
Zea mengakat telpon dari uminya.
"Assalamu'alaikum umi...."
"Wa'alaikumus salam sayang...."
"Kamu apa kabar ndu?"
"Alhamdulillah sehat umi, umi sama abi?"
"Alhamdulillah sehat juga, belum ada kabar gembira nih?" goda umi Hindun.
"Hihi, alhamdulillah ada umi, Zea hamil mi..." ucapnya girang.
"Wah Alhamdulillah, selamat ya sayang...."
"Ia mi terima kasih, tolong do'ain Zea sama dedenya biar sehat terus ya mi...."
"Aminnn, semoga kelak jadi anak yang soleh soleha ya...."
"Amin umi, terima kasih...."
"Sama-sama sayang, tapi kenapa umi baru di kabari?"
"Zea aja taunya hari kemarin mi, dan rencananya hari ini mau kerumah umi, tapi mas Arka lagi sakit, jadi belum bisa kesana deh...."
"Apa Arka sakit gara-gara berita viral itu?" tebak umi Hindun.
"Mungkin mi...." jawab Zea.
"Kamu yang sabar ya Ze, serahkan semuanya sama Alloh...."
"Ia umi, insyaalloh Zea ikhlas untuk menjalani setiap ujian dari Alloh mi...."
"Aminnn, oh ya umi ganggu ya jam segini telpon..."
"Jelas lah mi, mana ada orang telponan jam segini, kecuali karena perbedaan waktu" selorh mas Yoga yang terdengar oleh Zea.
"Ngga papa ko mi, ngga ganggu, Zea juga udah bangun dari tadi ko...."
"Maaf ya Ze, soalnya umi ngga bisa tidur, kepikiran kalian terus, setelah liat video viral itu...."
"Ia mi, tapi umi jangan terlalu mengkhawatirkan kami, kan masih ada Alloh sebaik-baiknya pelindung....." ucap Zea dengan hati-hati, berharap agar uminya tidak tersinggung.
"Ia Ze, tapi tetap saja umi kepikiran kalian...."
Zea merasa terharu atas ucapan uminya. Di saat orang tuanya yang tega 'membuangnya' ada keluarga abi dan uminya yang selalu menjadi suport sistem baginya.
"Terima kasih umi...."
"Ia, kalian diaman sekarang, di rumah atau dirumah mertuamu?"
"Di rumah mertua Zea mi...."
"Ya sudah nanti siang umi sama masmu kesana, udah dulu ya...."
"Ia mi...."
"Wasalamu'alaikum...."
"Wa'alaikumus salam...."
Zea meletakan ponselnya dinakas.
"Siapa yang telpon yang?" tanya Arka lirih.
"Umi mas, mas bangun karena dengar suara aku ya, maaf ya...."
"Bukan, mas dari tadi memang sudah bangun..." dalih Arka, padahal memang dirinya terbangun karena mendengar suara istrinya yang sedang mengobrol.
"Oh, mau minum wedang jahe?"
Arka menggeleng pelan.
"Sini....." menyuruh Zea untuk mendekat.
Zea manut, dia mendekatkan dirinya ke arah sang suami.
__ADS_1
"Tiduran, aku pengin meluk sayang..." titahnya lagi.
Akhirnya Zea tak jadi membantu memasak, dia ikut tiduran di samping suaminya.
Arka langsung memeluk tubuh Zea yang lebih kecil daripada tubuhnya. Mencari kehangatan dan kenyamanan disana.
"Jangan tinggalin mas...." ucapnya lirih, seiring dengan air matanya yang luruh membasahi pipi.
Zea terkejut, melihat suaminya yang menangis.
Apakah Arka masih trauma dengan masa lalunya?.
"Ia mas, insyaalloh kita akan bersama dalam suka maupun duka ya...." mengusap air mata sang suami.
"Aamiinnn..."
"Mas takut masalalu itu terulang lagi, padahal saat itu usaha mas sudah bisa di bilang maju, tapi mantan mas malah memilih pergi dengan lelaki yang lebih kaya. Meninggalkan mas dan bayi merah, Aira. Mas benar-benar terpuruk saat itu, andai tidak ada mba Airin dan ibu, ntah bagaiman nasib Aira sekarang......"
"Dan kini ketakutan itu kembali lagi, apalagi usaha mas sedang dalam ambang kehancuran..." lirih Arka pilu.
Ternyata dibalik tubuh kekar dan sikap tegasnya seorang Arka, ada sisi yang masih butuh sandaran.
"Mas...." memegang kedua belah pipi Arka.
"Ia"
"Jangan mikirin yang aneh-aneh ok?, aku akan selalu ada di sisimu, apapaun keadaanya itu, yang terpenting mas jangan berputus asa dari rahmat Alloh, yakinlah bahwa disetiap ada kesusahan pasti ada kemudahan. Kita bisa buka usaha lain, misal toko sembako dan sayuran atau toko pulsa dan toko baju setelah ini......" mencoba menghibur.
