Mamah Untuk Aira

Mamah Untuk Aira
Bab 26.


__ADS_3

"Ibu Calania Fiona Syafazea...." panggil sang suster.


"Ayo sayang...." mengajak istrinya untuk bangkit.


Zea menarik nafas panjang lewat hidung, lalu menghembuskannya lewat mulut dengan perlahan.


"Ayo mas...." ajak Zea setelah dirinya bisa mengendalikan rasa gugupnya.


"Ia sayang...."


Keduanya pun berjalan masuk ke ruang dokter.


"Selamat pagi......" sapa dokter wanita yang akan memeriksa Zea.


"Pagi dok...." jawab keduanya.


"Arka?" tanyanya menunjuk Arka.


"Lulu?"


"Ia, apa kabar kamu Ka...."


Dokter wanita yang rambutnya di cat pirang itu, berdiri lalu menghampiri Arka, dan langsung memeluknya.


Arka kaget dengan pelukan yang tiba-tiba itu.


Untungnya Arka tak merespon pelukan dokter wanita itu, kalo merespon bisa gawat. Nanti malam bakal di suruh tidur di ruang keluarga.


"Ehem...." dehem Zea.


Sepertinya deheman Zea tak berarti untuk kedua orang yang tengah bertemu kangen itu.


Arka yang mendengar deheman istrinya sebenarnya langsung paham, namun mau bagaimana lagi, dokter yang wanita yang mengaku bernama Lulu itu terus mengjaknya bicara.


Yang Zea tangkap dari cerita dokter Lulu adalah, dokter Lulu sahabat baik Shiren. Jadi otomatis mereka bertiga, Arka, Shiren dan dokter Lulu, dulunya berteman baik. Bahkan dokter Lulu juga nenceritakan kondisi sahabat baiknya itu, yang sedang tidak baik-baik saja.


Untungnya Arka hanya nyahut seperlunya saja.


Zea sudah tidak bisa lagi membiarkan dokter 'genit' itu bicara lebih lama lagi dengan suaminya.


"Maaf dokter, apakah anda akan meneriksa saya atau mau bertemu kangen dengan suami saya?" ucap Zea, dengan penuh penekanan dalam setiap kalimatnya.


"Oh, maaf maaf, saya pikir anda saudara Arka, bukan istrinya...." ucapnya ke arah Zea.


Zea hanya memutar bola matanya malas.


"Suster, tolong sipain alatnya ya...."


"Siap dok...."


"Silakan duduk, maaf saya sampai lupa menyilhkan duduk...."


"Hemm" respon Zea.


Kuduanya pun duduk di hadapan sang dokter.


"Kapan kamu nikah Ka, ko aku ngga di undang?" tanya dokter Lulu lagi, pada Arka.


"Memangnya siapa nda, ko saya harus ngundang anda?" seloroh Zea.


"Saya kan teman baiknya Arka..."


"Oh ya, kalo teman baik harusnya pas akad juga di undang dong...."


"Nyatanya engga kan, jadi jangan jadi perempuan murahan, karena yang murah sudah banyak di pinggir jalan...."


Dokter Lulu tercengan, mendengar ucpan Zea yang lembut namun menusuk hatinya.


Arka juga tak berani menegur Zea bila kata-kata lembut namun pedasnya telah keluar. Karena dia juga akan terkena omongan pedas Zea jika berani menegur.

__ADS_1


Jangan salahkan Zea ketika bersikap begitu, dia hanya sedang mempertahankan miliknya dari orang-orang yang akan 'mencuri' miliknya itu.


"Ehem" dokter Lulu berdehem untuk menghilangkan kecangungan yang telah diciptakan oleh Zea.


"Suster sudah?" tanynnya pada sang suster.


"Ia dok sudah..." jawab sang suster.


"Mari mba ikut saya...." ucap sang suster pada Zea.


Dengan berat hati Zea meninggalkan suami dan dokter 'genit' itu.


Ternyata sang suster mengajaknya ke kamar mandi. Setelahnya sang suster memberi intrupsi pada Zea untuk membuka celana da lam nya.


Ceklek. Zea membuka pintu kamar mandi.


"Berbaring ya..." titah dokter Lulu.


Tanpa kata, dan sorot mata ketidak sukaannya pada dokter 'genit' itu, Zea menurut. Dia segera membaringkan tubuhnya di atas ranjang pasien.


Dokter Lulu memakai sarung tangannya, denngan mulutnya yang tak berhenti berucap, terus menceritakan masa lalu mereka, saat menjadi teman yang katanya dekat itu.


Lama-lama kuping Zea panas juga.


Saat ini Zea sudah tak tahan lagi. Dia kembali bangkit, turun dari ranjang pasien. Menatap tajam sang suami.


