
Sepanjang hari, Zea melakukan tugasnya sebagai seorang istri sekaligus ibu, seperti hari-hari sebelumnya, hanya saja hari ini ia tak banyak biacara daripada hari sebelumnya.
Sebenarnya Arka tau sang istri sedang tidak baik-baik saja, namun ia sengaja tudak bertanya. Biarlah nanti sang istri yang akan menceritakan sendiri masalahnya. Itu harapannya, kenyataanya? Zea sama sekali belum mau menceritakan masalahnya hingga kini.
Karena sudah tidak tahan melihat wajah sang istri yang murung, akhirnya Arka pun menanyakan sebab musabab wajah sang istri yang murung.
"Sayang...." mengelus pipi mulus Zea.
"Ia mas...."
"Ayo cerita sama mas...." menatap intens manik mata sang istri.
"Cerita apa?" bingung Zea.
"Sayang ngga punya masalah?, ayolah sayang mas tau sayang lagi ada masalah...."
Zea melengos.
"Tuh kan, kamu lagi punya masalah, tapi kamu ngga mau cerita sama mas, kamu ini sebenarnya anggap mas apa sih?" gretak Arka supaya Zea mau bercerita masalahnya.
Arka langsung membalikan badannya, memunggungi Zea. Arka pura-pura ngambek, bak anak bujang yang sedang marahan dengan pacarnya. Saat ini posisi mereka sedang berbaring di atas ranjang.
Zea menjadi merasa bersalah.
"Mas...." panggilnya.
Arka tidak menjawab.
"Mas..." kali ini Zea menyentuh bahu suaminya.
Namun tetap sama, tidak ada respon dari Arka.
Zea tak kehabisan akal, dia mengikis jarak diantara mereka. Memeluk erat sang suami dari belakang.
"Maafkan aku...." ucapnya dengan terisak, karena merasa benar-benar bersalah.
Arka langsung membalikan badannya, dia tak sanggup jika harus membiarkan sang istri menangis.
Mendekap tubuh mungil Zea kedalam pelukan hangatnya. Mencium pucuk kepala sang istri dengan begitu dalam.
"Maas sudah memaafkanmu, ayo cerita...." titah Arka setelah tangisan Zea reda.
Zea pun menceritakan kejadian tadi pagi.
"Sayang bukan pembawa sial, dan tidak ada orang yang pembawa sial" mengusap air mata sang istri.
"Mas bersyukur banget bisa memiliki istri sepertimu, yang selalu mengingatkan mas ketika salah....."
"Tapi benar apa kata bu Limah mas, sejak kamu nikahin aku, usahamu jadi bangkrut...."
"Engga sayang, kamu bukan pembawa sial, kalo usaha mas sekarang bangkrut, itu adalah ujian dari Alloh untuk keluarga kita. Mungkin karena dulu saat mas mulai usaha uang yang mas gunakan bukan uang halal, jadi Alloh membangkrutkan usaha mas, agar mas menafkahi keluarga kita dengan uang halal...."
"Mas dulu bukanlah orang baik sayang, walupun mas tidak pernah minum minuman beralkohol, tapi mas sering berjudi dan balap liar....."
Zea terkejut mendengar masalalu suaminya itu. Karena sebelumnya ia belum pernah tau seperti apa masalalu suaminya itu.
"Benarkah?"
"Ia sayang, tapi semenjak ayah mas meninggal, mas sudah tak pernah lagi melakukan hal itu lagi...."
"Oh..."
"Cuma oh doang?"
"Terus apa?"
Arka mencubit gemas hidung Zea.
"Ishh, sakit mas...."
"Nah gitu dong ceria lagi, jangan murung terus, ngga enak diapandang...."
__ADS_1
"Ia...."
"Sayang..."
"Ia mas..."
"Boleh mas pinjam uang sayang?"
"Engga usah pinjam, silahkan mas gunakan uang aku untuk membangun usaha...."
"Engga, mas tetap anggap itu sebagai hutang, karena itu hasil kerja keras sayang...."
"Terserah mas saja, memang mas mau buka usaha apa?"
"Toko sembako...."
"Wah bagus tuh, kan di dukuh ini belum ada toko sembako...."
"Ia sayang...."
....................
Keesokan harinya...
Keluarga kecil itu telah usai sarapan.Dan kini Arka sedang menemani Aira bermain.
Sementara itu, Zea sedang berbalas pesan dengan pegawai butiknya.
"Mba Vio...." gumannya saat melihat ada panggilan masuk.
Tut
Zea mengangkat panggilan masuk itu.
"Halo assalamu'alaikum mba Vio...." sapa Zea.
"Ia halo, wa'alaikumus salam...." jawab mba Vio dengan suara yang kurang jelas, akibat tangis.
"Huhuhu, Ze, mas King selingkuh...."
