Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 37.


__ADS_3

Sesuai janjinya tadi pagi, saat ini Zea sedang berada di alun-alun kota, menunggu kehadiran mba Viona.


Zea memilih alun-alun untuk tempat pertemuan mereka, karena tempat itu gampang di temukan, sehingga memudahkan mba Vio nantinya, untuk menemukan keberadaannya.


"Sayang itu kayanya seragam pesantren kamu ya?" menunjuk seseorang yang dimaksud.


Zea mengikuti kemana arah tangan sang suami menunjuk.


Zea sedikit susah untuk menemukan orang yang dimaksud sang suami, sebab keadaan alun-alun saat ini penuh sesak dengan lautan manusia. Apalagi ditambah adanya panggung dan stand-stand makanan. Karena di alun-alun kota itu sedang ada acara musik Expo.


"Oh ia....." ucap Zea saat dirinya telah menemukan seseorang yang dimaksud sang suami.


"Tolong mas ajak dia ke sini....." titah Zea


"Siap sayang....."


Arka pun melangkahkan kakinya, menuju segerombolan anak perempuan yang sedang berjoget ria seiring dengan alunan musik.


"Mba-mba, busa ikut saya sebentar?" ucapnya pada gerombolan anak perempuan itu.


Dengan ragu dan bingung gerombolan anak perempuan itu menngiyakan pertanyaan Arka.


"Ya sudah ayo ikut saya...."


Arka membawa anak-anak remaja itu ke pinggiran alun-alun. Diamana tempat yang sedikit sepi, dan tentunya ada sang anak dan istri disana.


"Ini sayang...."


"Ia mas terima kasih, mas tolong bawa Aira menjauh sebentar ya...."


"Ia sayang....."


Arka mengambil alih sang anak yang berada di gendongan istrinya, lalu membawanya sedik menjauh dari sana.


"Astaghfirullah hal azim" guman Zea.


"Kalian santri baru di PonPes Al-Ikhlas kan?"


"I-iya, maaf mbanya siapa?" gugup salah satu anak.


"Kalian tak perlu tau siapa saya, sekarang kalian semua ikut saya....." berjalan ke arah mobil.


Dengan perasaan yang sudah tak menentu para santri wari yang berjumlah 8 orang itu mengikuti kemana Zea pergi.


"Ze....." panggil seseorang.


Zea membalikan badannya.


"Mba Vio, baru sampai?"


"Udah ada 10 menitan, kamu di telfon berkali-kali tapi ngga ngangkat....."


"Hehe, maaf mba, ponselku tak silen...."


"Pantesan, eh mereka siapa?" menatap heran kearah gerombolan 8 orang perempuan itu.


"Nanti Zea jelasin, sekarang Zea mau minta tolong sama mba...."


"Boleh, minta tolong apa?"


Zea menatap ke 8 santriwati abinya. Menunjuk enam orang untuk ikut di mobil mba Vio. Dan yang dua lagi ikut dimobilnya.


Tak ada yang membantah, mereka pun masuk ke mobil sesuai perintah Zea.


Setelah semuanya masuk ke mobil, 2 mobil itu pun berjalan meninggalkan alun-alun.


..................... ..... ....


Sampilah mereka di depan sebuah gerbang yang menjulang tinggi, atas gerbang yang terbuat dari kombinasi antara besi dan plat, sengaja dibuat runcing, agar tidak ada santri yang nekat memanjat gerbang itu.


Zea turun, mengintip dari sebuah lubang kecil, yang sengaja dibuat agar bisa tau siapa yang datang.


"Masss, tolong buka gerbangnya....." ucap Zea setelah melihat siapa yang jaga.

__ADS_1


Sang penjaga gerbang pun membuka gerbang itu.


"Ngapunten njenengan sinten nggih?" tananya sang penjaga gerbang setelah membuka gerbang.


Zea mengulas senyum, sepertinya penjaga gerbang itu adalah santri baru, hingga belum tau siapa dirinya.


Memang santri baru bisa langsung menjadi abdi ndalem, atau bahkan pengurus, asalkan sebelum mondok dipondok ini, sudah pernah mondok di tenpat lain, minimal 6 taun.


"Kulo Zea, ajeng nganteraken santri santri......" jawab Zea.


"Mengantarkan santri?"


"Nggih, tadi saya tak sengaja melihat santri putri pesantren ini, berada di alun-alun...."


Zea hanya ingin mengetes, apa penjaga gerbang itu percaya padanya atau tidak.


"Ada siapa?" tanya seseorang pada sang penjaga gerbang.


"Niki pak, ada orang yang katanya mau nganteringanterin santriwati yang kabur....."


Orang itu langsung melengok keluar gerbang.


"Loh, mba Zea, silahkan masuk mba....." melebarkan gerbang.


"Ngapunten nggih mba, Raihan belum tau siapa njenengan....." ucap pak Akbar, lurah pondok putra.


"Mboten nopo pak...." jawab Zea dengan kepala yang tertunduk.


Setelahnya, Zea menyuruh kedua mobil itu untuk masuk.


.................... ............


Para santri putri itu, turun dari mobil dengan perasaan gelisah dan takut, bercampur manjadi satu.


"Mba Vio, ayo ikut saya....."


