Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 12.


__ADS_3

"Dari umi, abi, dan saat SMP alhamdulillah Calo sudah bisa cari uang sendiri, dengan menjadi disainer......."


Memang benar, saat Zea masih SD dia begitu senang menggambar beraneka macam baju. Dari baju muslim, gaun, dan pakaian laki-laki pun tak luput Zea gambar.


Umi Hindun dan abi Hasbullah yang melihat potensi Zea, membelikan Zea mesin jahit. Dari sanalah Zea mulai menjahit baju-bajunya sendiri. Desain yang selalu kekinian dan jahitan yang rapih membuat para santri iri melihat baju Zea.


Zea yang melihat ada peluang pun mencobanya. Dia mulai memberikan beberapa contoh disain baju muslim yang dia gambar pada mba santri, dan mba santri dengan antusias menyambutnya. Mereka mulai pesan baju muslim ke Zea. Dari awalnya yang hanya lima orang yang pesan, lama kelamaan menjadi banyak. Bahkan Zea mulai kewalahan.


Akhirnya Zea meminta ijin pada abi dan uminya untuk memperbolehkan abdi ndalem putri yang bisa menjahit untuk membantunya. Abi dan uminya pun mengijinkannya. Abi dan uminya kembali membelikannya mesin jahit dan mesin bordir dua sekaligus.


Alhamdulillah usaha Zea semakin maju, hingga kini ia sudah memiliki butik sendiri yang merupakan butik terbesar,terpercaya dan terlaris dikotanya. Tentu setengah dari keuntungan butiknya ia berikan ke pondok pesantren ini, sebagai tanda terima kasih.


"Benarkah?" antara kagum dan tak percaya.


"Ia daddy, oh ya tadi daddy bilang daddy ngirim uang untuk Calo?" Zea hanya ingin memperjelasnya.


"Ia..."


"Selama berapa taun?"


"Tiga tahun pertama..."


"Oh, ya sudah, Calo ganti ya, mungkin saat itu ibu sedang butuh uang, jadi uangnya ga sampai ke Calo....."


"Tidak usah, sudah cukup daddy hidup dalam penyesalan, karena gagal menjadi ayah bagimu, jangn kamu tambah...."


Zea segera memeluk daddynya.


"Maafkan daddy...."


"Ia daddy, Calo juga minta maaf...."


"Oh ya daddy jadi ingat sesuatu, apa namamu ganti?"


"Ia daddy, abi dan umi yang menggantinya...."


Nama asli Zea dulunya hanya Calolina, dan setelah satu tahun mondok di sini, abi dan uminya mengganti dan menambah namanya menjadi Calania Fiona Syafazea.


"Oh iya, Calo sampai lupa, sebentar ya dad, Calo. ambilin minum...."


"Ia...."


Zea segera berlalu ke dapur.


Sesampainya di dapur, Zea segera membuatkan kopi untuk daddy.


"Ze....." panggil umi Hindun


"Eh umi...."


"Ia, tadi sepertinya umi melihatmu berbincang dengan seseorang di ruang tamu...."


"Ia mi, memang benar, dia daddy Zea...."


"Benarkah?"


"Ia mi, alhamdulillah Alloh memudahkan segalanya....."


"Alhamdulillah, umi ikut seneng....."


"Ayo umi ikut Zea untuk bertemu daddy...."


"Ia...."


......................


Zea sampai di ruang tamu kembali, dengan membawa nampan berisi minuman yang tadi dibuatnya.


"Silahkan diminum dad..."


"Ia...."


Srut.... daddy Zea mulai meneruput kopinya.


"Ini umi Hindun dad, beliau istri pengasuh pondok ini, beliau juga sudah seperti ibu Calo sendiri....."

__ADS_1


"Terima kasih telah mengurus, merawat dan mendidik anak saya...."


"Sama-sama, apakah anda hanya datang sendiri kesini?"


"Tidak, saya bersama tiga anak dan istri saya, tapi mereka di hotel, tidak ikut kesini...."


"Oh begitu....."


"Ia...."


"Daddy akan berapa hari di sini?"


"Satu bulan, tapi besok daddy akan ke Bali...."


"Oh begitu...." lirih Zea, kecewa mendengar penjelasan sang daddy.


Umi Hindun langsung mengelus punggung Zea.


Zea jadi berpikir kala tadi daddy nya berkata menyesal karena gagal menjadi ayah yang baik baginya hanya kata-kata untuk menghibur dirinya. Bukan penyesalan dari hati.


"Kalo begitu Calo sekalin minta restu dari daddy untuk merestui pernikahan Calo dan mas Arka....."


"Daddy merestuimu, semoga engkau bahagia dengan pernikahanmu...."


"Amin....."


