
Zea mendekat ke bu Aminah. Menuntunnya untuk berbaring di kasur.
Setelah bu aminah berbaring di kasurnya, Zea menyelimuti tubuh ibu mertuanya itu. Kemudian ia berlalu pergi.
"Mbok" panggilnya pada sang aisten rumah tangga, yang sudah cukup tua.
"Ia mba...."
"Apa di keluarga ini punya dokter keluarga yang biasa menangani bila mereka sakit?"
"Ada mba..."
"Tolong telfonkan mbok, suruh datang kesini secepatnya, ibu sakit...." jelas Zea singkat.
"Siap mba...." tanpa banyak tanya lagi orang yang dipanggil 'mbok' itu segera menuruti titah Zea.
Zea berjalan dengan langkah lebar-lebar ke dapur. Membuka lemari penyimpan stok makanan.
"Alhamdulillah ada...." ucapnya kala menemukan benda yang dicarinya.
Membuka wadah yang membungkus benda itu, lalu menuangkan isinya pada gelas. Kemudian Zea menambahkan air pasan secukupnya. Dan jadilah 'wedang' jahe.
Ya walupun wedang jahe instan, setidaknya bisa memberi rasa hangat pada tubuh untuk sementara.
Menaruh gelas itu oada sebuah nampan kecil, kemudian ia bawa ke kamar sang ibu mertuanya.
"Bu...." panggilnya pelan.
"Ehm...." jawab ibu mertuanya.
"Minum wedang jahe dulu ya, biar badan ibu ngga terlalu kedinginan dan juga untuk meredakan mualnya...."
"Ia...."
Zea pun membantu sang ibu mertua untuk duduk bersandar pada sandaran yang ada di ranjang. Setelahnya ia menyuapi ibu mertuanya wedang jahe itu.
Ntah kenapa di tengah-tengah Zea menyuapi ibu mertuanya, beliau mengeluarkan air mata, dan itu membuat Zea panik.
"Ada yang sakit bu, mau Zea pijitin, sembari menunggu dokter datang?"
Beliau menggelengkan kepalanya.
"Ibu hanya merasa terharu, kamu mau merawat ibu dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang. Tidak seperti mantan istrinya Arka yang dulu, dia tidak pernah menegur ibu lebih dulu, apalagi untuk merawat ibu kala sakit...."
"Mungkin mantanya mas Arka yang dulu segan sama ibu...."
"Mana mungkin, bahkan dia berani terang-terangan membentak-bentak Arka di hadapan ibu....."
"Hehehe, kan semua manusia itu berbeda bu, kalo sama itu namanya kembar identik...." gurau Zea.
Dan gurauan itu berhasil mencetak senyum di wajah sang ibu mertua. Walau hanya senyum tipis.
"Hah, pantas saja tubuh Arka tambah berisi, wong bojonya aja lemah lembut penuh kasih sayang dan lucu juga...."
"Hihi, ibu bisa aja, Zea kan jadinya malu..." ucapnya dengan malu-malu kucing.
"Udah dulu ya bu ngobrolnya, sekarang ibu istirahat ya...."
"Ia...."
Zea pun membantu ibu mertuanya membenahi posisinya.
.......................
Setelah dari kamar ibu mertua, Zea pun ke kamarnya untuk melihat kondisi sang suami.
"Darimana yang?" tanya Arka lemah.
"Dari kamar ibu...."
"Apa ibu sakit juga?"
"Ia mas, tadi ibu muntah-muntah sama badannya pucat pasai dan mengigil...." jelas Zea.
"Astaghfirullah hal azim, pasti ibu kepikiran tantang video viral itu...."
"Engga tau juga sih mas, tapi tadi ibu mau minum wedang jahe, biar badannya ngga terlalu dingin, sambil nunggu dokter datang...." jelas Zea.
__ADS_1
"Oh ya, mas kan belum makan, makan ya aku suapin?"
Arka mengangguk.
"Sebentar ya aku panasin dulu buburnya...."
Arka kembali mengangguk.
Dengan semanagt 4 5 Zea berjalan ke dapur, memasuian satu mangkuk bubur kedalam microwave.
Menunggu sekitar 5 menit, lalu ia mengambil mangkuk bubur itu lagi.
Setelah dirasa sudah cukup hangat untuk dimakan, Zea membawa semangkuk bubur itu dan satu gelas air minum ke dalam kamarnya.
"Mas, ayo makan...." ucapnya sembari mengusap pelan dada bidang sang suami.
Arka yang baru saja akan masuk keduania mimpinya pun kaget dan terbangun.
"Maaf mas, tapi mas harus makan dulu...." tegas Zea.
Akhirnya Arka pasrah dan menurut apa kata istrinya.
"Auch" lirih Arka, menahan sakit di kepalanya kala ia mencoba bangun.
"Mas ngga papa?" tanya Zea khawatir.
"Kepala mas sakit banget yang...."
"Ya udah mas tiduran aja, biar aku suapin....."
