
Sore harinya, umi, mas Yoga dan mba Aina datang menjenguknya.
"Sore, Ze...." sapa mas Yoga.
"Malam" cuek Zea.
"Masih sore ini Ze...."
"Yoga, udah jangan ngganggu adikmu" tegur umi Hindun.
"Ia mi maaf...." sesal mas Yoga.
"Gimana kabarmu sekarang Ze, masih sakit?"
"Ia umi, bekas operasinya masih terasa sakit, panas dan perih, jadi satu...." jawab Zea.
"Ngga papa, besok kalo udah waktunya sembuh kan bakal sembuh Ze, sabar ya...."
"Ia mi...."
"Ya udah jangan banyak gerak dulu, cerita yang sebenarnya gimana sih Ka?" menatap Arka.
"Jadi gini mi...." mulai menceritakan kejadian naas itu.
Mereka semua sibuk mendengar cerita Arka. Namun berbeda dengan Zea, ia kini sudah pulas tertidur karena obat.
"Ye, Zea malah tidur...." seloroh mas Yoga.
"Ia Zea kalo habis disuntik cepat tidurnya...." jelas Arka.
"Ohhh...."
Karena tidak mau mengganggu tidur Zea, akhirnya umi Hindun, mas Yoga dan mba Aina pamit pulang.
...................................
Di tempat lain......
"Ayo jangan manja" ucap seorang perempuan dengan tegasnya.
"Bau mba, kotor lagi"
"Ya elah, kemaren kalian ngelanggar peraturan disini ngga ada takutnya tuh, masa cuma sama sampah takut....."
"Ayo, atau mau aku laporin ke umi, biar hukumannya ditambah?"
"Jangan"
"Nah ya udah ayo cepet...."
Perempuan itu adalah mba Viona, yang sedang mengomando santri baru yang kemaren melanggar peraturan.
Walaupun mba Vio baru beberapa hari disini, namun karena ketegasannya umi Hindun memberinya mandat untuk mengawasi para santri baru dalam menjalankan hukumannya itu.
Hukuman terberat bagi santri putri adalah merapikan sampah yang ada di pembuangan akhir yang ada di pondok itu sebelum dibawa oleh truk sampah.
Ya tentu saja, siapa yang mau bau-bauan dan kotor-kotoran untuk merapikan sampah yang banyak sekali itu. Tapi itulah konsekuensi kalo melanggar aturan.
Bukan hanya merapikan sampah saja, namun juga di pagi hari saat semua santri lain masih berada didalam alam mimpinya, yang kene hukuman harus sudah bangun untuk membersihkan dan menyiapkan tempat solat berjamaah mereka, dan setelah itu mereka juga harus membantu pengurus untuk membangunkan para santri yang lain.
Terus juga membersihkan kamar mandi, berdiri selama beberapa menit di tengah halaman pesantren, lari mengelilingi komplek putra 15 kali.
Saat nasib mereka kurang baik, biasanya akan ada santri putra yang menyiram mereka menggunakan air comberan.
Itu hukuman untuk kategori pelanggaran berat. Ya seperti 8 delapan santri baru itu.
Mba Viona juga tak hanya mengawasi, ia juga ikut merapikan sampah-sampah yang berserakan itu.
Setengah jam berlalu, akhirnya mereka selesai merapikan sampah itu.
"Ayo kalian mandi, aws kalo bolos sekolah....."
"Ia mba...." jawab ke 8 santri putri itu.
__ADS_1
Yap, mereka tetap harus berangkat sekolah dan ikut kegiatan wajib di luar hukuman itu. Jika ada yang ketauan tidak mengikuti kegiatan wajib, hukumannya akan ditambah.
Hal ini dilakukan agar para santri itu merasa jera dan tidak mengulangi kesalahannya lagi. Tapi namanya juga santri, kadang ada yang merasa hukuman itu terlalu berat baginya dan memutuskan untuk keluar dari pesantren.
Umi Hindun dan abi Hasbulloh tak pernah mempermasalahkan santri yang minta keluar itu. Hal itu juga tak membuat beliau berdua mengubah peraturan yang sudah ada sejak pesantren itu berdiri.
Mba Vio membereskan peralatan membersihkan sampahnya, lalu ia langsung menuju kamar mandi, untuk membersihkan dirinya.
"Selesai mba Vio?"
"Ia mba Tania......."
"Kayanya mba Vio udah betah banget ya disini..."
"Ia mba, aku senang disini, hatiku jadi tenang, apalagi umi dan santri lainnya baik-baik, bisa makin betah aku...."
"Kalo boleh tau, mba Vio sebelum kesini kerjanya apa?"
Mba Vio terdiam sebentar, memilih kata yang pas untuk menjawab.
"Hehehe, jaga warung makan...."
"Masa sih, kalo diliat dari pakaian mba Vio aja keliat pakaian mahal, masa cuma penjaga warung makan, ngga mungkin ah....."