"Malu Ze, aku ngga pake jilbab...."


Bukan maksud Zea menjelekan orang lain. Tapi ia melakukan itu agar mba Vio ma ikut bersamanya.


"Baiklah....." ucap mba Vio pada akhirnya.


"Untuk kalian berdelapan, langsung ke kantor pengurus putri" tagas Zea dengan wajah garangnya.


"Mas, mas sama Ai ke kamar abdi ndalem putra dulu ya....."


"Ia sayang, kamu tanang aja, selesaikan saja urusan sayang terlebih dahulu....."


Setelah itu, Zea mengajak mba Vio ke kamar pengurus putri. Setelah memasrahkan mba Vio pada pengurus putri, Zea juga memberitaukan sie keamanan putri, bahwa ada delapan santri yang kabur.


Selanjutnya Zea pergi ke rumah uminya.


"Assalamu'alaikum umi....." sapanya saat melihat sang umi duduk di sofa ruang keluarga.


"Wa'alaikumussalam sayang....."


"Sama siapa?"


"Sama mas Arka, Aira dan mba Viona...."


"Siapa Viona?"


"Mba Vio, pelanggan di butik Zea mi...."


"Oh...."


"Tapi calon suaminya berkhianat, maka dari itu mba Vio ingin mencari tempat untuk menengakan diri, terus Zea ajak kesini aja...."


"Ia nggak papa, tadi sepertinya umi lihat ada beberapa santri baru ikut kesini denganmu?"


"Ia mi, tadi Zea mempir di alun-alun, ngga sengaja ketemu mereka, lagi pada nonton konsernya mba penyanyi jaran goyang, ya udah Zea paksa untuk pulang...."


"Astaghfirullah hal azim...." umi Hindun mengelus dadanya.

__ADS_1


"Sabar mi, mereka masih santri baru...."


"Ia Ze, umi tau, mana Aira umi kangen dengannya?"


"Sebentar Zea panggilkan ya....."


"Ia......"


Zea bangkit, berjalan menuju kamar abdi ndalem putra.


"Mas....." panggilannya


Semua orang yang ada dikamar itu memandang kerahnya. Zea jadi gugup.


"Ada apa sayang?" tanya Arka, dia tau bahwa panggilan istrinya hanya tertuju padanya.


"Diapnggil umi....."


"Oh ia, sebentar...."


Arka pun bangkit. Membopong Aira, lalu berjalan mendekati istrinya.


"Ayo sayang...."


"Ia mas, ayo....."


Mereka berdua pun berjalan beriringan dengan Arka yang membopong Aira.


"Assalamu'alaikum umi....."


"Wa'alaikumus salam......"


"Hai cucu uti......." menyapa Aira.


Aira yang diasapa hanya tersenyum lucu.


Kemudian umi Hindun mengambila alih sang cucu, menghujani wajah cucunya dengan ciuman. Membuat Aira memekik geli.


Tanpa umi Hindun sadari air matanya telah membasahi pipi.


"Umi...." mengusap punggung uminya.


Zea tau, uminya kini sedang rindu dengan anak cucu yang sudah bertaun tidak pulang kerumahnya.


Bukan sebab ada masalah diantara mereka, namun jarak dan uanglah kendalanya.


Ketiga putrinya menikah dengan lelaki pilihannya sendiri. Tak ada drama perjodohan antara anak kyai, seperti di novel atau sinetron. Umi Hindun dan abi Hasbulloh, membebaskan putra putrinya untuk memilih pasangan hidupnya sendiri.


Kegita putrinya diboyong sang memantu hidup ditanah kelahiran masing-masing.


Anak perempuan pertamanya, hidup di tanah Kalimantan. Aina namanya, suaminya merupakan bos sawit. Namun ntah kenapa ia jarang pulang.


Halimah, nama putri keduanya, ia tinggal di tanah Papua, demi menemani sang suami yang ditugaskan menjaga perdamaian disana. Ya, suaminya seorang TNI angkatan darat. Tentu sebagai sorang abdi negara tidak bisa senaknya sendiri, harus nurut dengan aturan yang telah ditetapkan oleh negara.


Dan putri ketiganya, Zakia, ia merantau bersama sang suami dikota metropolitan, Jakarta.


Tentu umi Hindun dan abi Hasbulloh bisa memahami keadaan menantu kedua dan ketiganya, namun beliau berdua tak habis pikir dengan menantu dan putri pertamanya, mengapa mereka tidak bisa pulang hanya setahun sekali saja?.


...................................


Terima kasih banyak, atas dukungan kalian semua.......


Terus dukung cerita ini ya.....


Oh ya, aku juga mau minta tolong nih, tolong ramaikan juga ceritaku yang satunya lagi ya....


Judulnya : Kisah Cahaya


Sinopsisnya


Cahaya Ghaaliyah Mahasin,gadis manis yang terpaksa menikah dengan Adam Imtiyaz Ali, seorang CEO lumpuh, demi mendapat uang untuk biaya oprasi kista sang ayah.


Haya berhasil mendapatkan uang, namun sebagai gantinya, Adam tidak memperlakukannya sebagai istri, bahkan Adam menganggap Haya sebagai wanita mur*ahan, yang mau menukar tubuhnya dengan uang.

__ADS_1


__ADS_2