
"Alhamdulillah, akhirnya orang tuamu sudah tau keberadaanmu disini Vi...."
"Ia mi, Alhamdulillah...."
"Lain kali kalo ada masalah jangan langsung kabur ya, hadapi dulu, terus jangan dipendam sendiri, cerita sama mamih atau papihmu ya..." ucap umi Hindun memberi nasehat.
"Ia mi, kemaren Vio terlanjur sakit hati, ngga bisa mikir jernih...." cengir mba Viona.
"Ia, jadikan itu pelajaran ya..."
"Nggih mi..."
"Ya sudah, kamu boleh kbali ke kamar..."
"Ia mi, Vio ke kemar dulu...."
"Ia silahkan..."
Mba Viona bangkit dari duduknya, lalu berjalan meninggalkan ruang keluarga.
.......................
Di sebuah ruangan perawatan di salah satu rumah sakit, seorang suami sedang memandangi wajah sang istri yang sedang terlelap dalam tidurnya.
Tangannya bergerak, menyentuh dengan pelan dan penuh kelembutan kepala sang istri yang berbalut perban.
Hatinya teriris membayangkan bagaimana sakit dan perihnya luka itu.
Zea membuka matanya, ia terbangun dari tidurnya.
"Mas...."
"Ia sayang, kenapa?"
"Mas udah pernah pulang?"
Arka menggeleng.
Memang benar, selama istrinya berada di rumah sakit, Arka belum pernah sekalipun pulang kerumah, ia ingin selalu berada di samping sang istri.
"Pulang lah mas, kasian Ai...."
"Nanti aja sama kamu, kan kata dokter nanti sore udah boleh pulang...."
Memang keadaan Zea sudah membaik. Ia sudah bisa berjalan ke kamar mandi, jadi dokter sudah memperbolehkannya pulang hari ini.
"Hemm, ia sih, tapi aku kepikiran Ai..."
"Mas yakin Aira ngerti keadaan mamahnya ko..."
"Hemm"
"Sayang mau makan?"
"Boleh..."
"Sebentar ya...."
Arka pun menyiapkan makanan untuk Zea. Setelahnya ia pun menyuapi Zea makan.
................
Kini Zea telah selesai makan.
"Sayang...."
"Ia..."
"Nanti kita pulangnya ke rumah ibu ya...."
"Ia mas...."
Arka memang sudah merencanakan hal ini jauh jauh hari. Setelah sang istri di perbolehkan pulang dari rumah sakit, ia akan membawanya ke rumah sang ibu, agar ada yang bisa menjaganya.
Satu detik
Dua detik
Satu menit, suasana begitu hening. Tak ada yang saling bicara mengelurakan suara.Namun kedua mata merekalah yang saling bicara. Menatap satu sama lain.
__ADS_1
Tiba-tiba terlukis senyum di wajah manis Zea. Yang membuat Arka mengernyitkan dahinya. Ntah apa yang ada di pikiran Zea.
"Kenapa yang, apa yang lucu?"
"Ah, aku ingat pertemuan pertama kita, rasanya ngga nyangka aja, aku nikah di umur semuda ini, sama duda anak satu lagi...." jawab Zea.
"Oh jadi kamu nenyesel nih nikah sama aku, yang udah duda, dan punya 'buntut'?" seloroh Arka dengan raut wajah yang berubah datar.
Zea terkekeh kecil, melihat perubahan ekspresi sang suami.
"Ngga, aku ngga nyesal sama sekali, aku malah bersyukur banget bisa nikah sama mas..."
"Terus kenapa ngomong kaya tadi hem?"
"Karena dulu aku ngebayanginnya, aku nikah di usia dua puluh tiga tahun, dengan seorang ustadz yang usianya lima atau tiga tahun lebih tua dari aku......"
"Oh gitu, berarti kamu juga udah pernah suka sama orang lain, sebelum suka sama aku?"
"Kalo aku bilang ngga pernah suka sama orang lain, sudah bisa dipastikan itu bohong. Jadi ya, aku pernah suka sama salah seorang santrinya umi...."
"Suka hanya sekedar suka atau sudah lebih?"
"Hanya sekedar suka saja, belum ada yang bisa buat hatiku berdebar, saat menatapnya kecuali suamiku yang tampan ini...." menyentuh wajah tampan Arka.
Arka menjadi salah tingkah, kala digombali sang istri.
"Udah tambah pinter ya gombalnya sekarang...."
"Mana ada aku gombal, itu asli dari hatiku yang paling dalam loh mas...."
"Masa sih?" menggoda sang istri.
"Terserah" jawab Zea dengan nada sebal.
Kini giliran Arka yang terkekeh melihat wajah kesal sang istri.
"Tau ngga yang, mas udah khawatir banget, kalo kamu bakal ninggalin mas sama Aira untuk selamanya...."
"Mas ngga bisa bayangin kalo sampai hal itu terjadi, mas pasti akan merasa bersalah untuk selamanya...."
