Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 38.


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Zea, umi Hindun dan Arka mengalihakn perhatiannya kearah orang yang mengetuk pintu.


Wanita bertubuh cungkring yang mengenakan pakaian kumal, berdiri diambang pintu dengan menggendong anak balita berusia 3 tahun dan ada satu anak lelaki yang berusia 7 tahun berdiri disampingnya. Tubuh dan pakaian anak lelaki itu tak kalah kumalnya dengan pakaian sang wanita.


Wanita itu menatap kearah umi Hindun dengan tatapan rindu yang teramat sangat.


"Aina...." lirih umi Hindun.


"Umi....." panggilnya.


Aina berjalan kearah uminya.


"Umi....." bersimpuh di kaki uminya.


"Umi, maafkan Aina, Aina salah, karena dulu tidak mau mendengarkan nasehat umi. Aina menyesal umi, maafkan Aina......" tangisnya pilu.


Umi Hindun memejamkan matanya. Bayangan masa lalu saat Aina meminta restunya kembali terputar.


Dulu saat Aina meminta restu untuk menikah dengan Malik, pria pilihannya sendiri, umi Hindun keberatan untuk memberikan ijin itu.


Natah karena apa, tapi pertama kali umi Hindun melihat Malik, hatinya mengatakan pria itu bukan pria baik-baik. Namun apa boleh buat, sang putri terus memohon padanya untuk mengijinkannya. Akhirnya dengan sedikit keterpaksaan dalam hati, umi Hindun mengijinkannya.


"Umi sudah memaafkanmu na...." balas umi Hindun.


Zea yang takut menggagu berjalan keluar, bersama sang suami dan anaknya. Memberi waktu berdua untuk anak dan ibu itu.


"Bangunlah na....." menyuruh Aina untuk bangun.


"Ceritakan pada umi......"


Aina langsung menceritakan kisah hidupnya. 5 Tahun pernikahannya berjalan lancar jaya dan penuh kebahagiaan, apalagi sang suami yang begitu sayang padanya dan keluarga kecilnya.


Usaha suaminya juga semakin maju. Namun disitulah ujian datang. Malik, suaminya ijin menikah lagi dengan cinta pertamanya yang telah kembali setelah 8 tahun menghilang.


Aina tidak mengijinkannya, Malik pun marah, karena penolakan Aina, karena amarahnya itu ia berubah menjadi seseorang yang tak dikenal Aina. Malik menjadi sering melalukan KDRT padanya dan juga anak-anaknya.


Ania masih bisa menahan dirinya untuk tidak pergi dari rumah itu, namun beberapa bulan kemudian Aina memergoki Malik sedang berbagi peluh dengan cinta pertamanya itu.


Dengan perasaan hancurnya Aina menyuruh suaminya untuk menikahi cinta pertamanya itu.


Setelah menikah dengan cinta pertamanya, Malik kembali seperti semula, penyayang keluarga.


Namun sang madulah yang terus membuat ulah agar bisa menyingkirkan dirinya, dan akhirnya berhasil, Aina deceraikan Malik pada saat usia anak keduanya satu tahun setengah, akibat fitnah keji yang dibuat madunya.


Dua tahun setengah Aina hidup terlunta ditanah orang, bersama dua anaknya. Aina bekerja apa saja demi dapat uang untuk pulang kerumah orang tuanya.


"Kenapa kamu tidak ngabari umi dan abi?"


"Lelaki brengsek itu tidak pernah memperbolehkan Aina main hp setelah Arka lahir.Katanya agar Aina fokus kekularga...."


Arkan Malik Wisnu, adalah nama anak pertamanya. Dan dulu saat Arka lahir, umi Hindun dan abi Hasbulloh ke Kalimantan, untuk menjenguknya, bahkan beliau berdua menginap selama 15 hari disana.


Umi Hindun menggeleng tak percaya dengan kelakuan mantunya.


"InsyaAllah Alloh akan menggantinya dengan yang lebih baik, siapa namanya?" memegang pipi bocah perempuan berusia 3 tahun itu.


"Naila....."


"Cucu uti...." mencoba membopong.

__ADS_1


Niala melengos tidak mau digendong utinya.


"Ayo bersihkan dirimu dan anak-anak mu dulu, setelah itu makan...."


"Ia umi, abi sama mas Yoga kemana?"


"Masmu sedang menemani abi mengidi pengajian di luar kota...."


"Oh, tadi yang sama Zea siapa mi?"


"Suami dan anaknya...."


"Ohhh"


"Udah sana mandi, biar umi pinjamkan baju pada Zea...."


"Ia mi...."


Mba Aina mengajak anak-anaknya untuk mandi dengan air hangat.


..................


"Umi....." panggil Zea


"Sini Ze...."


