Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 20.


__ADS_3

Mba Zaskia menggaruk kepalanya yang tak gatal.


Datang lagi tetangga samping rumahnya,pas.


Zea menghela napas berat. Sebenarnya Zea ingin sekali mengusir para ibu itu, namun apalah daya, dia hanya orang baru di lingkungan itu.


"Pagi mba Zea...."


"Pagi bu...."


"Lagi pada apa nih, kayanya seru banget..." ikut duduk.


"Ini, aku lagi nawarin mba Zea untuk ikut arisan..." jelas bu Rt.


"Oh, hai Ai, cantiknya, udah mandi ya...." tanyanya pada Aira.


"Ia, Ai kan udah mandi..." jawab Ai, dengan gaya anak-anaknya.


"Duh lucunya, ayo sini sama bude...."


Aira melengos, dia tak mau di ajak oleh orang yang baru dikenalnya.


"Sayang, main sama mas Bimo ya..." ucap Zea pada Aira.


"Nda mau...."


Zea kembali menghela napas.


"Di sini hawanya enak mba, sejuk..." ucap bu Rt


"Ia, jadi makin betah duduk lama-lama di sini..." timpal mba Zaskia.


"Mba Zea beruntung banget ya, bisa nikah sama mas Arka...." ucap mba Zaskia.


"Alhamdulillah mba, namanya juga udah jodoh..." jawab Zea.


"Eh mba Zea, kasih tau rahasianya dong biar bisa dapet jodoh kaya mas Arka...." seloroh ibu yang rumahnya di samping rumahnya.


"Pasrah sama Alloh bu...." jawab Zea.


"Masa sih mba, hanya itu, apa ngga ada amalan apa khusus gitu?" tanya mba Zaskia.


"Ngga ada, saya cuma pasrah aja sama Alloh...."


"Tapi bukannya mba Zea ini santri, kan biasanya ada amalan-amalan khusus mba, semisal baca surat Al-Waqi'ah setiap bada asar untuk memperlancar rezeki....." ucap bu Rt.


"Memang saya pernah mesantren, tapi di pesantren saya ngga diajarkan untuk mengamalkan bacaan-bacaan kaya gitu bu..."


"Terus, diajarinnya apa dong mba?" kepo ibu yang belim diketahui namanya oleh Zea.


"Ya kita di ajarkan untuk mencontoh akhlak Rasulullah Mohammad SAW....."


Ya memang benar, di pondok Zea, abi Hasbulloh tidak pernah mengajarkan para santrinya untuk mengamalkan bacaan-bacaan ayat Al-Qur'an, tapi mengamalkan apa isi Al-Qur'an.


"Emang yang gimana mba?" tanya bu Rt.


Ini kesempatan bagus untuk Zea membagi ilmunya pada ibu-ibu itu.


"Kalo ada yang memfitnah kita jangan balik memfitnah orang itu, maafkanlah orang itu detik itu juga...."


"Lah ya ngga bisa gitu dong mba, masa di fitnah diam saja...."


Zea sudah menduga reaksi para ibu-ibu itu akan seperti ini.


Dengan senyum yang selalu menghiasi bibirnya, Zea perlahan menjelaskan.


"Kalo kita juga ikut nyebarin fitnah, apa bedanya sama orang itu bu...."


"Ia sih mba, tapi kan kita yang difitnah pasti marah dan ngga terima...."


"Ia, tapi kita kan ngga boleh marah, 'janganlah kamu marah, bagimu surga', emang ibu ngga mau masuk surga?"


"Mau lah mba....."


"Maka dari itu jika ada yang memfitnah kita, kita ngga boleh marah, pasrahkan saja sama Alloh..."


"Gitu ya mba, terus apa lagi?"


"Berlemah lembut dengan siapapun, ngga boleh ngomong keras apalagi membentak, ngga boleh jengkel apalagi marah dan menyimpan marah ke orang tua......"


Semua ibu itu terdiam, entah meresapi ucapan Zea, atau hanya diam untuk menghormati Zea.


"Eh, mba Zea udah berapa taun nikah sama mas Arka?"


"Baru 3 hari bu..."


"Ha tiga hari, terus Aira anak siapa?" kaget semuanya.


"Anak mas Arka sama istri pertamanya...."

__ADS_1


"Terus istri pertamanya kemana?"


"Cerai bu...."


"Cerai kenapa?"


"Saya ngga tau bu, dan itu bukan ranah saya..."


"Oh...."


"Eh, bu ibu, itu si Caca udah nikah 5 taun tapi belum hamil juga ya...." ucab mba Zaskia.


Karena Zea tau, akan mengarah kemana pembicaraan ketiga orang itu, dia memilih untuk pamit undur diri.


"Maaf ya bu-ibu, saya tinggal kedalam...."


"Oh ia mba Ze, silahkan...."


.........................


Huftt, Zea menghela napas, setelah masuk kedalam rumahnya.


"Sayang...."


"Ia mah..."


"Ai mainan pazel dulu ya..."


"Ia mah...."


