
"Sudah"
"Oh..."
Zea melanjutkan makannya dengan lahap.
.........................
Pagi harinya.....
Seperti kata dokter kemaren, hari ini Aira sudah boleh pulang.
Ketiganya sudah dalam perjalanan menuju rumah Arka.
Zea dan Arka sudah sepakat, nanti jika Aira sudah tidur, Zea akan pulang ke pondok.
Sampailah mereka di depan sebuah gerbang yang terbuat dari baja, dengan ukiran kepala singa di tengahnya. Seolah menunjukan betapa berkuasanya sang pemilik rumah.
Arka menekan klakson mobilnya, kala gerbang tidak terbuka-buka.
Seseorang berseragam satpam datang dengan berlari kecil. Lalu ia segera membukakan gerbang untuk sang bos.
"Makasih pak..." ucap Arka.
Mobil memasuki halaman rumah. Lalu berhenti di depan pintu utama.
Seorang wanita yang masih cantik di umurnya yang sudah tidak muda lagi, menyambut kedatangan mereka.
Zea segera turun setelah mobil berhenti, bersama Aira.
Zea segera menyalami wanita itu.
"Makasih ya sayang, udah mau nungguin cucu oma..." ucap wanita itu.
"Sama-sama oma, ayo Ai juga salim sama oma.."
Aira menurut apa kata Zea.
"Duh pinternya cucu oma..." puji bu Aminah.
"Ayo masuk, pasti belum sarapan kan..."
Zea mengangguk, lalu mengikuti langkah bu Aminah.
"Pagi Ze, Ai..." sapa mba Airin.
"Pagi mba Airin...." balas Zea.
Zea mendekatkan diri ke arah mba Airin, lalu menyuruh Aira untuk salim dengan budenya itu.
"Pagi mba Lica..." ucap Aira, seolah menyapa anak yang sedang di suapi oleh mba Airin.
"Ha gi e A...." jawab anak itu.
"Sayang sini, sarapan dulu..." panggil bu Aminah
"Ia tante..."
"Ayo mba sarapan..." mengajak mba Airin.
"Mba udah sarapan, udah sana kamu sarapan dulu, pasti dari kemaren kamu hanya makan sedikit...."
"Hehe ia mba, ya sudah Zea mau sarapan dulu ya mba..."
"Ia..."
Zea berlalu bersama Aira, meninggalkan mba Airin dan Alisa, menuju ke meja makan.
__ADS_1
Zea memilih untuk duduk didekat bu Aminah. Dan Aira, ia dudukan di sampingnya.
"Ai makan ya?"
"Ia mah, tapi cuapi ya..." manja Aira.
"Ia sayang..."
"Tante, ini buat Ai kan?"
"Ia sayang, itu sarapan buat Ai..." jawab bu Aminah.
Zea dengan cekatan menyuapi Aira makan.
Bu Aminah yang melihat kedekan cucunya dan Zea merasa terharu sekaligus sedih. Sedih karena teringat perceraian Arka dengan Shiren, ibu kandung Aira.
"Tante nangis?"
Bu Aminah langsung mengusap air matanya yang berhasil lolos begitu saja.
"Engga, tante ga nangis ko, cuma tadi kelilipan..."
"Oh..., kirain Zea tante nangis..."
"Sini Ze, biar aku yang nyuapin Aira, kamu makan ya..." ucap Arka yang sudah selesai makan.
"Ia pak..."
"Ai makan sama papah dulu ya, biar mamah juga makan..." bujuk Arka.
"Ia pah..."
Akhirnya Aira makan di suapi oleh Arka dan Zea bisa memakan sarapannya.
..........
Selesai sarapan bersama, Zea menemani Aira bermain sebentar hingga anak itu mengantuk dan tertidur.
"Hati-hati dijalan ya sayang..." ucap bu Aminah.
"Ia tante..."
Setelah berpamitan Zea langsung masuk kedalam mobil yang akan mengantarnya menuju ponpes.
"Langsung ke ponpes pak..." ucap Zea pada supir keluarga Arka yang akan mengantarnya.
"Siap mba..."
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, membelah sepinya jalanan.
Tak ada percakapan diantara keduanya. Sang sopir yang fokus terhadapa jalan dan Zea yang sedang larut dalam pikirannya sendiri.
....................
Sementara itu, sepeninggalan Zea, Arka mengutarakan niat baiknya untuk mempersunting Zea kepada ibunya.