"Ada apa umi, tadi kata mba Mela umi manggil Zea?"


"Ia, umi cuma mau ijin minjam baju kamu, untuk Aina...."


"Ia mi, silahkan, bajunya ada dikamar abdi ndalem, mba Aina pulang sendiri mi?"


Memang masih ada beberapa baju yang Zea tinggal disini.


"Ia Ze...."


"Ngga nginep aja?"


"Ngga mi, kapan-kapan aja...."


"Ya sudah hati-hati dijalan...."


"Ia mi, Zea pamit assalamu'alaikum...." menyalimi tangan uminya.


"Wa'alaikumus salam...."


Zea melangkahkan kakinya menjauh dari ruangan itu.


.........................................


"Ayo mas...." ucap Zea setelah sampai di samping mobil suaminya.


"Udah pamitan?"


"Ia sudah...."


"Ya sudah ayo...."


Setelah semuanya masuk kedalam mobil. Mobil pun melaju, membelah jalanan yang sudah mulai sepi. Tentu saja ini sudah jam sepuluh malam.


Keadaan didalam mobil sepi, keduanya sibuk dengan kegiatannya sendiri. Arka yang menyetir dan Zea yang menenagkan Aira yang sedang rewel akibat mengantuk.


Tiba-tiba ada seekor kucing berwarna hitam yang menyebrang jalan.


Pikiran Arka seolah hilang sejenak tadi, dan ia kaget dengan kehadiran kucing hitam yang tiba-tiba itu. Zea juga kaget, sebab tadi ia benar-benar hanya fokus ke Aira.

__ADS_1


Kepanikan pun terjadi.


Arka reflek membanting setir ke kiri.


Brak. Mobil menabrak tiang lampu. Tiang lampu itu tumbang, menimpa mobil.


Aira menangis histeris, ketakutan.


Zea berusaha melindungi Aira, hingga kepala bagian depannya terantuk dasbord mobil dengan kerasnya.


"Selamatkan Aira mas...." ucapnya sebelum menutup mata.


Arka bertambah panik melihat bagian depan mobilnya mulai berasap.


Disituasi paniknya Arka tetap berusaha menyelamatkan orang tersayangnya itu.


Arka mengambil Aira yang berada di dekapan Zea. Membawanya ketempat aman.


"Sayang tunggu papah disini...." berjalan kembali ke arah mobil.


Dengan susah payah Arka membopong tubuh Zea, yang sudah tak sadarkan diri. Lalu membawanya ke tempat diaman Aira berada.


Arka meletakan Zea, lalu membopong Aira yang masih menangis ketakutan.


Duar


Mobil meledak.


"Alhamdulillah ya Alloh, engkau masih menyelamatkan kami....." syukurnya.


Arka tak bisa membayangkan seandainya dari mereka tak berhasil selamat. Jika itu terjadi, mungkin Arka akan hidup dalam penyesalan.


"Darah?" guaman Arka, melihat bawahan gamis istrinya berubah warna.


Arka mencolek sedikit bawahan gamis berwarna biru donker itu.


"Ini darah" menciumnya.


Setelah itu Arka menelpon ambulance.


............................


"Apa yang terjadi Ka?" tanya mba Airin yang datang bersama bu Aminah.


Arka bangkit dari duduknya.Menyerahkan Aira yang sudah tertidur lelap ke mba Airin, lau memeluk sang ibu dan menangis disana.


Bu Aminah membalas pelukan putranya itu.


"Apa yang sebenarnya terjadi Ka?" tanya bu Aminah setelah putranya itu tenang.


"Tadi di jalan pulang dari rumah umi, pikiranku tiba-tiba seolah hilang untuk beberapa saat, aku sadar saat ada kucing hitam berwarna hitam melintas, aku panik, reflek aku membanting setir ke kiri untuk menghindari kucing itu.


Hingga mobilku menabrak tiang lampu, sampai tiang lampu itu tumbang. Demi melindungi Aira, Zea mengorbankan dirinya. Kepala depannya terbentur dasbord dengan kera...." jelas Arka panjang lebar.


"Astaghfirullah hal azim....."


"Maaf menggangu, keluarga pasien didalam?" tanya suster.


"Ia sus, saya suaminya, bagaimana keadaan istri saya?"


"Keadaan sangat parah, istri bapak keguguran dan harus dilakukan oprasi kepala secepatnya, karena ada gumpalan darah di otak depannya......."


Tubuh Arka luruh kelantai. Lemas, tubuhnya begitu lemas.


....................................

__ADS_1


Terima kasih banyak yang udah selalu dukung cerita ini....


jangan lupa, baca juga ceritaku yang baru, dengan judul 'Kisah Cahaya'


__ADS_2