Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 2.


__ADS_3

........... ......... ......


Para santri putri langsung heboh begitu melihat Zea membawa Aira.


"Wah anak siapa tuh mba, ko imut banget?"


"Namanya siapa mba?"


"Umurnya berapa mba?"


"Wah suka eskrim ya?"


Rentetan pertanyaan terus diberikan oleh para santri itu kepada Zea, hingga membuat Zea bingung mau jawab yang mana dulu.


"Namanya Aira, panggilannya Ai..." jawab Zea


"Dede Ai, sama mba Lia yu..."


"Sama mba Dina aja, nanti kita liat ikan..."


"Sama mba Karin aja yu..."


Aira sama sekali tidak merespon ucapan para santri itu, ia malah semakin mengeratkan pegangannya pada jilbab Zea.


"Tolong dong mba bujuk Ai, kami cuma pinjam sebentar..." mohon salah satu santri.


"Aku coba ya..."


"Ai mau ga ikut mba santri, nanti Ai bisa liat ikan yang besar loh..." bujuk Zea


"Nda au, au nya cama mamah..." jawab Aira


"Mamah?" kaget para santri


"Ia dari pertama ketemu tadi di pos jaga udah panggil mamah, aku aja bingung" jelas Zea


"Anak kecilkan emang tau siapa yang baik dan siapa yang jahat mba, mungkin dia pengin kamu jadi mamahnya..." timpal mba Karin


"Emang mamahnya kemana mba?" tanya mba Lia


"Aku ga tau tadi adanya ayahnya..."


"Wah lampu hujau tuh mba..."


"Jangan aneh-aneh, udahlah aku mau ke kamar aja..."


"Yah..." suara kekecewaan para santri putri, karena tidak bisa menjadikan Aira 'mainan'.


Zea pergi dari komplek putri menuju kamar abdi ndalem.


Keadaan kamar begitu sepi, sepertinya para abdi ndalem juga sedang sibuk menyambut para wali santri yang ingin bertemu dengan 'umi' (panggilan untuk istri pengasuh pondok).


Zea menurunkan Aira dari gendongannya.


"Ai, nanti kalo mau pipis apa pup bilang ya..."


"Ia mah..."


"Tolong buka mah..." mengacungkan es krim nya.


"Sini mamah bukain..."


Zea membukakan es krim nya, lalu menyuruh Aira duduk dan membaca do'a sebelum makan.


"Ayo baca do'a dulu..."


"Ia mah, bis millah hilloh man nil lohim..."


Aira dengan gaya khas anak-anak usia satu tahun setengahnya membaca do'a sebelum makan.


Selesai membaca do'a Zea menyuapi Aira eskrim.

__ADS_1


"Alhamdulillah habis, pinternya, anak siapa sih ini?"


"Anak mamah dong..."


Zea dengan gemas menciumi wajah Aira.


"Kalo do'a selesai makannya Ai udah bisa belum?"


Aira menggeleng.


"Ya sudah Ai ikutin mamah ya..."


Zea membaca do'a selesai makan, dan diikuti oleh Aira.


Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillaahil ladzi ath' amana wasaqona wajangalan muslimin.


Yang artinya : Dengan menyebut nama Alloh yang maha pengasih lagi maha penyayang. Segala puji bagi Alloh yang memberi kami makan dan minum serta menjadikan kami orang-orang yang berserah diri (muslim).


Lalu Zea mengajari Aira menghafal huruf hijaiyah.


Sungguh kedua makhluk Alloh yang berbeda usia itu terlihat seperti anak dan ibu kandung. Sama-sama berkulit hitam manis, bibir tipis dan bulu mata yang panjang dan lentik.


Zea juga mengajari Aira menulis dan bermain.


.................. ............ ........


Sore harinya...


"Mba Ze, ada yang nyariin tuh, di kantor pengurus...." ucap salah satu teman sekamar Zea


"Ia..."


Zea yang baru saja selesai memakai pakaian bergegas memakai kerudungnya. Lalu Zea membopong Aira yang sedang tertidur lelap dan membawanya ke kantor pengurus.


"Ze, mau kemana?" tanya mas Yoga, yang merupakan anak pertama sang pengasuh pesantren.


Yoga Aditya Pratama, anak pertama dari 5 bersaudara. Di usianya yang menginjak 29 tahun Yoga masih betah menjomblo, padahal tiga adiknya sudah menikah bahkan punya anak. Ntah apa yang membuatnya betah dalam kesendirian.


