
Detik berganti menit, menit berganti jam, jam berganti hari, hari berganti minggu. Tak terasa waktu begitu cepat berlalu. Dan hari yang dinanti-nanti telah di depan mata.
Para rombongan yang akan ikut mengantar pengantin ke KUA sudah siap. Pengantin lelaki juga sudah siap. Kini hanya tinggal menunggu pengantin wanitanya keluar.
Tap
Tap
Tap.
Suara haigh heels yang dipakai oleh pengantin wanita saat beradu dengan pafing. Mengalihkan fokus para rombongan.
"Wah....."
"Cantiknya....."
"Masyaalloh, cantiknya....."
Puji para rombongan pada pengantin wanita.
Pengantin wanita yang mengenakan baju pengantin berwarna coklat susu lengkap dengan jilbabnya dan riasan yang natural membuat siapa saja yang melihatnya menjadi kagum dan pangling akan kecantikannya.
Bahkan pengantin pria tak berkedip saat melihatnya.
"Nah semua udah siap kan, ayo berangkat sekarang....." ucap bu Aminah.
"Ia ayo...."
Satu persatu rombongan memasuki mobil. Begitu juga dengan kedua mempelai.
Namun berhubung keduanya belum sah, jadi belum bisa berada dalam satu mobil, takut khilaf.
................... ........
Sampailah mereka di kantor KUA kecamatan yang terlihat begitu lenggang dan sepi.
Pengantin pria turun dari mobil, lalu segera berjalan masuk kedalam.
Sementara itu pengantin wanita menunggu di dalam mobil sampai nanti sudah terucap kata 'sah'.
"Mi, Zea deg-degan nih....."
"Kalo ngga deg-degan malah bahaya Ze...."
"His umi ini, Zea serius tau...."
"Biar kamu ngga tenggang....."
"Ia..."
.............
Arka sudah duduk menjabat tangan pak penghulu, tanda siap mengucap ijab kobul.
"Siap mas Arka?"
"Siap pak...."
"Kita mulai ya...."
"Ia pak...."
"Bismillah hirrohman nirrohim. Saya nikahkan dan kawinkan engkau Arkana Zein Asyafiq bin bapak Mohammad Sariffudin Asyafiq almarhum dengan ananda Calania Fiona Syafazea binti bapak (wali hakim) dengan maskawin uang sebesar dua juta lima ratus dua rupiah, cicin platinum tiga gram, kalung emas 7 gram, dan ating emas 4 gram, dibayar tunai...."
"Saya terima nikah dan kawinya Arkana Zein Asyafiq bin bapak Mohammad Sariffudin Asyafiq almarhum dengan Calania Fiona Syafazea binti bapak (wali hakim) dengan mas kawin tersebut dibayar tunai...."
"Bagaimana para saksi sah?"
"Sah...."
"Sah...."
"Alhamdulillah hirobbil 'alamin...."
...... ............
Perasaan Zea campur aduk, antar bahagian dan sedih.
Bahagian karena sudah sah, dan sedih karena tidak ada sutupun keluarganya yang hadir, tidak ibu tidak daddy, sama-sama tidak hadir.
Dengan didampingi oleh umi Hindun, Zea masuk kedalam ruang ijab kabul.
"Alhamdulillah kalian telah sah jadi pasangan suami istri...."
"Sekarang silahkan mba Nia cium tangan suaminya...."
"Dan mas Arka cium kening mba Zea...."
Tangan Zea gemetar, tubuhnya lemas, juga keringat sebesar biji jagung turut menjadi bukti seberapa gugupnya Zea.
Tak terasa Zea dan Arka sama-sama menitikan air mata kala tangan keduanya bersentuhan. Apalagi ketika Arka mencium kening Zea, semakin deras saja air matanya.
Kemudian pak penghulu membacakan do'a untuk keduanya.
__ADS_1
Dan selanjutnya adalah penanda tanganan buku nikah.
Setelah semuanya selesai, mereka pun berfoto-foto ria bersama.
Walaupun cuma nikah di KUA, tapi Arka tetap menginginkan yang terbaik untuk istrinya. Jadi dia juga sudah menyiapkan tukang foto grafer dan video juga.
Dan semua peristiwa bahagian hari ini sudah terabadikan di kamera tukang video grafer.
Puas berfoto-foto merekapun pulang.
.......................
"Makasih ya, karena kamu mau jadi istriku..."
"Sama-sama mas, aku juga berterima kasih karena mas mau menjadikanku sebagai istrimu... "
"Aku janji, akan buat kamu bahagia hidup bersamaku....."
"Ia mas..."
"Jangan liat bawah terus dong, kan udah halal..."
"Malu..."
"Malu sama siapa, pak sopir?"
"Tenang pak sopir ngga bakal berani liat ko..."
Zea menggeleng.
"Huh, nasib punya istri anak pesantren...." batin Arka.
Arka dengan perlahan mengangkat dagu Zea, agar Zea menatapnya.
