Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 39.


__ADS_3

"Lakukan yang terbaik untuk istri saya sus...." ucap Arka lemah.


"Siap pak, kami pasti akan melakukan yang terbaik, silahkan tanda tangani berkas ini...."


Dengan badan gemetar, lemas dan air mata yang membasahi pipi Arka menandatangani berkas yang disodorkan suster.


"Terima kasih pak...."


"Sama-sama sus...."


Suster segera masuk kembali ke IGD.


"Sabar Ka, perbanyak berdo'a...." ucap mba Airin.


"Ia mba....." bangkit dari duduknya. Lalu membersihkan celanya yang kotor.


"Mba sama ibu pulang aja, kasian Aira kalo harus menginap disini...."


"Biar ibu saja yang pulang, mba disini nemani kamu....."


"Ngga usah mba, Arka bisa sendiri, mba sama ibu pulang aja, Arka nitip Aira...."


"Baiklah kalo begitu, mba sama ibu pulang dulu ya......" ucap mba Airin setelah hening beberapa saat.


"Ia...."


"Kalo ada apa-apa langsung kabari......"


"Ia bu....."


"Ya sudah kita pulang, besok pagi ibu kesini lagi, nganter baju untukmu dan Zea...."


"Ia bu...."


...............................


Kini Arka sendirian, setelah ditinggal pulang oleh mba Airin, bu Aminah dan Aira.


Ceklek.


Pintu ruang IGD terbuka. Memperlihatkan Zea yang sedang terbaring tak berdaya diranjang pesakitan, yang sudah mengenakan baju khusus oprasi dan ditangan kirinya juga ada sebuah selang infus.


Air mata Arka kembali luruh, melihat wajah manis yang kini pucat itu, namun ada satu hal yang mengherankan Arka, bibir istrinya tetap tersenyum walu dalam kedaan tidak sadarkan diri. Ntahlah, Arka juga heran, mengapa bisa seperti itu.


"Kami akan segera mengoprasi istri bapak, mohon do'anya...." jelas sang suster.


"Ia sus...."


Setelah itu, tubuha tak berdaya Zea, didorong ke ruang oprasi. Arka dengan setia mengikuti kemanapun tubuh istrinya dibawa.


"Silahkan bapak tunggu di luar...." titah sang perawat tat kala tubuh Zea dimasukan kedalam ruangan oprasi.


"Ia mas, lakukan yang terbaik untuk istri saya..."


"Pasti pak...."


Pintu ruang oprasi pun ditutup kembali.


.....................................


Setengah jam sudah Arka berjalan mondar mandir didepan ruang oprasi. Pikirannya dan perasaannya benar-benar kacau.


"Telanglah mas, istrimu baik-baik saja, dia wanita kuat....." ucap seorang petugas kebersihan yang sedang mengepel lantai.


Arka tergaket dengan suara itu.


"Ia pak...." jawab Arka.


"Lebaih baik mas sekarang bersihkan diri mas lalu solat tahajud, do'a kan istri mas agar diberi kesembuhan...." memberi nasehat.


"Ia pak..."


"Saya permisi...." pamitnya dengan senyumnya.


"Ia silahkan pak...."


Laki-laki petugas kebersihan itu berjalan menjauh dari Arka, lalu di lorong yang gelap ia menghilang.


"Petugas kebersihan, jam tiga pagi?" guman Arka.


"Ngepel lantai?, apa mungkin?" tanya pada diri sendiri, yang tengah heran dengan kemunculan petugas kebersihan tadi.

__ADS_1


Tiba-tiba bulu halus di tubuhnya merinding, kala pikirannya menebak siapa petugas kebersihan tadi.


"Astaghfirullah hal azim, sebaiknya aku solat..."


Arka melangkahkan kakinya menuju masjid rumah sakit.


Sesampainya di masjid,Arka membersihkan dirinya, lalu ia mengambil sarung yang sudah tersedia bagi orang yang mau solat.


Setelah itu Arka pun menunaikan solat sunah tahajud.


Selesai solat, Arka berdo'a, memohonkan ampunan untuk dirinya sendiri, sang istri, kaka, ibu dan seluruh saudara muslimnya. Tak lupa juga, Arka memohon kesembuhan bagi sang istri, dan suapaya anaknya tidak trauma atas kecelakaan tadi. Juga, Arka meminta kekuatan dan hatinya dilapangan untuk menghadapi ujian ini.


Selesai berdo'a Arka cepat-cepat mengembalikan sarungnya, dan kembali ke depan ruang oprasi.


Ceklek.


