Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 6.


__ADS_3

"Huhu mamah...." tangis Aira pecah lagi ketika melihat Zea pergi.


Arka yang melihat Zea berlari ingin mengejarnya namun di cegah oleh abi Hasbulloh.


"Jangan di kejar na Arka...."


"Tapi yai...."


"Biarkan Syafa sendiri dulu..."


Abi Hasbulloh memang lebih suka memanggil dengan nama Syafa daripada Zea.


Arka pun kembali duduk di tempatnya semula.


Umi Hindun bangkit, dengan perlahan beliau mendekati mba Ana.


Plak...


Tanpa di sangka siapapun umi Hindun menampar pipi kanan wanita yang telah menghina Zea itu, hingga sudut bibirnya mengeluarkan darah, dan tubuhnya terhuyung kebelakang.


Bu Aminah dan mba Airin sedikit terkejut saat umi Hindun berani menampar santrinya itu. Namun jika keduanya di posisi umi Hindun juga akan melakukan hal yang sama.


Sedangkan Arka, ia langsung keluar membawa Aira, setelah melihat adegan di depannya.


"Umi tega nempar Ana hanya demi wanita sampah itu?"


"Jaga mulutmu Ana, selama ini umi tidak pernah mengajari kalian untuk berkata kotor...." sedikit menaikan nada bicaranya.


"Selama ini pihak ponpes tidak pernah mengadukan kelakuan mu yang sering bolos sekolah dan mengaji ke kedua orang tuamu, karena kami menghormati abi dan umi mu, namun untuk kali ini tidak ada maaf untuk kamu Ana..." tegas umi Hindun


Setiap akhir bulan memang ada evaluasi kelakuan santri. Nantinya hasil evaluasi itu untuk di laporakan kepada orang tua masing-masing. Seperti hapalannya, seberapa rajinnya dan seberapa nakalnya.


"Beresi barang-barang kamu, dan silahkan keluar dari pondok...." lanjut umi Hindun.


"Ngga, aku ga salah, karena aku hanya memberi tau hal yang sebenarnya...." kekeh Ana yang masih merasa dirinya benar.


"Assalamu'alaikum..."


"Wa'alikumus salam..."


Doa orang tamu masuk kedalam ruang keluarga.


Betapa terkejutnya kedua tamu itu kala melihat darah di sudut bibir Ana.


"Ya Allah Ana, kamu kenapa nak?" tanya sang wanita dengan histeris.


Yap, yang datang adalah kedua orang tua Ana. Memang seperti kebetulan, namun itulah yang terjadi.


"Maafkan saya, karena telah menapar putri sampean mba...."


"Tapi apa salah putri saya hingga membuat adik Hindun menamparnya?"


"Maaf bu nyai, lebih baik ibu melihat ini..." sela mba Airin dengan menyodorkan ponselnya yang sudah menyala.

__ADS_1


Bu nyai Maryam menerima ponsel mba Airin dengan bingung. Sang suami juga ikut mendekat kearah bu nyai Maryam,untuk ikut melihat ponselnya.


Lalu keduanya fokus melihat layar ponsel.


Abi Hasbulloh menyuruh sang istri untuk duduk di dekatnya, lalu ia memeluk sang istri agar kembali tenang.


Yang lain juga ikut diam, membiarkan keduanya fokus dengan video yang sedang di putar.


Plak


Plak


Dua tamparan mendarat empuk di pipi kanan dan kiri milik Ana. Tentu yang menamapar adalah kedua orang tuanya.


Ana terbelalak tak percaya, bahwa kedua orang tuanya berani menampar dirinya.


"Abi dan umi menampar Ana?" tanya Ana dengan air nata yang sudah menganak sungai.


"Kurang apa kita sama kamu Ana?, apapun yang kamu mau kami sudah berikan. Kasih sayang?, kami juga sudah berikan, tapi kenapa kamu malah mempermalukan kami dengan tingkahmu ini?" ucap bu nyai Maryam, yang tak kalah deras air matanya.


"Tapi Ana hanya memberi tau yang sebenarnya umi..."


Ana tetap kekeh, bahwa dirinya tidaklah salah.


"Terserah kamu..." ucap umi Maryam


"Beresi barang kamu Ana, abi akan mengantarmu ke rumah orang tua kandung mu...."


"Ap... apa, jadi abi dan umi bukan orang tua kandungku?"


