
"Ai sudah tidur yang?" ucap Arka yang baru masuk ke kamar.
"Ia mas...."
Arka naik ke atas ranjang, lalu merebahkan dirinya di samping sang istri.
"Sini...." menepuk lengannya.
Zea manut, dia mendekat ke Arka dan menggunakan lengan Arka sebagai bantalnya.
Kini mereka sedang tatap tapan. Menelisik manik mata satu sama lain.
Arka merapiian anak rambut Zea yang menutup sebagian wajah cantik istrinya.
Keduanya terdiam, namun mata mereka lah yang bicara.
Cup
Zea menejamkan matanya, menikmati kecupan lembut dari bibir suaminya.
"Mas takut kehilangan kamu, jangan pernah kaya tadi lagi...." memeluk erat sang istri.
Saat bicara seperti itu ada satu titik air mata yang keluar dari mata Arka.
Zea merasakan ketulusan dan ketakutan,akan kehilangan dirinya, dalam ucapan Arka.
Zea mendongak memandang wajah tampan sang suami. Tangannya bergerak, mengusap satu titik air mata yang membasahi kelopak mata Arka.
"Kamu tau mas, setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan, dan setiap ada kehidupan akan ada kematian...." memegang kedua belah pipi Arka.
"Itu sudah ketentuan, tanpa ada yang bisa mencegahnya, kita hanya bisa mempersiapkannya saja sampai waktu itu tiba..." lanjut Zea.
"Tapi mas belum siap jika harus kehilangan kamu, kapal kita baru saja akan berangkat berlayar, bahkan kapal kita masih di tepi pantai, belum menerjang ombak....."
"Menempuh badai, sudah biasa..." terus Zea, yang mengucapkannya dengan nada lagu 'Nenek Moyangku Seorang Pelaut'.
"Hiss, sayang mas serius tau...."
Yang tadinya Arka akan mengeluarkan air matanya, menjadi tidak jadi, gara-gara Zea yang menghancurkan suasana sedih ini.
"Hihihi, biar ngga jadi melow...." kekeh Zea.
Arka kembali memeluk erat sang istri, dan menciumi pucuk kepalanya, karena gemas.
Bagaimana tidak gemas, saat dirinya sedang bicara serius, sang istri malah memelesetkannya dengan lagu anak-anak.
"Kamu tau mas, kejadian tadi sore adalah yang kedua bagiku...." ungkap Zea.
"Oh ya?" kaget Arka.
"He'em, ya hampir sama kaya kejadian tadi, bedanya kalo tadi aku ngerasa kaya kesandung, kalo dulu lagi asik ngambilin 'yode'....."
"Kamu bisa berenang?"
"Bisa, tapi hanya gaya dasar aja, tapi kalo lagi tergulung ombak kaya tadi, berenang itu kaya ngga ada gunanya, karena kitanya juga ngga bisa lawan arus....."
"Ia sih, sudah lah jangan bahas itu lagi...."
"Mas Yoga belum ngasih kabar lagi?"
"Belum...."
"Oh, ya sudah ayo tidur...."
"Ia....."
Keduanya membaca do'a lalu tertidur.
......................................
Tiga minggu telah berlalu, sejak kejadian Zea tergulung ombak.
Sehari-harinya Zea habiskan untuk mengurus Aira, sang suami dan mengawasi pembuatan baju pengantin, yang sudah setengan jadi milik mba Viona.
Untuk urusan rumah, sudah ada seorang asisten rumah tangga yang mengurusnya. Kalo untuk masak, tetap saja Zea yang memasaknya, karena Arka lebih suka masakannya.
__ADS_1
Arka juga sudah jadi membelikan tanah untuk istrinya, dan masalah perkebunannya yang terbakar juga sudah beres, malah sekarang dalam proses untuk di tanami lagi.
Aira?. Ah bocah itu semakin gembil, se**k dan pintar.
Pagi ini, Zea sedang sibuk di dapur, memasak menu untuk sarapan bersama.
"Sayang...."
"Ia mas...." sibuk membalikan tempe goreng.
"Apa kamu sudah haid?"
"Haid, kenapa mas tanya begitu?" menghadap ke Arka.
"Ngga papa, tadi ibu WA mas, terus nanya kamu udah isi apa belum...."
"Ohhh, kalo diingat-ingat, dari kita nikah kayanya aku belum haid deh...."
"Mas juga ingatnya gitu, gimana kalo nanti kamu cek?" girang Arka.
"Boleh, tapi kalo aku belum hamil jangan kecewa ya...."
"Ia sayang, ya udah mas mau ke apotek dulu beli tespek ya...."
"Ia mas....."
Zea pun kembali sibuk memasak.
.........................
"Ayo sayang tes dulu...." rengek Arka.
