
Sesuai ucapannya tadi, mba Airin pulang setelah Arka menghabiskan makanannya.
Kini hanya ada mereka berdua di ruangan itu.
"Sayang....." panggil Arka penuh kelembutan.
Arka menggenggam tangan kanan Zea.
"Sayang, ayo bangun, apa sayang ngga kangen sama mas dan Aira?"
"Sayang maafin mas ya, mas ngga bisa jaga kamu, sampai-sampai kamu keguguran...." ucap Arka dengan air mata yang membanjiri pipi.
Tanpa Arka duga, Zea merespon. Keluar air mata dari kelopak mata Zea.
Arka yang menyadari itu segera memanggil suster jaga.
Menurut penjelasan suster, Zea memang bisa merespon ucapan orang di sekitarnya, walaupun matanya tertutup. Ini desebabkan Zea masih berada di alam bawah sadarnya.
"Cepat bangun sayang, mas rindu suaramu...."
Arka mengecup tangan Zea. Setelahnya Arka mengelap tubuh Zea, dan mengganti pakaian Zea. Agar tubuh Zea tetap nyaman. Itu juga atas saran suster.
Karena tidak ada hal yang bisa dilakukannya lagi, Arka mengambil wudu, lalu membaca Al-Qur'an lewat aplikasi Al-Qur'an digital di ponselnya.
......................................
Zea mulai mengerjap-ngerjapkan matanya, menyesesuaikan dengan cahaya di ruangan itu. Memeindai sesekeliling, ia tak menemukan siapapun kecuali dirinya sendiri.
Ceklek.
Pintu kamar mandi terbuka, menampipkan Arka dengan rambut basahnya, tanda baru saja selesai mandi.
"Sayang, Alhamdulillah kamu akhirnya sadar juga......" syukur Arka.
Arka segera mendekat keerah sang istri.
"Sebentar ya sayang, mas penggil dokter dulu...."
Tanpa menunggu jawaban dari Zea, Arka langsung memanggil dokter yang bertanggung jawab atas Zea.
Dokter Gio, dokter yang menangani Zea segera datang dan mmelakukn serangkaian pemeriksaan terhadap Zea.
"Siapa nama anda?" tanya dokter Gio.
"Calania Fiona Syafazea...."
"Rumah anda?"
"Desa Kebagusan Rt 01 Rw 05..."
"Apa anda kenal dengan beliau?" menunjuk Arka.
"Ia, dia suami saya...."
"Alhamdulillah, tidak perlu ada yang dikuatirkan, istri mas sudah melewati masa kritisnya, tapi masih perlu dirawat untuk beberapa hari lagi..." jelas sang dokter.
"Alhamdulillah, ia dok...."
"Ya sudah saya permisi dulu...." pamit dokter.
"Ia silahkan dok...."
Arka mengantar sang dokter sampai pintu.
...............
"Sayang, mau minum?" tawar Arka.
"Ia...."
Arka segera mengambil gelas, lalu mengisinya dengan air hangat. Kemudian ia menaikan ranjang Zea, agar gampang untuk minum.
"Berapa hari, aku ngga sadar mas?" tanya Zea selesai munim, dengan air mata yang sedikit demi sedikit turun dari mata indahnya.
Ntahlah, Zea juga tak tau kenapa ia tak bisa menahan air matanya.
"Ada yang sakit?" panik Arka.
Zea menggeleng.
"Sayang udah tidur selama 4 hari...." jelas Arka.
Zea mengernyitkan dahinya. 4 hari?, padahal ia merasa baru satu hari.
"Kenapa sayang?"
"Ngga papa, Zea ngerasanya baru sehari...."
Tentusaja, karena alam bawah sadar dan alam nyata berbeda.
"Gimana kabar calon anak kita mas?"
Sebenarnya Zea tau, apa yang terjadi dengan calon anaknya, namun ia hanya ingin mamastikannya.
Arka tercekat, dia tak sanggup bila harus memberu tau hal yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Aku keguguran kan mas?" tanya Zea.
"Maafkan mas sayang...." lirih Arka.
Zea melengos, menangis tanpa suara.
"Sayang maafin mas, setelah kamu sembuh kita usaha lagi ya...." hibur Arka.
Untuk beberapa waktu keadaan di ruangan itu hening.
"Mas...."
"Ia sayang, mas minta maaf ya...."
"Ia mas, ngga papa ini bukan salah mas, nanti kita bisa usaha lagi...."
"Terima kasih sayang, udah mau maafin mas..."
"Ia mas, gimana Aira? dia ngga papakan?"
"Alhamdulillah, Ai ngga papa, ngga ada yang luka, dan kemaren juga udah dibawa kepesikolog anak, ngga ada yang perlu dikhawatirkan...."
