
Monmaap oppa Min Ho dan Park Shin Hye kalau diriku nyomot judul salah satu Drakor kalian 😘
*****
Menjelang sore
Suasana di rumah utama begitu membagongkan karena hampir semua penghuninya terlihat kecewa dan di liputi amarah. Eyang putri bahkan sampai membuang semua benda apa saja yang terdapat di depannya.
Untung hp othor gak ikutan nongol tuh di depan Eyang putri kalo iya mah alamat kagak bakalan bisa up cerita ini #iklandikit
"Bambang! Kamu sudah bayar lunas belum jasa mata-mata kita?! Jangan-jangan dia berkhianat karena kurang bayaran nya!" Pekik Eyang putri kepada putra pertamanya itu.
"Inggih, sampun." Jawab Bambang lirih.
"Itu kamu bayar gak pake pinjaman online kan? Awas aja ya kalau nanti ada yang teror kemari karena kamu gak sanggup bayar lantaran bunga nya membengkak!" Maki Eyang putri mengalihkan kemarahannya.
"Buk, biar pun bapak ndak kasih anak perusahaan yang di handle saya ke tangan saya tetapi uang saya masih lebih dari cukup untuk beristri dua eh maksudnya bayar jasa mata-mata." Ucap Bambang yang hampir keselo lidah.
"Eyang putri, Pakdhe... Nganu, saya baru dapat kabar kalau mata-mata kita telepon acaranya Dodit jadi diadakan di hotel milik Eyang Soeroso yang paling mewah." Setelah beberapa orang yang ia hubungi akhirnya sang sutradara itu berhasil mendapatkan informasi.
"Waduh, sudah jam segini apa masih ada acaranya?" Bambang pusing ketika sekilas ia melirik arlojinya sudah menunjukkan angka tiga.
"Iya katanya tadi Eyang Soeroso menyita semua handphone para bodyguard dan orang disekitarnya jadi dia ndak bisa kasih kabar ke kita dari tadi pagi." Jawab sang sutradara.
"Hmm, seperti nya Eyang Soeroso sudah mulai curiga dengan semua rencana kita." Ucap putra kedua Bambang.
"Sudah, ndak usah banyak omong kita sekarang bersiap pergi kesana." Eyang putri bergerak cepat merapihkan penampilan nya agar tetap terlihat anggun nan memukau untuk pergi ke lokasi resepsi pernikahan Dodit dan Dina.
Semua penghuni rumah Eyang Soeroso pun heboh mempersiapkan diri masing-masing untuk datang. Tidak ada seorangpun yang ingin terlihat kusut dan kucel walaupun hampir seharian tadi mereka harus menunggu kabar yang tak pasti layaknya kekasih yang tak bisa memberikan kepastian, mau di bawa kemana hubungan kita.
Tak lama terdengar deru suara lima mobil mewah yang di dalamnya terdapat hampir seluruh anggota keluarga Eyang Soeroso akhirnya keluar dari dalam rumah utama nan megah itu.
45 menit kemudian
"Eyang..." Panggil Jasmine.
__ADS_1
"Jajas..." Eyang Soeroso merentangkan tangannya ingin memeluk cicitnya yang baru datang.
"Ekhem, bapak ini kenapa ndak memberi tahu kita kalau acaranya Dodit pindah kesini?" Eyang putri dengan wajah pongah dan menahan kesal langsung mencecar Eyang Soeroso.
"Yola, ini saatnya kamu menunjukkan dirimu." Bisik sang sutradara di telinga Yola.
Sejenak Yola melirik Eyang Soeroso dan Eyang putri di sebelahnya. Ah, sebaiknya ia memanfaatkan si balita imut, Jasmine saja agar tidak terkesan terlalu kaku nanti suasananya.
"Jajas, ikut aunti Yola, yuk?" Ajak Yola sambil merentangkan tangannya untuk mengambil alih Jasmine dari gendongan Eyang Soeroso.
"Au mana?" Tanya Jasmine.
"Itu mau ke om Dodit." Jawab Yola sambil menunjuk ke arah kedua mempelai yang tengah memamerkan deretan giginya kepada para petinggi perusahaan mitra Eyang Soeroso.
"Jajas sini sama Papa sekalian." Pandu tak mau diam saja anaknya dijadikan kambing hitam Yola untuk mendekati Dodit.
"Hayuk, kita kesana sama-sama." Ajak Panji yang sejak tadi menggandeng istrinya.
Ajakan Panji itu langsung diikuti oleh semua keluarga yang baru hadir itu. Eyang Soeroso yang menyadari radar bahaya apabila mereka semua akan merusak suasana turut serta memimpin di depan jalan mereka menuju pelaminan.
Dodit bertindak cepat dengan mengambil dan menggendong Jasmine. "Halo, udah lupa sama nama Om Dodit ya? Kenapa cuman ingat sama Aunti plinces Aulola?" Dodit berpura-pura memasang mode ngambek kepada keponakannya itu.