Arka terus merengek sejak kepulangannya dari apotek bersama Aira. Namun Zea menjanjikannya setelah sarapan, dan ini sudah selesai sarapan makannya Arka merengek lagi.
"Tapi katanya lebih efektif saat aku baru bangun tidur, terus pi*is...."
"Ngga papa mba, coba aja dulu...." ucap mbok Yem. Asisten rumah tangga yang diangkut Arka dari rumah ibunya.
Arka tak mau jika harus mengambil asisten rumah tangga baru, dari yayasan, karena dia sedikit susah untuk langsung percaya dengan orang lain.
"Ia sayang...."
Setelah itu Zea masuk kamar mandi dengan membawa tespeknya.
Tok
Tok
Tok
"Sayang udah belum...."
"Ia mas sebentar...."
Zea mengamati tespeknya.
"Apa aku ngga salah liat?" gumannya sendiri.
Zea mengucek matanya, lalu dilihatnya lagi tespeknya.
Hasilnya tetap sama, ada dua garis merah yang sangat jelas disana.
Lututnya lemas, air matanya juga sudah tak terbendung lagi, melihat kenyataan ini.
"Alhamdulillah ya Alloh..." batinnya.
Tok
Tok
Tok
Kembali terdengar ketokan pintu.
Zea segera mengusap air matanya, lalu ia bergegas membuka pintu.
__ADS_1
Ceklek...
"Gimana hasilnya sayang?" tanya Arka tak sabaran.
Zea malah terisak.
Arka yang melihat itu, mengira bahwa sang istri belum hamil. Lalu dia memeluk tubuh istrinya. Berusa untuk menenangkan sang istri dan memberinya suport.
"Aku hamil mas...." ucap Zea di tengah isak tangisnya.
"Ia sayang ngga papa, kita berusaha lagi ya..." ucap Arka menanggapi ucapan Zea.
Arka berucap begitu karena dia tak mendengar jelas ucapan istrinya.
Zea menarik nafas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Sampai sudah tak terisak lagi.
"Aku hamil mas...." ucap Zea dengan jelas.
"Apa, kamu...., kamu.... ha.... ha mil?" gagap Arka dengan air mata yang sudah siap keluar.
"Ia mas, lihat ini......" menyerahkan tespeknya.
Arka menerima tespek itu dengan tubuh yang gemetaran. Melihat tespek itu dengan teliti.
Luruh sudah air mata kebahagiannya. Meleluk Zea kembali.
Menangis tergugu di pundak Zea. Sungguh, Arka sangat merasa bahagia, kala menerima kabar ini. Rasanya begitu beda dengan saat dia mendengar sang istri pertamanya yang mengandung Aira dulu.
Ntahlah, Arka juga tidak tau kenapa rasanya berbeda. Mungkin dulu karena sang istri pertamanya yang terlalu acuh padanya, sementara Zea memperlakukannya dengan begitu baik dan perhatian. Hanya Arka, malaikat dan Tuhan nya lah yang tau.
"Terima kasih sayang....." ucapnya.
"Ia mas, sama-sama...." jawab Zea.
Melepaskan pelukannya, lalu menyeka air matanya.
"Ya udah sekarang kita ke rumah sakit ya, periksa...."
"Aku mandi dulu ya...."
"Ia sayang jangan lama-lama ya...."
"Ia mas...."
Zea pun berlalu dari dapur.
"Gimana mas, udah isi?" tanya mbok Yem, yang sedang menemani Aira bermain di ruang keluarga.
"Ia mbok Alhamdulillah....." jawab Arka.
"Alhamdulillah, akhirnya dek Aira mau punya adek......" syukur mbok Yem.
"Adek?"
"Ia, sayang mau punya adek, seneng ngga?"
"Yeye punya adek, seneng dong pah...." jawabnya yang entah benar-benar mengerti apa belum.
...............................
Kini keduanya telah sampai di rumah sakit. Tadi sebelum ke rumah sakit, mereka mampir dulu ke rumah bu Aminah untuk menitipkan Aira.
Karena memang jika ke rumah sakit melewati rumah bu Aminah.
Zea menunggu antrian dengan dada berdebar. Dia sedikit gugup untuk bertemu dengan dokternya. Bahkan tangannya sampai dingin.
"Sayang, jangan gugup ya....." ucap Arka yang menggenggam erat tangan dingin milik Zea.
"Aku takut mas, ini pertama kalinya bagiku...."
"Ngga sakit ko, kamu tenang saja, rasanya hanya seperti saat 'burungku' masuk...." ucap Arka yang mencoba menenangkan Zea.
"Aich...." lirih Arka yang merasakan cubitan di perutnya.
"Makannya kalo ngomong tuh dijaga, jangan usil mulutnya" ketus Zea.
__ADS_1