Mantan Jomblo

Mantan Jomblo
Sudut pandang lain


__ADS_3

"Mengapa Soeroso tidak pernah berpihak kepada ku?" Suara bass itu mengusik rasa sepi yang dia ciptakan sendiri di ruangan itu. Angin menyusup dari jendela yang terbuka dan gorden biru muda menari-nari dikarenakan nya. Pintu berdaun dua memiliki tinggi empat meter masih tertutup rapat. Beberapa orang berjaga disana tak membiarkan siapapun masuk ke dalam sesuai permintaan pria berjas hitam, Bambang, putra pertama dari salah satu konglomerat ternama, Soeroso Hadiningrat.


Tak ada jawaban yang ia dapat. Perih, ia menerjang arus yang semakin kuat menunjukkan gejolaknya. Lantai sepuluh, menjadi lantai paling tinggi salah satu tower milik anak perusahaan Eyang Soeroso yang cukup berpengaruh di Indonesia. Di sanalah ruangan dari sosok paling ambisius di keluarga besar Eyang Soeroso.


Bambang kembali di buat geram untuk kesekian kalinya dengan kecerdikan cucu kesayangan Eyang Soeroso, Dodit. Berbagai upaya telah dilakukan agar sosok itu lenyap dari dunia namun selalu gagal.


Upayanya untuk membuat usahanya pailit pun selalu terkendala. Hal yang menyebalkan kini bahkan ia memiliki asisten pribadi yang kecakapannya dalam bekerja sangat mumpuni. Kalau selama ini dia bisa begitu gencar menyerang sosok Dodit yang tidak memiliki basic pendidikan di bidang bisnis, maka hal itu berbanding terbalik dengan sang asisten. Perpaduan yang klop dimana sang bos merupakan sosok visioner lalu ditunjang oleh sang asisten pribadinya yang bisa memberikan solusi atas semua ide inovatif nya.


Drrrttt


Drrrttt


Drrrttt


Terdengar nada panggilan telepon masuk dari ponselnya. Bambang melirik sekilas tertera nama putranya, Panji.


"Pak, aku mau masuk." Pinta Panji tanpa basa-basi.


"Iya, masuk." Ucap Bambang.


Setelah mengucapkan kalimat itu masuklah sosok pria bertubuh tegap dan tampan berjalan seraya menunjukkan wajah datar nya dengan membawa sebuah amplop coklat ditangannya.


"Pak, aku bawa ini semua file yang bisa kita pakai untuk menjatuhkan citra anak perusahaan Anti Gagal yang sekarang di kelola Dodit.." Ucap Panji sambil meletakkan amplop coklat yang ia bawa


"Bagus. Kamu sudah pastikan mata-mata kita disana tidak membocorkan bahwa kita telah mendapatkan data penting ini?" Tanya Bambang.


"Sudah, tapi dia juga takut kalau si asisten baru itu tahu dan mengancam posisi jabatannya." Lapor Panji.


"Hm, pastikan kita main aman." Ucap Bambang memberikan perintah.


"Pasti, Pak." Jawab Panji sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Panji Hadiningrat merupakan satu-satunya putra kebanggaan Bambang yang menurunkan jejak licik sang bapak. Jika sang putra pertama Bambang, Pandu lebih memilih untuk menjadi seorang dosen di sebuah universitas swasta di Jogja, maka tidak demikian halnya dengan Panji.


Sarjana yang empat tahun lalu berpredikat cum laude dari universitas lulusan luar negeri terkenale di negeri kanguru itu begitu ingin tampil lebih baik dari semua saudaranya. Alasannya sepele, dia ingin tampil memukau di mata adik sepupunya, Yola.


Perasaan yang semula ia kira hanya rasa sayang seorang kakak sepupu terhadap adiknya ternyata kian hari semakin meresahkan jiwanya. Baginya saat harus terpisah jarak dan waktu ketika ia menempuh jalur pendidikan.


Hatinya meruntuki keputusan Eyang Soeroso yang sempat ingin menikahkan gadis pujaannya itu dengan Dodit, saingan sejatinya. Entah lah sejak kecil ia sangat terganggu dengan limpahan kasih sayang yang terlalu berlebihan dari Eyang Soeroso untuk Dodit yang bukan termasuk cucu kandungnya sendiri.


Bambang selaku bapak memanfaatkan benar perasaan Panji terhadap Yola untuk membuatnya selalu bertahan dan membantunya dalam melaksanakan semua tindakannya. Awalnya Panji menolak tak ingin menjadi sosok jahat dan merugikan keluarganya sendiri tetapi angin panas yang dihembuskan oleh Bambang sukses mengubah jalan pikirannya.


Persyaratan Eyang Soeroso yang mengharuskan semua cucunya untuk memimpin anak perusahaan selama lima tahun dan jika berhasil akan menjadi miliknya ternyata tidak bisa ia raih. Otak bucin nya terhadap Yola kala itu meluruhkan seluruh kadar kecerdasannya dalam berpikir dan bekerja sehingga ia menjadi tidak produktif dan dinyatakan gagal. Kenyataan ini melukai Bambang karena itu artinya anak keturunannya tidak akan memiliki hak atas warisan Eyang Soeroso.


