Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 7.


__ADS_3

Zea bercerita dengan bercucuran air mata.


Dulu saat Zea baru diberitau tentang kebenaran ini, dia marah dan kecewa terhadap ibunya. Zea merasa dunianya hancur sehancur hancurnya. Merasa masa depannya akan gelap.


Siapa lelaki yang mau menikah dengan gadis yang sala usulnya seperti dia?.


Bukankah jika menikah harus tau bebet, bobot dan bibit nya terlebih dahulu?. Karena itu akan menentukan seperti apa anak yang akan dilahirkannya nanti.


Puncaknya Zea samapi merasa Tuhannya tidak adil padanya dan marah pada Tuhannya. Namun umi Hindun selalu menasehatinya agar tidak marah dan kecewa atas segala hal yang telah terjadi dalam hidupnya, karena itu merupakan suaratan takdir baginya.


Seiring berjalannya waktu, Zea sudah bisa menerima takdirnya itu.


Zea mengakhiri ceritanya dengan perasaan plong. Karena sudah jujur tentang kehidupannya terhadap calon suaminya. Walaupun bukan dengan cara yang diinginkannya.


Namun dalam hatinya, terbesit rasa untuk menolak lamaran dari Arka. Zea merasa dirinya tak pantas untuk Arka. Apalagi Zea juga takut calon mertuanya tidak jadi merestui mereka setelah tau masa lalunya.


"Carilah wanita...." terpotong.


"Ngga Ze, aku ga akan cari wanita lain, lagi pula itu masa lalu ibumu bukan kamu, dan aku yakin kamu adalah yang terbaik bagiku...."


Zea terdiam, menunduk begitu dalam.


"Ia Zea, itu masa lalu ibumu bukan kamu...." ucap bu Aminah.


"Ikuti kata hatimu sayang....." ucap umi Hindun.


Zea mengangkat wajahnya, untuk memastikan suara itu.


"Umi, abi,tante Ami, mba Airin....." lirih Zea


Zea kembali menunduk dalam.


"Nak Arka pria yang baik Syafa, abi yakin kalian akan menjadi partnet hidup yang baik, untuk mencari ridho ilahi"


"Baiklah, Zea terima lamaran dari pak Arka..." ungkap Zea.


"Alhamdulillah...." ucap semuanya.


Mata mbak Airin dan bu Aminah begitu memancarkan sinar kebahagian.


Aira juga sepertinya paham dengan apa yang terjadi, buktinya ia ikut mengucapkan Alhamdulillah.


................


Setelah drama tentang 'masa lalu' kini Arka, Zea, abi Hasbulloh, umi Hindun dan mas Yoga, sedang berkumpul di meja makan.


Sedangkam ibu Aminah, Aira dan mba Airin sudah pulang.


Mereka semua sedang menikmati makanan yang di masak oleh umi Hindun sendiri.


"Mas kira kamu ga bakal mau nikah Ze..." goda mas Yoga


Memang Zea lah yang paling dekat dengan mas Yoga dibanding para adik kandungnya sendiri.


"Mas Yoga apaan si..." malu-malu.


Zea ingat kala dirinya marah dan kecewa setelah mengetahui kebenaran itu, ia pernah curhat kepada mas Yoga sembari menangis, kalo dirinya tidak ingin menikah. Waktu itu Zea baru kelas 5 SD.


Kalo mengingat-ingat tentang hal itu, Zea merasa ingin menghilang dari bumi, atau menenggelamkan mas Yoga kedasar laut, agar tidak membicarakan kejadian itu lagi.


"Kamu ini Yog, sukanya gangguin adik kamu..." tegur sang abi.


"Hehe maaf bi..."


"Mas kali yang ngga mau nikah, umur udah mateng belum nikah juga..." balas Zea.


"Biarin, yang penting mas udah punya calonnya tinggal di kenalin ke abi sama umi aja we......"


Arka merasa cemburu, melihat interaksi keduanya. Arka tak mau jika nanti setelah menikah Zea masih akrab dengan kaka angkatnya itu.


Umi Hindun yang melihat perubahan ekspresi di wajah Arka segera meminta maaf.


"Maaf ya na Arka, Zea sama Yoga kalo ketemu memang selalu ledek-ledekan...."


"Ga papa umi, mungkin Zea butuh sosok kaka laki-laki...." mencoba mengerti.

__ADS_1


Zea langsung merasa tak enak hati.


"Abi boleh ngga kalo Arka dan Zea nikah siri dulu?"


Bola mata Zea sontak membelalak, kaget dengan uacapan Arka.


"Bukannya abi ngeleranh, tapi alangkah lebih baiknya kalian temui orang tua kandung Syafa dulu untuk meninta restu....."


"Baikalah, apa umi punya alamat ibunya Zea?" tanya Arka kemudian.


