Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 9.


__ADS_3

"Assalamu'alaikum sayang...."


"Wa'alikumus salam umi...." jawab Arka.


"Loh ko di rumah sakit, siapa yang sakit?, apa Zea?" heboh umi Hindun.


Arka langsung mengarahkan ponselnya ke arah wajah Zea.


"Ia mi, biasa Zea demam...."


"Kamu ini Ze, kebiasaan banget, kalo belum tepar di paksain terus...." suara mas Yoga.


Zea hanya tersenyum malu.


"Udah Yog jangan salah-salahan, tapi kamu cuma demam biasa kan Ze?"


"Zae darah tinggi mi....." jawab Zea sembari tersenyum malu.


"Makan buah naga yang banyak Ze,biar cepet normal..."


"Ia mi..."


"Ya sudah kamu istirahat ya, wasalammu'alaikum.... "


"Ia, Wa'alaikumus salam... "


Panggilan pun diakhir. Arka kembali menaruh hp Zea di atas lemari.


"Makan ya?"


"Ya..."


Arka segar mengambil makanan yang sudah tersedia dari rumah sakit.


"Saya bisa sendiri.... "


.............


Jarum panjang dan pendek pada jam dinding yang ada di ruangan iti menunjuk tepat di angka 12,namun Zea sama sekali belum bisa tidur. Dari tadi dia terus mengubah-ubah posisi tidurnya. Mencari posisi yang paling nyaman.


Matanya tak sengaja menatap wajah tampan milik Arka yang sedang tertidur di kursi.


"Sungguh indah ciptaan-Mu ya Alloh....." guman Zea.


"Au...." keluh Zea, saat merasak sakit di tangan yang ada infusnya.


"Ah, pantesan sakit, ternyata sudah habis..." berguman.


Zea bangkit, lalu ia berjalan menuju tempat suster jaga.


"Malam sus, saya mau minta tolong, ini infus saya habis...." ucap Zea.


"Oh iya, sebentar ya mba, mba kamar apa ya?"


"B02..."


"Baik mba, saya akan segera kesana...."


Zea segera kembali ke tempat rawatnya.


Zea membaringkan diri sembari menunggu sang suster datang.


"Ganti ya mba..."


"Ia sus silahkan..."


"Itu suaminya kecapean ya mba, sampai ga tau kalo infusnya habis....." basa-basi sang suster, agar pasien tidak tegang.


"Hehe ia sus...." jawab Zea


"Alhamdulillah sudah selesai...." ucap sang suster.


"Alhamdulillah, terima kasih ya sus...."


Arka yang samar-samar mendengar suara orang berbicara, terbangun dari tidurnya.


"Sus...." sapa Arka pada suster.


Suster tersenyum, sebagai jawaban dari sapaan Arka.


"Mari mba, pak, saya tinggal dulu ya...." pamit sang suster.


"Ia silahkan sus...."


Suster itupun pergi.


"Tadi kenapa ko ada suster?" tanya Arka.


"Tadi infusnnya habis...."


"Kenapa ga bangunin aku aja?"


"Ga enak, kamu tidurnya terlalu lelap tadi...."


"Maafkan aku...."


"Ia, ya sudah tidur lagi, aku juga mau tidur lagi ini....."


"Ia...."


Zea membaca do'a dan ia langsung tertidur dengan mudah.

__ADS_1


Sementara itu Arka tak mungkin tidur kembali. Jadi ia memutuskan untuk membersihkan dirinya dan solat tahajud.


Selesai solat tahajud, Arka memutuskan untuk menghubungi rekan bisnisnya yang ada di Taiwan. Dia ingin meminta tolong, mencarikan daddy Zea.


Agar dia dan Zea tak perlu pergi kesana. Arka takut bila daddy Zea akan memperlakukan Zea dengan tidak baik, dan pada akhirnya akan menambah beban pikiran Zea saja.


Arka mengirimkan alamat daddy Zea pada temanya itu, dan Alhamdulillah nya tempat tinggal rekan bisnis Arka itu berada satu kota dengan daddy Zea.


Devon, nama rekan bisnisnya Arka. Dia menjanjikan akan mengabari tiga hari lagi, tentang keberadan daddy nya Zea.


Arka mengucap syukur, karena telah dimudahkan segala sesuatunya, seolah alam semesta juga mendukung rencananya yang ingin menikah dengan Zea.


................


Zea terbangun saat mendengar suara seseorang mengaji. Ada rasa kekagum yang menyelusup dalam hatinya. Bukan hanya merdu, tapi juga tepat dalam pengucapan makhrojul huruf dan tajwidnya.


Di jaman sekarang banyak orang yang hanya bisa membaca Al-Qur'an dengan suara merdu tanpa tau hukum tajwidnya. Padahal yang terpenting dalam membaca Al-Qur'an adalah tau hukum tajwidnya, bukan seberapa merdu suaranya.


Arka yang merasa di perhatiakn menyudahi mengajinya.


