
Kini Arka sedang berdiri di depan sebuah gedung. Tatapannya awas mengamati gedung itu dari atas hingga bawah. Gedung pertama yang akan Arka masuki untuk interview kerja.
Dengan harapan besarnya, bisa diterima kerja disana, Arak melangkahkan kakinya dengan pasti.
Begitu memasuki gedung itu, Arka langsung disambut oleh resepsionisnya.
"Pagi, pak...." sapa resepsionis, ramah.
"Pagi..." jawab Arak.
Masih dengan keramah tamahhannya sang resepsionis menanyai Arka tentang tujuan dan maksud kedatangannya ke gedung itu.
Arak pun menjelaskan maksud kedatangannya kesana untuk bertemu dengan sang pemilik gedung.
"Baik, apa bapak sudah buat janji dengan pak Bayu?"
"Sudah mba..."
"Baik, tunggu sebentar ya pak..."
"Siap mba...."
Resepsionis itu kemudian menghubungi bosnya, untuk menyampaikan bahwa ada orang yang ingin bertemu.
"Silahkan bapak langsung ke ruangan pak Bayu di lantai 7..."
"Siap mba...."
Setelah berterimakasih, Arak pun berjalan menuju lift yang ada di samping kanan tempat resepsionis.
Ting. Pintu lift terbuka, Arka pun langsung memasukinya.
*****
Ting, lift berhenti dilantai tujuh. Begitu pintu lift terbuka, Arka langsung keluar.
"Mas Arka...." panggil seseorang.
Perasaan tidak enak langsung muncul dihati Arka. Dia sangat hafal dengan pemilik suara itu. Suara yang pernah mengisi hidupnya selama dua tahun.
Arka meneloh kesumber suara itu. Benar saja tebakannya, orang yang memanggilnya adalah Shiren, sang mantan istri.
"Pagi mas, kamu ngapain ko ada disini?" tanya perempuan berbaju ***** itu.
Arka diam saja, dia tak mau menanggapi pertanyaan dari mantan istrinya.
"Mas ih, ditanya ko diem aja?" rajuknya.
Arka diam saja, ia malah melanjutkan langkahnya ke ruangan pak Bayu.
Shiren pun mengekori kemana Arka pergi.
Tok tok tok, Arka mengetuk pintu bertuliskan 'Ruang Direktur Utama' di depannya.
Setelah mendapat jawaban dari orang yang berada di dalam ruangan itu, Arka pun masuk.
"Pagi pak...."
"Pagi....." jawab pak Bayu.
Tanpa Arka duga, Shiren langsung mencium pipi pak Bayu. Bukan hanya itu, bahkan dengan beraninya Shiren duduk di pangkuan pak Bayu. Bahkan lebih dari sekedar ciuman biasa.
__ADS_1
"Hehehe, jangan kaget gitu Ka...." kekeh lelaki berperut buncit dan berkacamata itu.
Arka hanya diam mematung.
"Silahkan taruh saja berkas-berkasnya disitu, dan kamu sudah bisa langsung bekerja......" ucap pak Bayu, yang sibuk meladeni Shiren.
Arka tak habis pikir dengan dua orang didepannya yang tak punya malu.
"Maaf om" ucap Arka seraya melangkahkan kakinya. Pergi meninggalkan ruangan itu.
*********
Arka terduduk lemas di pelataran gedung itu. Keringat sebesar biji jagung keluar dari pori porinya.
Arka memutuskan untuk tidak bekerja di perusahaan itu. Demi menjaga perasaannya sendiri dan sang istri.
Sebuah penyesalan menyelusup di hati Arka, kenapa ia tak mau mendengarkan usulan Zea?.
Setelah merasa lebih baik, Arka pun melangkahkan kaki menuju mobil.
"Sebaiknya aku pulang dulu...." lirihnya pada diri sendiri.
Mobil itu pun melaju meninggalkan gedung bertingkat itu.
******
Sementara itu Zea yang suntuk di dalam kamarnya, memutuskan bergabung dengan kaka ipar dan ibu mertuanya yang sedang bersantai di ruang keluarga.
"Loh Ze, kamu udah nggak pusing?" tanya bu Aminah.
"Alhamdulillah bu..." jawab Ze, sembari mendaratkan pa*tatnya di karpet.
"Banyakin istirahat aja dulu Ze...." ucap bu Amianh mulai memberi nasehat kepada Zea.
"Mungkin Zea suntuk bu, dikamar terus..." bela mba Airin.
"Kan bisa suruh ibu apa kamu untuk nemenin"
"Nggak papa bu, Zea juga udah kuat jalan ko...."