"Alhamdulillah, tapi aku pengin ke kamar mandi mas....."
"Kan kata dokter ngga boleh banyak gerak dulu, kalo mau pi*is ya pi*is aja, kan udah pake ka*e*er..."
"Risih mas...."
Arka menghela nafas, frustasi.
"Sayang pengin cepat sembuh ngga?"
Zea mengangguk.
"Nah, ya udah nurut kata dokter ya, nanti kalo udah sembuh kan dicopot...."
Akhirnya Zea manut saja.
"Udah sekarang kamu tidur ya...."
Zea mengangguk. Kemudian ia membaca do'a tidur dan tidur lagi.
..............................
Zea terbangun saat mendengar Arka mengaji, ntah berapa lama ia tertidur.
Zea menyentuh kepalanya sendiri yang masih terbungkus perban.
Arka yang tau istrinya terbangun, menyudahi membaca Al-Qur'an nya.
Zea merasa risih akan tubuhnya yang berkeringat.
"Mas...."
"Siapa yang gantiin baju aku, pas aku ngga sadar?"
"Maslah, siapa lagi?"
"Oh, aku pengin ganti baju...." ucapnya malu-malu.
"Ya udah, mas bantuin ya, habis itu makan...."
"Ia mas...."
Arka menaikan tempat tidur Zea.
"Au" ringis Zea yang merasa kepalanya sedikit sakit tat kala tempat tidurnya dinaikan.
"Sakit ya sayang?"
"Sedikit mas, aku bisa tahan ko...."
"Yakin?"
Zea mengangguk.
Setelah itu, dengan prnuh kehati-hatian, Arka membuka baju Zea.
Zea sedikit tersipu malu, bagaimana tidak, kini dirinya te lan ja ng di depan suaminya. Selanjutnya Arka mengelap tubuh itu, menggunakan tisu basah.
Selesai mengelap, Arka pun memakaikan Zea baju bersih.
"Alhamdulillah, terima kasih mas...."
"Sama-sama sayang, makan ya?"
"Ia...."
Arka pun menyuapi Zea bubur yang telah disiapkan rumah sakit.
"Udah mas....." ucap Zea, kala bubur itu tersisa setengah.
"Satu kali lagi ya?"
"Ngga, aku mual....."
__ADS_1
"Ya sudah minum ya...."
"Ia mas....."
Arka menyodorkan satu gelas air hangat ke mulut Zea. Zea pun meminumnya.
"Mas...."
"Ia...."
"Apa umi telpon?"
"Ia, kemaren umi telpon, kenapa?"
"Ngga papa...."
Tok
Tok
Tok
"Sebentar ya sayang, mas buka pintu dulu...."
"Ia mas...."
Arka bangkit dari duduknya, lalu berjalan ke pintu dan membukanya. Yang datang ternyata seorang suster.
"Siang pak....."
"Siang sus..."
"Saya akan menyuntikan obat pereda nyeri ke mba Zea ya...."
"Ia sus silahkan...."
..............
"Siang mba Zea...." sapanya pada Zea.
"Siang sus....."
"Suntik pereda nyeri dulu ya...."
"Ia sus...."
"Aga sakit ya mba Zea, tahan ya...."
"Ia....."
Suster itu segera melakukan tugasnya.
"Au" ringis Zea ketika pereda nyeri itu disuntikan lewat selang infus.
"Tahan ya mba...."
"Ia...."
"Alhamdulillah sudah, tadi udah makan?"
"Sudah sus tapi cuma setengah saja...."
"Ia ngga papa, minunya air anget ya pak, biar mba nya ngga mual...."
"Ia sus...."
"Ya sudah saya permisi dulu...."
"Ia sus silahkan....."
Arka pun mengantarkan sang suster hingga pintu.
.........................
Keesokan paginya, bu Aminah dan mba Airin menjenguk Zea. Tentu saja tanpa Aira.
"Gimana Ze?" tanya mba Airin.
"Biasa aja mba, ngga ada yang gimana-gimana...." jawab Zea.
"Hiss, maksud mba, sakit ngga bekas oprasinya..."
"Ohh, ya sakit, panas, perih campur jadi satu..."
"Tapi Zea kuat mba, dia ngga ribut kaya orang dikamar sebelah yang sampe triak-triak..." jelas Arka.
"Kan setiap orang beda Ka..."
"Hehe ia sih mba...."
"Gimana Aira mba, apa Ai rewel?" tanya Zea.
"Kamu ini Ze, lagi sakit ya mikirin Aira, Aira aman, ngga rewel ko, asal ada omanya...." jawab bu Aminah.
"Alhamdulillah...."
__ADS_1
"Udah kamu jangan mikirin yang lain-lain dulu, yang penting kamu sembuh dulu...." nasehat bu Aminah.
"Ia bu...."