
Aira terbangun dengan nafas yang tak teratur, peluh juga ikit membanjiri tubuhnya. Dia juga menangis.
Zea yang sedang bermanja ke suaminya, langsung bangun, mengangkat Aira dari boxnya.
"Cup cup cup...." mencoba menenagkan Aira.
Memegang kening Aira, dan ternyata panas. Tanda bahwa Aira demam.
"Mas, Ai demam...." lapornya pada sang suami.
Arka bangkit dari duduknya, mendekati sang istri yang berjalan bolak-balik demi menenagkan anaknya.
"Ia" ucap Arka setelah memegang kening Aira.
"Huhuhu mamah....." tangis Aira.
"Ia sayang mamah disini, udah ya jangan nangis ya...."
"Huhuhuhuhu....."
Zea tak berkata lagi. Dia terus menimang Aira agar bocah itu berhenti manangis.
Sementara itu, Arka pergi ke dapur, untuk membuatkan sarapan untuk Aira.
"Mau nyusul papah?" tawar Zea.
Aira mengangguk.
Kemudian Zea membawa Aira kedapur.
"Pagi Ai...." sapa mba Airin.
"Pagi bude...." jawab Zea mewakili Aira.
"Aku kenapa, ko nangis...."
"Demam mba....."
"Ohh, pasti gara-gara makan eskrim kemaren...."
"Bukan..." jengkel Aira.
"Ia...." balas mba Airin.
"Bukan...."
Mba Airin tambah senang meledek Aira. Hingga bocah itu menangis kembali.
Zea memutar matanya malas.
"Mba plis, jangan ledekin Ai terus...." mohon Zea.
"Hihihi, ia ia, maaf......"
Mba Airin lantas pergi.
"Sayang, ayo sama papah, kasian mamah, dari kemaren mbopong kamu terus...."
"Ngga mau, mau sama mamah" tolak Aira.
"Kalo Ai ngga mau sama papah, Ai makan ya..."
Daripada nanti ia disuruh dengan papahnya lebih baik sekarang ia makan.
Aira pun mengangguk. Setelahnya Zea mengambil bubur yang telah dimasak oleh suaminya.
Menyendok sedikit demi sedikit bubur itu, lalu menyuapkannya pada mulut kecil Aira.
"Alhamdulillah pintarnya anak mamah, sekarang minum sirup ya, biar cepat sembuh...."
"Ngga mau, ngga enak"
"Ya udah ngga papa, nanti kita tinggal Aira ke pasar malam ya mah...." ujar Arka.
"Papah jahat" murka Aira.
Zea masih mencoba untuk menahan untuk tidak membentak Aira.
__ADS_1
"Sayang, kan mamah udah pernah bilang ngga boleh apa?"
"Marah, tapi kan papah jahat...."
"Papah ngga jahat ko, papah cuma mau sayang minum sirupnya, biar cepat sembuh ya...."
"Tapi nanti Ai ikut ke pasal malam...."
"Ia sayang, sekarang minum sirupnya ya...." timpal Arka.
Akhirnya setelah drama panjang, Aira mau meminum sirupnya. Dan tak lama setelah meminum sirup itu dirinya tertidur.
Tentu saja, kan memang biasanya di obat penurun panas mengandung obat tidur juga. Agar sang peminum bisa beristirahat dengan tenang.
.......................
"Gimana mas, ibu udah baikan?" tanya Zea saat suaminya baru saja keluar dari kamar ibunya.
"Alhamdulillah sayang...."
"Alhamdulillah, mas sendiri gimana?" tanyanya, karena sejak bangun tidur ia belum menanyakan keadaan sang suami.
"Alhamdulillah udah sembuh, ya walupun masih ada kleyengannya sedikit...."
"Ya udah, sekarang mas istirahat ya..."
"Nanti saja, ini masih pagi, ayo mas temani sayang makan, pasti dari kemarin sayang cuma makan sedikit...." menarik lengan Zea, menuju dapur.
Sesampainya di dapur, Arka manarik salah satu kursinya, lalu menyilahkan sang istri duduk.
"Bisa kali, kemesraanya jangan di umbar..." sindir mba Airin.
"Bilang aja kalo iri, kan ini didalam rumah, jadi bebas dong"
Tuk
Mba Airin menyentil kening sang adik.
"Hua, mas Bimo....., cepat pulang dong...." ucap mba Airin dengan mimik wajah yang dibuat sedih.
"Arka...." jerit mba Airin tertahan.
"Udah mba mas, jangan ledeka-ledekan mulu, sekarang ayo kita sarapan" tegas Zea.
Keduanya pun menurut, bak anak kecil yang dimarahi ibunya.
Zea mengambil piring, lalu mengisinya dengan nasi dan lauk pauknya. Kemudian ia membaginya untuk sang suami dan kaka iparnya.
"Ayo makan..." titahnya lagi.
Akhirnya mereka pun sarapan bersama.
