Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 8.


__ADS_3

"Pah, kita harus bicara...."


"Calo kamu tunggu di sini ya..."


"Ia bu..."


"Pah, ayo...."


Kedua orang itu pergi dari ruang tamu.


"Papah apa-apaan sih, dia anakku pah, masa cuma mau tau alamat rumah daddy nya saja harus bayar...."


"Ini kesempatan emas mah, emang mamah mau rumah dan toko papah di sita bank, terus kita jadi gelandangan...."


Christian, nama suami bu Sani. Dia seorang pengusaha di bidang properti. Dan beberapa hari lalu ia terkena tipu oleh temannya sendiri. Sehingga toko dan rumahnya terancam di sita oleh bank, untuk melunasi hutang saat memulai usahanya dulu.


"Ya engga mau sih pah, tapi kan..."


"Terserah kamu sajalah...."


.......................


"Kamu tenang saja Ze, aku yang akan membayar jika memang itu mau mereka..."


"Ngga usah pak, saya juga punya....."


"Darimana kamu punya uang, bukannya kamu baru lulus, ko udah punya uang?"


"Darimana aja, emang kenapa kalo baru lulus sekolah?"


"Ya engga papa sih, sudahlah uangmu simpan saja, sekarang kamu sudah jadi tanggung jawabku...."


Obrolan mereka terhenti kala pak Chris dan bu Sani kembali.


"Ini alamatnya, tapi seperti yang telah dibilang suami saya tadi, kalian harus membayarnya 600 juta...."


Hati Zea seolah hancur berkeping. Kembali merasa terbuang. Bagaimana tidak, dia hanya meminta alamat ayahnya tapi kenapa disuruh membayar mahal.


"Ia tante, mana nomer rekening nya, biar saya transfer sekarang...."


"Ini...." pak Chris langsung menyodorkan secarik kertas.


Arka langsung menerimanya, lalu ia mengetikan nomer itu di ponselnya.


Cling.


"Silahkan om di cek...."


Pak Chris langsung mengecek notifikasi di ponselnya.


"Ia sudah masuk...."


"Baikalah kami permisi, maaf telah mengganggu waktu kalian...."


"Ayo Ze...."


"Semoga ibu selalu bahagia...." hanya kata itu yang terlontar dari mulutnya.


Setelahnya ia berjalan keluar dari ruangan itu.


"Apa kalian tidak mau menginap di sini?" mencegah kepergian Zea dan Arka.


Sebenarnya ada rasa bersalah yang menyelusup di hati bu Sani saat meminta bayaran pada anaknya hanya untuk secarik kertaskertas bertuliskan alamat.


Namun apa boleh buat, jika usaha suaminya bangkrut mau darimana lagi mereka mendapatkan uang, sedangkan mereka punya dua anak yang masih sekolah dan harus dibiayai.


"Tidak usah tante, takut ngerepotin, kami menginap di hotel saja...." tolak Arka.


"Mari kami permisi...."


Setelahnya mereka berdua masuk kedalam mobil, dimana pak sopir sudah menunggu.


"Ke hotel terdekat pak...."


"Siap mas....."


Zea menangis tanpa suara. Hatinya begitu sakit melihat perlakuakn sang ibu.


Ingin rasanya Arka memeluk erat tubuh yang sedang rapuh itu. Membisikan kalimat yang bisa menenangkan hati sang pemilik tubuh. Namun apalah daya, jika Tuhan belum mengijinkannya.


....................................


Sampailah mereka di hotel.


Sang supir turun untuk memesan kamar.

__ADS_1


"Ada pak?" tanya Arka kepada supirnya yang baru saja kembali ke mobil.


"Ada mas...."


"Alhamdulillah...."


"Ze bangun udah sampai hotel...."


Lelah menangis Zea tertidur, padahal jarak antara rumah ibunya ke hotel hanya 30 menit, tapi Zea bisa tertidur dengan pulasnya.


"Ze bangun...."


"Hem...."


"Udah sampai, ayo bangun...."


"Kepalaku pusing...." keluh Zea.


"Kamu sakit?"


Zea menggeleng pelan.


"Cuma pusing, udah samapai ya?"


"Ia, ayo masuk...."


Zea keluar dari mobil dengan sempoyongan, tangan kanannya memegangi kepala dan tangan kirinya berpegangan pada bodi mobil.


"Ayo aku bantu..."


"Masih bisa sendiri ko....."


Walaupun sempoyongan Zea berhasil samapi di kamarnya.


Zea langsung merebahkan dirinya di kasur.


