Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 24.


__ADS_3

"Assalamu'alaikum....."


"Wa'alaikumussalam...."


"Mas sama Ai, duduk sini dulu ya...."


"Ia..."


Seperi janjinya kemaren, Arka hari ini menemani Zea untuk kebutiknya.


Zea segera menemui klien nya, yang sudah menanti kedatangannya.


"Udah dari tadi?" tanyanya basa basi.


"Baru aja ko mba...."


"Ohh, kirain dari tadi, perkenalkan saya Zea...." mengulurkan tangannya.


"Saya Viona, dan ini calon suami saya King..." menerima uluran tangan Zea.


Zea menangkupkan tangannya ke arah King.


"Langsung saja ya mba Vio mas King..."


"Ia mba..."


Meeting pun di mulai. Dari mulai pemilihan kain, model bajunya hingga pengukuran badan.


Untungnya klien kali ini bukan termasuk orang yang rewel, jadi meeting berjalan dengan lancar dan cepat.


"Terima kasih ya mba...."


"Sama-sama mba Vio, saya yang berterima kasih karena mba Vio dan mas King mempercayakan pembuatan bajunya pada saya..."


"Ah mba Zea bisa aja, siapa sih yang ngga mau bajunya di rancang oleh disainer terkenal?"


"Biasa aja mba, saya ngga terkenal ko..."


"Mba Zea ini sukanya merendah, padahal nama mba Zea udah ada di mana-mana...."


Zea hanya tersenyum untuk menanggapi ucapan mba Viona.


"Ya sudah ya mba Zea, kami pamit...."


"Ia mba Vio, nanti kalo sudah ada perkembangan saya kabarin...."


"Santai, masih lama ko nikahnya 5 bulan lagi, hihihi....." kekeh mba Vio.


"Ia mba..."


"Ya sudah kita pamit ya mba Zea, mba..." berpamitan pada Zea dan karyawan lainnya.


"Ia mba Vio mas King silahkan..."


Kedua orang itupun melangkahkan kakinya keluar dari butik Zea.


"Sayang...." panggil Arka


"Ia mas...."


"Udah selesai?"


"Ia..."


"Ya udah ayo..."


"Ia sebenatar ya..."


"Ia..."


Arka pun keluar lagi.


"Saya duluan ya..." pamit Zea pada karyawan nya.


"Hayoo, mau kemana hayooo...." ledek Shakira


Para karyawan Zea memang sudah tau kalo Zea sudah menikah dan memiliki anak sambung.


"Jalan-jalan...."


"Jalan-jalan apa ke hotel?" goda Dania


"Kolam renang, itu jangan lupa bahan yang tadi di simpen ya mba Nia..."


"Siap mba..."


"Ya sudah saya pamit, assalamu'alaikum...."


"Wa'alaikumus salam..."

__ADS_1


.....................


Sesuai rencana hari ini, setelah menemani Zea ke butiknya, Arka akan mengajak istri dan anaknya itu ke salah satu laut yang ada di kotanya.


Dan kini mereka telah sampai di tempat yang dituju.


Suasana pantai hari ini tidak terlalu ramai, mungkin karena bukan hari libur jadi pengunjung yang datang sedikit.


Zea turun dengan menggendong Aira.


"Zea...." panggil seseorang.


Zea mencari sumber suara.


"Mba Airin...."


"Hai adik ipar..." sapanya.


"Hai mba...."


"Ini suami mba, mas Bimo..."


Zea menangkupkan tangannya ke arah mas Bimo.


"Oh ya, kenapa kamu bisa disini?"


"Di ajak mas Arka..."


"Ohh, patesan...."


"Hai mba, mas...." sapa Arka.


"Hai...."


Kemudian mereka pun bermain air laut bersama.


Zea duduk di pasir sembari memangku Aira yang bermain pasir dengan senangnya.


"Utututu, senang banget ya sayang?" tanay Arka.


"Ia..." jawab Ai dengan cedalnya.


Byur, suara deburan omabk laut.


Sret, dengan jailnya Arka menorehkan pasir di pipi Zea.


Pyuk, Arka mencipratkan air laut yang tergenang di kubangan yang ia buat, ke Zea.


Zea bangkit, membopong Aira lalu berlari.


"Ayo kejar kalo bisa...." ucapnya pada Arka.


"Ok siapa takut...."


Akhirnya terjadilah, kejar-kejaran.


"Ngga kena....." ledek Zea dengan tawa lepasnya.


Aira juga sama, ikut tertawa lepas karena di bawa lari oleh mamahnya.


"Awas kamu ya sayang kalo kena...." ucap Arka dengan terus berusaha mengejar istrinya.


Mba Airin dan mas Bimo yang melihat itu hanya bisa tersenyum.


"Kaya kita dulu ya mas...." ucap mba Airin, mengenang masa-masa pengantin barunya dengan sang suami.


