Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 10.


__ADS_3

Keadaan menjadi hening untuk beberapa saat.


"Pak..."


"Ze...."


Barengan.


"Kamu dulu..." ucap Arka.


"Bapak dulu aja...."


"Kan aku udah bilang jangan panggil bapak...."


"Ia, om dulu aja..."


"Emang aku udah setua itu apa?"


"Ia, emang bapak udah tua..."


"Biar tua juga kamu suka kan?"


"Kata siapa?"


"Kata aku lah, nyatanya kamu mau pas dilamar aku...."


"Kan itu bapak yang maksa..."


"Hehe ia juga sih...." lirih Arka setelah mengingat malam saat dirinya melamar Zea.


"Tadi bapak mau ngomong apa?"


"Oh ya, sampai lupa..."


"Jadi aku punya kabar baik" lanjut Arka.


"Kabar baik apa?"


"Kita ngga perlu ke Taiwan untuk cari daddy kamu..."


"Terus?"


"Aku udah minta tolong sama temen aku yang kebetulan tinggal satu kota dengan daddy kamu"


"Oh gitu..."


"Ia..."


"Terima kasih..."


"Ia sama-sama, aku juga minta maaf, gara-gara aku, kamu jadi sakit...."


"Gara-gara kamu?"


"Ia, seandainya kita ga cari ibu kamu, kamu ga bakal gini...."


"Hehehe, jangan menyalahkan diri sendiri, lagi pula setiap kita terkena musibah, itu atas perbuatan kita sendiri loh..."


"Emang ia, bukan karena Alloh ingin mengingatkan kita?"


"Ya itu juga termasuk, tapi coba mas pikir, kenapa Alloh samapi memberi musibah pada kita, kalo kita ga salah...."


"Tadi kamu panggil aku apa?"


"Om..."


"Bukan"


Zae malu untuk mengakuinya.


"Ayo jawab, tadi kamu panggil aku apa hem?"


Zae tatap saja tak mau menjawabnya, dia malah berbaring dan menutup tubuhnya hingga kepala, menghindari tatapan maut Arka.


Arka menarik paksa selimut yang menutup tubuh Zae.


"Kalo ga mau jawab, aku cium nih...." ancamannya.


Zea masih diam dan menutup mata.


"Satu....."


"Dua.... "


Arka terus mendekatkan wajahnya ke wajah Zae. Hingga hitungan ketiga, Zae bisa merasakan hembusan nafas Arka.


Zae semakin erat memejamkan matanya. Jantungnya sudah bertalu tak beraturan, seakan ingin lepas dari tempatnya.


Duk....


Zea menendang perut Arka, Zea takut kalo Arka khilaf.


"Ais, kasar banget sih kamu jadi perempuan..."


"Biarin, daripada khilaf, emang mau tanggung jawab?"


"Jelas mau lah...."


"Hem...."


Tok


Tok

__ADS_1


Tok


Arka langsung berlari kearah pintu, dan membukanya.


Yang datang adalah petugas rumah sakit, yang memberikan makanan untuk pasien.


"Terima kasih mas...."


"Sama-sama, mari...."


"Ia silahkan...."


Sang petugas melanjutkan tugasnya.


..................


"Makan ya?"


"Bisa sendiri...."


"Baiklah...."


Zea pun memakan makanan dari rumah sakit itu.


"Alhamdulillah kenyang...." meletakan wadah makanannya di atas lemari kecil.


"Tadi kan kamu bilang, kalo semua musibah yang menimpa kita itu dari perbuatan kita sendiri....."


"Ia, terus?"


"Perbuatan yang bagaimana?"


"Ya tentu yang melanggar sariat agama, contohnya marah dan menyimpan marah, apalagi marah sama orang tua...."


"Marah?, emang kita ga boleh marah?"


"Engga, mas pernah denger hadis yang mengatakan 'janganlah kamu marah bagimu surga'?"


"Ia..."


"Nah ya itu, marah itu haknya Alloh bukan kita..."


"Tapikan kalo ada sesuatu yang ngga sesuai keinginan kita, pasti kita inginya marah...."


"Ya belajar buat ga marah dong, walapun itu sangat susah, dan belajar buat 'Inna solati wanusuki wamah yaya wama mati lillah hirobbil 'alamin', sesungguhnya solatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya karena Alloh dan untuk Alloh"


"Caranya?"


"Caranya gampang, mas tinggal selalu mengingat Alloh dalam semua kegiatan yang mas lakukan dan sebelum melakukan kegiatan itu, mas niatkan hanya untuk ibadah kepada Alloh...."


"Terus kalo kita kerja, niatnya juga sama, untuk ibadah pada Alloh?"


"Ia, kan kerja itu bentuk ikhtiar untuk menjemput rizki dari Alloh....."


"He'em, jangan niatkan kerja hanya untuk dapat uang, kalo niatnya gitu saat kita gagal pasti sedihnya berlarut-larut......"


"Hah, ia juga ya, berarti selama ini aku salah?" batin Arka.


"Aku gini juga karena kemarin marah sama ibu, hihihi...."


