Mantan Jomblo

Mantan Jomblo
TanMantan


__ADS_3

Orang bilang hasil tak akan mengkhianati usaha


Tapi kenapa semakin ku berusaha melupakannya


Hasilnya rasa ini masih utuh untuk dirinya yang bahkan tak menganggap cinta ini


~ Dodit ~


Keesokan harinya Dodit menjajakan dagangannya lebih awal karena pagi hari ini ia tidak disibukkan dengan aktivitas nya seperti kemarin membuat roti baru dengan aneka varian rasa penuh kegalauan, melainkan ingin menghabiskan sisa roti kemarin yang masih bagus untuk dijual.


Ia kini mulai memilih strategi untuk berjualan di area sekolah atau kampus. Biasanya kan mereka banyak pujangga galau yang pasti akan tertarik membeli sesuatu karena keunikannya, apalagi ini menyangkut perasaan yang susah move on. Pikir Dodit absurd namun menurutnya ada unsur benarnya.


Sekolah terdekat berada 7 km dari tempat kosan Dodit. Setelah menghabiskan waktu satu jam sebelum masuk waktu belajar di sekolah itu. Dodit menepi pada bahu jalan di samping sekolah. Ia mengeluarkan rasa gengsinya agar tidak menggangu kepercayaan dirinya. Huft, sarjana jualan roti? Siapa takut? Dodit menarik nafas lalu menghembuskan nafasnya perlahan sambil mengucapkan kalimat itu bak mantra jampe-jampe pelaris dagangannya.


Dodit menepikan motornya ke lokasi yang ia tuju, laju motor ia arahkan untuk mengisi penuh tangki bensin terlihat dahulu karena setelah ini ia akan mencari lokasi lain untuk menjajakan dagangannya.


BRAAAKKKK


Seorang perempuan paruh baya berteriak heboh kesakitan sambil meminta tolong karena terjatuh dari motor yang dikendarai oleh perempuan yang lebih muda darinya.


Dua perempuan beda generasi itu terlihat berusaha bangun setelah motor yang mereka tumpangi terjatuh dalam posisi miring ke kiri.


Dodit pun bergerak cepat untuk menolongnya. Ia mengambil alih memegangi stang motor agar kedua perempuan itu bisa bangun perlahan. Syukurlah keduanya dalam kondisi baik-baik saja.


Dosit mengernyitkan dahinya dengan tatapan tak terbaca setelah menyadari kalau sosok yang ia tolong adalah penyebab dirinya galau hingga memutuskan membuat roti kangen mantan. Hak tak kalah menyebalkan ialah sosok dibelakangnya yang merupakan mertuanya. Ah iya, ini kan kawasan PMI (Pondok Mertua Indah) Rosa.


"Duh, ternyata ada kamu! Pantesan saya sial sampai jatuh begini!" Umpat Jamilah ketika menyadari bahwa sang penolong nya adalah Dodit.


"Astaghfirullah aladzim... Bu, jangan bikin saya nyesel nolong orang dong." Dodit mengelus dadanya. Hari gini masih galak aja nih nyai. Gumam Dodit dalam hati.

__ADS_1


"Maaf ya Ma, Rosa tadi keseleo sedikit tangan sebelah kiri jadi gak bisa seimbang pegang stang motor nya." Rosa tampak salah tingkah sambil mendekati mertuanya seraya membantunya berdiri.


"Sa, kamu belain mantan pacar kamu?" Protes Jamilah dengan lirikan mata tajamnya.


"Enggak, Ma." Elak Rosa tak ingin mertuanya berprasangka buruk lantaran tak sengaja bertemu Dodit.


Menyadari akan kemungkinan gosip dan ucapan tidak mengenakan lebih lanjut, Dodit memutuskan untuk pergi setelah memastikan kondisi keduanya baik-baik saja.


"Ya udah saya tinggal ya biar gak bikin fitnes." Dodit melenggang hendak meninggalkan kedua perempuan itu berdua saja.


Rosa hanya bisa memandangi punggung Dodit yang berlalu meninggalkannya.


"Bang, mau dong roti kangen mantan nya satu." Seorang ibu muda yang menggendong anaknya hendak membeli roti.


"Oh iya, Bu." Dodit langsung menghampiri pelanggan nya.


"Iya Bu, ini saya kemarin cobain roti kangen mantan nya enak lho." Jawab si ibu pembeli.


"Gila kamu ya Dodit! Pake nama kangen mantan segala! Kamu mau jadi pebinor buat rumah tangga anak saya?!" Bentak Jamilah tak terima dengan nama produk roti buatan Dodit.


"Bu, kenapa sewot gitu sih?! Terserah mas nya ini dong mau bikin nama apa aja merek roti nya yang penting gak nyusahin ibu!" Dodit kembali di bela oleh sang ibu pembeli yang tak ingin Dodit berhenti jualan karena rasa roti kangen mantan terasa enak.


"Ibu ini siapa nya Dodit? Kalo gak tahu gimana kelakuan ini anak mepet mantu saya mendingan diam aja gak usah ikutan komentar!" Jamilah semakin sengit mendapatkan perlawanan setimpal.


Dodit terbawa emosi mendengar ucapan Jamilah yang mengklaim dirinya mepet menantu Jamilah karena Dodit hanya mendekati Rosa sebelum menikah dengan Samudra.


"Sa, bawa nih mertua loe balik!" Dodit menyuruh Rosa mengajak Jamilah pulang.


"Cih, di depan saya aja kamu bentak mantu saya..." Cerocos Jamilah.

__ADS_1


"Ma, saya sama sekali belum pernah ketemu Dodit lagi setelah nikah sama Bang Samudra. Please, Ma kita pulang aja ya." Rosa menangkupkan kedua tangannya memohon Jamilah agar tidak bersikeras untuk tetap berada disini.


"Nurut banget sih kamu sama dia?! Inget, Sa, kamu menang banyak jadi nikah sama anak saya. Untung kan kamu gak dapat dia yang cuma tukang roti!" Jamilah memarahi Rosa.


"Mama mau aku telepon Bang Sam biar percaya kalo aku enggak pernah ketemu Dodit sebelumnya?" Tantang Rosa yang mulai kehabisan akal untuk mengajak pulang mertuanya.


Jamilah terkesiap mendengar ucapan Rosa lalu ia menyadari kalau memang tidak ada hubungan khusus antara menantu dan mantannya itu.


Dodit mengalihkan pandangannya dari Rosa sambil melayani pembeli roti kangen mantan. Walaupun dalam hati ia masih tidak baik-baik saja menatap Rosa dalam jarak dekat seperti tadi.


"Kenapa dilepasin mas itu mantannya?" Tanya si ibu pembeli yang masih kepo.


"Biarin aja Bu asal dia bahagia sama pilihan nya." Dodit berusaha menunjukkan senyum getirnya.


"Mas gak kasian gitu mantannya dapat mertua galak kayak gitu?" Selidik si ibu.


"Huft, salahin aja Bu othor nya yang kejam sama saya..." Dodit menghembuskan nafasnya kasar.


*****


Author: Heh, kok menyalahkan gue? Gue stop nih lapak loe sampe sini aja!


Dodit: Thor, gue baru ngeh itu cover ngapa gambar nya cewek? tokoh utama nya kan gue, cowok tulen


Author: Anggap aja itu Rosa


Dodit: Dih


NT kenapa ya kemarin seharian up gak lolos review?

__ADS_1


__ADS_2