
Ada enam model rumah tangga yang harus dihindari pasangan:
1. Model Sekolah (salah satu pihak terlalu sering menggurui)
2. Model Drakor alias drama Korea (banyak drama yang belum tentu happy ending)
3. Model Pasar (sama-sama keras kepala, gak ada yang mau ngalah)
4. Model Kuliah (yang penting kasih materi jarang ada kedekatan)
5. Model Kuburan (jarang ada komunikasi)
6. Model Rumah Sakit (salah satu pihak merasa paling berjasa)
Lalu apa kabarnya rumah tangga terpaksa gue yang segala model rumah tangga yang harus dihindari pasangan ini semua gue jalanin?
~ Dodit ~
Bapak rumah tangga terpaksa
Lala selaku guru BK yang menangani perkelahian antara Dodit dan Dina kini di buat pusing lantaran keduanya begitu ngotot merasa sebagai pihak yang benar.
"Saya emang bukan murid teladan di sekolah ini tapi ibu tahu kan selama ini saya enggak pernah bikin masalah dengan siapapun. Tapi si Kunti ini pengecualian, Bu..." Adu Dodit tanpa di minta bicara terlebih dahulu oleh Lala.
"Bu, pokoknya saya enggak terima masa cowok ngeladenin cewek berantem sih, kecuali kalo cowoknya..." Dina nyolot melotot.
"Heh, Kunti, harus berapa kali gue bilang kalo gue kagak belok seperti fitnes yang loe sebarin ke anak-anak." Dodit tak mau kalah. Harga dirinya sebagai pria sejati meronta-ronta ingin membuktikan bahwa dirinya tidak seperti pikiran kotor Dina.
"Cih, loe udah nodai kesucian mata indah gue." Sinis Dina.
"Stop! Kalian berdua sekarang hubungi orang tua kalian biar datang ke sekolah menemui saya hari ini juga saya tunggu." Ancam Lala agar keduanya mau diam.
"Jangan!" Dodit dan Dina kompak menolak permintaan Lala.
"Kenapa? Kalian takut kalo saya akan minta orang tua kalian untuk menikahkan anaknya? Kalian masih berstatus pelajar jadi saya tidak mungkin melakukan itu." Lala mulai kehabisan kesabarannya menghadapi ulah Dodit dan Dina.
"Orang tua saya di kampung, Bu. Saya disini sama Pakdhe yang kerja di pabrik jadi gak mungkin bisa datang." Dodit menjelaskan walaupun tak sepenuhnya benar karena orang yang ia akui Pakdhe nyatanya hanya seorang tetangga.
__ADS_1
"Oke, terus kamu Dina?" Pandangan Lala kini beralih ke Dina yang tertunduk.
"Ma Mama saya sakit, Bu." Jawab Dina sambil menyeka air matanya.
Dina pun tak sepenuhnya jujur karena mungkin lebih tepatnya Mama nya sakit hati. Iya, kemarin tanpa sengaja ketika ia hendak masuk ke dapur menemui Mama nya ada Tante Diah yang begitu memprovokasi Mama Dina untuk tidak terlalu memanjakan Dina yang hanya seorang anak sambung.
Mendengar kenyataan menyakitkan itu Dina menguatkan hatinya walaupun kakinya tiba-tiba melemas bak jelly hampir terjatuh. Dalam posisi menekuk lututnya di pojokan arah ke dapur, Dina kembali menyimak obrolan kedua sahabat itu yang juga menguak kalau sebenarnya Dina terlahir dari seorang perempuan yang di duga telah dijodohkan dengan babeh nya lalu saat melahirkan Jaka, adik nya Dina, sosok itu menghembuskan nafasnya karena menderita eklampsia.
"Kalian ga bisa bohong ya dari saya. Setelah bikin keributan di kantin tapi enggak mau ketahuan sama orang tua." Lala menghardik kesal dengan penolakan mereka.
Suara menggelegar Lala mampu menyadarkan Dina dari lamunannya. Dina kembali memasang wajah juteknya ke arah Dodit.
"Bu, tolong kasih kita hukuman apa aja deh tapi tolong jangan bikin Mama saya jadi banyak pikiran." Pinta Dina penuh harap.
"Hmm, kalian yakin bakalan mau saya kasih hukuman apa saja?" Lala meragukan kesungguhan Dina dan Dodit.
