
Setelah solat subuh, Zea membantu uminya memasak sarapan.
"Umi..."
"Ia, kenapa?" jawab umi Hindun sembari menggoreng ikan asin.
"Nanti kalo Zea udah nikah sama mas Arka, apa Zea tetap boleh bermanja dengan umi?" tanya Zea dengan mata berkaca-kaca.
"Na, walaupun kamu sudah nikah umi tetap akan menganggapmu sebagai putri kecil umi, samapi kapanpun, tapi..." sengaja mendeja.
"Tapi, kamu tetap harus nurut dengan suami, selama itu kebaikan, jika suamimu menyuruhmu untuk melakukan maksiat atau dosa, kamu boleh menolaknya, namun tetap harus menggunakan cara yang baik..."
"Tapi umi, Zea pernah di ceritain sama mba Dian, dia punya kaka, dan kakanya itu udah nikah, kan rumah kaka iparnya dekat dari sini, terus pas jenguk mba Dian, kaka iparnya pengin ke rumah, tapi ngga dibolehin sma suaminya mi...."
"Mungkin suaminya buru-buru karena ada kerjaan...."
"Kaka mba Dian guru mi, jadi Minggu kan libur..."
"Mungkin maunya sang suami menghabiskan waktu berdua dengan istrinya saja...."
"Tapikan kasian kaka iparnya mba Dian, dia udah lama loh mi ngga ketemu keluarganya, kalo Zea yang digituin Zea udah minggat dari rumah..."
"Hus gaboleh gitu, kan bisa dibicarakan baik-baik, atau kalo ngga bisa buat perjanjian dulu sama suaminya...."
"Dulu umi sama abi gimana?"
"Dulu kalo umi sama abi buat perjanjian, kan umi tinggal disini sama mertua, jadi biasanya satu minggu sekali umi sama abi sempetin ke rumah orang tuanya umi...."
"Oh gitu mi..."
"Ia sayang..."
"Kalo gitu Zea mau buat perjanjian juga sama mas Arka, kalo nafkahnya gimana mi, apa semuanya jadi satu, misal gaji suaminya 3 juta satu bulan, sedangkan uang segitu hanya cukup untuk kebutuhan rumah tangga selama satu bulan juga, terus untuk kebutuhan istrinya gimana mi?"
"Ya sebagai istri yang baik harus sabar dulu..."
"Gitu ya mi?"
"Ia sayang, jangan kamu tuntut suamimu hanya untuk menuruti keinginanmu yang hanya nafsu belaka..."
"Kalo istrinya kerja untuk memenuhi kebutuhannya sendiri gimana mi?"
"Selama suami mengijinkan ga papa, tapi jangan sampai istrinya itu jadi merendahkan sang suami, karena gajinya lebih tinggi...."
"Wah ternyata hidup berumah tangga ngga sesederhana itu ya mi...."
"He'em, udah sana panggil mas Yoga sama abi, di kantor pengurus putra...."
"Siap mi...."
Zea keluar dari dapur uminya, menuju kantor pengurus putra.
Zea memasuki kawasan asrama santri putra, sepanjang jalan ia terus menundukan pandangannya, takut tak sengaja bersitatap dengan para santri putra.
Samapailah Zea di kantor pungurus putra.
"Manggih i sinten mba?" tanya salah satu pengurus putra yang berpas-pasan dengannya.
"Manggih mas Yoga kalih abi, enten teng lebet kan?"
"Nggih..."
"Tolong aturaken, dipanggil umi ken sarapan..."
"Nggih..."
"Nggih mpun, suwun nggih mas..."
"Nggih sami-sami mba..."
Setelah itu Zea kembali ke ruang makan 'ndalem'.
...............................
Kini abi Hasbulloh, mas Yoga, umi Hindun dan Zea sudah selesai sarapan, tapi mereka masih berkumpul di ruangn makan.
"Syafa..."
"Ia abi...."
"Kapan rencana pernikahanmu?"
__ADS_1
"Secepatnya bi, sekarang suarat-suaratnya sedang di urus, nanti setelah semuanya beres Zea dan mas Arka akan langsung nikah..."
"Jadi belum pasti kapannya?"
"Nggih bi...."
"Oh ya sudah, gimana butik kamu?"
"Alhamdulillah bi omsetnya semakin naik tiap bulannya..."
"Alhamdulillah...."
"Kamu ngga pengin buka cabang Ze?" tanya mas Yoga.
"Belum kepikiran mas..."
"Kenapa?"
"Ya ngga papa...."
"Padahal ada teman mas yang mau jula murah tanahnya lo Ze, lokasinya juga strategis...."
"Wah dimana tuh mas, dari kamaren Zea udah punya rencana buat beli tanah tapi belum kesampean..."
"Di desa T, lokasinya dekat pasar, tapi saran mas mending kamu buat sawalayan aja...."
"Kan deket pasar mas, masa mau buat swalayan...."