Zea menarik selimut, untuk menutupi tubuhnya yang terasa dingin.


Akibat menahan rasa pusing di kepalanya, Zea akhirnya tertidur kembali.


...................................


Tok


Tok


Tok


Tak ada jawaban.


"Ze, kamu ga mau ke masjid?" tanya Arka lagi


Namun sama, tak ada jawaban.


"Apa jangan-jangan Zea pingsan?" gumannya.


Arka segera membuka pintu itu, dan ternyata tidak dikunci. Melangkah masuk, mendekat ke ranjang.


Semakin dekat dengan ranjang, terdengar suara gemeletuk gigi yang saling beradu dan sebuah rintihan.


Arka mempercepat langkahnya.


Arka bingung bagimana caranya membangunkan Zea?, menggucang tubuhnya?, itu tidak mungkin.


Arka berinisiatif untuk meminta tolong pada staf perempuan hotel.


"Mba...." panggil arka pada sesosok perempuan yang mengenakan seragam kebersihan.


"Ia pak...."


Perempuan itu meninggalkan ember beserta alat pelnya.


"Bisa minta tolong mba?"


"Bisa mau minta tolong apa ya pak?"


"Tolong bangunin teman saya...."


"Baiklah..."


Perempuan itu mengikuti Arka yang masuk kembali ke kamar Zea.


Perempuan itu langsung menuju kamar mandi untuk mencuci tangannya yang kotor, sebelum membangunkan Zea.


"Mba bangun, sebantar lagi maghrib...." mengguncang pelan tubuh Zea yang terbalut selimut.

__ADS_1


Zea tak merespon.


"Coba sentuh keningnya, tadi dia mengeluh pusing....."


Perempuan itu membuka sedikit selimut yang menutup sampai seluruh tubuh Zea. Kemudian ia menempepkan punggung tangannya di kening Zea.


"Panas banget pak...." ucap perempuan itu.


Zea yang merasa ada sentuhan di keningnya membuka mata.


"Saya permisi pak, nih mbanya sudah bangun..." pamit sang petugas hotel.


"Ia mba terima kasih...."


Sang petugas hotel itu, segera keluar dari kamar Zea.


"Pak Arka..." lirih Zea


"Ia, kita ke dokter ya?"


Zea mengangguk. Tanda setuju.


"Kamu masih bisa bangun sendiri?"


Zea kembali mengangguk.


Sedari kecil Zea sudah terbiasa mandiri. Jika dia sedang sakit pun tak akan mengeluh ke siapapun. Dia hanya akan mengurung diri di kamar.


Sampai uminya tau bahwa dia sedang sakit dengan sendirinya. Dan ujung-ujungnya Zea akan mendapat omelan panjang dari mas Yoga.


Kumandang azan magrib terdengar dari seluruh penjuru.


"Kita maghribban dulu ya..."


Zea mengangguk, lalu dirinya bangkit dari tidurnya sembari memegangi kepalanya.


"Mau kubantu?"


"Tidak, silahkan bapak solat dulu..."


"Baiklah...."


Arka melangkah menuju pintu. Sampai di pintu, Arka menoleh ke arah Zea. Mengawasinya sampai masuk kedalam kamar mandi. Barulah dirinya menutup pintu dan pergi ke kamarnya.


Zea membersihkan diri dan berganti pakain sebelum solat.


.............. ..........


Kini Zea terbaring lemah di ranjang pasien rumah sakit. Di salah satu urat nadi yang ada di tangan kirinya sudah terpasang jarum infus, beserta selangnya.


Zea harus dirawat untuk 2 hari kedepan. Zea memang mempunyai riwayat tipes dan darah rendah. Dan sekarang penyakit tipesnya kambuh, disertai darah tinggi. Jadi dia harus dirawat.


"Makan ya, dari siang kamu belum makan..." perintah Arka.


Zea hanya menggeleng.


"Biar cepat sembuh, atau mau makanan dari luar?" tawar Arka lagi.


Zea kembali menggeleng.


"Nanti kalo saya lapar saya makan...." ucap Zea.


"Baiklah, kalo mau sesuatu bilang ya..."


"Hem...."


Arka membalikan badanya, melangkahkan kaki menuju sofa.


Dert


Dert


Dert


Suara getaran yang berasal dari ponsel Zea.


Arka berhenti, membalikan badan lalu mengambil ponsel yang barada di atas nakas itu.


"Umi...." gumamnya


"Siapa pak, umi?"


"Ia..."


"Ya sudah angkat..."

__ADS_1


"Tapi ini video call..."


"Angkat aja...."


__ADS_2