Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 29.


__ADS_3

"Tapi kalo apa dulu...." ucap bu Aminah.


"Apanya yang apa dulu bu?"


"Yaitu, ketika di fitnah bisa ngurangi dosa, coba tanya sama istrimu...."


"Assalamu'alaikum semuanya...." ucap Zea yang baru saja masuk, dengan menggendong Aira yang sudah tertidur lelap.


"Wa'alaikumus salam...."


"Ai tidur yang?"


"Ia mas...." mengangguk dan tersenyum kearah mba Airin dan bu Aminah, sebagai tanda sapaannya.


"Ya udah taro kamar aja...."


"Ia mas...." melangkahkan kakinya menuju kamar mereka di rumah itu.


...............


Meletakan Aira dengan sangat hati-hati, agar balita itu tidak terbangun dari tidurnya.


"Sayang...." panggil Arka yang membuntuti Zea masuk ke kamar.


Arka langsung membaringkan tubuhnya di kasur empuk miliknya.


"Ia mas...." jawab Zea.


"Sini...." menepuk kasur kosong di sampingnya.


"Ia mas sebentar...." berjalan ke arah pintu.


Ceklek.


Zea mengunci pintu kamar itu. Takut ada yang membukanya tanpa permisi.


Zea berjalan kembali ke arah kasur, setelah melepas jilbabnya dan menyampirkannya di gantungan baju. Zea ikut merebahkan dirinya di samping sang suami.


Arka mendekatkan dirinya ke arah sang istri, tangannya melingkar di perut rata sang istri. Mengusap pelan, perut itu.


"Terima kasih sayang...." bisiknya di telinga sang istri.


"Sama-sama mas, aku mau tidur ya, kepalaku rasanya pusing...."


"Kamu sakit?" tanya Arka khawatir.


"Ngga mas, cuma pusing aja...."


"Ya udah, tapi kalo kamu sakit langsung ngomong ya...."


"Ia mas...."


Karena rasa pusing di kepalanya, Zea pun.cepat terlelap. Apalagi ditambah rasa hanagt dan nyaman dari pelukan sang suami.


.........................................


Arka bangkit dari tidurnya setelah memastikan sang istri tertidur lelap.


Berjalan menjauh, keluar dari kamar.


"Halo...." ucapnya kala menjawab telpon masuk.


"Ia pak..."


"Ada apa?"


"Hari ini para pekerja di liburkan oleh pak Latif, tapi saya melihat pak Latif dan beberapa orang sedang mengukur perkebunan bapak, apakah bapak akan menjual perkebunan itu?" lapor salah satu pekerja di kebun Arka.


"Saya tidak pernah menjual perkebunan saya..."


"Tapi saat ini saya melihatnya dengan mata kepala saya sendiri...."


"Baiklah saya kesana sekarang...." mematikan telponnya.


Arka berjalan kembali ke kamarnya untuk mengambil jaketnya dan juga kunci mobilnya.


Tap

__ADS_1


Tap


Suara langkah kaki Arka yang tergesa-gesa.


"Mau kemana Ka?" tanya mba Airin.


"Ada perlu sebentar, aku nitip Zea sama Aira ya mba....."


"Ia"


Mba Airin hanya bisa menatap kepergian adiknya yang terburu-buru itu, tanpa bisa bertanya lebih lanjut.


....................................


Sampailah Arka di tempat yang dituju. Berjalan tergesa meninggalkan mobilnya.


"Ada apa ini?" tanya Arka to the poin.


"Siang mas Arka...." sapa pak Latif basa basi.


"Ada apa ini pak, kenapa tanahku di ukur, apa ada masalah dengan pemilik tanah sebelah?"


"Bukan begitu mas, tapi saya cuma penasaran, ini ukuruannya masih sama dengan yang ada di sertifikat atau sudah berubah...." jelas pak Latif beralibi.


"Kami sudah selesai untuk ngukur tanahnya, dan ini uangnya....." ucap salah satu dari 5 orang yang mengukur tanah perkebunan milik Arka.


"Apa-apaan ini, uang apa itu?" bingung Arka.


"Ini, pak Latif menjual tanah perkebunannya...."


"Tanah perkebunan yang mana?"


"Yang tadi kami ukur, sudah ya saya mau pamit, mari pak Latif....." pamit orang itu, lalu ia bersama rekannya pun pergi.


Pak Latif ketar ketir, kala melihat sorot mata Arka yang seolah singa siap menerkam mangsanya.


"Jelaskan pak" tegas Arka tanpa basa basi.


"Hahaha, baiklah...." tawa pak Latif.


Arka sedikit kaget milihat pak Latif tertawa seperti itu.


