Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 4.


__ADS_3

Lalu Arka membenarkan selimut yang dipakai oleh Zea dan Aira.


Zea yang masih setengah sadar, langsung tersadar kala merasakan selimutnya di tarik seseorang.


Mata mereka bertemu.


Waktu seakan terhenti untuk beberapa saat.


"Manis..." guman Arka.


"Matanya indah, namun seakan begitu banyak menyimpan kesedihan..." batin Arka.


"Ehem...." Zea berdeham.


"Eh, maaf, bukan maksudku tidak sopan, aku hanya ingin membenarkan selimut..." jelas Arka dengan salah tingkah.


"Ya..." jawab Zea, dingin.


Padahal degub jantung Zea sudah seperti orang yang habis lari maraton.


Suasana mendadak canggung.


"Maaf bisa anda pindah posisi?"


"Oh ya, maaf..." Arka menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, sebab malu dan salah tingkah.


Arka berjalan menjauh dari ranjang pasien. Lalu diikuti oleh Zea yang turun dari ranjang.


Dengan cueknya Zea mengambil tasnya yang terletak di atas nakas kecil samping ranjang pasien.


"Mau kemana?"


"Mau solat isya, saya belum solat..." jawab Zea tanpa menoleh.


"Oh, ya sudah...."


...........................


"Ya Alloh, ada apa dengan hatiku, kenapa setiap mata kami bertemu, jatungku berdebar begitu kuat, dan hatiku seolah berbunga-bunga, apa ini yang namanya cinta?"


Zea terus berpikir 'ada apa dengan dirinya', hingga ia tak sadar sudah sampai di depan masjid rumah sakit.


"Astaghfirullah, dari tadi mikir yang aneh-aneh, sampai ga sadar udah samapi..." guman Zea.


Sebelum melangkah masuk, Zea membuang jauh-jauh pikirannya tentang Arka, agar solatnya tak terganggu dengan wajah tampan sang duda beranak satu itu.


Setelah merasa sudah tak memikirkan Arka lagi, Zea langsung bergerak ke arah tempat wudu khusus kaum hawa.


Zea meletakan tasnya di salah satu lemari kecil tempat penyimpanan barang bagi para jama'ah.


Selesai wudu, Zea segera menuju tempat solat.


Mengeluarkan mukena dari tas selempangnya, lalu memakainya.


Berdiri tegap menghadap arah kiblat.


"Ya Alloh hilangkanlah segalah pikiran tentang dunia dalam otak hamba, untuk sementara ya Alloh, hingga hamba selesai solat..." batinnya meminta.


Barulah Zea memulai solatnya. Mulutnya mengucap, hati dan pikirannya mengikuti.


Selesai solat, Zea berzikir dengan muji Alloh. Kemudian dilanjutkan berdo'a.


"Ya Alloh ampunilah segala kesalahan hamba, dari hamba mulai akil baligh hingga sekarang. Ampunilah dosa kedua orang tua hamba, kake nenek hamba, kaka hamba dan semua umat muslim di dunia, dari mereka akil baligh hingga sekarang. Amin...."

__ADS_1


"Ya Alloh, mudahkanlah segala urusan dunia dan akherat ku, amin...."


Terakhir, Zea menceritakan apa yang ia rasakan, ketika bersitatap dengan Arka.


Selesai mengaduhkan perasaannya, Zea menyudahinya, karena pikirannya sudah tertuju kembali dengan Aira. Zea takut Aira terbangun sedangkan ia tak ada di sampingnya.


Zea melepas mukenanya dengan perlahan, lalu melipat dan menyimpan kembali di tasnya.


Kaemudian Zea bergegas kembali ke ruangan Aira.


............................


"Assalamu'alaikum...."


"Wa'alikumus salam...."


Ceklek. Arka membuka pintu.


"Masuk Ze..."


"Ia pak..."


"Jangan panggil 'pak' dong Ze..." protes Arka


"Emang aku udah setua itu apa..." lanjut Arka.


"Lah masa saya manggilnya sayang?, kan aneh..." ujar Zea mulai bercanda.


"Boleh ko, ga ada yang ngelarang..."


"Tapi saya yang ga mau..."


"Kalo udah halal mau ga?"


"Ah bapak bercandanya bisa aja..." ujar Zea


"Aku ga bercanda Ze, aku serius...." tegas Arka.


Suasana mendadak hening.


