Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 28.


__ADS_3

Sampailah keduanya di apotek.


Arka segera turun dari mobil. Dengan membawa secarik kertas resep dokter, Arka menuju penjaga apotik.


"Mau beli ini mba...." menyerahkan secarik kertas berisi resep.


Apoteker pun menerima secarik kertas itu. Dibacanya sebentar, lalu ia segera mengambilkan vitamin sesuai resep.


"Ini mas....." menyerahkan vitamin itu ke Arka.


"Mba, beli obat pelancar haid dong...." ucap seorang wanita yang pakaiannya kurang bahan, dengan belahan da da yang sangat rendah, hingga kedua benda berharganya yang nampak kencang dan kenyal, menyumbul keluar.


Arka menolehkan pandangannya pada wanita di sampingnya itu.


"Kayanya saya pernah liat kamu tapi dimana ya?" ucap Arka dengan kening yang mengerut.


"Pak Arka, bapak pak Arka kan, papahnya Aira..." tebak wanita itu.


"Wah apa kabar pak...." lanjut wanita itu.


"Ah iya, aku baru ingat sekarang, kamu yang waktu itu ngancurin acara lamaran saya kan?"


"Tapikan niat aku baik pak, cuma ngasih tau yang sebenarnya aja...."


"Hemm, ko kamu jadi gini tampilannya, ngga mencerminkan kalo kamu alumni pesantren...."


Zea yang melihat sang suami berbicara dengan seorang wanita, langsung turun menghampiri.


"Ya elah pak, kan hati manusia itu bisa berubah juga, apalagi cuma tampilan doang...." jawab wanita itu.


"Mas...." panggil Zea.


"Hai sayang...."


"Udah belum, ko lama...."


"Hah, pak Arka ngga salah tuh tetep nikah dengan perempuan hasil zina ini?"


Zea menggelengkan pelan kepalanya, kala mendengar hinaan yang keluar dari mulut wanita itu.


"Anak hasil zina, belum tentu akan mengikuti jejak orang tuanya, begitu juga dengan anak dari kyai, dia belum tentu akhlaknya baik seperti orang tuanya"


Skak mat. Wanita itu terdiam mendengar jawaban Arka yang tegas dan dingin itu.


"Tapi bapak bisa dapat yang lebih baik lagi daripada dia...." menunjuk Zea.


"Berhenti merendahkan orang lain, sebelum kamu sendiri direndahkan oleh orang lain"


"Ayo sayang...." lanjut Arka dengan merangkul pundak Zea mesra.


Keduanya pun berlalu dari hafapan wanita yang sedang kebakaran jenggot itu.


"Si*l, dasar wanita penghancur hidup orang, gara-gara dia hidupku hancur, gara-gara dia juga abi dan umi mengembalikanku pada orang tua yang tidak ada gunanya itu...." gerutunya.


"Liat aja, bakal ku balas perbuatanmu, dasar anak hasil zina...." lanjutnya.


Mba-mba apoteker hanya bisa mengelus da da, mendengar gerutuan pelanggan wanita dihadapannya itu.


...........................................


"Tadi mba-mba itu yang ngerusak rencanaku saat ngelamar kamu kan yang?"


"Ia mas...."


"Tapi kenapa penampilannya bisa berubah 180 drajat gitu...."


"Namanya juga manusia mas..."


"Ia sih yang, tapi maksud mas tuh kenapa loh, padahal dia juga mondoknya lama kan?"

__ADS_1


"Ia mas, biarlah itu jadi masalahnya sendiri, kita jangan sampai ikut campur urusan orang lain..."


"Ia deh ia, tapi kenapasih ko manusia baik bisa berubah jadi jahat...."


"Mau aku jawab jujur atau bohong?"


"Jujur dong yang...."


"Baiklah, tapi ini aku bakan bermaksud menjelekan orang lain ya mas...." ucap Zea dengan penuh kehati-hatian.


"Ia sayang..."


"Biasanya orang yang awalnya baik terus berubah jadi jahat, itu karena kurangnya rasa ikhlas dalam melakukan kebaikannya iitu, ya..., bisa dibilang masih mengharapkan sesuatu dari perbuatan baiknya, tapi bukan ridho Alloh...."


"Emangnya bukan karena Alloh, kan Alloh itu maha membolak balikan hati manusia....."


"Ia mas, itu benar tapi gini deh sekarang, masa ia Alloh menyuruh kita untuk berbuat baik dan beriman, terus Alloh juga yang membuat hati kita melakukan keburukan atau bahkan ke kafiran..."


"Hemm ia juga ya, terus itu kenapa?"


"Itu karena mereka kalah dengan hawa nafsunya sendiri...."


"Massyaalloh, pinter banget sih istri mas...."


"Alhamdulillah Alloh menitipkan ilmu yang 'sedikit' ini padaku...." ucap Zea dengan kerendahan hatinya.


