Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 30.


__ADS_3

Wanita bernama Winda itu kaget, kala melihat dua orang membawa jenazah yang sudah terbungkus kain mori.


"Si.... si.... siapa ini?"


"Ini pak Latif..."


"Apa, kenapa dengan suami saya?"


Kling. Sebuah pesan, masuk kedalam ponsel Arka.


Kling


Kling


Kling


Banyak sekali pesan yang masuk, membuat Arka sedikit terganggu.


Arka merogoh saku celanya, lalu mengambil benda persegi panjang dan pipih itu.


Ada 33 pesan yang masuk. Pantas saja dari tadi hp nya tak berhenti berbunyi. Dan salah satunya dari sang istri.


Arka langsung membuka pesan dari istrinya. Membacanya dalam hati.


Isi pesan Zea hanya bertanya apakah suaminya baik-baik saja. Arka pun membalas pesan itu.


Satu lagi pesan masuk dari mba Airin, Arka segera membukanya. Ternyata pesan dari mba Airin adalah penggalan sebuah video saat Arka menampar almarhum pak Latif, hingga pak Latif berlari dan menabrakkan dirinya pada sebuah mobil berwarna merah.


Kembali ada pesan masuk dari mba Airin.


"Video ini sedang viral di tok tok" isi pesan dari mba Airin.


Menarik nafas panjang, menetralisir segala rasa yang sedang membuncah.


Arka mencari kontak bernama Adit, orang yang tadi mengabarinya bahawa tanah perkebunannya sedang di ukur.


Adit sudah mengirimkannya video fullnya, dari ia datang hingga pak Latif yang bundir.


"Bukan saya yang menyebarkan video ini pak" jelasnya di bawah video itu.


Arka kembali menghela nafas lagi.


"Mas Arka...." panggil pak Rt.


"I... ia pak...." gagap Arka, kaget.


"Sini masuk...."


"Ia pak...."


Arka masuk, menyusul pak Rt dan pak uztad yang sudah terlebih dulu masuk.


"Silahkan jelaskan permasalahannya mas..." titah pak Rt.


Arka menyerahkan ponselnya pada bu Winda.


"Silahkan di liat sendiri bu...." titahnya.


Bu Winda dengan raut bingungnya, menuruti titah Arka. Dia memencet logo segitiga, untuk mulai memutar video.


................


Bu Winda ternganga lebar, melihat video berdurasi 15 menit itu.


"Sudah jelas kan, kalo begitu saya pamit pulang..." ucap Arka.


"I.....i.... ia silahkan...." gugupnya.


Arka, pak Rt dan pak uztad pun bangkit dari duduknya.


"Ohh, ada tamu...." ucap seorang anak lelaki yang barusaja masuk dengan menggandeng seorang perempuan yang pakaiannya kurang bahan.


"Wah itu siapa mah yang di bungkus mori?" tanyanya lagi.


Bau alkohol, tercium jelas tat kala lelaki itu bicara.


"Papahmu......" jawab bu Winda.

__ADS_1


"Oh jadi bener, video yang viral itu memang papah, ya udahlah mah, tinggal kubur, ngga perlu ada pesta kema*ian segala....."


Sungguh perkataan lelaki itu sudah mendidihkan amarah pada tiga orang lelaki dewasa yang ada di ruangan itu.


"Kami permisi....." ucap Arka.


Mereka tidak mau terus mendengarkan perkataan lelaki bujang yang tak punya sopan santun itu.


Mereka pun pergi keluar dari ruangan itu.


Biarlah nanti setelah selesai masa berkabung, Arka akan membicarakan masalah ini.


.......................


"Jangan lakuian hal aneh-aneh mas, kasian anak dan istri mas yang menunggu di rumah...." pesan pak uztad sebelum turun dari mobil.


"Ia pak..." jawab Arka.


Setelah itu, Arka kembali mengemudikan mobilnya untuk pulang.


Sesampainya di rumah, Arka langsung masuk ke kamarnya.


"Mas..." ucap Zea lirih.


Tanpa kata, Arka langsung memeluk tubuh Zea, erat.


Tangis Arka pecah.


Untungnya Aira masih tertidur lelap. Jadi Arka bisa bebas melakuoan apapun yang diinginkannya terhadap sang istri.


Zea sengaja tidak bertanya, membiarkan sang suami menumpahkan rasanya.


"Maafin mas...." lirih Arka di telinga Zea.


"Mas, ngga perlu minta maaf, kita lewati ujian ini sama-sama ya...." hibur Zea.


"Udah sekarang mas mandi dulu, biar pikirannya fresh, udah aku siapin air hangat ko..." titah Zea.