"Sohalna yang mau tetemu Om Dodit itu Aunti Yola." Ucap Jasmine.
Ucapan Jasmine seolah membawa angin segar bagi Yola untuk bergerak menggeser posisi Dina dan membuat dirinya berada di tengah kedua mempelai. Tangannya pun setengah memeluk Dodit yang sedang menggendong Jasmine.
"Yola, jaga sikapmu, Ndok." Bukan Eyang Soeroso yang berbicara namun Ningrum yang bersuara karena merasa tak pantas Yola bersikap seperti itu walaupun semua orang tahu hubungan Yola dan Dodit hanya sebatas hubungan saudara sepupu.
"Sudahlah Ningrum, biarkan Yola melepaskan rasa kangennya sama Dodit." Eyang putri membela tindakan Yola.
Sementara Eyang Soeroso tanpa suara menatap tajam Yola penuh intimidasi sehingga membuat Yola salah tingkah dan mati gaya. Ketika Yola hendak menyingkir dari Dodit malah sang sutradara mengajak semua keluarga untuk berfoto bersama.
"Ekhem, Yola, kamu bisa toh gendong Jajas?" Dodit menyodorkan Jasmine kepada Yola yang masih kebingungan.
Dina yang memahami makna lirik manja suaminya sudah menggenggam tangannya perlahan bergeser dan kembali ke posisinya semula, di samping suaminya.
__ADS_1
"Lho, kok jadi seperti ini? Ulang-ulang!" Protes sang sutradara yang kesal melihat kegagalan artisnya dalam mengatur posisinya.
Dodit sengaja memeluk mesra istrinya dengan posisi tangan nya di pinggang Dina. Ia pun berbisik, "Ingat, kita wajib mesra."
Dina tersadar mendengar ucapan Dodit yang menginginkan akting sempurna mereka. Ada sesak dalam dadanya karena apapun yang mereka lakukan di depan keluarga besar Eyang Soeroso hanyalah akting semata.
Sang sutradara pun menyerah lantaran sejak tadi tatapan menusuk yang diberikan oleh Eyang Soeroso cukup membuat nyalinya ciut.
"Sebentar lagi acaranya selesai ada yang mau Eyang bicarakan." Ucap Eyang Soeroso kepada semua anggota keluarganya.
Kini, semua anggota keluarga itu berada dalam ruangan khusus sebagai tempat berkumpul para anggota keluarga Eyang Soeroso. Dina terus menggenggam tangan Dodit berharap akan mendapatkan kekuatan lantaran tatapan tak bersahabat di layangkan oleh hampir seluruh anggota keluarga lainnya.
"Eyang, sebenarnya ada apa ini?" Panji mencoba bertanya terlebih dahulu sebelum Eyang Soeroso memulai pembicaraan.
"Seperti nya kamu sudah tahu apa yang akan Eyang sampaikan, Panji." Tebak Eyang Soeroso.
"Ndak, Eyang." Sangkal Panji.
"Alhamdulillah akhirnya hari ini acara resepsi pernikahan Dodit dan istrinya, Dina sudah berjalan lancar. Jadi, secara otomatis mulai besok Dodit sudah bisa menjalankan tugasnya untuk memilih dan mengelola salah satu anak perusahaan Eyang." Eyang Soeroso berkata lembut.
"Maaf Eyang..." Dodit untuk kesekian kalinya ingin menolah jabatan menggiurkan tersebut.
"Dodit, tidak ada yang boleh menentang tradisi karena semua anak cucu ku memperoleh hak yang sama, bebas memilih ingin memimpin anak perusahaan Eyang manapun selama lima tahun, jika dia berhasil maka anak perusahaan itu seutuhnya akan menjadi miliknya, tetapi jika gagal ya dia tetap dalam posisinya sebagai pemimpin anak perusahaan tanpa hak untuk memiliki." Eyang Soeroso menjelaskan panjang lebar dan bersikeras dengan pendiriannya.
Satu persatu anak dan cucunya menentang keras tindakan Eyang Soeroso dengan berbagai dalih dimana salah satunya adalah jenjang pendidikan Dodit yang tidak sesuai menjadi pemimpin anak perusahaan hingga secara frontal Bambang menyebutkan kalau Dodit hanya cucu sambung yang tidak punya hak yang sama dengan semua cucu Eyang Soeroso yang lainnya.
Dodit tak mau ambil pusing dengan semua argumentasi semua anggota keluarganya yang sudah ia perkirakan akan bersikap seperti itu. Ia lebih memilih untuk membuka ponselnya dan meng-upload foto pernikahan nya dan Dina ke grup mantan Jomblo dengan caption,
Sorry gak sempet ngundang karena acaranya mendadak harus diselenggarakan secara seksama dan dalam tempo sesingkat-singkat nya sebelum besok mulai PSBB.
Send
Dodit mengulum senyumnya tak sabar menunggu akan reaksi para sahabat mantan Jomblo nya nun jauh di Jakarta.
__ADS_1