"Oh, itu siapa yang di gendong kamu?"


"Aira..."


"Si mas bantuin gendong..."


"Makasih mas, tapi Ze bisa sindiri ko mas..." tolak Zea halus.


"Baiklah..."


"Zea, permisi dulu mas...."


Zea pun melanjutkan langkahnya ke kantor pengurus.


"Assalamu'alaikum...." ucap Zea setelah sampai di depan pintu kantor pengurus.


"Wa'alaikumus salam..."


Zea melepas sendalnya. Saat itu matanya tak sengaja bersitatap dengan mata papah Aira. Mata mereka terkunci satu sama lain hingga beberapa saat.


"Mba Ze..." ucap mba Ina yang menyadarkan Zea.


"Astaghfirullah hal adzim..." ucap Zea beristighfar.


Seketika Zea merasa lemas dan detak jantungnya yang tak beraturan.


Mba Ina segera mengambil alih Aira yang ada di gendongan Zea.


"Maaf..." ucap Zea tak enak hati kepada mba Ina.


Ini bukan keinginannya. Setiap ia bertemu tatap dengan lelaki, tubuhnya akan merasa lemas, dan detak jantungnya tak beraturan. Maka dari itu Zea selalu menunduk saat diajak lawan jenis berbicara.


"Ngga papa mba..."

__ADS_1


Zea masuk kedalam dan langsung menyalamai bu Aminah dan mba Airin.


Setelah itu mereka berbincang sebentar, sebelum Arka pamit karena harus pulang.


.................................


Sudah tiga hari sejak pertemuan pertama Zea dengan Aira. Selama itu pula Zea disibukan dengan kegiatannya yang ikut membantu memasak di dapur pesantren untu acara MOS bagi santri baru.


Karena kesibukannya itulah Zea sama sekali tidak memikirkan Aira. Namun hari ini perasaannya tidak enak terhadap Aira. Sejak pagi Zea sama sekali tidak bisa fokus dalam mengerjakan apapun. Sebab raganya memang berada di sini namun fikirnya melayang jauh ke Aira.


"Mba Ze kenapa sih, kaya gelisah banget gitu, apa sedang tidak enak badan?" tanya mba Erni, ketua dapur


"Ga papa mba..."


" Ya sudah kalo mba Ze ga mau cerita, mba Ze istirahat aja, daripada ga fokus..."


"Ia mba Zea, mending mba istirahat aja..." timpal mas Bilal


"Baiklah, saya ke kamar dulu...."


"Ia silahkan mba..."


Zea berlalu ke kamarnya.


Sampai di kamar Zea langsung membersihkan dirinya dan berganti baju.


Baru saja Zea mendaratkan panta* nya di lantai, sudah ada yang memanggil namanya.


"Assalamu'alaikum...."


"Wa'alaikumus salam, masuk Nia, jangan di pintu..."


"Hehe ia mba..."


"Ada apa?"


"Saya disuruh sama mba Lia, suruh manggil mba Zea, karena mba di panggil umi di ruang tamu.." jelas anak itu.


"Baiklah, terima kasih..."


"Sama-sama,kalo gitu saya permisi mba..."


"Ia silahkan..."


Zea segera memakai jilbabnya dan bergegas ke ruang tamu 'ndalem' (rumah pengasuh atau kyai) .


Kini Zea sudah berada di ruangan itu. Matanya menelisik orang yang sedang bicara dengan ibu angkatnya itu.


"Assalamu'alaikum umi..."


Salam Zea mengalihkan perhatian dua orang itu.


"Wa'alaikumus salam sayang, sini..."


Zea segera melangkahkan kakinya menuju sang bu nyai.


"Kemaren masmu udah cerita sama umi, sekarang umi juga yakin kalo kamu sudah tau kenapa umi panggil, tapi biar lebih jelas silahkan mas Arka..." umi Hindun menatap pada Arka, untuk menjelaskan maksud kedatangannya kemari.


"Terimakasih umi, jadi gini Ze, dari kemaren Aira sakit, badannya panas dan dia mengigau memanggil kamu terus..." jeda


Zea terkejut mendengar kabar Aira sakit. Ya walaupun fitasatnya sudah mengatakan seperti itu.


"Jadi bisakah kamu ikut denganku ke rumah sakit?"


"Zea terserah umi..." jawab Zea, karena bagaimanapun Zea tetap harus mematuhi peraturan pesantren.


"Umi izinkan, pergilah na, kasian Aira...."


..............


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2