Mantan Jomblo

Mantan Jomblo
Gundah


__ADS_3

Seharian dibuat kelimpungan dengan tumpukan pekerjaan dan meeting penting dengan klien membuat Andri tak hentinya mengumpat sosok bucin baru alias sang bos besar, Dodit.


Huft, dimana sih akal sehatnya masa seenaknya saja pergi tanpa persiapan apa-apa cuman karena galau gak ketemu istri? Batin Andri kesal.


Rasa kesal itu berubah menjadi tawa bahagia ketika beberapa waktu lalu bucin baru itu memberi kabar kalau ada undangan menghadiri acara syukuran empat bulanan kehamilan Hilda.


Sudah bukan rahasia umum lagi kalau di masa sekolah mereka saat itu Dina begitu bucin terhadap Jodi sementara hubungan Dodit dan Rosa bak Romeo and Juliet. Entah akan jadi seperti apa jika mereka dipertemukan? Andri sebenarnya penasaran ingin melihat langsung, tetapi ia masih merasa berat jika harus bertemu dengan Siska.


Drrrttt


Drrrttt


Andri langsung menekan layar ponselnya yang bergambar gagang telepon berwarna hijau. Hm, siapin telinga tebal nih karena pasti alamat dengar curhat.


"Bang Caaad! kenapa telepon gue baru di angkat? gimana hasil meeting hari ini?" Ucap Dodit penuh emosi.


"Ngapa loe nyet?" Sahut Andri.


"Nyesel gue kesini. Arrggghhh! bini gue mana seneng banget dari tadi udah repot aja mau pake dress bakal ke tempat acaranya Hilda." Keluh Dodit.


"Lah, emang acaranya apaan?" Andri bertanya.


"Pengajian biasa sih tapi kan tetap aja... eh loe gue pesenin tiket kemari ya biar sekalian ngumpul?" Dodit baru teringat akan mengajak Andri.


"Eits, sorry bro. Loe mau Eyang Soeroso marah loe gak becus kerja tapi malah nyuruh gue segala bepergian?" Kelit Andri.

__ADS_1


"Halah, loe bilang aja mau menghindari Siska, iya kan?" Tebak Dodit.


"Ck, loe aja yang udah kawin masih kesel gitu lah apa kabarnya sama gue? garuk tembok ntar gue yang ada." Aku Andri.


"Loe gak kangen gitu sama semuanya?" Tanya Dodit.


"Kangen, tapi urusan kerjaan disini harus ada yang handle... lagian gak baik lah udah mantan tapi masih reunian. ilmu ikhlas gue belum kuat kalo mendadak liat dia sama yang baru." Ucap Andri lirih disertai nafas yang memburu tanda sang pemilik suara terpancing emosi.


"Oke, oke... gue paham..." Dodit menganggukkan kepalanya padahal lawan bicaranya tidak akan melihat mengingat mereka hanya melakukan panggilan telepon biasa bukan panggilan video.


Waktu terus berjalan dan kini tibalah saatnya untuk mereka pergi menuju ke rumah Rafli.


"Bee, pokoknya nanti selama acara kamu harus disamping aku. Ingat sekarang Jodi anaknya udah dua, jangan sampai kamu di terkam Rara." Dodit memberikan peringatan.


"Kamu ih, kebanyakan teori deh. Oke, di rumah kamu bisa bilang gini tapi aku yakin nanti begitu kita nyampe sana yang bakalan ditinggalkan itu pasti aku. Berani taruhan gak? Tantang Dina.


"Aku gak minta ya itu kamu sendiri yang mau." Ucap Dina.


"Mm, kalau kamu nanti ngerasa gak nyaman langsung aja ya bilang sama aku biar kita bisa pulang cepat." Dodit memberikan solusi karena ia sadar di tempat yang akan mereka datangi bukanlah zona nyaman untuk istrinya berinteraksi secara normal mengingat bagaimana buruknya hubungan Dina dan Rara di masa lalu.


Dina yang begitu antusias ingin mengenakan dress pilihan nya harus mau menuruti keinginan Dodit agar memakai gamis tosca yang senada dengan warna kemeja yang dikenakan oleh Dodit.


"Duh, pasmina aku rapih gak ini ya? aku jarang banget pakai." Ucap Dina sambil berkaca.


Sementara itu Dodit mengernyitkan dahinya setelah selesai membaca chat dari Andri untuk menjaga Vania yang juga ingin datang ke acara tersebut.

__ADS_1


"Kenapa kok bengong?" Dina keheranan melihat perubahan ekspresi wajah Dodit.


"Umm, ini si Andri nitip Vania katanya mau datang juga kesana." Dodit jujur.


"Vania? siapa? ceweknya Andri?" Tanya Dina.


"Bukan, Vania itu sepupunya Andri." Jawab Dodit.


"Lah, terus kok malah nitip ke kamu? emangnya si Vania itu gak bisa di antar sama saudara nya yang lain atau naik ojek atau taksi online gitu?" Dina mengutarakan keberatannya.


"Vania biasa sama aku kalo kemana-mana jadi Andri nitip dia ke aku." Sahut Dodit.


"Iya itu kan sebelum kamu nikah sama aku, kalo sekarang mah udah gak bisa seenaknya dong kamu ajak siapa aja." Ketus Dina yang meninggalkan Dodit dengan ekspresi bingung tak berkesudahan.


"Waduh, ini belum datang aja udah bete duluan bini gue." Dodit menepuk dahinya.


"Ayo, cepetan jalan langsung ke rumah Rafli gak usah mampir kemanapun." Ajak Dina sambil menarik tangan suaminya itu.


"Bee, kasian Vania nanti sama siapa?" Dodit mencoba memberi pengertian.


"Kamu kasian sama dia terus mau berduaan kesana?" Skak Dina.


Dodit mendadak gusar dan hanya bisa menggusar rambutnya.


*****

__ADS_1


Up tipis-tipis


Part ini aseli garing beud karena otak waras ku gak mau ngalah buat ngehalu


__ADS_2