"Tapikan kita dulu belum ada anak, pasti bedalah dengan apa yang dirasakan Aira...."


"Hehe ia sih mas, aku bebas kesa ke mari tanpa harus repot membopong anak...."


"Makannya kita harus bersyukur dengan apa yang telah terjadi...."


"Ia mas...."


.....................


Hap. Arka berhasil menangkap sang istri dan anaknya.


Yap tentu saja karena Zea sudah lelah berlari dan akhirnya dia terduduk.


"Hayo mau kemana lagi?"


"Hehehe...." jawab Zea yang belum bisa mengendalikan tawa bahagianya.


Arka gemas, dia menggelitik tubuh Zea.


"Ampun mas, ampun...." ucap Zea di sela tawanya.


"Mau kabur lagi hem?"

__ADS_1


"Engga mas, udah aku sudah capek..."


Arka pun menghentikan kelitikannya.


"We, ayo kejar lagi...." ucap Zea yang berlari lagi, kali ini tanpa Aira, karena Aira sudah bersama papahnya.


"Ayo sayang kita kejar mamah samapi dapat..." ucap Arka pada Aira.


Terjadilah aksi kejar-kejaran lagi.


Duk. Zea merasa kakinya tersandung sesuatu.


"Apa ya, kenapa di pantai ada batu..." guamnya sembari melongok ke bawah.


Byur...


Naas, ombak besar datang menggulung dirinya.


Zea terjatuh dan terguling. Saat membuka matanya, Zea tak bisa melihat apa-apa, dia hanya bisa melihat pasir yang tercampur air. Zea juga merasa tubuhnya hanyut dengan air tanpa bisa melawan, karena memang tidak ada benda satu pun yang bisa untuk di jadikan pegangan


Zea sudah pasrah dengan keadaan. Bila ini waktunya ia berpisah dengan dunia fana ini, dia sudah siap.


Arka yang melihat istrinya tergulung ombak besar langsung menitipkan Aira pada mba Airin dan suami, lalu dia berlari kerah Zea, dan berusaha menyelamatkannya.


Zea merasa tubuhnya tidak lagi hanyut dalam air, dia pun membuka mata.


"Alhamdulillah sayang kamu ngga papa..." ucap Arka yang langsung memeluk istrinya.


Tanpa sadar Arka mengeluarkan air matanya, dia teramat takut kehilangan istri tercintanya itu.


Zea tersentak kaget, ternyata dia belum ma*i. Zea pikir ketika dirinya membuka mata, dirinya sudah berada di alam lain. Tapi alhamdulillah Alloh masih menyelamatkan dirinya.


"Alhamdulillah ternyata aku belum ma*i...." batinnya dalam hati.


"Sayang kamu ngga papa kan?" tanya Arka yang masih khawatir.


Zea masih diam, pikirannya masih belum berada di sini. Pikiran Zea sedang berada di masa lalunya, dimana dia juga pernah tergulung ombak. Namun bedanya dulu dia sedang asik mencari 'yode' (sejenis kerang laut).


"Ze, kamu ngga papa kan?" menguncang kedua bahu Zea.


"Hah, ia mas aku ngga papa...." kaget Zea.


"Syukur lah, mas khawatir....." kembali memeluk.


"Ia mas, aku ngga papa...."


"Gimana ceritanya kamu bisa terseret ombak sih Ze?" tanya mba Airin.


Zea pun menceritakan kejadian tadi.


"Astaghfirullah hal azim...." ucap mba Airin.


"Ya udah sana mandi, pasti ngga enak banget tuh badan...."


"Ia mba, titip Aira dulu ya...."


"Ia ia, kamu tenang aja, kamu juga Ka, sana mandi...."


"Ia mba ia...."


Arka mengulurkan tangannya. Zea pun menyambutnya dengan senang, lalu keduanya berjalan bersisian menuju kamar mandi umum yang ada di pantai itu.


"Kamu dulu gih mas, biar aku ambilkan bajunya..."


"Ia sayang...."


Arka pun mandi terlebih dahulu. Sedangkan Zea, dia berjalan ke arah mobilnya untuk mengambil bajunya dan baju sang suami.


.....................


Kini mereka ber empat, Aira dan Alisa tidak di hitung, sedang menikmati makan tempe mendoan dan pop mie.


"Emang paling enak kalo habis main Air itu makan pop mie sama tempe mendoan..." seloroh mba Airin.


"Ia sama minum teh hangat...." timpal Zea, yang sesekali menyuapi Aira tempe mendoan.


"Beh mantepnya...." kata mba Airin lagi.


"Habis ini kita pulang ya..." ucap Arka.


"Yah, padahal kan belum naik wahana...." ucap Zea kecewa.


"Tenang Ze, malam minggu besok di lapangan dekat rumah ada pasar malam...."


"Beneran mba?"


"Ia, kamu bisa naik wahanya sepuasnya..."


"Yey...."

__ADS_1


__ADS_2