
Lelah bermain Aira tidur lelap di pangkuan Zea.
Zea dengan sayang mengecup pipi gembul milik bocah kecil itu.
"Mamahnya Aira kemana sih mba?" tanya mba Ainun.
"Ngga tau...." jawab Zea.
"Oh, terus kenapa Aira jadi sering sama mba?"
"Oh apa jangan-jangan mamah dan papahnya Aira cerai, terus mba yang akan nikah dengan papahnya Ai?" tebak mba Siti.
"Aku ke kamar dulu ya, kasian Aira, disini brisik..." pamit Zea.
"Yah mba, jawab dulu dong pertanyaan aku..."
"Mari semua...."
Zea melenggang pergi dengan membopong Aira, tanpa menjawab pertanyaan dari mba Ainun.
......................
Zea membaringkan Aira di tempat tidur dengan sangat perlahan, agar bocah itu tidak terganggu tidurnya. Setelah itu Zea keluar lagi.
"Sini duduk Ze..."
"Ia mi...."
"Jadi gimana?"
"Nopone umi?"
"Rencana pernikahanmu dengan na Arka?"
"Kemarenkan Zea sudah setuju dengan keputusan mas Arka yang mau ngadain resepsi, jadi ya Zea tinggal ngikutin aja mi..."
"Utuk masalah mahar?" tanya Arka.
"Semampunya mas Arka saja...." jawab Zea.
"Ya sudah kalo gitu...."
"Jadi sudah jelas ya na Arka...."
"Ia mi....."
"Oh ya, dimana Aira?" tanya Arka yang tak melihat keberadaan putrinya di ruangan itu.
"Aira tidur...."
"Oh ya sudah ga papa, dari tadi malam aku sampai rumah, Aira kebangun dan ga mau tidur lagi, ngerengek terus pengin ketemu mamahnya..." jelas Arka sembari melirik Zea.
"Terus kenapa ngga dibawa kesini dari pagi aja?"
"Kasian kamunya baru sembuh..."
"Hem..."
"Kemaren sudah dapat alamat daddy mu Ze?"
"Alhamdulillah sudah mi..."
"Alhamdulillah, lalu kapan rencananya kalian kesana?"
"Kita ngga kesana mi, karena Arka sudah minta tolong pada teman Arka yang ada disana, dan Alhamdulillah nya dia juga satu kota sama daddyna Zea......"
"Alhamdulillah, berarti nanti beliau yang datang kesini?"
"Ia mi, rencananya begitu...." jawab Zea.
"Ia, terus setelah itu kalian akan langsung nikah?"
"Insyaalloh mi...." jawab keduanya.
"Wah kompaknya...."
Zea tersipu malu.
Zea tersipu malu.
"Huhuhuhu....., mamah...." suara tangis Aira.
Zea segera berlari ke kamarnya.
Ceklek...
Zea langsung membopong Aira dan menenangkannya.
__ADS_1
...................
Malam harinya Aira sama sekali tidak mau tidur, takut kalo bangun mamahnya kembali hilang. Sehingga membuat Arka pusing, pasalnya jika Aira tidak tidur dia tak akan mau diajak pulang kerumahnya, kecuali Zea ikut juga.
Tapi apa nanti kata orang, belum nikah sudah tinggal satu rumah, ya walaupun tidak hanya mereka berdua, rasanya tidak etis saja.
Apalagi kalo mikirin tentang godaan setannya, pasti akan semakin berat, di setiap saatnya. Karena setan tak memandang waktu, dia akan selalu menggoda manusia di setiap saatnya, dari arah depan, belakang, atas, bawah dan semua arah lainnya.
"Biar Aira tidur disini aja mas, kasian dia kalo harus terus menangis...." ucap Zea.
"Tapi apa ngga ganggu aktivitas kamu nantinya?"
"Insyaalloh engga mas...."
Arka terdiam sejenak, memikirkan ucapan Zea.
"Baiklah, aku titip Aira ya..."
"Ia mas...."
"Ai papah pulang ya...." pamitnya pada Aira yang berada digendongan Zea.
"Ia pah, dadah papah...." meringis kesenengan.
"Dasar bukannya sedih mau di tinggal papahnya, anak siapa sih kamu hem?" gemas Arka.
"Anaknya mamah Zea...."
"Ze, aku pulang ya...."
"Ia mas, hati-hati di jalan...."
"Pasti...."
Arka berjalan menjauh dari tempat Zea berdiri.
........................
Dua hari telah berlalu. Selama itu pula Aira tidak pulang kerumah papahnya. Dia menginap dengan mamahnya.
Hari ini juga merupakan hari yang di tunggu bagi Zea, karena dirinya akan tau kabar dan keadaan daddynya.
Zea sedang sibuk memandikan Aira saat Arka datang.