Arka pun menurut.


........................................


"Kamu sudah nonton video viral itu?"


"Udah mas, mas yang sabar dan tenang ya..."


"Gimana aku bisa tenang yang, sementara ada kamu dan Aira yang harus mas nafkahi...." ucap Arka dengan nada suara naik satu oktaf.


Zea kaget bukan main, ternayat lelaki di depannya ini sama saja dengan lelaki lain di luar sana yang jika marah meninggikan suarannya.


"Maaf...." lirih Arka penuh penyesalan.


Zea masih diam mematung. Ia masih shock.


"Sayang maafkan aku" ucap Arka kembali, kini dia sudah memeluk istrinya.


"Ia mas..." jawab Zea.


Zea tak mungkin ikut marah juga, jadi sebisa mungkin dia menahan rasanya.


Setelahnya keadaan menjadi hening.


"Mas benar-benar pusing menghadapi masalah ini sayang...." memulai percakapan.


"Ia mas, aku paham, sekarang mas istighfar ya, hati dan pikiran mas juga fokus kan untuk ikut beristighfar....." titah Zea.


Tanpa menunggu perintah yang kedua kalinya, Arka pun melakukan apa yang di perintahkan oleh istrinya.


"Tarik nafas dari hidung, keluarkan perlahan dari mulut....."


Arka terus melakukan hal itu hingga sepuluh menit.


"Udah mendingan?" tanya Zea.


"Alhamdulillah, mas benar-benar minta maaf soal yang tadi...."


"Ia sudah aku maafin, untuk sementara kita bisa gunakan uang hasil butik, untuk memenuhi kebutuhan, samapi mas punya usaha kembali..."

__ADS_1


"Makasih ya sayang, kamu mau mengerti keadaan mas....."


"Ia mas sama-sama, kita lewati ujian ini bersama ya....."


"Ia sayang...."


"Udah sekarang tidur ya...."


"Ia sayang......"


.................................


Jam tiga pagi, Zea sudah bangun, kini dirinya sedang bersimpuh dengan segala kerendahan hatinya, menyerahkan segala permasalahan yang kini telah menimpa keluarganya.


Memohon pertolongan agar selalu dilapangkan hatinya, untuk menerima semua ujian yang telah di tetapkan oleh Tuhan nya.


Tak lupa juga, Zea memohonkan ampunan bagi seluruh orang yang di kenalnya dan juga seluruh umat muslim.


Selesai berdo'a, Zea gegas melepas mukenanya lalu ia membangunkan sang suami untuk solat tahajud.


"Mas, bangun yu tahajud dulu...." ucapnya sembari mengguncang pelan tubuh sang suami.


"Hemmmm....." menggeliat.


"Mas pusing yang...." guman Arka.


Zea segera memeriksa suhu tubuh sang suami, dengan cara menempelkan punggung tangannya di kening sang suami.


Ternyata memang pasan.


"Ya sudah mas istirahat saja, nanti jika sudah azan subuh aku bangunin lagi ya...."


"Ia...."


Setelah itu, Zea memakai jilbabnya, lalu berjalan keluar kamar.


"Ze...." panggil mba Airin.


"Ia mba...."


"Video yang viral itu bener?"


"Ia mba...."


"Gimana kejadiannya?"


"Mba belum nonton yang versi fullnya?"


"Udah si tapi cuman pengin tau lebih jelas aja..."


"Ya gitu pokonya, mas Arka tadi di telpon seseorang, terus dia langsung berangkat ke sana dan disana dia melihat almarhum pak Latif dan beberapa orang lagi ngukur tanahnya, otomatis mas Arka kan kaget, apalagi saat salah satu orang itu memberikan sejumlah uang pada pak Latif, dan mendengar penjelasan pak Latif, jelas saja mas Arka samapi berani menampar beliau....."


"Kamu yang sabar ya...."


"Ia mba...."


"Sekarang Arka mana?"


"Masih tidur, badannya panas...."


"Ohh, terus kamu mau kemana?"


"Mau bantuin masak...."


"Ohh, oh ya apa benar kalo semua perkebunan Arka telah dijual oleh pak Latif?"


"Aku belum tau mba, mas Arka belum cerita...."


"Oh, emang kamu ngga mual mau bantuin masak?"


"Insyaalloh engga....."


"Oh ya sudah, mba mau lanjut tidur lagi...." berlalu pergi.


"Ia mba silahkan...."


Belum sempat kaki Zea melangkah, ponselnya berdering. Terpaksa Zea kembali ke kamarnya.

__ADS_1


"Umi...." gumannya pelan, kala melihat nama yang terpampang di layar hp nya.


__ADS_2