Pintu ruang oprasi terbuka. Menampilkan Zea, yang kini kepalanya di perban, ada oksigen di hudungnya serta yang tadinya cairan infus kini diganti dengan kantong da r ah.


Yap Zea di transfusi darah. Karena tadi saat oprasi tubuhnya mengeluarkan banyak darah, hingga harus dilakukan transfusi da r ah.


Hati Arka semakin terluka melihat kondisi sang istri.


"Bagaimana kondisi istri saya dok?" tanya Arka.


"Istri anda masih kritis, tapi tenang saja, operasinya berjalan lancar, perbanyaklha bodo'a mas...."


"Ia pak...."


"Saya permisi dulu...."


"Ia pak silahkan...."


Setelahnya, Arka mengikuti Zea yang dibawa kekamar perawatan.


.................................


Cahaya matahari mulai masuk, menembus celah-celah ventilasi. Menyilaukan mata Arka.


"Hem...." menggeliat.


"Ternyata sudah pagi...." gumannya.


Dert dert dert, ponsel Zea bergetar. Arka segera memeriksanya.


"Halo, assalamu'alaikum....."


"Wa'alaikumus salam, kenapa kamu ngga ngabari umi, dimana Zea dirawat?" omel umi Hindun.


"Maaf umi, Arka belum sempat ngabari umi, umi tau darimana?"


"Dari mba mu, dimana Zea dirawat dan bagaimana keadaannya?"


"Di rumah sakit 'Sehat Bersama' mi, Zea masih kritis, dia belum sadar, tapi Alhamdulillah operasinya berjalan lancar......"


"Innalillahi....." lirih umi Hindun.


" Ya sudah kalo gitu umi kesanya kalo Zea udah sadar, tapi kalo ada apa-apa kabari umi ya...."


"Ia mi....."


"Kamu sama Aira ngga papakan?"


"Engga umi, jidat Arka hanya sedikit memar, kalo Aira ngga kenapa-napa....."


"Alhamdulillah kalo gitu, ya sudah ya, umi cuma pengin tau keadaan kalian...."


"Ia mi....."


"Wasalamu'alaikum......"


"Wa'alaikumus salam...."


Arka kembali meletakan ponsel Zea.


Sebuah nada dering ponsel kembali terdengar, kali ini ponsel miliknya sendiri.


"Halo Assalamu'alaikum mba....."


"Wa'alaikumus salam, Zea ada di ruangan apa dan kamar berapa?, mba mau kesana nganterin baju....."


"Ruang Melati, kamar A01......"

__ADS_1


"Lantai dua ya?"


"Ia mba...."


"Ok, ya sudah, wasalamu'alaikum...."


"Wa'alaikumus salam....."


Kemudian Arka pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


..........................


Tok


Tok


Tok


Seseorang mengetuk pintu, Arka yang baru saja keluar dari kamar mandi, langsung berjalan ke arah pintu. Kemudian membukanya.


"Pagi pak...." sapa suster.


"Pagi sus...."


"Saya akan memeriksa istri bapak dulu ya...."


"Ia sus silahkan...."


Suster itu pun masuk, lalu segera memeriksa kondisi Zea.


"Saya ganti selang darahnya, dengan selang infus lagi ya pak...." ijinnya.


"Ia sus silahkan....."


Kemudian suster itu mengganti selang itu.


"Nanti kalo habis langsung bilang ke bagian jaga ya pak...."


"Ia sus, siap..."


"Ya sudah saya permisi...."


"Silahkan sus...."


Arka mengantarkan suster itu hingga ke pintu. Dan kebetulan pula, mba Airin sampai.


"Pagi Ka...." sapa mba Airin.


"Pagi...."


"Nih, baju kamu dan Zea, ada juga makanan untuk kamu sarapan....." menyerahkan sebuah tas.


"Makasih mba...."


"Ia sama-sama, udah sana kamu mandi, biar mba yang nemani Zea...."


"Ia mba, ayo masuk...."


"Ia...."


Mba Airin pun masuk.


Mba Airin duduk di kursi yang ada di samping ranjang pasien.


Sementara itu, Arka mandi.


...................


"Gimana Aira mba?" tanya Arka, sesudah mandi.


"Alhamdulillah baik-baik saja, mungkin kemaren cuma kaget...."


"Tolong nanti bawa kepesikolog anak ya mba, aku takut Aira trauma...."


"Ia, kamu teng aja, tadi malam ibu juga udah nyuruh mba buat bawa Aira ke psikolog...."


"Udah sekarang kamu makan, habis itu mba mau pulang, kasian ibu kalo harus ngurus dua cucu..."


"Ia mba...."


Arka pun memakan sarapan yang dibawakan mba Airin.

__ADS_1


__ADS_2