Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 36.


__ADS_3

Saat ini Zea dan Arka sedang bermain bersama Aira.


Bukan hanya sekedar bermain, karena Zea juga mengajarkan anak sambungnya itu memahami huruf alfabet.


"Ini apa sayang?" tanya Zea seraya menunjukan mainan berbentuk huruf K.


"K....." jawab Aira.


"Pinternya, anak siapa sih ini?" puji Arka.


"Anaknya mamah Zea...." jawab Aira dengan gemasnya.


"Anaknya papah juga dong...." timpal Zea.


"Tentu...." sahut Arka.


"Oh ya mas, nanti malam aku mau nganterin mba Vio ke pondok...."


"Ngapain?"


"Kan tadi mba Vio minta rekomendasi tempat untuk menenangkan diri, ya udah tak ajak kepondok aja, siapa tau nanti mba Vio krasan disana dan dapat jodoh yang lebih baik juga..." jelas Zea.


"Aamin, oh gitu...."


"Ia, bolehkan?"


"Ia boleh, tapi sama mas ya...."


"Ia mas, ya sudah aku sama Ai mau siap-siap arisan di rumah mba Kia ya mas...."


"Ia sayang...."


"Ayo sayang..." membopong Aira.


Zea dan Aira pun berlalu ke kamarnya.


Arka yang ditinggalkan oleh istri dan anaknya, memilih untuk mengecek ponselnya siapa tau ada hal yang penting.


...........................


Kini Zea dan Aira telah sampai di rumah mba Kia. Keadaan rumah minimalis itu masih sepi, karena tetangga yang lain belum datang.


"Ze, bantuin ke, jangan duduk manis aja...." ucap mba Kia yang datang dari dapurnya seraya membawa dia piring berisi jajanan pasr ditangannya.


Zea menghela nafas, baru datang bukannya disambut dengan baik oleh pemilik rumah, ia malah disuruh ikut membantu.


"Ia mba...." ucap Zea pada akhirnya.


"Nah gitu dong, itu Aira suruh main sama Bimo aja....."


"Sayang, Ai main sama mas Bimo dulu ya?"


"Ia...."


"Ya udah mamah tinggal bantu tante Kia dulu ya, jangan nakal nanti kalo sayang mau main mainanya mas Bimo ijin dulu ya, kalo ngga boleh jangan maksa, Ai main sama yang dibolehin aja ya...." pesannya pada sang anak.


"Ia mah...."


Kemudian Zea menyusul mba Kia ke dapurnya.


"Tuh nasi sama sayurnya bawa kedepan..." titah mba Kia, saat melihat Zea berdiri diambang pintu pembatas antara ruang keluarga dan ruang tamu.


"Ia mba...."


Zea mengambil satu bakul nasi, lalu membawanya keruang tamu milik tetangganya itu. Setelah itu Zea balik lagi guna mengambil satu bakul nasi lagi dan beberapa baskom berisi sop daging ayam.


"Itu masih banyak Ze, ko kamu malah duduk?"


"Maaf ya mba Kia, saya bukan pembantu mba" tegas Zea.


Bukannya Zea tak mau membantu lagi, tapi semenjak dirinya hamil, ia jadi gampang lelah dan letih.


Terus juga, kenapa mba Kia tidak bilang dari awal jika dia kerepotan kalo harus mengurus semuanya sendiri?. Jika bilang dari awalkan paling tidak ada tetangga yang lain ikut membantu. Ntahlah hanya mba Kia sendiri yang tau jawabannya.


"Assalamu'alaikum......" ucap para ibu-ibu yang baru datang.


"Wa'alaikumus salam...."


Mba Kia langsung menyambut para tamunya itu dengan baik, berbeda dengan saat Zea datang tadi.

__ADS_1


"Udah dari tadi Ze?" tanya salah seorang ibu.


"Baru lima belas menitan mungkin bu...."


"Ohh..."


"Eh kamu udah isi Ze?"


Pertanyaan klasik untuk sepasang insan manusia yang sudah menikah beberapa bulan.


"Alhamdulillah bu...." jawab Zea.


"Wah seharusnya jangan hamil dulu Ze, kan suami kamu lagi bangkrut, terus nanti darimana kalian punya uang untuk membesarkan anak itu, ibu hamil itu keperluannya banyak loh Ze....."


"Lagian juga Aira masih kecil....."


Zea hanya mengulas senyum tanpa berniatan untuk menjawab.


"Kalo kita sudah menyerahkan hidup, mati, ibadah dan solat kita hanya pada Alloh dan untuk Alloh, maka tidak akan ada kekhawatiran terhadap takdir Alloh....." timpal bu hajah Maryam, sekaligus bunyai.


"Berarti harus pasrah ya bu hajah?"


"Tepat sekali, lagian apa sih yang mau dikejar di dunia ini jika bukan ridho Alloh?"


"Tapikan kita hidup di dunia juga butuh uang bu..."


"Ia tau, kan Alloh juga memerintahkan manusia untuk bertebaran di muka bumi ini untuk mencari karunia-Nya. Dan bekerja juga bisa sebagai salah satu sarana mencari ridho Alloh, caranya yaitu asal diniatkan sebagai ikhtiar untuk mencari ridho Nya... ya kan mba Zea?" menepuk pelan paha Zea.