.........................
Kini Zea sedang sibuk mengumpulkan baju kotor milik suami, anak dan miliknya sendiri.
"Kamu mau nyuci baju yang...."
"Ia mas...."
"Jangan, kita bawa saja ke laundry...."
"Cuma segini mas, aku masih bisa...." tidak bisa melanjutkan perkataannya, karena Arka sudah membungkam mulut Zea dengan mulutnya sendiri.
Setelah bungkaman itu terlepas, Zea dan Arka sama-sama berusaha meraup udara sebanyak banyaknya.
"Yang, mas pengin, boleh ya, kan udah hampir seminggu ngga itu...." menatap dengan penuh permohonan.
"Tapi mas, apa ngga bahaya untuk 'dede'?"
"Ngga ko, asal kita hati-hati dalam melakukannya, kan kemaren saat priksa kamu sehat ngga ada yang perlu dikhawatirkan....."
Zea masih diam.
Zea tau menolak permintaan suami itu berdosa, namun dirinya takut, akan terjadi sesuatu dengan calon babynya. Apalagi ini pertama kali baginya.
"Plis yang, masa sayang ngga kasian sama adek kecil mas...." meraih tangan Zea, lalu menuntun tangan itu untuk menyentuh adek kecilnya.
__ADS_1
Zea terkejut, ketika dia memegang adek kecil suaminya yang sudah berdiri.
Zea memejamkan matanya, manghirup nafas dalam, lalu mengeluarkannya perlahan.
"Ia mas boleh...." ucap Zea memberi ijin.
..............................
Tiga hari telah berlalu....
Setelah memastikan keadaan ibunya sudah sembuh, Arka mengajak keluarga kecilnya untuk pulang kerumah mereka.
Dan kini mereka baru saja turun dari mobil.
Para tetangga yang sedang berbelanja di tukang sayur keliling langsung berpindah haluan. Kini mereka malah berkumpul mengelilingi Zea, Arka dan Aira, yang berada dalam gendongan Arka.
"Mas, itu yang viral kemaren lusa beneran mas..."
"Ia mas, beneran ngga, atau itu bukan mas Arka?"
Tanya ibu-ibu yang langsung memberondong Arka dengan pertanyaan seputar video viral kemaren.
"Assalamu'alaikum, bu-ibu selamat pagi....." ucap Zea mengalihkan perhatian.
Dia sengaja melakukan itu, karena ia tak mau suaminya kembali memikirian hal itu lalu kembali drop.
"Eh, ada mba Zea ya...."
"Wa'alaikumus salam...."
"Pagi juga mba Zea...."
Respon para ibu-ibu.
Arka langsung memanfaatkan kesempatan itu untuk pergi kedalam. Bukan maksud Arka tidak sopan, hanya saja ia sudah terlalu malas untuk menjawab pertanyaan tentang hal itu.
"Eh, ko mas Arka nya udah ngga ada...."
"Mas Arka udah masuk duluan bu, sama Aira...." jawab Zea.
"Ohhh, tapi berita itu bener ngga sih mba?"
"Emang kalo benar kenapa, kalo ngga juga kenapa?"
"Ya ngga kenapa-kenapa, kami cuma pengin tau..."
"Ia kasian aja sama mas Arka, masa semenjak nikah sama kamu ada aja masalahnya, dari pohon cabainya kebakar, terus sekarang kebonnya di jual orang......."
Nyes.
Omongan bu Limah langsung masuk kedalam hati Zea lalu menusuknya, bagai senjata tajam yang sengaja di tusukan.
Sakit.
Satu kata itulah yang menggambarkan perasaan Zea saat ini. Bahkan kini dirinya terdiam dan menunduk dalam.
Siapa yang tak sakit, bila ia dituduh sebagai pembawa siap di kehidupan orang yang berada di sekitarnya? Jawabannya adalah tidak ada satu orang pun yang tidak merasa sakit bila dituduh seperti itu.
"Bu-ibu, jadi mau belanja ngga, kalo ngga saya mau nerusin keliling nih....." teriak tukang sayur.
"Oh ia, sampai lupa mau belanja....."
Ibu-ibu pun membubarkan dirinya.
Zea bersyukur, karena panggilan tukang sayur itu mampu menyelamatkannya dari penghakiman dan pertanyaan dari ibu-ibu itu.
Zea pun melangkahkan kakinya menuju pintu utama rumahnya, dengan wajah yang masih tertunduk murung. Yap Zea masih memikirkan perkataan bu Limah.
................
Hola semuanya.....
Apa kabar nih? semoga dalam keadaan sehat ya...
Otor mau ngucapin terimakasih banyak, buat yang udah dukung karya ini.... (terus dukung ya)
JANGAN LUPA JUGA, MAMPIR DI CERITAKU YANG SATU LAGI, DENGAN JUDUL 'KISAH CAHAYA'
__ADS_1