
"Wah ini istri dan anak mas Arka?"
"Ia bu, kenalin ini Zea, istri Arka, dan ini Aira anak kami...." jelas Arka.
Zea tersenyum ke arah ibu itu.
"Massyaalloh, pinternya mas Arka memilih istri..." puji ibu itu.
"Namanya juga udah jodohnya bu...." jawab Arka.
"Hehe ia sih, mba Zea umur berapa, keliatannya masih muda banget?" kepo ibu itu.
"Sembilan belas bu...." jawab Zea.
"Apa, sembilan belas, terus itu Aira udah berapa taun, jangan-jangan kalian pindah kesini karena takut ketauan kalo Aira anak di luar nikah?"
Sungguh Zea ingin berlari menjauh dari ibu itu sekarang juga. Zea tak habis pikir dengan ucapan ibu itu yang begitu ceplas-ceplos dan tidak memikirkan perasaan lawan bicaranya.
Yap mereka sedang jalan-jalan sore, di sekitartaran 'kompleknya'.
"Aira itu anak saya dengan istri pertama saya bu..." jelas Arka.
"Lalu mba Zea ini istri keberapa?" keponya lagi.
"Istri kedua bu, maaf ya bu kami permisi dulu, mari...."
Arka sengaja berpamita pada ibu itu, karena ia tidak mau sampai istrinya sakit hati mendengar ucapan ceplas-ceplos ibu itu.
Kemudian Arka bergegas mengajak Zea pergi dari hadapan ibu itu.
"Kamu ngga papakan Ze?" tanya Arka, takut Zea tersinggung dengan pertanyaan ibu tadi.
"Ngga papa ko mas, cuma sedikit jengkel saja tadi...." ucapnya.
"Oh ya, ngomong-ngomong, ko para tetangga udah kenal sama mas sih?"
Inilah yang mengganjal pikiran Zea sejak tadi pagi saat ada tetangga yang menyapa suaminya.
"Kan sawah sama perkebunan mas di sini, dibelakang rumah kita...."
"Oh ya?"
"Ia, ngapain mas bohong, udah yu lanjutin...."
"Ayo....."
Mereka pun melanjutkan jalan-jalan sorenya, itu.
...................
"Mau itu...." tunjuk Aira pada penjual pentol keliling yang sedang di kerubungi anak-anak.
"Boleh, sebentar ya papah beliin...." ucap Arka.
"Ia..."
"Sayang mau yang pedes?" tanya Arka pada Zea.
"Ia mas, sambalnya tiga sendok ya...."
"Siap sayang...."
Arka pun beranjak pergi menuju tukang pentol itu.
Lima menit kemudian, Arka sudah kembali ke tempat Zea dan Aira berada, dengan menenteng kresek berisi pentol di tangan kanannya.
"Kita pulang ya..."
"Ia mas...."
Mereka bertiga pun melanjutkan langkahnya menuju rumah.
__ADS_1
................. ...........
"Heheh..... hehehe....." gelak tawa Aira memenuhi kamar mereka, saat Zea dan Arka dengan gemas menggelitiki perutnya.
"Geli mah,pah..." ucap Aira.
"Geli ya sayang?" ulang Zea sembari menenggelamkan wajahnya pada perut Aira.
"Ia...."
Dert dert dert
Getar ponsel milik Arka, memaksa sang pemiliknya untuk memeriksanya.
Dengan enggan, Arka berjalan keluar dari kamar mereka, agar Aira tidak melihat saat dirinya bermain ponsel.
Setelah dirasa Aura tak bisa melihatnya, Arka segera memeriksa ponselnya, ternyata orang kepercayaannya lah yang menghubunginya.
"Halo....."
"........"
"Apa"
"......... "
"Ya sudah saya kesana sekarang....."
Setelah itu Arka mematikan sambungan telponnya.
Gegas Arka berjalan menuju kamarnya kembali.
"Sayang mas pergi dulu ya ke desa Randu...."
"Emang mau ngapain mas, ini kan sudah malam..."
"Ada perkebunan mas yang terbakar, sudah ya mas berangkat Assalamu'alaikum....." berjalan tergesa-gesa.
"Wa'alaikumussalam, hati-hati mas...."
"Sayang sebentar ya, mamah mau ngunci pintu dulu...." pamitnya pada Aira.
"Ia mah...."
Zea bergegas menuju pintu utama rumah mereka.
"Semoga semuanya baik-baik saja...." harap Zea sembari mengunci pintunya.