"Wah cantiknya anak papah...." puji Arka yang melihat anaknya sudah mandi.
"Ia dong, kan udah mandi...." jawab Aira.
"Ehem, mamahnya ga ikutan salim juga?" goda Arka.
"Belum halal...." jawab Zea.
"Ia siapa tau mau...."
"Hem..."
"Hehehe, Ai sudah makan?" tanya Arka.
"Sudah dong pah...."
"Makan pakai apa?"
"Telol dadal, dan teyong...."
"Enak ngga?"
"Enak...."
Setelah berbasa basi dengan Aira, kini saatnya menyampaikan apa yang harusnya disampaikan, pada sang mamah Aira.
"Ze..."
"Ia"
"Alhamdulillah daddy kamu udah ketemu...."
"Alhamdulillah...."
"Beliau masih sehat dan masih ingat kamu sebagai anaknya...."
Zea merebes mili. Dirinya tak menyangka sang Daddy masih ingat dengannya.
"Dan hari ini juga, Daddy kamu berangkat kesini..."
"Beneran?" pecah sudah tangis Zea.
"Ia..."
__ADS_1
Tok
Tok
Tok
"Ngapunten mba, enten sing manggih njenengan...." ucap seorang abdi ndalem.
Zea segera mengelap air matanya.
"Nggih, ken masuk mawon mba...."
"Nggih, kulo permisi...."
"Nggih monggo, suwun nggih...."
"Sami-sami...."
Setelah itu sang abdi ndalem pergi.
Tak lama kemudian pintu ruangan itu kembali di ketuk.
Zea menoleh, memandang siapa yang datang.
Seketika tubuhnya menegang, kala melihat tamu yang datang.
Seorang pria paruh baya dengan tinggi tubuh 180 cm, berdiri tegak di depan pintu. Manik matan birunya, menatap Zea dengan tatapan yang sulit diartikan.
Zea juga sama, menatap balik manik mata sang pria.
"Calo....." lirih pria itu.
"Daddy..." guman Zea.
Tak banyak perubahan yang di alami daddynya, sejak terakhir kali Zea melihatnya, hanya ada beberapa kerukan yang terlihat jelas di wajahnya.
Zea bangkit, memindahkan Aira ke pangkuan Arka. Lalu berlari kecil menuju daddynya.
Sang daddy merentangkan kedua tangannya, bersiap menangkap sang anak.
"Daddy....." ucap Zea ketika sudah berada didalam pelukan hangat sang daddy.
Keduanya sama-sama tergugu, karena rindu yang teramat dalam.
Arka yang melihat kejadian itu ikut terharu, sementata Aira hanya menatap dengan bingung.
Daddy Zea terus mencuimi pipi anaknya yang gembil itu. Sebagai cara melampiaskan kerinduannya.
"Ayo duduk dad...." ajak Zea setelah puas memeluk daddy nya.
"Ia...."
Daddy Zea memang bisa berbahasa Indonesia.
"Apakah ini suami dan anakmu?" tanyanya ketika milihat Arka dan Aira.
"Bukan dad, tapi calon...." jelas Zea.
"Oh begitu....."
"Ia daddy apa kabar?"
"Seperti apa yang kamu lihat, baik dan sehat..."
"Alhamdulillah, daddy sendirian kesininya?"
"Ia, yang lain di hotel...."
"Oh....."
Arka yang merasa tak enak hati bila berada di sana, memutuskan untuk pamit keluar. Agar Zea bisa berleluasa cerita dengan daddynya.
Sepeninggalan Arka, Zea dan daddynya mengobrol banyak hal. Dari mulai mengenang masa kecil Zea hingga perpisahan mereka.
Bao, nama daddy Zea. Setelah Zea di bawa ke Indonesia oleh ibunya, selang tiga tahun beliau menikah resmi dengan wanita pilihannya sendiri, dan dikaruniai tiga anak, satu anak laki-laki dan dua anak perempuan.
Beliau juga cerita kalo setiap bulannya mengirim uang untuk Zea, sebesar delapan juta. Lewat ibunya Zea.
Zea terkejut kala mendengar penuturan sang ayah, pasalnya sang ibu hanya mengirimkan uang selama 6 bulan pertama, setelah itu hilang tanpa kabar. Itu pun hanya sebesar lima ratus ribu.
Pak Bao, tak kalah terkejutnya dengan Zea, kala mendengar penjelasan itu.
"Jadi ibumu hanya memberikan uang lima ratus ribu, selama enam bulan saja?"
" Ia dad...."
"Keterlaluan, lalu bagimana kamu bisa sekolah?"
__ADS_1
"Alhamdulillah,Calo dapat beasiswa dad...."
"Lalu kamu dapat uang darimana untuk memenuhi kkebutuhanm?"