"Tadi malam aku melihat dengan kepalaku sendiri, mas King sedang berbuat zina dengan sahabatku...."
Zea terdiam tak tau harus berkata apa.
"Sabar mba, tandanya Alloh itu baik sama mba, udah memperlihatkan sifat calon suami mba, sebelum kalian menikah, coba mba bayangkan kalo sudah nikah baru ketauan...."
"Tapi kita udah nyebar undangan, booking gedung, pesan catring dan segala macamnya. Gimana nanti malunnya mamih papihku, kalo tau anaknya ngga jadi nikah...."
"Mba jelasin perlahan aja, mereka pasti ngerti ko, ngga mungkin kan, kalo orang tua menjerumuskan anaknya sendiri..."
"Udah, mba jangan nangis lagi, air mata mba terlalu berharga untuk menangisi dia..."
"Kamu punya rekomendasi tempat untuk menenagkan diri?" bukannya menajawab Zea, mba Vio malah balik bertanya.
"Ada...."
"Tapi aku mau yang tersembunyi, didesa juga ngga papa...."
"Ia memang tempatnya di desa, bahkan bisa di bilang pelosok..."
"Bisa antarkan aku kesana nanti malam?"
"Insyaalloh mba...."
"Ya sudah, terima kasih ya mau dengerin aku...."
"Ia sama-sama mba..."
"Ya sudah assalamu'alaikum...."
"Wa'alaikumus salam....."
__ADS_1
"Enak ni ye, yang masih pagi udah bisa telponan, ngga kaya aku yang harus beberes rumah, andai saja suamiku kaya, aku juga pengin punya pembantu....." seloroh mba Kia, yang ntah sudah duduk disamping Zea sejak kapan.
"Mba Kia, sejak kapan mba disini?" tanya Zea.
"Sejak tadi, saat kamu masih telponan..."
"Ohh, ada apa mba Kia kesini?"
"Engga ada"
"Maaf ya mba Kia bukannya Zea ngusir tapi Zea masih ada keperluan lain, jadi ngga bisa nemenin mba...."
"Memangnya keperluan apa, kan udah ada pembantu, kamu juga hanya ibu rumah tangga, bukan wanita karir...."
"Hehehe, ia mba Kia, tapi aku memang sedang ada keperluan...."
"Ia deh ia, jangan lupa nanti arisan di rumahku...."
"Ia mba, udah kan?"
"Belum, aku mau minta tolong nih...."
"Minta tolong apa mba?"
"Aku liat suamimi di rumah, bisa ngga kalo anterin aku kepasar....."
Zea terkejut mendengar ucapan mba Kia.
"Maaf ya mba Kia, aku ngga bolehin, silahkan naik ojek online aja...."
"Sayang yangnya, kan bisa buat beli bakso, boleh lah Ze, sebentar ko cuma kepasar doang loh ini.."
Zea menggelengkan kepalanya. Tak menyangka mba Kia akan seperti ini.
"Engga, sekali engga tetep engga, nih buat mbayar ojol...." menyerahkan uang lima puluh ribuan satu lembar.
"Ini mah, cuma bisa buat berangkatnya aja, pulangnya gimana?"
"Minta sama suamimu" ketus Zea.
Brak
Zea sengaja menutup pintu dengan keras. Karena kesal dengan mba Kia.
"Dia kan punya suami, kenapa harus minta tolong pada suami ku...." batinnya dalam hati.
Dan menurut Zea orang-orang seperti mba Kia lah yang nantinya bisa merusak rumah tangga seseorang. Maka dari itu perlu kewaspadaan tingkat tinggi dalam menghadapinya.
"Kamu kenapa yang?" tanya Arka yang heran melihat wajah kesal sang istri.
"Itu mba Kia, masa mau minta dianterin ke pasar sama kamu, kan bisa naik ojol atau minta dianterin suaminya...." sewot Zea.
"Hehehehe, namanya juga manusia yang, kan ada pepatah yang mengatakan 'rumput tetangga lebih hijau daripada rumputnya sendiri'....."
"Ia, maka dari itu aku harus ekstra waspada menjaga rumputku, agar tidak di 'arit' tetangga..."
"Ia ia, udan jangan marah-marah mulu, kasian baby nya...." mengusap perut rata Zea.
"Astaghfirullah hal azim...." lirih Zea beristighfar.
"Sayang habis ngapain sih?"
"Tadi mba Vio telpon, terus cuarhat, kalo calon suaminya selingkuh sama sahabatnya sendiri...."
"Ternyata bukan hanya di film dan novel saja ya yang begitu, didunia nyata juga...."
"Kan emang biasanya penulis itu kalo buat cerita terinspirasi dari pengalamannya sendiri atau apa yang dilihatnya....."
"Ohh gitu ya?"
"He'em....."
__ADS_1
..........................
Jangan lupa mampir di ceritaku yang satu lagi... judul : Kisah Cahaya