"Iya Bu, kita sanggup." Kali ini Dodit yang menjawab penuh semangat.
"Oke, saya kasih waktu setengah jam untuk kalian membersihkan toilet guru sampai bersih dan ingat jangan sampai licin." Lala memberikan hukuman.
"Haduh, Bu..." Dina ingin menolak.
"Ih, apa sih Bu. Saya udah cinta mati sama Rosa jadi gak mungkin saya mau sama si Kunti." Sangkal Dodit cepat.
"Hehehe... belum tentu jodoh kamu sama Rosa. Ingat, jangan sia-sia perasaan kamu cuma untuk jagain jodoh orang." Lala menepuk bahu Dodit.
"Ibu punya ilmu cenayang apa? Kok bisa tahu kalo cowok belok ini gak bakalan nikah sama cewek?" Tanya Dina
"Kamu itu cewek, Dina." Lala tersenyum simpul.
"Idih, amit-amit ampe ujan berkelir juga saya kagak bakalan mau nikah sama titisan demit belok kek dia, Bu. Ibu lihat aja punggungnya dia itu pasti berkelok..." Dina menggetok-getokkan tangannya ke meja BK tanda ingin buang sial menurutnya.
"Set an loe Kunti!" Dodit kembali menarik kepala Dina hendak ia masukkan ke dalam ketiak nya.
"Ya Allah... kalian senang ya bikin Ibu jadi orang teraniaya sama kelakuan kalian? Ingat, doa orang teraniaya itu terkabul. Ibu mau doakan semoga kalian nanti jodoh, menikah dan punya banyak anak. Aamiin ya rabbal alamin." Lala sungguh-sungguh berdoa tanpa mempedulikan tatapan menyedihkan dari Dodit dan Dina.
#FLASHBACK OFF#
__ADS_1
"Dit, loe enggak ada duit apa pegimana ini ngajak gue perjalanan jauh tapi kagak ngasih makan?" Dina mengelus perutnya.
"Kenapa, perut loe mulai kasidah an? Salah sendiri kenapa tadi di ajak makan sebelum berangkat kagak mau?" Dodit melirik sekilas ke arah Dina.
Dodit memang selalu menjaga jarak semenjak menikah dengan Dina. Rasa terpaksa membuatnya enggan berada dalam jarak dekat, termasuk dalam kondisi seperti ini. Tapi demi kemaslahatan nasibnya kelak ia harus menahan diri.
"Mampir yuk ke rest area!" Dina menunjukkan arah salah satu rest area yang tidak jauh dari tempatnya.
Dodit tak sampai hati membiarkan sosok ini kelaparan lantaran ia sudah terlanjur berjanji kepada Rojali akan menjaga putrinya.
"Ini duitnya." Dodit mengeluarkan dua lembar merah kepada Dina.
"Loe gak ikutan turun?" Dina tidak langsung menerima duit yang diberikan oleh Dodit.
"Kagak." Sahut Dodit singkat.
"Gue gak pernah makan sendirian..." Rengek Dina.
Ia edarkan pandangannya ke sekeliling rest area dimana sudah mulai temaram dan banyak orang hilir mudik. Terpaksa ia merengek manja demi keselamatannya karena takut juga ada preman atau orang jahat yang akan mengganggu makhluk indah seperti dirinya.
"Duh, ngeselin banget loe!" Dodit bersungut-sungut namun tak berdaya untuk menolak.
Mereka berjalan dengan posisi Dina di depan sementara Dodit menjaga jarak berjalan di belakangnya. Saat memasuki rumah makan Padang pun Dodit tak mau ikut masuk dan duduk berdua bersama Dina.
"Dit, please... jangan bikin gue kek anak ilang gini. Gue janji nanti di depan keluarga besar loe bakalan jadi istri idaman sesuai semua permintaan loe." Dina menarik tangan Dodit seraya menjanjikan akan menuruti semua keinginan sang suami seperti apa yang Dodit mau.
*****
Dodit: Turutin, jangan?
Author: turutin aja lah biar gak ribut mulu loe berdua
Dodit: Kapan sih gue bisa hidup sesuai keinginan gue sendiri bukan karena keinginan loe, Thor?
Author: Egimana?
Dodit: Au ah
__ADS_1
Author: Dih, baper