"Dasar, tadi katanya ga boleh marah..."


"Ya kan aku juga masih belajar dan akan terus belajar...."


"Ia deh ia...."


Obrolanpun masih terus berlanjut. Mereka membahas mengenai rencana pernikahan dan resepsinya.


Arka maunya diadakan pesta besar-besaran, sedangkan Zea hanya ingin nikah di KUA saja, bagi Zea akan terlalu melelahkan jika harus berdiri di pelaminan melayani orang yang bahkan tidak kita kenal.


Pada akhirnya Zea mengalah.


..............


Jam sepuluh pagi, saat suster mengecek kondisi Zea, tekanan darah Zea sudah normal, jadi nanti setelah zuhur Zea diperbolehkan pulang, setelah dokter visit.


"Alhamdulillah...." syukur Zea.


"Sekarang infusnya copot ya mba..."


"Ia sus...."


"Tahan ya mba, ini aga sakit..."


"Ia sus...."


"Au..." lirih Zea saat jarum infus itu di tarik paksa dari pembulu darahnya.


....................


"Assalamu'alaikum umi...."


"Wa'alaikumussalam....."


Zea segera memeluk uminya.


Yap, tadi setelah Zea kelur dari rumah sakit, mereka langsung pulang, sehingga saat jam satu malam mereka sudah sampai di rumah uminya Zea.


"Langsung istirahat ya, kalian pasti cape...."


"Ia mi, Zea istirahat dulu ya...."


"Ia sayang...."

__ADS_1


Zea segera berlalu ke kamarnya.


Samapi di dalam kamar Zea segera membersihkan dirinya dan berganti pakaian. Lalu bersiap untuk tidur.


Badan yang lelah membuat Zea langsung terlelap.


Setelah berbasa basi sebentar dengan umi Hindun, Arka pun berpamitan untuk pulang.


.........................


"Siang umi...." sapa Zea, saat dirinya baru keruang keluarga.


"Siang sayang, sini duduk samping umi...."


Zea menurut.


"Gimana kabar ibumu dan keluarganya?"


"Alhamdulillah baik mi....."


"Alhamdulillah...."


"Em, Ze mau tanya...."


"Mau tanya apa memangnya?"


"Menurut umi, gimana kalo ada seorang ibu yang minta imbalan pada anaknya saat anak itu minta alamat rumah ayahna, apa itu pantas?"


"Kalo pantas apa engganya, menurut umi engga pantas, tapi mungkin saat itu ibunya sedang kepepet butuh uang untuk anaknya berobat atau mungkin untuk bayar kontrakan rumah......"


Umi Hindun memang akan selalu berfikiran baik pada setiap orang, termasuk pencopet sekalipun.


"Gitu ya mi?"


"Ia sayang, kan kita ga tau gimana kondisinya pada saat itu..."


"Ia sih...." lirih Zea.


"Emang kemaren ibumu minta imbalan?" pancing umi Hindun, agar Zea bercerita.


Tok


Tok


Tok


"Assalamu'alaikum....."


"Wa'alaikumussalam...."


Seorang abdi ndalem putri masuk.


"Ngapuntrn umi, mba Zea, ada tamu...."


"Oh ia, suruh masuk mba..."


"Nggih mi, kulo pamit...."


Setelah itu abdi ndalem itu langsung keluar. Menemui sang tamu dan mengarahkannya untuk masuk kedalam ruang keluarga. Dimana ada umi Hindun dan Zea.


"Assalamu'alaikum....."


"Wa'alaikumussalam...."


"Mamah...." panggil Aira.


"Hai sayangnya mamah...." jawab Zea.


"Mau sama mamah...." rengek Aira pada sang papah.


"Ia sayang, tapi Ai harus salaim dulu sama mbah uti....." jawab Arka.


"Ia pah..."


Arka segera mendekatkan Aira pada umi Hindun.


"Pinternya sayangnya mamah Zea...." puji umi Hindun.


"Hehe...." ringis Aira.


"Mau sama mamah...." rengek Aira kembali.


Arka segera menurunkan Aira dari gendongannya. Dan Aira langsung berlari menuju mamahnya.


"Utututu, pinternya sayangnya mamah...." puji Zea.


"Ai kangen mamah, kenapa mamah bohong, katanya ngga mau ninggalin Ai...." tangis Aira.


"Kan kemaren mamah sakit kaya Ai...."


"Oh ia, tapi pas Ai sakit mamah ada untuk Ai, masa pas mamah sakit Ai ga ada untuk mamah..."


Ada rasa haru yang menyeruak dalam hati Zea, kala mendapat perhatian kecil dari Aira.


"Kan Ai masih kecil, jadi Ai belum boleh jenguk mamah di rumah sakit, karena takutnya nanti Ai ikutan sakit...."


"Oh gitu ya mah?"


"Ia sayang..."


Kemudian Aira meminta maaf pada Zea, karena tadi dirinya marah, mengira Zea tidak lagi sayang padanya.


Zea juga meminta maaf pada Aira, sebab belum bisa selalu menemaninya.

__ADS_1


__ADS_2