Ana segera pergi dari ruangan itu. Dia tak akan berani melawan jika abi nya sudah membentak.


Keadaan kembali hening. Mereka semua sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Dik Hindun, kami mohon maaf ya atas nama Ana..."


" Seharusnya saya yang minta maaf mba Mar, karena kami telah gagal mendidik Ana..." jawab umi Hindun.


"Kalian tidak gagal dik Hindun, sejatinya sekeras apapun kita meminta seseorang untuk berubah, tidak akan berhasil jika bukan karena kemauan dirinya sendiri untuk berubah....." ucap pak yai Amir.


Bukankah begitu, bahkan Alloh juga tidak akan mengubah suatu kaum, jika bukan karena kemauan kamun itu sendiri.


"Maafkan kami ya bu Aminah sama mba Airin, kalian harus melihat kejadian ini...." menatap bu Aminah dan mba Airin.


"Ga perlu minta maaf umi, ini juga salah kami..." ucap bu Aminah.


Tok


Tok


Tok


"Assalamu'alaikum...." ucap salah satu abdi ndalem.

__ADS_1


"Wa'alikumus salam...."


"Ngapunten umi..."


"Ia, kenapa?"


"Nyai Maryam sudah ditunggu mba Ana di parkiran...." jelas abdi ndalem itu.


Bu nyai Maryam dan pak yai Amir segera pamit kepada umi Hindun dan abi Hasbulloh. Kemudian mereka langsung menuju parkiran.


............................


Arka yang seperti melihat bayangan Zea di atas gedung SMA, segera mendekatinya untuk memastikan apakah penglihatannya benar atau tidak.


Sebelumnya Arka kembali ke ruang keluarga untuk memberikan Aira kepada mba Airin.


Ternyata benar, itu adalah Zea.


Hati Arka ikut terluka, saat melihat Zea menangis sesenggukan.


"Zea...." panggilnya pelan.


Zea segera mengusap air matanya, lalu menoleh ke arah Arka.


"Pak Arka..." guman Zea dengan senyum paksa.


"Duduk pak, saya tau bapak penasaran dengan orang tua saya..."


Arka menurut, dia duduk aga jauh dari Zea.


"Baiklah saya akan menceritakannya...."


Zea mulai menceritakan tentang orang tuanya yang ia ketahui dari cerita umi Hindun.


Ibu Zea bernama Sani, ia adalah wanita bersuami dan mempunyai satu anak laki-laki.


Namun karena keadaan ekonomi keluarganya, ibu Zea memilih untuk pergi merantau keluar negri, tepatnya di negara Taiwan, tentu saja setelah mendapat persetujuanĀ  suaminya.


Ibu Zea bekerja sebagai pembantu di Taiwan.


Singkat cerita, ibu Zea jatuh cinta dengan majikanny yang berprofesi sebegai tentara, dan masih lajang.


Cinta ibu Zea tak bertepuk sebelah tangan, karena majikannya juga suka kepadanya.


Pada akhirnya mereka menjalin hubungan tanpa ikatan. Hingga menghadirkan Zea.


Kabar itu sampai kepada suami sahnya ibu Zea. Ahmad namanya. Ahmad marah dan langsung berangkat ke Taiwan untuk menjemput istrinya, namun siapa sangka, saat dalam perjalanan Ahmad mengalami serangan jantung dan langsung meninggal di tempat.


Ibu Zea tidak pulang kala dikabari suaminya meninggal.


Ketika umur Zea beranjak lima taun, barulah ibu Zea pulang kenegaranya. Tanpa Zea, karena perlu waktu lama untuk mengurus surat-surat agar Zea bisa ikut dengannya.


Tiga bulan kemudian, suarat-surat yang diperlukan agar Zea bisa tinggal dengan ibunya sudah siap, jadilah Zea dikirim ke Indonesia oleh daddy nya.

__ADS_1


Zea hanya tiga minggu tinggal di rumah ibunya, setelah itu ia dikirim ke ponpes yang sampai saat ini menjadi tempat tinggalnya.


Awal-awal ibunya masih mengirimkan uang untuk keperluannya, sampai bulan keenam Zea berada di pondok. Setelah bulan keenam itu, sang ibu tidak pernah mengirim uang lagi. Kabar yang Zea dengar terakhir kali adalah ibunya sudah menikah lagi.


__ADS_2