"Aku mau kamu menjadi mamah Aira, dan anak-anak kita nanti, sekaligus teman untuk mecari ridho ilahi..."


"Mungkin ini memang terlalu cepat untuk kita yang baru berkenalan, namun di umurku yang sekarang aku tak mau main-main lagi..."


Zea masih tetap membisu. Dia bingung harus menjawab apa. Dan ada hal yang begitu ia takutkan ketika ada seorang lelaki yang menyatakan perasaan kepadanya, yaitu masa lalunya.


Tok


Tok


Tok


Suara ketokan pintu, seolah menjadi penyelamat bagi Zea.


"Aku saja yang buka..." cegah Arka, saat ia melihat Zea akan berjalan ke arah pintu.


Ceklek.


Pintu terbuka, melihatkan seorang dokter yang rambut kepalanya mulai berubah warna dan seorang suster , yang terlihat masih belia.


Kedua orang itu pun masuk.


"Malam, pak Arka, mamah Ai..." sapa sang dokter.

__ADS_1


"Malam dok..." balas Zea ramah.


Sang dokter menyampaikan bahwa dia akan mencopol infus Aira. Karena keadaan Aira sudah membaik.


Zea langsung membopong Aira, agar anak balita itu tidak menangis nantinya.


Benar saja, Aira hanya terbangun sebentar, saat jarum infus keliar dari dalam pembulu darahnya, lalu ia memastikan sedang di gendongan siapa dan tertidur lagi.


"Alhamdulillah, sudah selesai..." ucap sang dokter.


"Kalo begitu kami permisi dulu ya, pak Arka dan mamah Ai..."


"Ia dok silahkan..." jawab Arka.


Sepeninggalan dokter dan suster, keadaan ruangan mendadak hening kembali.


"Gimana Ze, kamu mau kan?"


"Datanglah kerumah umi..." ucap Zea sarkas.


Bagi Arka, kalimat Zea adalah sebuah lampu hijau. Hatinya kini semakin berbunga-bunga.


"Kalo gitu kamu makan dulu ya, kamu kan belum makan malam..."


Tanpa banyak kata Zea langsung memakan makanan yang sudah disiapkan Arka.


Sembari menyuapkan makanan kedalam mulutnya, pikiran Zea melayang jauh, kembali ke saat dirinya berusia 5 tahun.


Di usia itulah Zea pertama kali menginjakan kakinya di pondok pesantren Al-ikhlas, yang menjadi tempat tinggalnya sampai saat ini.


Dimana di hari itu juga, terakhir kali dirinya melihat wajah sang ibu.


Zea masih mengingat dengan jelas janji ibunya saat akan meninggalkan dirinya.


"Ibu janji akan menjengukmu setiap bulan, Calolin, jadi jangan menangis, belajarlah yang benar...."


Janji tinggalah janji, sejak hari itu Zea sama sekali tidak pernah melihat ibunya lagi, ntah masih sehat atau tidak, atau bahkan sudah menjadi tanah?. Zea tak tau, karena sejak hari itu pula Zea tak pernah mendengar kabar tentang ibunya.


Sejak hari itu pula Zea seperti di 'buang' oleh orang tuanya. Namun nasib baik masih berpihak padanya, sang pengasuh pondok mengangkatnya menjadi anak asuh.


Umi dan abinya juga tak pernah membedakan Zea dengan anak kandungnya, sehingga Zea kecil tidak pernah merasa kekurangan kasih sayang.


Untuk masalah pembayaran sekolah, Zea tak perlu pusing memikirkannya karena dirinya selalu mendapatkan beasiswa berprestasi. Dan untuk masalah uang pondok, umi dan abinya menggeratiskannya.


Hingga Zea kelas 6 SD, memutuskan untuk tidur dikamar abdi ndalem. Karena dirinya sudah besar dan paham aturan agamanya.


Namun kasih sayang abi dan uminya masih sama, walaupun Zea sudah tak bisa lagi bermanja dengan abinya.


"Ze, disuruh makan ko melamun..." ucapan Arka berhasil membuat Zea tersadar dari bayangan masa lalu.


"Astaghfirullah hal azim..." Zea beristighfar, karena sudah melamun.


Sebuah air mata berhasil lolos, dari pelupuk mata Zea.


"Kamu nangis Ze, kenapa?"


Arka begitu khawatir melihat ada air mata yang keluar dari mata sang dambaan hati.


"Ga papa..."


"Pak Arka sudah makan?" mengalihkan perhatian.


Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2