"Nanti mas pikirin lagi...."
"Jangan terlalu dipikirin mas, lakuian aja, kalo dipikir terus bukannya jadi buka usaha malahan bisa darah tinggi...."
"Lah terus masa mas disuruh ngga usah mikir gitu?"
"Bukan gitu mas, tapi lakuin dan jalankan saja apa yang ada di depan mas...."
"Makasih sayang, kamu telah menghibur mas..."
"Ia sama-sama, tadi umi telpon, katanya nanti mau kesini sama mas Yoga...." jelas Zea.
"Ia ngga papa, lagian semenjak kita menikah mas belum pernah ngajak kamu ke rumah umi..."
"Ia, tolong bantu mas ya..."
"Siap mas...."
Zea bangun dari baringnya, lalu dengan penuh kehati-hatian ia membantu sang suami untuk bangun, dan mengantarnya mengambil wudu.
......................................
Jam setengah enam pagi, Aira terbangun dari tidurnya. Untungnya Zea telah selesai mengurus suaminya, dan kini saatnya ia mengurus sang anak sambung.
"Selamat pagi sayang...." sapa Zea pada Aira.
"Pagi mah...."
"Ayo berdo'a dulu...." menyuruh Aira agar membaca do'a bangun tidur.
Dengan tingkah dan gaya lucunya Aira menuruti titah mamahnya.
"Pinternya...." mencium gemas pipi gembul Aira.
"Itu papah tenapa?" menunjuk Arka yang masih tidur dan tubuhnya tertutup selimut tebal.
"Papah lagi sakit sayang, Ai do'ain papah biar cepat sembuh ya...."
"Ia mah...."
Aira menengadahkan kedua tangannya lalu ia berdo'a agar papahnya segera diberi kesembuhan.
Setelahnya Zea mengajak Aira untuk mandi, tentunya menggunakan air hangat.
.............................
Karena sang suami sedang sakit, jadi Zea tak mungkin bersarapan bersama. Setelah selesai menyuapi Aira makan, ia membawa nampan berisi semangkuk bubur untuk sang suami.
"Mas...."
__ADS_1
"Hem..."
"Sarapan dulu yu...."
"Mas belum lapar sayang...." ucap Arka dengan mata yang masih terpejam.
"Ya sudah ngga papa, kalo mas mau makan bilang ya...."
"Ia sayang..."
"Mau aku pijitin?"
"Boleh"
"Tapi habis itu makan ya..."
"Ia...."
Ibarat kata, Zea memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Tapi biarlah, yang penting Arka mau makan.
Zea mulai memijit tubuh Arka mulai dari punggung hingga seluruh tubuh.
"Ternyata sayang pinter mijit juga ya...."
"Hihi, kata umi biar suaminya ga minta dipijitin sama perempuan lain, kita sebagai istri harus pinter mijit....."
"Heemmm, ia deh ia, Ai nya mana?"
"Lagi jalan-jalan sama mba Airin, Alisa dan mba Juli...."
"Ohh...."
Setelahnya hanya ada keheningan di ruangan itu, karena Arka sudah masuk kedalam dunia mimpinya lagi.
"Huffttt" helanaan nafas Zea.
Setelah memastikan sang suami tertidur pulas, dia dengan langkah pelan kekuar dari kamarnya. Lalu mengecek kamar sang ibu mertua.
Zea merasa sang ibu mertuanya tidak baik-baik saja, pasalnya dari tadi dia belum melihat sang ibu mertua keluar kamar.
Tok
Tok
Tok
"Bu, ini Zea...." ucap Zea didepan pinti kamar ibu mertuanya yang masih tertutup rapat.
Tak ada sahutan.
Zea pun mencoba membuka pintu itu, dan ternyata berhasil.
"Bu...." panggilnya lagi sembari melangkag masuk.
Huek
Huek
Terdengar suara seseorang yang srdang muntah di kamar mandi.
Dengan tingkat rasa penasaran yang tinggi, Zea berjalan ke kamar mandi yang ada di kamar ibu mertuanya itu.
Huek
Huek
Kembali terdengar suara orang muntah.
"Bu...." panggil Zea.
"Ia..." jawabnya dengan suara lirih.
Tanpa meminta ijin lagi, Zea membuka pintu kamar mandi itu. Dan terpampanglah wajah ibu mertuanya yang pucat pasai dengan tubuh yang menggigil.
"Astaghfirullah, ibu..." ucapnya panik.
...................................
__ADS_1
Hai semua, terima kasih atas like & komennya.....
Otor mau minta bantuannya nih, untuk ramaikan novel baruku, judulnya 'Kisah Cahaya'