Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 14.


__ADS_3

"Assalamu'alaikum....."


"Wa'alaikumussalam...."


"Cie yang mau nikah...."


"Cia yang mau jadi istrinya pak Arka..."


"Cie yang mau jadi mamahnya Aira...."


Ledek para abdi ndalem, saat Zea baru datang.


"Biasa aja...." elak Zea.


"Masa...."


"Terserah...."


Zea memilih duduk di dipojokan, dekat dengan lemari miliknya.


"Tapi benerkan mba, kalo mba mau nikah...."


"Ia, kan semuanya juga mau nikah,kalo udah ketemu jodohnya...." jawab Zea dengan wajah datarnya, tanda tak suka.


Suasana di ruangan itu mendadak canggung. Semoa abdi ndalem menjadi merasa bersalah karena telah meledek Zea.


Srak, Zea menggunting bungkus salah satu ciki yang dia beli.


"Ko pada diem?"


"Hehehe...."


"Bingung mau cerita apa..."


"Cerita apa ke gitu, mungkin film terbaru, K-Drama, atau K-Pop juga ngga papa...." usul Zea.


"Ah aku jadi inget sesuatu...." seru mba Lina


"Inget apa mba?" kepo yang lain.


"Jari tengah tangan kiri sepupu perempuanku kepoton* mesin pencacah rumput...."


"Pencacah rumput?" bingung yang lain.


"Ia, ituloh mesin yang misal mau mencacah jerami tinggal masuk-masukin aja...."


"Oh, terus?"


"Lah masa, diakan perempuan....."


"Emang apa salahnya jiia perempuan?" heran Zea.


"Ya kan biasanya yang begituan laki-laki...."


"Oh..."


"Lanjut mba...." perintah Zea.


"Lanjut ya..."


"Bentar mba, ini ngga pada mau nih cikinya?"


"Mau dong mba Ze...."


"Lah terus kenapa ngga ambil, biasanya aja sang pemilik belum nawarin udah diserbu duluan..." tandas Zea.


"Ya kalo sama mba Zea, siapa yang berani?"


"Hem, ia deh ia, silahkan yang mau ambil aja...."


"Lanjut mba Lin...." lanjut Zea.


"Ok, lanjut ya...."


"Ok..."


"Nah sepupuku itu lagi seneng-senengnya sama Suga, pokoknya saat itu di pikiran sepupu aku hanya ada nama Suga, terus pas dia bantuin bapaknya nyacah rumput untuk pakan sapi, pikirannya ngga fokus sama apa yang sedang dia lakuin, fokusnya ke Suga, eh malah tangannya ikut masuk kedalam, kepoton* deh..."


"Innalillahi...." seru semuanya.


"Seberapa kepoton*nya?"


"Se kuku..."


"Berarti darahnya ngalir terus dong?"

__ADS_1


"Ia, katanya sih dari rumah samapi kerumah sakit ngalir terus, padahal udah di kasih perban di puskesmas, tapi hebatnya, sepupuku itu ngga nangis sama sekali...."


"Hiii, ngeri..."


"Poton*an jarinya ketemu ngga mba?"


"Engga..."


"Makannya kalo kita suka sama sesuatu atau sama seseorang itu jangan berlebihan, jangan sampai melalaikan kita pada sang pencipta....." ucap Zea.


"Emang kenapa mba?"


"Ya itu akibatnya, bisa dapet musibah, dan musibah itu bertujuan untuk memperingatkan kita, inget ngga kisah nabi Sulaiman yang menyembelih kuda kesayangannya?"


"Ia inget..."


"Yang gara-gara nabi Sulaiman 'ngurusin' kudanya itu sampai lalai ibadah ya mba?"


"He'em...."


"Terus gimana kalo kita suka sama seseorang?"


"Serahkan aja sama Alloh...."


"Lah terus gimana kalo diambil orang?"


"Berarti belum jodoh..."


"Ngomong sih enak, mba kan belum pernah ngerasain gimana yang namanya jatuh cinta...."


"Kata siapa?"


"Kata aku...."


"So tau..." ketus Zea.


Zea memang begitu tertutup tentang masalah keluarganya dan kisah cintanya. Dia akan bercerita ke seseorang yang benar-benar menurutnya bisa dipercaya.


Dan mereka masih terus melanjutkan obrolannya sampai jajan yang Zea beli, habis.


...........................................


Di tempat lain....


Seorang lelaki dengan tubuh gagahnya sedang merasa senang, karena hasil panenannya tepat berada pada harga jual yang sedang tinggi.


"Pak, itu mobilnya sudah datang...." ucap salah satu pekerjanya.


"Ia, ayo angkut....."


Lelaki itu mulai ikut membantu mengangkut hasil panennya ke mobil.


"Pak Arka, katanya mau nikah lagi ya?" tanya salah satu pekerjanya.


"Insyaalloh....."