"Ko udah?"


"Emang udah selesai...."


"Masa?"


"Suer deh...."


"Pasti bo'ong, kamu takut aku keganggu ya, padahal mah aku seneng dengerin suara ngaji kamu..."


"Terserah kamu deh...." jawab Arka pada akhirnya.


"Mau minum, atau mu ke kamar mandi?" tanya Arka.


"Ke kamar mandi...."


"Ya sudah ayo...."


"Bisa sendiri...."


"Aku bawain botol infusnya...."


"Ia...."


Zea bangkit dari tidurnya, kemudian turun perlahan dari tempat tidur.


Dengan perlahan Zea berjalan ke kamar mandi, yang ada di ruangan itu.


Arka dengan sigap membukakan pintu kamar mandi dan menaruh botol infusnya pada tempat yang telah tersedia didalam kamar mandi itu. Kemudian Arka langsung keluar lagi.


............


"Ia sama-sama...."


Tok


Tok


Tok.


Seseorang mengetuk pintu.


"Sebentar ya, aku bukain pintu..."


"Ia..."


Arka bergegas menuju pintu.


Ceklek.


"Semalat pagi....." sapa dokter yang menangani Zea dan satu orang suster.


"Pagi dok, sus, silahkan masuk...." ucap Arka.


Kedua orang itupun masuk.


"Masih pusing mba?" tanya dokter.


"Sedikit dok...."


"Tengkuknya masih kaku?"


"Sudah engga...."


"Alhamdulillah, buat tiduran aja ya mba, biar tekanan darahnya cepat turun...."


"Oh ia dok..."


"Kita tensi dulu ya mba..."


"Ia sus...."


"Sebelumnya pernah darah tinggi?"


"Belum dok...."


"Oh ya sudah ga papa...."


"140 per sembilan puluh dok...." ucap sang suster setelah menensi tekanan darah Zea.


"Bearti belum turun ya sus......"

__ADS_1


"Ia dok..."


"Jangan mikirin yang berat-berat dulu mba, serahkan saja sama Alloh kalo mba punya masalah...."


Zea hanya tersenyum malu.


"Ga makan-makanan dari luar kan?"


"Engga, ko dok...."


"Ya sudah, saya tinggal keliling lagi ya...."


"Ia dok, terima kasih...."


"Sama-sama, mari mas...." pamit ke Arka.


"Mari dok...."


Arka mengantarkan dokter dan suster itu samapi di depan pintu.


Dert


Dert


Dert


Ponsel disaku Arka bergetar.


Arka segera mengambil ponselnya dan mengecek siapa yang menelponnya sepagi ini.


Nama sang kaka terpampang jelas dilayar.


Arka segera mengangkat panggilan video itu.


Tut.


Terpampanglah wajah Aira yang memerah dan penuh air mata.


"Huhu papah....." tangis Aira.


"Ia sayang kenapa, ko nangis....." tanya Arka khawatir.


"Ai kangen mamah....." ungkap anak itu.


"Kangen mamah ya?" ulang Arka.


Aira mengangguk.


Arka mendekat karah Zea yang sedang memejamkan mata.


"Nah ini mamah...."


"Mamah, huhuhu, Ai kangen....."


Zea yang mendengar suara Aira menangis langsung membuka matanya.


"Sayang...." ucap Zea.


"Ai kangen...."


"Ia sayang, mamah juga kangen sama Ai...."


"Kapan mamah pulang?" tanya Aira dengan bahasa anak kecilnya.


"Sayang, mamah lagi sakit, jadi belum bisa pulang...." jelas Arka.


"Mamah sakit?"


"Ia, nih liat kaya Ai kemaren..." menunjukan tangan yang diinfus.


"Kamu sakit Ze?" tanya mba Airin.


"Ia mba, darah tinggi...."


"Innalillahi...."


"Bude, Ai pengin jenguk mamah....." rengek bocah kecil itu.


"Gausah sayang, Ai ga usah jenguk mamah, cukup Ai do'ain mamah biar cepat sembuh ya..."


"Mamah ga sayang sama Ai..." merajuk karena tidak diperbolehkan menjenguk.


"Bukan gitu sayang, mamah sayang banget sama Ai, tapi karena tempatnya jauh, jadi mamah takut Ai kecapean terus sakit, nanti siapa yang jagain Ai kalo sakit?, mamah kan juga lagi sakit....." jelas Zea.


"Gitu ya mah?"


"Ia sayang...."


"Ya udah Ai tunggu mamah pulang aja, mamah cepat sembuh ya...."


"Amin, terima kasih do'anya sayang...."


"Ia mah....."


"Udah ya sayang, biar mamahnya istirahat, biar cepat sembuh...." ucap Arka.


"Ia pah, Assalamu'alaikum....."


"Wa'alaikumussalam sayang....."


Kemudian Arka mematikan panggilan video itu.

__ADS_1


__ADS_2