Anehnya semenjak dinyatakan gagal justru memantik aura tak ingin terkalahkan dari seorang Panji. Perlahan namun pasti ia mulai bisa menunjukkan kemampuannya dalam mengelola anak perusahaan yang dipercayakan oleh Eyang Soeroso sehingga menjadi berkembang dan terkenal di negeri ini.


Semua kesuksesan terasa dalam genggamannya hingga datang lah kembali si anak hilang alias Dodit. Cucu sambung yang mendapatkan kesempatan yang sama dengannya itu kini baru saja memulai menjalankan amanah Eyang Soeroso untuk menunjukkan kinerja nya tetapi sudah terlihat perubahannya.


Ego yang terluka karena sosok itu kembali lebih dipercaya oleh sang Eyang dalam hal apapun kini menggelapkan hatinya. Selama ini ia melalui anak buahnya yang selalu melakukan eksekusi untuk mencelakai Dodit dan istrinya.


Panji hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar dari ruangan kerja Bambang. Ia melirik arlojinya masih menunjukkan jam delapan pagi dimana biasanya Yola masih berada di rumahnya. Ponselnya ia keluarkan untuk menghubungi Yola.


"Assalamualaikum, Dek, kamu masih ada di rumah?" Tanya Panji yang tak bisa sehari pun melewatkan harinya tanpa mendengar suara Yola.


"Walaikum salam. Iya Mas. Kamu sendiri lagi dimana?" Jawab Yola seraya melemparkan pertanyaan menanyakan keberadaan Panji.


"Mas ke rumah kamu ya?" Panji langsung antusias untuk berjalan turun dan hendak menemui Yola.


Semenjak Panji lulus kuliah dan menerima tantangan Eyang Soeroso untuk memajukan salah satu anak perusahaan nya dia telah hidup terpisah dengan keluarga besar Eyang Soeroso dan memilih tinggal di apartemen yang letaknya dengan kantor nya di sebuah kawasan apartemen elit daerah Jakarta Selatan.


"Ih, Mas kalau sibuk sama kerjaan di kantor ndak usah ketemuan dulu aku ndak enak jadi ganggu." Yola tak ingin Panji disalahkan jika mengabaikan pekerjaannya hanya demi bisa menemuinya sekarang.


"Kamu itu penyemangat ku, dek. Pokoknya siapkan makanan enak untuk aku sarapan ya?" Panji bersikeras ingin menemui Yola.

__ADS_1


"Ya terserah Mas saja. Hati-hati di jalan." Ucap Yola tak dapat menolak kedatangan Panji.


"Dek, ini aku belum tutup loh telepon nya kok sudah di bilang hati-hati di jalan?" Protes Panji yang menyadari hal itu sebagai bentuk Yola ingin mengakhiri panggilan telepon darinya.


"Hehehe... iya Mas ini aku lagi bikin tumis kangkung sambil terima telepon." Ucap Yola disertai tawa.


"Hati-hati hape kamu ikut di masak, dek." Panji menggoda Yola.


"Waduh, jangan lah repot aku ndak punya hape lagi." Yola cemberut.


Panji sudah bisa membayangkan ekspresi menggemaskan Yola saat ini. Ah, ingin rasanya ia menggunakan alat ajaib Doraemon, pintu kemana saja hingga ia tak perlu repot berjauhan dengan Yola.


"Mas, Mas kok diam saja? Aku tutup telepon nya ya? Sayur nya mau aku angkat nih di taruh ke mangkuk." Yola ingin memastikan apakah Panji masih menyimak pembicaraan telepon mereka.


"Eh, iya dek, Mas langsung kesana." Ucap Panji yang kini sudah berada di lift dan hendak menuju parkiran.


Jika saat bertemu Bambang aura Panji begitu datar nyaris tanpa ekspresi kini sangat berbeda setelah ia menghubungi Yola dan mereka akan segera bertemu. Ya, cinta bisa seperti itu efeknya.


Langkahnya begitu bersemangat begitu Panji membuka pintu mobilnya dan bergegas menuju pintu utama rumah mewah itu.


"Assalamualaikum..." Panji mengucapkan salam.


"Walaikum salam... lho, nak Panji toh? Ibuk kira siapa?" Ningrum menyambut hangat kedatangan Panji.


"Iya buk. Yola nya ada?" Panji langsung mencium punggung tangan Ningrum sebelum menanyakan keberadaan Yola.


"Siapa yang datang, Rum? Eh, kamu Panji." Ambar yang sempat mendengar suara orang mengetuk pintu kini terkejut melihat kehadiran Panji.


"Dalem, Eyang putri." Panji kini berjalan mendekati Ambar dan memeluk hangat Ambar.


"Duh, cucuku..." Ambar terharu mendapatkan pelukan Panji yang akhir-akhir ini begitu sibuk. Iya, sibuk mencelakai Dodit dan istrinya terutama.

__ADS_1


__ADS_2