"Ada di buku pendaftaran santri, nanti umi suruh pengurus untuk mencarinya ya...."


"Biar Zea aja yang cari umi..."


"Kamu istirahat aja Ze, pasti cape abis nangis..." ledek mas Yoga.


Zea merengut kesal.


........................................


Tiga hari sudah, sejak kejadian malam itu. Kini Zea, Arka dan sang supir mobil pergi mencari ibu kandungnya Zea, dengan berbekal informasi dari buku pendaftaran santri, mereka pergi ke alamat itu.


Di dalam mobil hanya Arka dan pak sopir yang berintetaksi. Sedangkan Zea, ia fokus menikmati pemandangan yang ada.


Setelah menempuh perjalanan sekitar 9 jam, akhirnya kini mereka telah sampai di depan sebuah rumah yang terbilang mewah di kawasannya.


Jantung Zea berdegup lebih kencang, pertanda gugup. Ini pertama kalinya Zea menginjakan kakinya di sini lagi setelah 13 tahun.


"Ayo Ze turun..."


Zea turun.


Arka dan Zea langsung menghampiri pintu rumah itu lalu mengetuknya.


Tok


Tok


Tok.


"Wa'alikumus salam..." jawab suara perempuan.


Ceklek.


Seorang perempuan muda yang mengenakan baju khas pembantu membukakan pintu.


"Maaf, apa benar ini rumah ibu Sani dan keluarga?" tanya Arka.


"Ia benar, ada apa ya?"


"Alhamdulillah..." batin keduanya.


"Bisa kami bertemu ibu Sani?"


"Bisa, dengan mas dan mba siapa?"


"Calolina...." jawab Zea


"Baiklah tunggu sebentar..."


Perempuan muda itu, kembali masuk kedalam.


Tak berapa lama kemudian, perempuan muda itu datang bersama dengan seorang wanita yang masih terlihat cantik dan bugar, di usianya yang menginjak 53 tahun.


"Siapa ya?" tanya wanita itu.


Manik mata wanita itu tak sengaja bertemu dengan manik mata milik Zea. Kedua manik mata itu saling mengunci.


"Ibu..." batin Zea.


Mata wanita tua itu tiba-tiba mengembun.


"Calolin, ini kamu?" Bergerak maju, tanpa melepas kontak mata.


"Ia ibu, ini Calolin...."

__ADS_1


Wanita itu terus maju, hingga sampai didepan Zea, lalu ia memeluk Zea erat.


Keduanya saling tergugu di pundak satu sama lain.


"Maafkan ibu Calo...."


"Ia bu, Calo sudah memafkan ibu...."


Sani mengajak keduanya untuk masuk.


Zea tertegun melihat tanda salib yang ada di atas AC ruangan itu.


Arka mengikuti arah mata Zea. Sama Arka juga terkejut.


"Ze...."


"Saya ga papa...."


Keduanya melanjutkan langkah menuju sofa.


"Silahkan duduk.."


Keduanya pun duduk.


"Salma...." memanggil pembantunya.


"Ia bu...." perempuan muda tadi datang dengan tergopoh-gopoh.


"Tolong buatin minum...."


"Siap bu...."


"Kamu apa kabar Calo?"


"Seperti yang ibu lihat, Calo baik..."


"Syukurlah..."


"Oh ya, siapa yang bersamamu ini, apa dia suamimu?"


"Bukan bu, masih calon, dan maksud kedatangan Calo kesini untuk meminta restu ibu....."


"Ibu merestuimu na, semoga kalian bahagia...." tulus ibu Sani.


"Amin, terima kasih bu...."


Pembantu rumah tangga yang tadi datang dengan membawa nampan yang berisi tiga gelas minuman.


"Silahkan minumnya...."


"Ia terima kasih...."


"Ibu datang ya...."


"Ibu akan mengusahakannya...."


"Oh ada tamu toh...." ucap seoarang lelaki yang umurnya setera dengan bu Sani.


"Sini pah..."


Lelaki itu mendekat kearah sang istri dan duduk di sampingnya.


"Ini Calo anak aku dan calon suaminya, mereka kesini untuk minta restuku..." jelas bu Sani pada suaminya.


"Oh, pantesan wajahnya mirip kamu,cantik..."


"Ehem, maaf tante dan om, tujuan kami kesini sebenarnya ada dua, yang pertama minta restu dan yang kedua ingin meminta alamat daddy nya Calo...." sela Arka yang tidak suka saat mendengar Zea dipuji oleh bapak tirinya.


"Oh baiklah tunggu disini sebentar...."


"Tapi kalian harus bayar 600 juta....." ucap sang suami.


Sontak bu Sani membelalakan matanya. Kaget.


Bersambung.....

__ADS_1


....................


__ADS_2