"Kapan rencananya?"


"Secepatnya, setelah ini Calo akan mengurus surat-suratnya...."


"Oh begitu..."


"Ia....."


Zea memang tak perlu meminta ayahnya menjadi walinya, karena dalam agamanya anak yang terlahir dari hubungan sebelum nikah tidak bernasab pada ayahnya melainkan ibunya.


Dan jika akan menikah maka walinya menggunakan wali hakim.


..................... ......


Zea mendekap erat sang daddy, biar bagaimanapun Zea tetap masih merindukan sosok daddynya itu.


"Daddy pamit...."


"Ia, hati-hati...."


Dengan ditemani oleh abi, umi, Arka dan Aira, Zea mengantar daddy sampai depan gerbang pondok.


Dan menunggunya hingga taksi yang dinaiki oleh daddy hilang di pandangan mata.


"Ayo Ze kita masuk...." ajak uminya.


"Ia umi...."


Kelima orang itu pun kembali masuk ke area pondok.


..............


Sore harinya , Arka meminta berkas-berkas milik Zea yang dibutuhkan untuk mendaftar nikah di KUA.


"Mas, aku kan alamatnya masih di rumah ibu...."


"Ngga papa, nanti biar orangku yang urus, kamu terima beres saja...."


"Terus resepsinya?"


"Kita bicarakan setelah sah...."


"Baiklah...."


"Ya sudah aku pamit, pumpung Ai tidur..."


"Ia hati-hati ya mas..."


"Ia Assalamu'alaikum....."

__ADS_1


"Wa'alaikumussalam....."


......................................


Kini Zea sedang bermanja ke uminya.


"Umi...."


"Ia..."


"Nanti rencanaya setelah akad Zea pengin ngadain syukuran kecil-kecilan, dengan membagikan makanan untuk santri, boleh ngga mi?"


"Boleh dong sayang...."


"Tapi makanannya beli mi, di warung-warung makan deket sini, nanti setiap warungnya Zea pesen sepuluh atau dua puluh biar semua kebagian, gimana mi?"


"Boleh, bagus itu, jadi membatu warga juga..."


"Ia mi...."


"Mi..." lanjut Zea.


"Ia...."


"Kameran saat Zea minta alamat daddy, ibu minta imbalan 300 juta...."


Akhirnya Zea bercerita juga, karena sudah tidak kuat untuk memendamnya sendiri. Apalagi Zea memang selalu bercerita tetang apapun pada uminya.


"Terus...."


Umi Hindun tidak merasa kaget, karena Arka sudah bercerita padanya.


"Mas Arka yang bayar, menurut umi perlu Zea kembaliin ga mi?"


"Apa Arka meminta uangnya dikembalikan?"


"Ngga mi, tapi Zea jadinya ga enak sama mas Arka...."


"Sekarang gini deh, coba kamu bayangin kamu ngasih sesautu untuk orang lain, terus orang itu nolak pemberian kamu, gimana rasanya?"


"Kecewa, dan ngerasa ngga dihargain..."


"Nah itu tau, jadi terima saja, ngga perlu kamu kembalikan...."


"Gitu ya mi?"


"Ia, terus gimana rencana pernikahanmu?"


"Mas Arka yang bakal urus, Zea terima jadi, tadi juga Zea udah serahin berkas-berkasnya ke mas Arka, terus untuk resepsi, kata mas Arka nanti dibicarakan lagi setelah sah...."


"Ya sudah kalo gitu, sekarang tidur ya, udah malam...."


"Ia mi, terima kasih ya mi udah mau dengerin curhatan Zea...."


"Ia, udah sana tidur...."


"Ia mi..."


Zea bangun dari tidurnya dan bergegas ke kamarnya.


......................


Suara bedug yang ditabuh berhasil membangunkan Zea dari tidurnya.


Kemudian Zea membaca do'a bangun tidur.


"Allhamdulillahillazi ahyana ba' damaa amattana wa ilainhin nushur...."


Artinya : Segala puji bagi-Mu ya Alloh, yang telah menghidupkan kami setelah kami ma*i (tidur) dan hanya kepada-Nya kami dibangkitkan.


Setelah itu Zea membersihkan dirinya dan mengambil wudu.


Karena waktu subuh masih satu jam lagi, Zea pun solat tahajud terlebih dahulu, sebelum membaca Al-Qur'an.


Zea tak hanya membaca Al-Qur'an saja, dia juga ikut membaca terjemahnya.

__ADS_1


Zea pernah dengar abinya berkata 'barang siapa yang mau mendapat rahmat Alloh, maka bacalah dan pahami Al-Qur'an'. Mulai dari hari itu jika Zea membaca Al-Qur'an dia juga membaca terjemahannya.


__ADS_2