"Pasarnay cuma buka dua kali dalam seminggu, jadi mas yakin kalo kamu buka swalayan pasti laris manis...."
"Ia nanti Zea pikir lagi mau dibuat apa, tapi Zea tetap pengin beli tanah itu...."
"Beneran?"
"Ia, bolehkan bi, mi?" meminta persetujuan pada abi dan uminya.
"Boleh, itukan uangmu, jadi sepenuhnya hak kamu...." jawab abi Hasbulloh.
"Bener apa kata abimu Ze, umi sama abi hanya bisa mendukung dan mendo'akan yang terbaik..."
"Terimakasih umi abi...." terharu.
"Sama-sama...."
"Ia mas, oh ya luasnya berapa sih mas?"
"774 m²....."
"Wah, luas ya berarti..."
"Ya paslah untuk di jadikan sawalayan...."
"Ok, nanti kalo harganya pas Zea jadi beli..."
"Siap, tapi jangn lupa komisinya...."
"Hadeh, ia ia...."
"Haha, becanda Ze...."
"Udah paham..."
Kemudian satu persatu mereka membubarkan diri. Abi Hasbulloh bersiap pergi mengajar para pengurus putra, umi Hindun juga, sedangkan mas Yoga akan pergi ke bengkelnya.
Ya memang waktunya mengaju untuk pengurus dan abdi ndalem itu, saat para santri lainnya sekolah.
Sementara itu Zea mengecek laporan bulanan tentang butiknya. Buatik Zea hanya khusus menjual pakaian syar'i. Dari baju, gaun dan kebaya semuanya syar'i.
Zea dengan teliti membaca deretan tabel laporan keuangan butiknya di laptop.
Laporan yang Zea terima berisi, berapa banyak barang yang dibeli pelanggan, terus berapa banyak omsetnya. Alhamdulillah bulan ini omset butik Zea mencapai Rp. 500.000.000.
Setelah dikurangi gaji kariyawan dan modal awal, uang itu kini tinggal Rp. 200.000.000.
Seratus juta itulah keuntungan bersih yang Zea dapat.
Kini saatnya Zea mentransfer gaji para karyawan nya.
Tok
Tok
__ADS_1
Tok
"Mba Ze...."
"Nggih, sekedap...."
Zea meninggalkan sejenak pekerjaannya yang belum selesai, demi melihat siapa yang mengetuk pintu.
Ceklek.
"Mba, nyuwun semu ganggu sebentar...." sapa mba Erni.
"Nggih wonten nopo?"
"Anu, nopo mba Ze mpun nransfer uang sing ge pondok?"
"Dereng, niki ajeng, kenging nopo?"
"Niku mba, bumbu dapur kalih wos mpun telas sedanten....."
"Mba Erni mboten ngaos?" seledik Zea, karena ini jamnya ngaji, tapi kenapa mba Erni ada di depannya.
"Ngaos, kulo mpun wangsul...."
"Oh nggih sekedap...."
Zea tak bertanya lagi, karena biasanya kalo ada yang pulang awal itu biasanya karena hanya setoran. Ntah setoran hapalan atau setoran kitab yang di kaji. Bahasa santrinya 'sorogan'.
Zea kembali masuk ke dalam untuk mengambil ponselnya.
Cling.
"Coba mba cek...."
"Alhamdulillah sudah masuk, terima kasih nggih mba...."
"Nggih...."
"Kulo pamit...."
"Monggo...."
Zea kembali ke kamarnya dan melanjutkan pekerjaanya yang belum selesai.
Satu setengah jam berlalu. Pekerjaan Zea kini telah usai.
"Alhamdulillah...." syukur Zea.
Zea menutup laptopnya dan menyaimpannya. Kemudian Zea bangkit dan meregangkan otot-otot tubuhnya yang kaku.
Ceklek.
Zea membuka pintu dan keluar dari kamar pribadinya. Memang sejak Zea sakit dia tidur di kamar pribadinya.
"Ngapain ya...." gumannya.
"Ah mending ke koprasi beli jajan...."
Zea mengunci kamarnya, kemudian dia melenggang pergi ke koprasi.
.................................
Zea sedang asik memilih-milih jajan yang dia sukai.
Setelah memilih diapun ke kasir untuk membayar.
"Lima puluh ribu mba...."
Zea menyerahkan uang pas.
"Yang kemaren siapa mba?" tanya sang penjaga kasir, mas Agus namanya.
Zea mondongak, dengan ekspresi tidak mengerti.
"Kemarean siapa?"
"Halah mba Zea ini pura-pura ngga ngerti segala, itu yang beberapa hari ini sering kesini sama anaknya, calaonnya mba ya?"
"Kalo ia kenapa?" tantang Zea.
"Beneran mba, wah bentar lagi banyak yang patah hati nih...."
__ADS_1
"Bukan urusan situ...."
Zea menyambar kresek yang berisi jajannya, dan segera pergi dari koprasi itu.