ya..."


"Ia, ya sudah ayo tidur...."


"Ayo....."


Kini Arka sudah tidak galau lagi, memikirkan pohon cabainya.


Keduanya pun berjalan beriringan menuju kamar.


Zea yang sudah sangat mengantuk langsung tertidur pulas.


Cup...


Arka mendaratkan sebuah ciuman di kening Zea, lalu dia juga menyusul tidur.


.....................................


Ini pagi kedua Zea menjadi istri. Dia terbangun saat azan subuh berkumandang.

__ADS_1


"Mas, bangun mas udah subuh...." membangunkan Arka.


"Hem..." menggeliat.


"His, bangun udah hampir komat tuh..."


"Ia ia..."


Arka pun bangun.


.............


Selesai membersihakan diri, Arka dan Zea solat subuh berjama'ah.


Aira bangun, saat kedua orang tuanya selesai solat.


"Hai sayang, udah bangun ya...." ucap Arka.


"Pinternya, anak papah ngga nangis...." lanjutnya.


"Ia dong pah, kan Ai sudah besar...." jawab Zea yang membopong Aira.


Selanjutnya mereka bertiga bermain bersama hingga jam setengah 6 pagi.


"Sayang mamah mau masak dulu ya...." pamit Zea.


"Ia...."


"Aku masak dulu ya mas...."


"Ia sayang...."


......................


Sampai di dapur, Zea langsung membuka kulkas. Memilih bahan apa saja yang akan dimasakanya, untuk sarapan.


"Nasi goreng?"


"Ah tidak, hem mending bikin sambal terong, sama sayur cesim di campur tempe...."


"Untuk Ai, sop saja...."


Setelah itu, Zea mengambil bahan yang akan di eksekusinya.


Sreng, Zea memasukan terong yang telah di potong kedalam minyak panas.


Kedua tungku kompor itu menyala semua. Yang satu untuk menggoreng dan satu untuk nyayur. Jadi bisa matang bersamaan.


.............................


Selesai memasak, Zea mandi dan sekaligus memandikan Aira.


Selesai berpakaian, kedua orang berbeda generasi itu langsung menuju maja makan.


"Cantiknya, sayang-sayangnya papah...." puji Arka.


"Ia dong, kan udah mandi...." jawab Aira.


Merekapun sarapan bersama.


Selesai makan, Zea langsung membereskan dan mencuci piringnya. Mumpung Aira sedang bersama papahnya.


Selesai mencuci piring, Zea bergegas ke ruang keluarga. Dimana Arka sedang menemani Aira bermain.


"Yang, mas mau ke lahan yang tadi malam ke bakar, sama ngecek kebun yang lain, pulangnya sore ngga papa ya...." ijin Arka.


"Ia mas ngga papa...."


"Nanti kalo ada apa-apa langsung hubungi mas ya...."


"Siap mas...."


"Ya sudah mas berangkat...."


"Ia...."


Zea dan Aira mengantar Arka samapi depan pintu utama rumah mereka.


"Hati-hati ya mas...." salim.


"Ia sayang...." mencium kening Zea.


Aira juga tak mau kalah dengan mamahnya, dia ikut-ikutan salim, dan Arka juga mencium keningnya.


"Mas berangkat ya, assalamu'alaikum...."

__ADS_1


"Ia, wa'alaikumssalam....."


Melangkahlah Arka ke arah mobilnya.


Zea menunggui Arka pergi sampai mobil yang dikendarainya tak terlihat lagi.


"Pagi mba....." sapa seorang ibu muda sembari menggendong anak laki-laki nya.


"Pagi...." jawab Zea.


"Mba istrinya mas Arka ya?" tanyanya.


"Ia mba, saya Zea istrinya mas Arka......" mengulurkan tangan kanannya.


"Aku Zaskia, itu rumahku yang bercat kuning..." menyambut uluran tangan Zea, sembari menunjuk rumahnya.


"Oh, ia......"


"Ini siapa namanya?" mengelus pipi Aira.


Aira yang tak suka di pegang orang lain pun langsung melengos. Menyembunyikan wajahnya.


"Aira mba..." jawab Zea.


"Kalo mas ganteng ini siapa namanya?" sapa Zea pada anak laki-laki mba Zaskia.


"Bimo mba....."


"Sayang ayo salim sama mas Bimo dulu...."


Aira menurut.


"Oh ya ngomong-ngomong mba Zea asli mana?" tanya mba Zaskia, sembari mendaratkan pan*nya di kursi kayu, panjang yang ada di teras rumah Zea.


"Hem, sabar Ze sabar, anggap saja dia sedang bersilaturahmi...." batin Zea.


"Saya asli dari perut ibu saya...." jawab Zea apa adanya.


Benar bukan, setiap manusia itu berasal dari rahim ibunya yang berada di perut.


"Hehehe, mba Zea ada-ada saja, maksud aku asli daerah mana?"


"Oh, saya asli dari Taiwan...." jawab Zea.


Bukannya sombong, tapi itu kenyataan. Kan memang Zea lahir di Taiwan, saat umur 0-5 tahun dia juga hidup di sana.


Karena Zea sangat tak suka berbasa-basi dengan orang yang baru di kenalnya.


"Oh....pantesan, matanya udah keliatan kalo bukan asli orang sini, ternyata orang Tiawan toh...."


"Ia mba...."


"Udah berapa taun disini, sampai logatnya juga ikut kaya orang sini...."


"14 taun mba...."


"Oh pantesan...."


Datang lagi satu orang ibu-ibu.


"Pagi mba Zea, Kia....." sapanya.


"Pagi bu...."


"Pagi bu Rt....." jawab mba Zaskia.


"Haduh, kalo gini caranya pekerjaan rumahku ketunda melulu deh, tapi untungnya Ai manut..." batin Zea.


"Kenalain mba Ze, saya bu Tiah, istri pak Rt...."


"Oh iya bu Tiah, salam kenal......"


"Saya cuma mau nawarin mba Zea untuk ikut arisan mingguan mba...."


"Ia, berapa setorannya bu?"


"Dua puluh ribu mba, nanti dapetnya Rp. 3.500.000,kan lumayan tuh mba, mau ngga?"


"Nunggu ijin dari suami saya dulu ya bu...."


"Lah ngapain nunggu ijin dari suami mba, kan pastinya ada tuh uang bulanan, ngga perlu ijin, aku juga ikut dan suamiku juga ngga tau...." sela mba Zaskia.


"Hehehe, biar bagaimanapun juga, saya tetap nunggu ijin dari suami, karena saya sudah jadi istrinya...." jawab Zea dengan nada yang lembut namun tegas.


"Ia tuh, bener mba Zea, kalo udah jadi istri seharusnya minta ijin dulu sama suami, bukan kaya kamu, ngelakuian apa-apa ngga pake ijin dulu, giliran udah kejerat hutang, nangis-nangis di kaki suami biar di bayarin hutangnya....." sungut bu Rt pada mba Zaskia.

__ADS_1


__ADS_2