"Duh jadi makin sayang deh...."


"Heeemmm....."


Karena keasikan mengobrol, mereka menjadi tidak sadar sudah menasuki perumahan, rumah bu Aminah tanpa membeli susu hamil untuk Zea.


"Astaghfirullah hal azim mas...." uacp Zea mengagetkan Arka.


"Kenapa yang?"


"Belum beli susu...."


"Ya udah ngga papa, nanti beli sekalian pulang aja...."


"Maaf ya sayang, mas lupa...."


"Ia ngga papa mas...."


Sampailah mereka di halamn rumah bu Aminah. Arka segera turun, lalu membukakan pintu untuk Zea.


"Terima kasih pangeranku...."


"Sama-sama tuan putriku...."


"Mamah....." panggil Aira yang berlari menghampiri Zea.


"Hai sayang...." membopong Aira.


"Eit stop stop, biar Ai sama mas aja...." melarang Zea membopong Aira.


"Ngga papa mas, kasian Ai...."


"No, kamu nurut sama mas" tegas Arka.


"Nda au, Ai aunya cama mamah...." tolak Aira saat sang papah akan menggendong dirinya.


"Ngga papa kali Ka, istrimu gendong Aira...." seloroh mba Airin.


"Kalo ada apa-apa sama kandungannya gimana?" ucap Arka khawatir.


Pluk. Mba Airin melemparkan miniatur mobil-mobilan yang terbuat dari karet, ke arah Arka.


"Apaan sih mba..." protes Arka.

__ADS_1


"Kamu ngga ingat, waktu mba hamil besar, mba masih bisa gendong Aira, dan Alhamdulillah nya kandungan mba ngga papa tuh...."


"Tapikan kondisi setiap orang berbeda mba...."


"Terserah kamu lah Ka...." jawab mba Airin seraya menyelonong pergi membawa Alisa.


Arka mencoba lagi untuk membujuk Aira agar mau di bopong olehnya. Hingga Aira menangis kencang sampai sesenggukan karena terus di paksa oleh papahnya.


"Mas kamu lupa apa yang aku katakan pas di RS 'Sehat Bersama' tadi?" membopng Aira yang menangis.


"Engga sih tapi...."


"Jangan kebanyakan tapi mas, kamu percaya aku kan?" sembari menenangkan Aira.


Huffttt, Arka menghela nafas berat.


"Baiklah, mas ngalah...."


"Yey, terima kasih mas...."


"Ia iya, tapi jangan sampai kecapean ya..."


"Ia mas....."


"Ya udah mas mau masuk dulu...."


"Ia silahkan....."


Arkapun masuk kedalam rumah orang tuanya, meninggalkan sang istri yang masih sibuk menenangkan anaknya.


"Zea beneran hamil Ka?" tanya bu Aminah to the poin.


"Alhamdulillah bu, udah tiga minggu...."


"Alhamdulillah ya Alloh, akhirnya aku punya cucu lagi....." syukur bu Aminah.


"Ia bu, Alhamdulillah, tapi bu Arka masih bimbang nih...."


"Bimbang kenapa?"


"Arka pengin ngadain resepsi, tapi istri Arka kan lagi hamil muda...." ucapnya dilema.


"Ya elah Ka, resepsi mah bisa kapan-kapan, yang penting itu istri sama calon anak kalian sehat selalu....."


"Ia sih mba, tapi aku udah janji untuk ngadain resepsi....."


"Hemm, nati aja sekalian syukuran 4 bulanan, juga ngga papa...."


"Kalo gitu nanti apa kata orang, bisa-bisa istriku dianggap tukang zina lagilagi, kemaren aja pas main sama Aira udah ada yang bilang begitu..."


Tak.


Mba Airin menyentil kening Arka.


"Astaga jaman segini kamu masih mikirin ucapan orang lain wahai Arkana Zein Assafiq?"


"Hiss mba apa-apain sih, kenapa keningku di sentil...." protesnya.


"Kamu aja yang aneh, biarin aja orang mau ngomong apa, kalo omangan orang kamu pikirin sampai dunia hancurpun kamu ngga akan maju-maju akibat mikirin omongan orang terus...."


"Ia Ka, bener apa kata mba mu...." timpal bu Aminah.


"Ya kalo di fitnah gimana?"


"Biarin aja, itung-itung ngurangin dosa kita, kan kalo kita di fitnah, dosa kita akan diberikan ke yang ngefitnah terus kalo dosa kita udah habis dan orang itu masih ngefitnah, pahala orang itu yang akan diberikan ke kita...."


"Tapi kalo apa dulu....." ucap bu Aminah.


.......................... .................

__ADS_1


Hola gaes, terimakasih ya untung yang selalu dukung karya aku ini..... 😘😘😘😘


love love sekebon pokonya buat kalian....


__ADS_2