
"Terimakasih umi, kalo gitu Zea mau siap-siap dulu....."
"Ia, sayang...."
Zea berlalu ke kamarnya.
Sesampainya di kamar Zea mengambil tas slempang yang selalu ia bawa ketika bepergian. Tas itu hanya berisi mukena, ponsel dan barang pribadi milik Zea. Tak ada bedak, lipstik dan sebagainya yang biasa menjadi penghuni tas wanita umumnya.
"Mau kemana mba Ze?" tanya mba Lia
"Mau kerumah sakit..."
"Siapa yang sakit?"
"Aira, sudah dulu ya, aku pergi, assalamu'alaikum..." berlalu
"Wa'alaikumus salam..."
........... ............. ............
Mobil berwarna hitam mengkilat itu melaju dengan kecepatan sedang, membelah jalanan yang ramai kendaraan.
Berbeda dengan suasana jalanan yang ramai, suasana didalam mobil itu sunyi senyap, hanya terdengar suara deru mesin mobil.
"Ehem, makasih ya udah mau jengukin anak aku..." ucap Arka, memulai pembicaraan.
"Sama-sama" jawab Zea jutek.
"Aku sama mamahnya Aira, sudah perpisah sejak Aira tiga bulan..." jeda
Mengalirlah cerita dari mulut Arka tanpa diminta.
"Sudah ada 8 wanita yang aku kenalkan dengan Aira untuk jadi ibunya, namun sama sekali tidak ada yang cocok dengannya. Aira selalu menangis jika akan di gendong oleh 'mereka'...."
Zea masih menjadi pendengar setia.
"Oh ya, kamu udah berapa lama mondoknya?"
"Sebentar"
"Oh"
Sampailah mereka di gerbang rumah sakit. Arka segera mengambil karcis parkir. Lalu memarkirkan mobilnya di parkiran khusus mobil.
Jegleg. Suara pintu mobil dibuka.
Zea berjalan di belakang Arka dengan jarak 3 meter.
........................
"Assalamu'alaikum...." ucap Arka ketika membuka pintu ruangan Aira.
"Wa'alaikumus salam..." jawab mba Airin yang sedang menggendong Aira.
"Hua mamah, aku mau cama mamah..." tangis Aira yang melihat Zea.
Zea menyapa mba Airin, lalu ia segera mengambil alih Aira.
"Sayang, jangan nangis ya, mamah disini..."
"Huhuhu, kenapa mamah tinggalin Ai?"
"Sut, udah ya jangan nangis, yang penting mamah sekarang disini kan?"
"Ai nda mau mamah pegi lagi..."
Zea bingung ingin menjawab apa.
"Ai udah makan?"
Aira menggelengkan kepalanya, sebagai jawaban.
"Ai mau cepet sembuh ga?"
"Ia..."
"Kalo Ai mau cepet sembuh Ai makan ya, terus minum obat..."
Aira dengan patuh menganggukkan kepalanya.
"Padahal pas sama aku Aira ga mau nurut loh, kenapa sama kamu nurut banget Ze?" tanya mba Airin.
"Anak kecilkan tau mana yang tulus apa ngga..." jawab Arka.
__ADS_1
"Jadi maksudmu mba ga tulus gitu?"
"Mungkin....."
"Dasar ga tau terimakasih, sudahlah, Ze mba pulang ya..." pamit mba Airin
"Ia mba, hati-hati di jalan ya...."
"Ia, assalamu'alaikum...."
"Wa'alaikumus salam...."
Zea segera menyuapi Aira bubur.
Suasana di ruangan itu mendadak canggung.
Zea dengan aktivitasnya menyuapi Aira bubur, dan Arka yang bingung harus melakukan apa.
Dert dert dert.
Suara getaran ponsel mampu memecah keheningan yang ada.
"Aku mau angkat telpon dulu..." ucap Arka salah tingkah
"Ia silahkan..."
Arka keluar dari kamar rawat Aira.
"Pinternya anak mamah, sekarang minum obat ya?" puji Zea, kala Aira menghabiskan buburnya.
"Ia mah..."
Zea segera menyiapkan obat yang berupa sirup, untuk Aira.
Tanpa banyak drama Aira meminum sirup itu.
"Alhamdulillah, sekarang Ai bobo ya biar cepat sembuh...."
"Tapi mamah jangan pelgi ya..."
"Ia mamah ga akan kemana-mana ko..."
Tak butuh waktu lama untuk Aira tertidur, mungkin karena efek obat yang ia minum.