"Apa" pekik Arka, kaget.


"Wahahaha, kamu kaget anak muda, kasian sekali...." ejek pak Latif.


Plak


Satu telapak tangan Arka mendarat di pipi kanan pak Latif.


Warga yang rumahnya di dekat tempat kejadian berhambur keluar, penasaran dengan bunyi itu.


"Ada apa ini mas Arka...." tegur salah satu ibu-ibu.


"Cih, bu*ak nafsu, bu*ak uang, dasar manusia serakah...." maki pak Latif, yang semakin membuat Arka bingung.


"Uang, uang, uang, dan uang terus, selalu itu yang ada di otak Winda dan Burhan. Orang tua Winda juga sama saja, selalu minta uang bila menelpon. Dasar anak dan ibu sama saja, otak uang. Mereka tidak mau tau betapa susahnya aku mencari uang....." oceh pak Latif.


Arka tidak bisa berkata-kata lagi.


"Lebih baik aku ma*i saja....." ucapnya seraya berlari ke arah jalan raya, yang berada di utara area perkebunan.


Pak Latif sudah tak bisa di cegah lagi. Dia berdiri di tengah jalan raya. Tangannya merentang, seolah sedang menyambut sesuatu yang akan datang.


Tin


Tin


Tinnnnnnnnnn


Suara klakson mobil, yang melintas. Mengusir pak Latif agar tidak di tengah jalan.


Namun apa boleh buat, bila takdir sudah bertindak.


Tubuh pak Latif tertabrak mobil itu. Menggelinding masuk kedalam kolong mobil.


Warga yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa beristighfar.

__ADS_1


Sementara itu, Arka masih diam terpaku di tempatnya.


Mobil menepi, lalu berhenti.


Keluarlah sang pengemudi.


"Maafkan saya, saya tak sengaja...." ucapnya pada kerumunan warga, yang sedang mengevakuasi tubuh pak Latif.


"Mba ngga salah ko, emang dia yang pengin ma*i....." jawab salah seorang warga.


Wanita pengemudi mobil, mengucap syukur, kala mendengar penjelasan dari warga itu. Dirinya tak perlu khawatir, telah menabrak seseorang, karena seseorang itu lah yang menginginkannya.


"Apa sudah tak tertolong?" tanya Arka.


"Ia..." jawab warga.


Wanita pengemudi mobil, yang mendengar suara Arka langsung berakting, seolah dia merasa bersalah, ketakutan dan khawatir terhadap orang yang di tabraknya. Padahal dalam hatinya ia mengutuk orang yang di tabraknya.


Wanita itu menangis sesenggukan, agar mendapat perhatian dari Arka.


Dan benar saja, perhatian Arka kini betalih pada wanita yang menangis itu.


Arka mendekat.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Arka basa-basi.


"Huhuhu, aku takut...." memeluk tubuh kekar Arka.


Arka yang tidak mengura itu adalah Shiren, mau saja dipeluk. Namun ia tak membelas pelukan itu.


Mungkin wanita itu sedang butuh sandaran. Batin Arka.


"Pak Arka, ini mau di kemanain jenazahnya..."


"Oh iya, saya lupa" melepas pelukan wanita itu.


"Shiren?" kaget Arka.


"Ia mas ini aku, aku takut mas kalo di penjara..."


Arka tak peduli, dia meninggalkan Shiren yang masih berakting menangis.


"Ada yang bisa membantu saya ngantar jezah ngga?"


"Kami ngga mau mas, takut, kami panggilkan uztad sama pak Rt setempat saja ya...." usul salah satu warga.


"Ia..." jawab Arka.


.............................................


Kini Arka telah sampai di rumah duka.


Bersama pak Rt dan satu orang uztad, Arka menurunkan jenazah pak Latif, yang sudah terbungkus mori.


Tok


Tok


Tok


Arka mengetuk pintu rumah itu.


Penghuni rumah yang sedang melakukan aktivitas menyenangkannya pun terganggu, dengan suara ketokan pintu itu.


"Ia bentar, siapa sih gangguun aja...." gerutu seorang wanita.


"Udah yang, liat dulu sana..." titah seorang pria yang sedang barbaring di ranjang.


"Ia ia...."


Wanita itu, dengan malas berjalan ke pintu depan rumahnya.


Ceklek.


"Eh pak Arka...." sapanya dengan ramah tamah ke Arka.


"Sore bu Winda...." sapa Arka.

__ADS_1


"Sore juga mas, tumben kesini, ada apa, tapi mas Latif lagi ngga ada di rumah...."


"Hehe, saya kesini mau ngnterin pak Latif bu...."


__ADS_2