"Bu, Arka punya niat baik untuk mempersunting Zea, apa ibu setuju?"
"Ibu setuju, nanti malam kita langsung ke ponpesnya..." ucap bu Aminah mantap.
"Beneran bu?" tanya Arka yang masih ragu akan jawaban ibunya.
"Ia, ibu yakin kalo Aira sama Zea akan cocok, dan apalagi?, bukannya kamu juga sudah jatuh hati padanya?"
"Hehe, ko ibu bisa tau kalo Arka sudah langsung jatuh hati ke Zea?"
"Tingkahmu itu sudah mengatakan semuanya..."
__ADS_1
"Alhamdulillah langsung direstuin..." batin Arka.
Selesai meminta restu pada ibunya, Arka langsung mengajak sang ibu belanja untuk acara nanti malam.
........................
Sementara itu Zea sudah sampai di area ponpes.
Setelah berterima kasih pada sang sopir, Zea segera berjalan ke arah ndalem. Kali ini Zea memutuskan untuk beristirahat di kamar masa kecilnya. Untuk menghindari pertanyaan dari para temannya dan kebisingan yang ditimbulkan oleh santri lain saat jam istirahat sekolah.
Tentunya Zea menggunakan kamar itu setelah mendapat izin dari umi dan abinya, walaupun abi dan uminya sudah membebaskan Zea untuk menggunakan kamar itu.
Sesampainya di kamar, Zea segera mandi dan berganti baju, kemudian Zea merebahkan dirinya di atas kasur dan tertidur.
........................
Entah jam berapa ini, Zea baru bangun kala mendengar suara tangisan anak kecil.
Zea segera bangkit menuju kamar mandi, untuk cuci muka dan gosok gigi.
Selesai membersihkan dirinya, Zea langsung menuju ruang keluarga, dia penasaran dengan suara tangisan anak kecil yang mirip dengan suara Aira.
Zea langsung syok begitu melihat keadaan ruang keluarga milik abinya ini. Ada begitu banyak parsel dan hantaran khas orang yang akan lamaran.
"Siapa yang akan dilamar?" batin Zea.
"Syafazea...." suara umi Hindun yang berhasil membuat Zea tersadar dari syoknya.
"Ia umi, maaf...."
"Sini duduk dekat umi...."
Zea berjalan kearah uminya, dan duduk di samping uminya.
"Baiklah karena yang ditunggu sudah hadir, mari kita mulai acara ini...." ucap kyai Hasbulloh.
"Silahkan na Arka...."
Arka yang dipersilahkan segera menyampaikan apa yang menjadi tujuannya.
"Jadi maksud kedatangan saya sekeluarga kesini ingin meminta ijin kepada pak yai dan bu nyai, untuk meminang salah satu santri panjenengan, yaitu Calolina Fiona Syafazea......"
"Hentikan acara ini...." ucap seorang perempuan yang baru masuk mengalihkan perhatian semua orang yang ada.
"Pak Arka anda harus tau, wanita seperti apa yang akan anda jadikan teman hidup ini..."
Wanita itu berucap dengan menggebu-gebu, matanya merah menahan amarah. Dari sorot matanya mengeluarkan binar kebencian.
"Mba Ana...." guman Zea.
Semua orang terdiam, mereka ingin mendengar apa yang akan dikatakan oleh wanita itu lagi.
"Wanita yang akan anda jadikan teman hidup ini, adalah anak haram, ibunya bekerja sebagai pela** di luar negri, hingga menghasilkan wanita ini....."
Dada wanita itu naik turun seiring nafasnya yang memburu.
"Dan lagi, bahkan dia bisa ada disini karena tidak ada yang menginginkannya hadir di dunia ini, dia dibuang oleh keluarganya sendiri....."
Wanita itu berkata dengan menunjuk-nunjuk Zea.
Pipi Zea sudah banjir air mata, bahkan kini dadanya terasa sesak.
"Lalu apa anda akan memungut sampah seperti dia?"
Zea sudah tidak kuat lagi, ia pun bangkit lalu pergi begitu saja meninggalkan ruangan ini, sembari membekap mulutnya sendiri.
Inilah masa lalu yang ditakutkan Zea.
__ADS_1
Masa lalu asal usulnya, yang sudah ia kubur dan lupakan, kini malah terkuak.
Bersambung.....