Zea memastikan kalo Aira sudah benar-benar terlelap, barulah ia bangkit menuju kamar mandi.
Ceklek, Arka membuka pintu ruangan itu.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu bisa tidur na..." menatap Aira yang terlelap.
"Tapi kemana Zea, kenapa tasnya tidak ada, apa dia pulang?" gumanya.
Ceklek.
Zea keluar dari kamar mandi.
"Pak, saya permisi mau solat dulu, pumpung Aira nya lagi tidur..." ucap Zea tanpa basa basi.
"Eh, ia silahkan..." ucap Arka glagapan, karena kaget.
Zea langsung melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu.
"Jadi perempuan ko judes amat..." gerutu Arka.
Ceklek. Pintu tertutup.
"Au" keluh Zea yang merasakan perih di perutnya.
Zea memutuskan untuk duduk di kursi tunggu yang ada di luar kamar rawat Aira.
Zea memegangi perutnya, dan badannya setengah membungkuk. Keringat sebesar biji jagung sudah mungucur deras dari setiap pori-porinya.
"Astaghfirullah hal 'azim..."
Zea baru ingat kalo dari pagi, perutnya sama sekali belum terisi makanan, saking khawatirnya ia ke Aira hingga kebutuhannya sendiri ia abaikan.
Ceklek.
"Loh, Ze, kamu ga papa?" tanya Arka khawatir.
Arka kembali ke dalam, untuk mengambil air mineral dan nasi uduk yang tadi ia beli.
"Minum Ze..."
__ADS_1
Zea langsung mengambil botol minuman di tangan Arka dan segera meminumnya.
"Terima kasih pak..." ucap Zea disertai senyumnya.
"Massya Alloh, sungguh indah ciptaan Mu..." batin Arka.
"Makan dulu Ze, biar perutmu ga tambah perih..."
Arka tak perlu bertanya apa yang terjadi dengan Zea, dia sudah tau apa yang terjadi, sebab dirinya pun memiliki penyakit itu, magh.
"Terima kasih, pak...." menerima satu bungkus nasi uduk.
Arka yang melihat Zea tidak nayaman di dekatnya memutuskan untuk ke masjid.
"Ehem...,kamu makan dulu aja, biar ga lemes, aku mau ke masjid dulu ya..." pamit Arka
"Ia silahkan..."
Setelah Arka pergi, Zea langsung memakan nasi uduknya. Dia tak peduli dengan orang yang berlalu lalang dan menatapnya dengan tatapan aneh dan heran.
....................
"Alloh..... Hu Akbar...."
Arka yang membuka pintu dan ingin masuk, mengurungkan niatnya, kala melihat Zea sedang solat.
Akhirnya Arka memilih untuk menunggu Zea selesai solat di kursi tunggu ruangan itu.
"Siang pak Arka..." sapa dokter yang menangani Aira, ramah.
"Siang dok..."
"Apa Aira sudah mau makan?"
"Alhamdulillah sudah dok...."
"Syukurlah, saya mau periksa keadaan Aira dulu...."
"Tunggu sebentar lagi ya dok, didalam ada mamahnya Aira sedang solat..."
"Oh ya, sejak kapan anda rujuk dengan istri anda?"
"Duh, salah ngomong aku..." batin Arka
"Saya ga rujuk, maksudnya perempuan yang dipanggil 'mamah' oleh Aira..."
"Oh, saya kira anda rujuk..."
"Sepertinya sudah selesai, mari masuk...."
Keduanya pun melangkah masuk.
Arka tidak mau ada pembahasan yang lebih panjang lagi mengenai mantan istrinya itu.
"Selamat siang...." sapa dokter pada Zea
"Siang dok..."
"Wah Aira pinter nih milih calon mamahnya..." gurau dokter itu.
"Kalo gitu saya priksa Airanya ya..."
"Silahkan dok..."
Dokter melakukan tugasnya, sembari mengajukan beberapa pertanyaan kepada dua orang itu.
"Tadi makan buburnya habis?"
"Habis dok" kompak keduanya
"Cie kompak..."
"Alhamdulillah panasnya udah turun, kalo sampai besok pagi kondisi Aira tetap stabil, Insya Allah boleh pulang....."
"Alhamdulillah" syukur keduanya.
..........................
Malam harinya, Zea menginap di rumah sakit, karena Aira yang tidak mau ditinggal.
Bahkan Aira meminta Zea untuk menemani tidur di sampingnya.
"Apa kamu sebegitu rindunya akan sosok mamah, sayang?" bantin Arka nelangsa.
__ADS_1