"Wah selamat ya pak...."


"Ia...."


"Kapan tuh pak rencananya?"


"Secepatnya...."


"Oh...., ini yang untuk restoran langsung kirim pak?"


"Ia kaya biasanya....."


"Ok siap...."


Arka masih terus membantu para pekerjanya itu. Kali ini yang Arka panen adalah kacang panjang, buncis, dan kacang tanah.


Kali ini yang akan diekspor ke luar negeri hanya kacang tanahnya saja. Untuk kacang panjang dan buncisnya Arka memang sengaja tidak mengekspornya, karena memang dari awal menanam tanaman itu, Arka hanya berniat untuk penyuplai restoran dan juga swalayan.


Di daerah ini tanah dan suhunya kurang cocok untuk di tanami bawang-bawangan, kol, padi, kentang, dan lainnya yang biasanya di tanam di dataran tinggi.


Tanah disini cocoknya untuk tanaman seperti kacang tanah, kentang hitam, semangka, melon, pepaya, cabai, tebu, jagung dan lainnya yang biasa ditanam di dataran rendah dan tahan cuaca panas.


...................


"Papah, huhuhu....."


Baru saja Arka masuk kedalam rumah orang tuanya, dia langsung disambut dengan tangisan Aira.


"Kanapa sayang?"

__ADS_1


"Mana mamah?"


Dia baru ingat, tadi pagi saat dirinya pamitan pergi pada Aira, dia menjanjikan akan membawa Zea pulang.


"Sayang maaf ya, papah lupa...."


"Hua papah jahat" rajuk Aira.


"Cup cup cup, kata mamah kan ngga boleh apa?" membopong tubuh cilik Aira.


"Nangis...."


"Pinter...."


"Tapi papah jahat...."


"Ya udah gimana kalo kita beli mainan?"


"Ngga mau" tegas Aira.


"Gimana kalo kita jalan-jalan?"


"Engga, Ai maunya mamah Zea..."


"Haduh gini amat punya anak yang keras kepala....." keluh Arka.


"Kan kaya bapaknya...." seloroh mba Airin.


"Bantuin aku dong mba...."


"Lah emang situ pikir yang ngurusin Ai dari pagi sampe sore sapa hah?"


"Ya gimana ya, bisa kali mba bantu bujuk gitu...."


"Ngga bakal mempan, kecuali sama pawangnya, makanya cepetan halalin...."


"Ini juga lagi ngurus surat-surat...."


"Hua...., papah....." tangis Aira kembali pecah.


"Haduh...."


Dengan terpaksa mba Airin mau juga membantu Arka untuk membujuk Aira.


Segala jurus bujuk rayu, sudah dikeluarkan oleh mba Airin, namun sayangnya Aira tetep kekeh ingin bertemu mamahnya.


"Tinggal satu cara lagi Ka...."


"Apa tuh mba?"


"Makasih mang...." suara bu Aminah.


"Adadeh, tuh orangnya...."


"Loh kenapa ko cucu oma nangis?"


"Gara-gara bapaknya memberikan janji palsu..."


"Arka, berapa kali ibu jarus ngomong sama kamu, jangn pernah menjanjikan apapun pada Aira, kalo ngga bisa nepatin janjinya, jadi gini kan akhirnya, ibu juga yang kena...." mengomel sembari mengambil alih Aira.


"Makannya kalo orang tua ngomong tuh dengerin, jangan cuma masuk kuping kanan keluar kuping kiri...." bu Aminah masih lanjut ngomel.


"Ia bu maaf..."


"Gitu terus jawabnya kalo dinasehatin...." berlalu dengan membawa Aira.


"Makannya Ka, dengerin kalo dinasehatin....." tambah mbak Airin.


"Oh ya, kamu habis panen kan?"


"Ia, kenapa?"


"Hua, ibu......." tangis Alisa.


Mba Airin langsung berlari ke kamar anak bontotnya. Yap Alisa adalah anak terakhir mba Airin. Umur Alisa lebih muda 5 bulan dari Aira, tapi tetap saja Aira harus memanggil Alisa dengan sebutan 'mba', karena Alisa anak budenya Aira.


"Alhamdulillah bisa istirahat juga..." guman Arka.


Arka berlalu ke kamarnya, dia membaringkan tubuhnya sebentar untuk menghilangkan penat.


Setelah merasa lebih baik, Arka segera mandi.


Keluar dari kamar mandi, Arka sudah mendapati Aira tidur dengan lelapnya di kasurnya.


Dengan perlahan tapi pasti, Arka mendekati Aira.

__ADS_1


"Maafkan papah ya sayang, bukan maksud papah berbohong, tapi papah memang benar-benar lupa akan janji itu...."


"Tapi kamu tenang saja, sebentar lagi mamah Zeamu akan selalu ada bersama kita......." bisiknya di telinga Aira.


__ADS_2