Setelah itu Zea kembali lagi ke kamarnya.
.........................
Arka melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.
Pikirannya berkecamuk, memikirkan perkebunan cabainya.
10 Menit kemudian, sampailah Arka di tempat yang di tuju.
Terlihat begitu banyak orang yang berlalu lalang membawa air dalam ember. Berharap agar jago merah yang melahap perkebunan mereka segera padam.
Arka berjana dengan perasaan yang entahlah, menuju perkebunannya.
Kakinya tiba-tiba merasa begitu lemas, seolah persendian di lututnya terlepas begitu saja, kala melihat seluruh tanaman cabainya sudah hangus terbakar.
"Mas Arka....." panggil pak Latif, orang kepercayaan Arka.
"Kenapa bisa begini pak?" tanya Arka lirih.
"Pemilik perkebunan jangung membakar lahannya, tanpa di duga apinya malah membesar seiring bertiupnya angin......"
Biasanya kalo lahan yang akan di ganti tanamannya, lahan itu akan dibakar terlebih dahulu, suapaya tanahnya kembali subur.
__ADS_1
Namun naas menimpa pemilik perkebunan jagung yang lahannya berada tepat di samping kanan lahan perkebunan cabai milik Arka.
Saat dia membakar sisa-sisa tumbuhan jangung di lahannya, angin bertiup kencang, sehingga api yang membakar lahannya berkobar dan terus merembet ke lahan yang lainnya. Di tambah ini musim kemarau, banyak tanaman yang mulai kering kekurangan air, sehingga mudah terbakar.
"Astaghfirullah hal azim...." lirih Arka, menahan emosi.
"Lalu gimana dengan pemilik lahan jagung itu, apa ia mau bertanggung jawab?"
"Ia, dia tadi mengaku akan bertanggung jawab untuk tanaman yang hangus terbakar, namun hanya modal awalnya saja....."
"Apa, kenapa bisa gitu, seharusnya dia bertanggung jawab semua kerugiannya dong" sungut Arka, jengkel.
Bagaimana tidak jengkel, tanaman cabainya sudah hampir panen, tinggal nunggu dua minggu lagi, namun malah hangus terbakar.
Padahal di perkirakan saat cabai Arka panen harga cabai di pasaran sedang melonjak naik, karena petani sudah jarang yang memilikinya, sebab mereka kemaren menanami lahannya dengan jagung dan kacang tanah.
"Mungkin beliau sedang tidak ada uang, lagian juga yang lahannya terbakar bukan punya mas Arka saja, tapi banyak....."
"Hufttt...." menghela nafas.
"Ya sudah saya mau pulang, tolong bapak urus ya...."
"Ia mas...."
Arka berjalan gontai menuju tempat mobilnya terparkir.
Jeglek. Suara pintu mobil terbuka.
"Huftt...." berkali-kali Arka menghela napasnya, menetralisir amarahnya.
Kemudian Arka berkendara mengelilingi kecamatannya, melampiaskan amarahnya. Dia tak mau kalo sampai di rumah masih membawa amarah, Arka takut kalo sampai tidak bisa menahannya dan malah melampaiskannya pada Zea.
Dua jam sudah Arka berkeliling, amarhanya pun sudah reda.
"Alhamdulillah....." syukur Arka.
"Waktunya pulang....."
......................... .........
Zea begitu gelisah saat menunggu suaminya pulang, dia takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap suaminya.
"Astaghfirullah hal azim, ya Alloh hilangkanlah pikiran buruk ini dari pikiran hamba...." lirihnya.
Terdengan suara deruan mesin mobil yang Zea hafal mendekat, membuat Zea segera membuka pintu utama rumahnya.
Benar saja, itu suara mobil suaminya.
"Assalamu'alaikum....." ucap Arka.
"Wa'alaikumussalam, mas...." menyalami tangan suaminya.
"Kamu belum tidur sayang?"
"Gimana aku mau tidur, jika suamiku saja pergi dari rumah dengan tergesa-gesa...." jelas Zea.
"Maafkan mas sayang....."
"Ia, ya sudah ayo masuk...."
Arka pun masuk.
Arka langsung duduk bersandar di sofa ruang tamu.
"Mau ku buatkan teh mas?"
"Boleh, yang manis ya...."
"Siap mas...."
Zea segera berlalu ke dapurnya.
__ADS_1
Zea sengaja belum menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. Dia ingin menunggu waktu yang tepat untuk menanyakan hal itu.