"Oh, aku tau mba Vio bukan penjaga warung, tapi pemilik restoran ya?"
"Hehehe, mba Tania udah selesai kan?" mengalihkan perhatian.
Viona tak mau pembicaraan ini akan lebih panjang lagi.
"Ia...."
"Bisa minta tolong mba?"
"Minta tolong apa?"
"Ambilin baju sama handuk ya...."
Mba Viona tak mungkin pergi ke kamarnya dalam keadaan kotor seperti itu.
Sepeninggalan mba Tania, kini mba Viona sendirin di kamar mandi. Ia duduk di tangga menuju jemuran yang ada di atas kamar mandi.
Di jam jam segini memang sepi, karena para santri sedang sekolah. Dan di jam seginilah para pengurus mulai mandi dan mencuci baju mereka.
"Ini mba Vio...."
"Terima kasih mba Tania...."
"Sama-sama...."
Setelah itu mba Viona pun mandi.
..................................
"Assalamu'alaikum umi......" salam mba Viona
"Wa'alaikumus salam, duduk sini...."
Mba Vio menuruti titah umi Hindun. Tadi selesai mandi, mba Vio di timbali umi Hindun untuk ke ndalem.
"Gimana udah betah?" tanya umi Hindun.
"Alhamdulillah umi...."
Hening.
"Na..., apa orang tuamu tau kamu ada disini?"
Mba Vio menggeleng. Membuat umi Hindun menghela nafas.
"Na, kabari orang tuamu, kasian mereka, pasti mengkhawatirkanmu...."
Mba Vio mendongak, menatap mata umi Hindun.
__ADS_1
"Vio takut mereka marah, karena pernikahan ini batal umi....."
"Ceritalah sama umi Vio...."
"Sebenarnya Vio ngga setuju untuk menikah dengan mas King, namun papih sama mamih terus memaksa Vio untuk menikah dengan mas King, pada akhirnya Vio menuruti permintaan mamih dan papih....." jeda mengbil nafas.
"Gedung, catring, gaun pengantin semua sudah siap, bahkan kartu undangan sudah disebar, namun mas King malah berkhianat mi. Dia berbuat zi*a dengan sahabat baiku, mi....."
"Jadi kamu dijidohkan?"
"Ia mi....."
"Apa orang tuamu sudah tau kelakukan calon suamimu?"
"Belum mi....."
"Beritaulah mereka dengan baik-baik Vio, umi yakin mereka akan mengerti....."
"Ia mi...."
Mba Viona mengambil ponsel di sakunya, menyalakan ponselnya.
Tutt
Tutt
Tut
"Halo, assalamu'alaikum papih....."
"Wa'alaikumus salam, Vio, kamu dimana Vi, papih mencarimu kemana mana tapi tidak ketemu, bahkan ponselmu pun tak bisa dihubungi. Teman-temanmu juga tidak ada yang tau kemana kamu pergi, pulanglah Vi...." cecar papih Dion.
"Alhamdulillah keadaan Vio baik pih...."
"Sebenarnya kamu dimana, kenapa kamu juga tak pamitan pada King, kamu mau kabur gitu aja?"
"Papih belum tau?"
"Tau apa, jangan mengada-ada kamu...." sentak papihnya.
Viona langsung mengucap istighfar dalam hati.
"Sebentar pih...."
Viona langsung mengirim video saat calon suaminya dan sahabat baiknya melakukan dosa besar.
"Astaghfirullah, apa benar ini King?"
"Ia pih, aku yang merekamnya sendiri, dia itu bukan pria baik-baik seperti yang selalu papih ceritakan padaku, saat membujukku dulu...."
Suasana mendadak hening.
Umi Hindun yang mendengarkan percakapan mereka hanya bisa menghela nafas panjang tanpa mau menyela.
"Jika papih masih mau maksa Vio untuk menikah dengannya, maaf pih, Vio ngga mau...."
"Maafkan papih Vio, papih telah salah memilihkan laki-laki untukmu...." penuh penyesalan.
"Ia pih, Vio maafkan....."
"Pulanglah na, mamih kangen denganmu...." sela mamih Dela.
"Maafkan Vio mih, tapi Vio belum bisa pulang, Vio masih ingin disini untuk menenangkan diri..."
"Baiklah jika itu maumu, tapi apa boleh mamih tau dimana tempatnya?, mamih ingin kesana..." mengiba.
Hati ibu mana yang tak sakit melihat anaknya dikhianati?. Tak ada. Seperti itu pula perasaan mamih Dela, ia turut merasakan sakit dan kecewa yang dirasa anak perempuannya.
"Pondok pesantren Al-Ikhlas..."
...............................
Hai guys, jangan lupa mampir juga di ceritaku yang judulnya ' Kisah Cahaya'. Aku tunggu kehadiran kalian....
__ADS_1