"Ia bu...." jawab Zea dengan senyumnya.


"Oh ya, kayanya saya pernah liat wajah mba Zea dimuat disalah satu koran...." lanjut bu hajah.


"Hehehe...." Zea hanya tersenyum canggung.


"Benar kan mba Zea, kalo ngga salah, saat itu mba Zea menjuarai kontes disainer di negara tetangga ya?"


"Wah, benarkah Ze?"


Zea tak mau menjawab, dia takut bila menjawab akan menimbulkan ria dalam hatinya.


"Assalamu'alaikum....." ucap ibu-ibu yang baru datang.


"Alhamdulillah, karena semuanya telah berkumpul, kita mulai saja ya...." ucap bu Rt, yang berperan sebagai MC.


Acarapun dimulai.


Arisan disini, sama saja dengan arisan pada umunya di desa-desa. Ada sesi kajian rohaninya, barang sebentar saja, yang akan diisi oleh bunyai setempat. Barulah nanti terakhirnya adalah pengo*okan arisan.


..................................


Saat yang ditunggu-tunggu telah tiba, ya itu pengo*okan nama anggota.


"Bu Hani...." ucap bu Rt, kala membaca secuil kertas bertuliskan nama anggota arisan.


"Tapi kan bu Hani nunggak setoran dua kali...." ucap bu Sari, sebagai bendahara.


"Ya sudah ini bu Haninya hadir ngga?"


"Engga...."


"Kalo begitu kita ko*ok lagi ya...."


"Setuju...."


Memang biasanya begitu, anggota yang sering nunggak akan di keluarkan namanya terakhiran.


Srek srek srek


"Mba Zea....."


"Buat aku aja ya Ze, besok kalo punyaku keluar untukmu...." ucap mba Kia.


"Ya udah ia ga papa....." ucap Zea mengalah.


Lagi pula saat ini dirinya belum benar-benar membutuhkan uang itu.


Setelah itu, mereka semua makan-makanan yang telah disuguhkan oleh sang pemilik hajat.


............................

__ADS_1


"Assalamu'alaikum....." ucap Zea tat kala sampai didepan pintu rumahnya.


"Wa'alaikumus salam....." jawab mbok Yem.


Ceklek


"Sudah selesai mba?"


"Ia mbok....." melangkah masuk.


"Ini mbok buat mbok, tadi Zea beli di tukang mie ayam keliling...." menyerahkan satu kantong kresek hitam.


"Terima kasih mba...."


"Ia sama-sama, ya udah Zea mau ke kamar dulu ya mbok, sama Aira...."


"Ia mba silahkan....."


Dengan membopong Aira, melangkahlah Zea ke kamarnya.


Zea mengurungkan niatnya untuk membuka pintu, kala mendengar suara do'a yang diiringi isak tangis penuh penyesalan sang suami.


Zea ikut larut dalam suara do' penuh tangis dan penyesalan itu.


"Mamah nangis?" tanya Aira.


"Engga sayang, mamah cuam terharu...."


"Oh, terus kenapa ngga jadi masuk?"


"Sayang denger suara papah berdo'a?"


"Ia, tapi nda jeyas...."


"Kita masuknya tunggu papah selesai berdo'a ya..."


"Ok mah...."


"Anak pinter...." mencium gemas pipi sang anak.


Ceklek.


Arka membuka pintu.


"Loh, sayang udah pulang?"


"Hehe ia mas...." canggung Zea.


Sebelum sang suami mengintrogasinya, Zea bergegas pamit, untuk membersihkan dirinya dan juga sang anak.


Selesai membersihkan diri, Zea berencana untuk mengajak sang suami jalan-jalan sore.


"Sini duduk...." titah Arka.


"Ia...."


"Papah..." ucap Aira sembari merentangkan tangannya, minta dibopong sang papah.


Arka segera meraih sang anak lalu memangkunya.


"Sayang, tadi mas udah bikin perhitungan biaya untuk membuat toko sembakonya, dan kira-kira akan menghabiskan dana 50 puluh juta....." jelas Arka.


"Berapapun itu, aku ngga masalah mas, silahkan pakai saja uangnya, dan aku ngga mau mengira-ira akan habis berapa, karena nanti kalo ngga sesuai dengan perkiraan itu aku takut akan kecewa....." tutur Zea.


Ah Zea, hidupmu terlalu lurus dan pasrah.


............................


Terimakasih banyak untuk kalian semua yang udah dukung cerita ini....


Ntah itu like, komentar, atau favorit.....


Ayo dong gaes batu ramaikan juga ceritaku yang satu lagi...


Kisah Cahaya


Nih tek kasih tau sinopsisnya...


Cahaya Ghaaliyah Mahasin,gadis manis yang terpaksa menikah dengan Adam Imtiyaz Ali, seorang CEO lumpuh, demi mendapat uang untuk biaya oprasi kista sang ayah.

__ADS_1


Haya berhasil mendapatkan uang, namun sebagai gantinya, Adam tidak memperlakukannya sebagai istri, bahkan Adam menganggap Haya sebagai wanita mur*ahan, yang mau menukar tubuhnya dengn uang.


__ADS_2