Zea menatap manik mata sang suami. Zea sama sekali tidak mendapati kebohongan disana. Dia hanya mendapati sebuah air yang siap terjun bebas dari kedua mata sang suami.
Zea mendekat, lalu memeluk suaminya dengan hati-hati, menjaga kepalanya agar tidak terkena sesuatu yang menyebabkan sakit.
Luruh sudah air mata Arka. Ntah kenapa, semenjak kecelakaan itu perasaannya menjadi lebih sensitif.
"Semoga Alloh selalu meridhoi rumah tangga kita ya mas...." mengurai pelukannya.
"Aaminn...."
Zea mengelap air mata Arka dengan kedua ibu jarinya.
Arka yang diberlakukan seperti itu, tiba-tiba saja tubuhnya merasakan desiran aneh nan hangat.
Apalagi, sudah lama ia tak mendapat kenghatangan dari sang istri. Tubuh Arka menuntu, dari sekedar usapan di pipi saja.
Tanpa sadar, Arka memajukan setengah badannya, hingga Zea bisa merasakan hembusan nafas sang suami.
"M.. m... mas...." gugup Zea.
"Ia..." jawab Arka yang belum tersadar dari perbuatannya.
Tok
Tok
Tok
"Astaghfirullah hal azim, maaf sayang...." sesal Arka yang baru tersadar.
"Ia mas, ngga papa..." jawab Zea dengan tersenyum malu.
Arka beranjak dari tempatnya, menuju pintu.
Ceklek.
Seorang suster berdiri tegak di depan pintu.
"Pagi pak...." sapa suster itu.
__ADS_1
"Pagi sus...."
"Saya mau ganti perban mba Zea dulu ya pak..."
"Ia sus silahkan...."
Mereka pun masuk.
Suster itu ijin kepada Zea untuk mengganti perbanya dahulu. Setelah dapat ijin, dia langsung mengerjakan tugasnya.
Pertama sang suster membuka perban paling luar yang melilit di kepala Zea, hingga tersisa perban yang paling dekat dengan lukanya.
Sang suster menunagkan cairan pembersih luka, agar perban itu mudah di lepas, sebab ada sebagian yang menempel di lukanya.
"Au" pekik Zea yang merasakan perih, tat kala cairan pembersih itu mulai menyentuh luka bekas operasinnya.
"Perih ya mba?"
"Ia sus...."
"Tahan sebentar ya...."
"Ia...."
Selesai sudah drama pelepasan perban. Kali ini sang suster sedang membersihkan luka bekas operasi itu.
Mata Zea berkaca kaca akibat menahan perih. Arka yang melihat Zea berkaca kaca, langsung memalingkan muka, sebab tak tega.
"Alhamdulillah sudah selesai...." ucap sang suster.
"Alhamdulillah..."
"Ya sudah saya permisi dulu ya mba, pak...."
"Ia sus silahkan...."
Suster itupun pergi meninggalkan kamar rawat Zea.
Kini tinggallah dua insan manusia yang sudah terikat hubungan halal itu yang hanya saling diam.
"Mas...."
"Eh, ia kenapa sayang?" jawab Arka sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Yap, Arak sedang salah tingkah.
"Maaf ya...."
"Untuk?" bingung Arka.
"Mas pasti tersiksa kan, apalagi saat gantiin aku baju...."
"Eh, itu, engga ko...." elak Arka.
"Masa sih...." goda Zea.
"Beneran, mas bisa menahannya, sampai kamu benar-benar pulih nanti...."
"Amin...." timpal Zea.
Padahal Zea tau betul jika kebutuhan boilogis merupakan hal yang paling utama bagi lelaki beristri.
Bahkan Zea pernah membaca sebuah berita online, dimana sang suami meminta ijin menikah lagi sebab istrinya yang baru melahirkan tidak bisa melayani kebutuhan biologisnya. Sungguh sangat miris, padalah sang istri melahirkan anak yang sudah mereka nanti nantikan selama 5 tahun pernikahan mereka.
"Kamu tidur lagi aja, mas mau beres beres baju dulu..."
"Masa masih pagi udah disuruh tidur, kan ngga baik kali tidur pagi...."
"Ya udah terserah kamu aja, mas mau beres beres dulu...."
"Ia....."
................................
Terima kasih untuk semua yang sudah mendukung karyaku yang masih ambruladul banget ini, dan kebanyakan dialognya daripada narasinya...........
Novel ini tidak lulus kontrak dua kali gara-gara kebanyakan dialognya daripada narasi 😂😂😂, its ok, aku baru belajar dan baru tau juga harus seimbangin antara narasi, deskripsi dan dialognya.
Dan terakhir, novel ini akan segera aku tamatkan. Selain mau fokus ke novel satu lagi (Kisah Cahaya) , rencananya novel ini juga akan aku buat dalam versi yang lebih baik lagi....
__ADS_1
Terima kasih semua, yang dudah dukung aku...
Love love sekebon pokoknya......