Arka menurut.
Tiga sendok bubur telah masuk kedalam perut Arka, dan dia mengatakan kalo dirinya sudah kenyang.
Zea tak memaksa Arka untuk menghabiskan makanannya, tapi dia memaksa sang suami untuk meminum obat pereda sakit kepala.
.............................
"Huhuhu...." suara tangis Aira yang terdengar sampai kedalam rumah.
"Sayang kenapa nangis?" tanyanya khawatir.
"Mau pegang an*ing kecil yang lucu dan menggemaskan, jelas aku larang lah, eh malah nangis...." jelas mba Airin.
"Oh gitu mba..."
"He'em, oh ya ibu udah keluar kamar belum?"
"Ibu sakit mba, badannya menggigil...."
Datanglah sebuah mobil berwarna silver, dan berhenti dihalaman luas rumah itu.
Keluarlah seorang lelaki muda dengan pakaian kebanggaannya yang sekaligus juga menunjukan profesinya.
"Selamat pagi semua...." sapanya.
"Pagi...." jawab semuanya kecuali Zea, karena ia sedang sibuk menenangkan anak sambungnya.
"Apa benar ini kediaman keluarga Asafiq?"
"Ia benar, anda siapa ya?" tanya mba Airin.
"Perkenalkan saya Daniel, anaknya dokter Raisa, dan karena hari ini ibu saya sedang berlibur, jadi tugasnya saya yang gantikan..." jelasnya.
Dokter Raisa adalah dokter yang dari dulu menjadi dokter kelaurga ini.
"Oh begitu, ya sudah ayo masuk...." ajak mba Airin.
Mereka pun masuk, meninggalkan Zea yang masih sibuk membujuk Aira.
"Sayang jangan begini dong, ayo kita masuk ya..."
"Tapi nanti beli eskrim ya mah...."
"Kan di dulkas masih ada sayang, nanti kalo ngga dimakan eskrimnya nangis loh...."
"Emang eskrim bisa nangis mah?"
__ADS_1
"Bisa, kalo saja semua makanan dikasih mulut, pasti mereka akan merasa kecewa dan sedih, ketika tidak di makan...."
"Ya udah deh, Ai mau makan eskrim yang ada aja, tapi nanti kalo udah habis kita beli lagi ya mah...."
"Siap sayang....."
Akhirnya Zea menyusul masuk.
..............................
"Hua jangan, om doktel jahat, mau nyuntik oma..." tangis Aira pecah, kala dia melihat omanya akan di suntik.
Zea memejamkan matanya sebentar, berdo'a dalam hatinya agar di beri hati yang lapang untuk menghadapi anak sambungnya itu, yang hari ini sedang rewel.
Zea membawa Aira keluar dari kamar omanya.
"Hua, mamah sama bude juga jahat, ngga mau bilangin om doktel biar jangan suntik oma...."
"Sayang dengerin mamah dulu" ucap Zea dengan sedikit tegas.
"Oma kan lagi sakit, jadi harus disuntik, biar omanya cepat sembuh....."
"Gitu ya mah?"
"Ia sayang, nanti papah juga gitu, kan papah juga lagi sakit....."
"Tapikan kasian mah, disuntik itu sakit...."
"Lebih kadian lagi kalo sakitnya ngga sembuh-sembuh. Nanti oma sama papah jadi ngga bisa main sama Ai lagi loh...."
"Belalti kalo sakit harus disuntik ya mah, biar cepet sembuh....."
"Tergantung sakitnya sayang, kalo cuma pileg sama batuk yang ngga disuntik....."
"Oh....."
"Udah ya, sekarang Ai main dulu sama mba Alisa....."
"Ngga mau, maunya sama mamah....."
Huffttt. Helaan panjang Zea.
"Ya udah ia, kita ke papah ya...."
"Ia...."
Berjalan ke kamarnya.
"Ayo bangunin papahnya...."
"Pah...." lirih Aira.
"Papah belum sembuh ya...." tanyanya.
Namun Arka masih belum tersadar dari mimpinya.
"Mas...."
Kini giliran Zea yang membangunkannya.
"Hemm..." menggeliat.
"Ada dokter keluarga emas, nanti mas sekalian periksa ya...."
"Ia...."
................................
Hari ini Zea merasa benar-benar lelah. Dari bangun tidur ia langsung mengurus suaminya, lalu anaknya dan ibu mertuanya.
Ditambah tadi Aira begitu rewel, tak mau ditinggal sedetikpun oleh dirinya. Bahkan hari ini ia hanya mandi satu kali, saat uminya dan mas Yoga datang, dan untungnya saat itu Aira mau diajak oleh uminya, jadi Zea bisa mandi dengan sedikit tenang.
..................
Terima kasih buat yang sudah berkenan mampir ke ceritaku ini....
jangn lupa mampir juga di ceritaku yang satu lagi ya, judulnya 'Kisah Cahaya'
__ADS_1