Namun Zea malah menutup rapat matanya.
"Ze..." suara manja, agar Zea membuka matanya.
"Dosa loh Ze nolak permintaan suami...." ucap Arka pada akhirnya.
Zea dengan perlahan membuka matanya.
"Nah gitu dong..."
"Hehehe...." canggung Zea.
"Oh ya, besok kita langsung pindah ke rumah kita ya...."
"Ia, rumah yang aku beli untuk kita..."
"Aku akan ikut kemanapun kamu pergi mas..."
"Berarti kalo aku nyebur ke dalam sumur, kamu ikut juga?" gurau Arka, agar Zea tidak gugup lagi.
"Ye, kalo mau nyebur sumur, aku mah ngga mau ikut..."
"Kenapa, kan istri wajib nurut apa kata suami..."
"Ia, tapi masa kalo disuruh bunu* di*i mau juga, itu namanya istri aneh...."
"Haha, ia juga ya, tapi aku hanya bercanda..."
"Hem...., ini mau kemana sih ko jalannya bukan yang arah pesantren...." heran Zea.
"Ke hotel" bisik Arka di telinga Zea.
Duk.
Zea mendorong tubuh Arka, samapi tubuh gagah itu terpentok badan mobil.
"KDRT nih..."
"Makannya jangan usil..." sewot Zea.
"Tapi ini emang mau ke hotel ko"
"Ter se rah...." rajuk Zea.
Tak terasa mereka sudah sampai di depan sebuah hotel bintang lima.
"Sudah sampai pak...." ucap sang sopir.
"Ia pak..."
"Ayo sayang kita turun...."
"Aku malu..."
"Oh jadi mau digendong?" goda Arka dengan tatapn genitnya.
Zea langsung turun dari mobil.
"Hehe..." Arka terkekeh, melihat tingkah Zea.
__ADS_1
Kemudian Arka menyusul Zea turun dari mobil.
"Ayo...." menggenggam tangan kanan Zea.
Tanpa banyak bicara lagi Zea mengikuti langkah suaminya.
..................
Zea sedang terkagum-kagum melihat kamar hotelnya yang begitu mewah, ini pertama kalinya dia pergi ke hotel.
"Wah bagusnya...." puji Zea.
"Bagus ya?" tanya Arka yang baru saja mengunci pintu kamarnya.
"He'em...." jawab Zea yang masih melihat-lihat.
Puas melihat-lihat, Zea duduk di pinggiran ranjang dan mulai melepas hiasan yang ada di kepalanya.
Kini Zea sudah berhasil mencopot hiasan di jilbabnya, tinggal ganti baju, tapi dia ingat kalo dirinya tidak membawa baju.
Ceklek.
Arka baru saja keluar dari kamar mandi.
"Kamu belum ganti baju?"
"Kan ngga bawa baju...."
"Ada, sebentar ya...."
Dengan usilnya Arka memberikan baju 'dinas' pada Zea.
Zea heran melihat baju yang diberikan oleh Arka.
"Baju apa ini, udah bahannya tipis, kurang bahan pula" batinnya.
"Hahaha...." tawa Arka pecah, kala melihat wajah bingung Zea.
"His, kenapa malah diketawain..." sewot Zea.
"Hehe, maaf, ini yang bener, udah sana ganti baju....."
"Nah ini baru baju, yang itu mah saringan tahu..." ucap Zea sembari berlalu ke kamar mandi.
20 menit kemudian, selesailah Zea membersihkan dirinya dan berganti baju.
Zea berdiri dengan canggung di ambang pintu kamar mandi.
"Udah wudu?" tanya Arka yang sudah siap mengimami solat sunah.
"Udah..."
"Ya udah ayo...."
Tanpa harus diminta dua kali, Zea langsung nurut.
Dia langsung memakai mukena yang ada di atas tempat tidur dan lalu memposisikan dirinya.
"Siap?"
"Insyaalloh...."
Solat sunah dua roka'at pun dimulai.
Walaupun Arka bukan lulusan pesantren, namun dia tidak kekurangan dalam didikan agamanya.
"Assalamu'alaikum waroh matulloh...."
"Assalamu'alaikum waroh matolloh...."
Selesai lah solat mereka.
Arka mengulurkan tangan kanannya agar dicium oleh Zea.
Setelah itu Arka berdo'a untuk kelangsungan rumah tangganya.
"Boleh?" ijin Arka ketika ingin membuka mukenah sang istri.
Zea mengangguk.
Arka dengan tersenyum senang membuka atasan mukenah Zea, lalu jilbab Zea. Arka juga membuka ikatan pada rambut Zea.
"Kamu manis dan juga cantik sayang...."
"Alhamdulillah mas, ini semua karunia Alloh..." jawab Zea.
"Ia, sayang dan kita wajib mensyukurinya..."
"Ia...."
"Bolehkan aku melakukan kewajibanku?"
Dengan malu-malu Zea mengangguk.
__ADS_1