"Ya sudah, tapi jangan kecapean yah..."
"Ia bu...."
Mereka bertiga pun mengobrol santai, dengn tetap mengawasi Aira dan Alisa yang sedang bermain.
Setengah jam kemudian.
Terdengar suara deru mesin mobil. Zea tau siapa itu. Ia pun segera bangkit dari duduknya. Untuk menyambut kepulangan sang suami. Namun saat dirinya bangkit, rasa pusing di kepalanya kembali hadir, membuatnya meringis.
Bu Aminah yang melihat Zea meringis, langsung menyuruh Zea untuk kembali duduk, tidak usah menghampiri Arka ke pintu utama. Zea pun menurut.
"Assalamu'alaikum....."
"Wa'alaikumus salam...." jawab semua orang yang mendengar salam Arka.
"Udah nggak pusing yang?" heran Arka, yang melihat Zea ada di ruang keluarga.
"Tadi pas jalan kesini enggak, tapi sekarang pusing lagi...." jawab Zea, jujur.
Setelah salim ke ibu dan kakanya, Arka mendekat ke Zea, lalu ia daratkan sebuah ciuman di pipi Zea, yang membuat mba Airin memekik keras.
__ADS_1
"Arka...., kamu ini ya, sukanya bikin mba iri aja" omel mba Airin.
Arka hanya cengar cengir saja. Setelah itu, Arka pun beranjak pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian.
Setelah berganti pakaian, Arka kembali lagi ke ruang keluarga, bergabung dengan istri, ibu, kaka, anak, serta keponakannya.
****
Suasana begitu sunyi senyap. Tak ada suara kendaraan dan binatang malam seperti biasanya. Bahkan langit juga tidak menampakkan keindahannya.Karena tertutup awan hitam. Menambah nilai kehororan dimalam jum'at ini.
Suasana di kamar Arka dan Zea juga sama, sunyi.
"Mas...." panggil Zea, memulai percakapan.
"Ia...."
"Gimana tadi, diterima?"
Arka pun menceritakan apa yang tadi terjadi di kantor sahabat ayahnya, tanpa ada yang terlewat satu dan tanpa dilebih-lebihkan.
"Maaf ya sayang, mas nggak mau dengerin omongan kamu...." sesal Arka.
"Ia mas nggak papa, kita kerencana awal aja ya, bikin toko...."
"Ia sayang...."
Keadaan pun kembali hening. Karena keduanya sama-sama larut dalam pikirannya sendiri.
Whus.... angin berhembus kencang, menerpa tubuh Zea, menghadirkan ketakutan dalam diri Zea.
"Mas aku takut...." ucap Zea.
"Takut kenapa?" bingung Arka.
"Mas sadar nggak, kalo nggak ada suara binatang malam dan suara kendaraan?"
"Oh ia ya, emang kenapa sayang?" heran Arka.
Zea menghela nafas, kemudian ia menjelaskan ke Arka, jika pada malam hari suasana sunyi senap tanpa adanya suara kendaraan dan binatang malam, biasanya akan terjadi sesuatu yang buruk.
"Masa sih yang?"
"Ia, tapi kayanya ini bukan karena mau ada maling atau bahkan rampok, tapi sesuatu yang tidak terduga...."
"Sesuatu apa?"
"Liat besok, aku belum bisa memastikannya, yang jelas sekarang aku takut..."
"Makanya jangan mikirin yang aneh-aneh, udah sekarang tidur ya, ayo baca do'a...."
Zea menurut, dia membaca do'a dan memejamkan matanya, namun karena ketakutannya itu Zea tidak bisa tidur.
Ya, Zea bisa disebut sensitif, dia bisa tau jika akan ada sesuatu yang terjadi lewat tanda yang diberikan oleh alam di sekitarnya. Contohnya jika ada suara kokokan ayam jantan saat maghrib dan dijam-jam tidak lazim itu biasanya akan ada janda atau pera*an yang hamil di luar nikah.
Dan jika di malam hari banyak binatang ternak yang tidak biasanya berbunyi di malam hari, itu akan ada maling atau perampok.
Zea terus beristighfar dalam hati, untuk menghilangkan rasa takutnya, namun bukannya mereda, rasa takut itu malah bertambah.
Zea juga terus mengubah posisi tidurnya, namun hasilnya sama saja, rasa takutnya lebih kuat ketimbang rasa kantuknya.
..................................
__ADS_1
Jangan lupa juga ramaikan ceritaku yang satu lagi ya guys...
Judul : Kisah Cahaya