
Bahagia itu sederhana
Pura-pura aja dulu bahagia
Siapa tau jadi beneran bahagia
Jangan lupa sarapan bos karena pura-pura bahagia itu butuh banyak energi
~ Dodit ~
"Bismillahirrahmanirrahim, Samudra Nata Dekoko, saya nikahkan engkau dengan putri kandung saya, Rosa Roslaina Handiyani binti Afgan Syah Reza dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan seperangkat perhiasan seberat seratus lima gram, di bayar tunai." Afgan Syah Reza, ayah kandung Rosa melafalkan ucapan itu dengan bergetar tatkala mengingat bahwa mulai kini ia harus melepaskan putri tercintanya yang kini akan resmi menjadi istri dari pria yang sedang ia jabat tangannya.
Samudra menggenggam erat tangan Afgan dan menjawab dengan cepat.
"Saya terima nikah dan kawinnya Rosa Roslaina Handiyani binti Afgan Syah Reza dengan mas kawin tersebut, di bayar tunai, "ucap Samudra dengan suara lantang.
"Bagaimana sah?" tanya Pak penghulu sambil memandang ke arah para saksi.
"Sah... Sah..." Beberapa orang menjawab bersamaan dengan suara lantang.
"Alhamdulillah... mari kita sekarang berdoa bersama-sama." Kemudian Pak penghulu membacakan doa yang diaminkan oleh seluruh orang yang hadir.
Semua sanak keluarga serta tamu undangan yang hadir turut merasakan rasa haru dan bahagia setelah prosesi ijab qobul selesai.
Namun hal itu tidak dirasakan oleh Raditya Hadiningrat atau dalam keseharian ia biasa di kenal dengan panggilan Dodit. Sosok yang terkenal humoris dan kerap melontarkan gombalan receh itu berusaha keras untuk pura-pura bahagia agar tidak di cap sebagai sosok yang gagal move on.
Bagi Dodit rasa cinta paling tinggi adalah ikhlas melepaskan. Demi orang yang dicintainya tetap bahagia bersama pasangan yang ia cintai. Ingin rasanya Dodit setulus hati meresapi kalimat ini agar tidak menimbulkan cercaan lagu lama kaset kusut yang kerap di lontarkan para sahabatnya mantan jomblo.
__ADS_1
"Wah gila keren loe, bro!" Jodi menepuk pelan bahu kekar Dodit yang sedang duduk di depan nya.
"Dit, selamat ya." Rafli mengepal tangan sahabatnya berlagak memberikan ucapan selamat karena ia tahu Dodit tak pernah ingin tampak menyedihkan terutama di hari bahagia mantan sosok masa depannya, Rosa yang kini bersanding dengan sahabatnya, Samudra.
"Gue gak nyangka loe keren banget akting bahagia," ucapan boncabe alias Andri yang menimbulkan decak kesal dari Rafli dan Jodi yang menilai Andri sahabat akhlaqless. Jodi pun melayangkan toyoran di sebelah kiri Andri, sementara Rafli melakukan nya disebelah kanan.
"Sueee... kenapa loe pada kompak amat toyor kepala gue? udah di fitrahin nih tiap tahun," protes Andri tak terima perlakuan Jodi dan Rafli.
"Hehehe... biar seimbang itu otak kanan sama otak kiri loe," gelak tawa Jodi terdengar setelah melihat kemarahan Andri.
"Elaaahhh itu yang otaknya oleng gak seimbang itu orang yang lagi ditinggal kawin, eh nikah," cerca Andri yang ditujukan kepada Dodit.
"Yuhuuuu, gue udah terlatih patah hati kok." Dodit memamerkan senyuman palsunya.
Mungkin bila orang lain melihat senyuman Dodit akan menyangka kalau ekspresi itu menunjukkan bahwa pemiliknya sedang bahagia. Namun, bagi para mantan jomblo yang telah tujuh tahun mengenal dirinya jelas paham betul kalau Dodit menutupi perasaannya.
"Bro, loe orang baik pasti jodoh loe juga orang baik. Ini cuma masalah waktu aja." Jodi mencoba menenangkan Dodit agar tidak mengambil pusing ucapan Andri.
"Banyakin doa dan usaha, Dit. Eh, loe mau gak gue kenalin sama saudaranya Hilda, dia..." Rafli menawarkan solusi.
"Percuma Raf, otak bucin penuh nama Rosa kek Dodit mah bakalan lama move on nya," ceplos Andri.
"Dri, kenapa gue ngerasa loe kek ketuker sama Samudra," ucap Jodi.
"Ketuker gimana?" Andri tak memahami maksud ucapan Jodi. Sementara Dodit langsung paham arah tujuan pembicaraan Jodi.
"Hahaha... jangan heran kalo Siska nyebut dia 'boncabe level sepuluh' karena mirip emaknya Sam, ups..." Dodit setengah berbisik agar tidak terdengar suara nya oleh para tamu undangan.
__ADS_1
"Ck, eh iya kemana tuh calon bini gue?" Andri baru teringat akan keberadaan Siska.
Ketiga sahabat yang tergabung dalam Genk mantan jomblo ini memang telah sepakat sebelumnya akan mendampingi Dodit yang sedang patah hati berderai-derai. Mereka sudah memberi tahu pasangan masing-masing yang untunglah di pahami mengingat persahabatan mereka semuanya yang sudah menghitung tahunan sehingga tidak ada gangguan saat sedang menghibur Dodit seperti saat ini dengan berbicara hal apa saja untuk mengalihkan kesedihan Dodit.
"Loe yakin kalaupun Siska udah datang bakalan mau langsung ketemu sama elo?" tanya Dodit.
"Huft," suara Andri terdengar resah.
"Kenapa loe gak pake uang pelangkah sih biar Siska bisa cepet loe halal in?" Rafli penasaran akan kemunduran hubungan Siska dan Andri.
"Doi gak mau," ucap Andri melemah.
"Bisa gitu ya orang udah yakin bener mau nikah eh mentok gak bisa langkahin kakaknya," dengus Dodit sengaja ingin membalas sindiran Andri sebelumnya.
Andri menyesal sudah mengusik sosok absurd Dodit yang pasti tidak akan berhenti menyindir dirinya karena terlebih dahulu mengusik kegalauannya.
"Mas Dodit anterin aye pulang dong," rengek Vania.
"Minta anterin aja sama sepupu loe tercinta." Dodit mengarahkan dagunya ke arah Andri.
"Aye gak enak nanti di cemberutin Mpok ipar." Vania memaksa Dodit.
"Gue masih lama disini. Lagian gue belum ngucapin selamat buat mereka." Dodit menahan rasa sesak kala menyebut kata 'mereka' untuk Rosa dan Samudra.
"Yasalam, ngapain sih lama-lama dimari? Emang gak nyesek melototin kebahagiaan mantan?" skak Vania tanpa perasaan.
FLASH BACK ON
__ADS_1
"