Zea menurunkan Ai dari gendongannya, di ruang keluarga. Lalu ia mengambilkan mainan Aira, dari mulai pazel hingga lego.


Setelah memastikan Aira anteng dengan mainannya, Zea bergegas mengumpulakn pakain kotor miliknya, suami dan Aira, untuk di cuci.


Setelah memastikan semua pakaian kotor telah terkumpul, Zea meletakannya di mesin cuci, lalu ia membasahi pakaian itu.


Kemudian Zea memastikan semua pakaian itu telah basah. Selanjutnya Zea mengganti airnya dan menambahkan deterjen.


Sreng reng, suara mesin cuci.


Sembari menunggu mesin cuci berhenti berputar, Zea menyapu lantai.


Sesekali Zea menengok Aira.


...................


"Mah..." panggil Aira.


"Minum...."


"Mau minum su** apa air putih?"


"Su**....."


"Sebantat ya mamah bikinin dulu...."


"Ia...."


Kemudian Zea meletakan sapunya, lalu bergegas ke dapur untuk membuatkan Aira su**.


"Ini sayang...."


"Makaci mah..."


"Sama-sama sayang...."


Setelah itu, Zea melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.


.........................


Jam 11 siang, Zea baru saja menyelesaikan menjemur pakaiannya. Dan tugas rumah tangganya masih ada yaitu mengepel lantai.


"Ternyata gini rasanya jadi ibu rumah tangga dengan satu anak balita...." guman Zea dengan peluh yang membanjiri tubuhnya.


"Ayo semanagt Ze, tinggal ngepel...." menyemangati diri sendiri.


Zea harus menyelesaikan ngepelnya sebelum Aira bangun.


...............................


Selesai sudah seluruh pekerjaan rumah tangganya. Kini waktunya Zea membersihkan diri dan beristitahat.


Selesai membersihkan diri, Zea solat zuhur, lalu ia merebahkan dirinya di samping Aira yang masih tertidur lelap.


Badan yang lelah, membuat Zea cepat tertidur.


...............................


Zea menggeliat kala ada yang menganggu tidurnya.

__ADS_1


Cup...


Kini Zea merasa ada sebuah benda kenyal yang menyentuh pipi kanannya.


Karena tidurnya terus di usik, akhirnya Zea membuka matanya.


"Mas..." kagetnya.


"Sore sayang...."


"Sore mas, kapan mas pulang?"


"Sekitar 15 menit yang lalu...."


"Maaf ya mas, aku ketiduran...." merasa bersalah karena tidak menyambut suaminya pulang.


"Ngga papa sayang, mas tau kamu cape..."


"Mau aku buatkan kopi?"


"Ngga usah, nanti kalo mas pengin minum mas ambil sendiri...."


"Ya sudah, tadi gimana?"


"Ngga gimana-gimana...."


"Terus pemilik perkebunan jagung itu sudah ganti rugi?"


"Belum, dan mas sudah ngga berharap...."


Dert dert dert


Suara getaran ponsel yang berasal dari ponsel Zea.


"Mas Yoga...." gumannya.


"Siapa yang?"


"Mas Yoga...."


"Ya sudah angkat saja..."


Zea segera menggeser tombol berlogo gagang telpon, berwarna hijau. Zea juga meload speaker nya.


Mas Yoga mengabari bahwa pemilik tanah yang tanahnya akan di beli oleh Zea sudah membuat kesepakatan harga. Yaitu 5 juta per ubinnya. Cukup murah untuk harga tanah di jaman sekarang.


"Tetep jadi beli kan Ze?" tanya mas Yoga, memastikan.


"Bentar mas....." terpotong.


"Ia mas jadi beli, kapan bisa ketemu pemiliknya..." sela Arka.


"Eh Ka, apa kabar Ka?"


"Alhamdulillah baik mas, mas juga apa kabar?"


"Alhamdulillah baik..."


"Mas, mas...." celoteh Aira, menimbrung pembicaraan.


"Hei, suara siapa itu, ponakan lilik ya?"


"Ia, itu suara Aira...." jawab Zea.


Saat itu juga panggilan suara, berubah menjadi panggilan video.


Zea langsung menyerahkan ponselnya pada sang suami, karena dirinya tak memakai jilbab.


"Hai Ai...." sapanya pada Aira.


"Hai lik...." jawab Arka, mewakili Aira.


Setelah itu mereka mengobrol ngalor-ngidul, semua topik di bicarakan.


Tak terasa sudah lima belas menit mereka lewati dengan obrolan yang bisa di bilang hanya basa-basi.


"Berarti jadi beli tanah itu kan Ze?" memastikan sekali lagi.


"Ia mas, jadi, kapan bisa ketemu sama pemiliknya?" jawab Arka.


"Ok berarti positif jadi, besok tak kabari lagi Ka..."


"Oh....,ia mas..."


"Ya sudah, tak matikan telponnya ya..."


"Ia mas...."


"Wassalam mualaikum...."

__ADS_1


"Wa'alaikumus salam...."


__ADS_2