
Kediaman keluarga Eyang Soeroso pagi ini terlihat ramai oleh hampir seluruh keluarga besar yang hadir. di rumah utama. Soeroso yang memiliki satu anak lelaki dan satu anak perempuan di tambah keluarga kecil Hanafi, bapak dari Dodit yang merupakan anak sambung nya.
Suasana temaram masih menyelimuti. Maklum saja karena waktu masih menunjukkan jam lima pagi. Anggota keluarga itu belum lama menunaikan shalat subuh di masjid keluarga yang berada di area rumah utama.
Beberapa anak muda yang merupakan cucu dari Eyang Soeroso bercengkrama di teras rumah. Pandangan mereka semua teralihkan oleh kehadiran sebuah mobil berplat Jakarta.
Sepasang suami istri berwajah cerah tampak keluar dari sebuah mobil hasil modifikasi yang bertuliskan mantan jomblo. Ya, mobil itu dikemudikan oleh Dodit. Setelah berhasil memarkirkan mobilnya, Ia keluar dari mobil dan berjalan perlahan ke arah pintu disebelahnya untuk membukakan pintu mobil. Tak lama kemudian keluarlah seorang perempuan cantik yang berjalan beriringan dengan Dodit.
"Mas Dodiiittt..." Pekik Yola kegirangan menyambut kepulangan Dodit bak kedatangan seorang artis tersohor.
"Ekhem," Dodit berdehem, "Kamu sehat, dek?" Tanya Dodit.
"Aku ndak sehat karena terus mikirin kamu, mas. Aku takut kamu gak bakalan pernah pulang kesini lagi." Yola bersungut-sungut.
"Wah, mas Dodit piye kabare? Eh, kamu sama siapa ini?" Dimas sepupu Dodit menghampiri Dodit lalu tersadar ada sosok Dina dibelakang Dodit sejak tadi.
"Alhamdulillah kabar mas, baik. Oh iya ini perkenalkan istri mas, namanya Dina." Dodit bergerak mundur lalu merangkul pelan pinggang Dina seraya memperkenalkan sebagai istri kepada sepupunya.
"Mas, kamu lagi nge prank ya?" Yola yang tadi ingin bermanjalita dengan Dodit jelas tak terima begitu saja ucapan Dodit.
__ADS_1
"Kamu ngomong opo, dek? Aku ndak segila itu mau bikin heboh keluarga pake ajak istri bohongan." Sangkal Dodit.
"Lantas apa buktinya kalau kalian memang suami istri?" Dimas bertanya.
"Oh, kemarin kita berdua memang menikah sangat sederhana karena bapak dari istri mas ini sakit dan ingin segera kami menikah." Dodit menjelaskan dengan jujur.
"Bohong! Aku ndak pernah dengar kalau mas di Jakarta punya pacar!" Yola bersikeras dan menunjukkan rasa tak percaya nya.
"Mas kenal istri mas ini dari SMA. Dulu nya kami ini memang hanya sebatas teman tapi kok terakhir ini mas merasa kok istri mas ini tambah cantik jadi tak dekati dan Alhamdulillah dapat restu eh malah langsung di suruh nikah hari itu juga." Kalau bagian akhir dari kalimat ini jelas Dodit berdusta.
"Mana buku nikah kalian kalau memang benar sudah menikah? Anak ndak sopan memang tak perduli orang tua kasih restu langsung saja menikah." Seorang pria berusia senja berjalan menggunakan tongkat emasnya ke arah Dodit dan Dina. Sosok itu adalah Eyang Soeroso.
"Slamet, tolong periksa keaslian buku nikah itu segera." Perintah Eyang Soeroso kepada asisten pribadinya yang sejak tadi berdiri di sampingnya.
Suasana mendadak hening dan mencekam. Dodit sengaja menggenggam tangan Dina seraya memberikan senyuman manis.
Satu jam sebelumnya
#Flashback On#
Dodit menghentikan mobilnya di sebuah jalan masuk menuju ke rumah salah seorang sahabatnya. Ia lirik sebelahnya Dina masih terlelap.
__ADS_1
"Din, Din, bangun..." Dodit menepuk bahu Dina bermaksud ingin membangunkan nya dari tidur panjangnya.
Lima menit ia berupaya membangunkan namun Dina tak bergeming sehingga Dodit sengaja memencet hidung bangir Dina.
Merasa pasokan udara disekitarnya berkurang akhirnya Dina pun terbangun. Ia memincingkan matanya yang masih terasa lengket. Sedetik kemudian ia melihat ke arah samping yang menunjukkan sosok Dodit sejak tadi memperhatikan dirinya.
"Mm, kenapa lihat gue kek gitu?" Tanya Dina dengan suara serak khas orang baru bangun tidur.
"Mas, panggil gue Mas Dodit. Kita sekarang udah sampai di area arah rumah gue jadi sandiwara harus kita mulai. Ingat, gue gak mau loe..." Dodit mengingatkan kembali akan semua permintaannya kepada Dina mengenai drama yang harus mereka perankan di depan seluruh keluarga dan sahabat Dodit di kampung nya.
"Siap bos." Dina mengangkat tangannya dengan sikap hormat ke arah Dodit.
"Awas aja kalo sikap asli bar-bar loe sampai keluar di depan keluarga besar gue." Ancam Dodit.
"Mas Dodit, saya sudah muak dengar kata-kata yang sama berulang-ulang kek kaset rusak." Dina menggosokkan telinganya.
"Nih, pake. Cuci muka loe yang bersih biar keliatan segar dan gak kucel." Dodit menyodorkan paper bag yang ia pegang kepada Dina.
Sesuai dengan keinginan Dodit akhirnya Dina turun berdampingan bersama suaminya itu. Drama pun di mulai.
#Flashback End#
__ADS_1