Lalu ia segera melangkah pergi dari ruangan itu.


"Loh mau kemana mba, kan belum jadi di periksa..." tanya sang suster.


Zea diam saja, namun terus melangkahkan kakinya.


"Sayang tunggu..." panggil Arka, namun tangannya di cekal dokter Lulu, hingga Arka tak bisa mengejar istrinya.


Tak salah bukan, jika Zea memanggil dokter Lulu dengan sebutan dokter 'genit'?.


"Aku minta nomermu dulu...."


"Oh ya, terima kasih, sekarang boleh pergi...." melepaskan cekalannya.


"Terus itu gimana dok?" bingung sang suster.


"Ya ngga gimana-gimana, coret saja..."


Itulah kata-kata yang di dengar Arka sebelum berlalu pergi.


.................................


Arka mencari Zea di mobilnya, tapiZea tidak ada di mobil.


Arka mengedarkan pandangannya di sekitaran tempat parkir, siapa tau Zea berada di sana. Namun nihil, Zea tidak berada di sekitaran tempat parkir.


Arka tak putus asa, keluar dari tempat parkir, berjalan menyusuri sekitaran rumah sakit.


Sepuluh menit telah berlalu, namun Arka belum menemukan istrinya.


"Aishh, kenapa ngga kepikiran nelpon aja..." gumannya dengan keringat yang membanjiri wajah tampannya.


..............................


Sementara itu......


Setelah keluar dari ruangan pemeriksaan, Zea terus melangkahkan kakinya tanpa tujuan.


Hingga keluar dari area rumah sakit.


Zea menatap warung-warung yang berjajar di depan gerbang rumah sakit.


Air liurn di dalam mulutnya bertambah banyak, kala membayangkan betapa nikmat dan lezatnya makanan itu.

__ADS_1


Tapa berpikir lagi, Zea pun memasuki salah satu warung dengan menu terkomplit.


Suasana dalam warung cukup ramai namun tidak samapi sesak. Zea memilih duduk di pojokan warung.


"Selamat datang mba, mau order apa?" tanya sang pelayan.


"Mie ayam, bakso urat, sama seblak, terus minumnya teh hangat tiga...." ucap Zea tanpa ragu.


"Oh mba sama pesan untuk temannya ya?" tebak sang pelayan.


Mana mungkin Zea bisa menghabiskan semua makanan itu, pikir sang pelayan.


"Engga ko mas, buat saya sendiri...."


"Heh..." kagetnya.


"Udah jangan kaget gitu...."


"Ia mba maaf, ya sudah tunggu sebentar ya mba...."


"Siap mas...."


Sembari menungu pesanannya jadi, Zea menonton kartun dua botak kembar dari negara jiran, di ponselnya.


"Mas Arka...." gumannya saat ada panggilan masuk dari sang suami.


Tut, Zea menerima panggilan masuk itu.


"Halo sayang kamu dimana...." tanya Arka to the point.


"Ia halo, maaf ini dengan siapa ya?" jawab Zea dengan memencet hidungnya sendiri, agar suaranya berubah.


Arka yang mendengar suara orang yang mengangkat telponnya bukan Zea, segera memeriksa ponselnya, memastikan bahwa yang di telponnya adalah sang istri.


"Tapi bener ko, ini nomer kontak Zea...." gumannya.


"Halo, maaf ini dengan siapa ya?" tanya Zea usil.


"Maaf anda siapa ya, ko ponsel istri saya ada pada anda?" bingung Arka.


"Saya pemilik asli dari ponsel ini...."


Arka semakin bingung.


"Permisi mba, ini pesanannya...." ucap pelayan, yang membawakan pesanan Zea.


"Ia mas terima kasih...." jawab Zea.


Arka yang mendengar suara istrinya, menjadi tersadar, bahwa ia dari tadi sedang di kerjai istrinya sendiri.


"Sayang kamu ngerjain mas ya?"


"Bodo..." cuek Zea.


"Kamu ada dimana sekarang, biar mas susul..."


"Buat apa nyusulin aku, buaknnya lebih asik ngobrol sama dokter genit itu" sungut Zea.


"Sayang plislah, mas cuma kenal sama dia, tapi ngga deket"


"Bodo amat" mematikan ponselnya.


Zea hanya sedang kesal ke suaminya, jadi untuk saat ini biarkan dia sendiri dulu. Menikmati waktu dan makanannya.


.....................


Arka mengacak rambutnya frustasi. Frustasi dengan tingkah sang istri.


"Huftt, ayo Ka berpikir jernih...."

__ADS_1


"Tadi ada yang mengantarkan makanan, berarti Zea sedang berada di salah satu warung itu..."


"Ok, mari kita cari...." menyemangati diri sendiri.


__ADS_2