Mantan Jomblo

Mantan Jomblo
Rem blong


__ADS_3

Aku tadinya mau up cerita ini buat besok tapi kok tangan gatel ya pengen lanjutin ceritanya. Jadi kebawa suasana dunia halu yang ku ciptakan sendiri. Hehehe...


*****


Kini Dodit dan Dina kembali melanjutkan perjalanan mereka ke arah pulang. Hmm, kenapa ada yang beda sama ini mobil? Tadi kayaknya gak begini deh. Dodit si montir di bengkel mantan jomblo merasa adanya hal yang berbeda kala menyetir kali ini.


"Bee..." Suara panggilan dari Dodit untuk istrinya itu memecah keheningan diantara mereka semenjak memasuki mobil.


Sekilas Dina menoleh tak acuh karena sejak tadi ia selalu memandangi arah keluar jendela mobil. Tatapan matanya menghindari untuk tidak melihat suaminya itu.


"Ada apaan sih di luar? Kenapa diem aja dari tadi? Mm, kamu bisa nyetir gak?" Tanya Dodit beruntun.


"Mau tanya apa ngerampok? Banyak bener." Sinis Dina yang kini dengan mode senggol bacok.


Kening Dodit berkerut tiga mendengar jawaban istrinya itu. Haduh, situasi begini istri pake ngambek segala lagi. Keluh Dodit dalam hati.


"Bee... tolong..." Dodit tak ada pilihan selain meminta bantuan istrinya karena memang hanya mereka berdua di dalam mobil.


"Bi ba bi aja dari tadi. Udah lah gak ada orang lain mah bebas aja panggilan nya." Gerutu Dina kesal dengan drama pasangan suami istri bahagia tetapi selalu terbawa suasana di tengah hubungan mereka yang sebenarnya selalu bermusuhan.


"Sebelumnya aku minta maaf kalo selama kebersamaan kita ini banyak nyusahin kamu." Dodit memilih untuk merendah dan tak ingin memancing keributan di dalam mobil.


"Hm," sahut Dina.


"Tolong ambilin hape aku dong ini di saku terus coba telepon Andri." Dodit tak bisa lagi menunda.


"Manja." Decak Dina tetapi masih tetap melakukan apa yang di minta oleh suaminya itu.


"Saku kanan, bee..." Ucap Dodit karena Dina salah mengambil ponselnya di saku kiri.


"Ih, niat banget sih ngerepotin!" Maki Dina tak tahan lagi


"Maaf sayang... Coba ya telepon Andri nanti kalau sudah di angkat biar aku yang ngomong sama dia." Dodit memilih mengabaikan Omelan Dina lantaran situasi yang ia rasa genting.


Tut


Tut


Tut


Panggilan telepon yang ketiga baru lah Andri mengangkat telepon dari Dodit.

__ADS_1


"Ck, napa loe Dit?" Nada suara Andri terdengar malas menjawab telepon.


"Dri, selain memompa rem biar kondisinya seperti semula, ada cara lain lagi gak ngatasin rem... blong?" Tanya Dodit agak ragu di akhir karena tak ingin membuat khawatir istrinya.


"Hah? Rem blong? Loe dimana? Gue jemput aja." Pekik Andri langsung terdengar panik mendengar kata rem blong.


"Gue masih di kampung." Jawab Dodit tetap berusaha tenang.


"Loe pake mobil mantan jomblo, kan? Itu mobil kan terawat banget sama kita jadi gak mungkin bisa kejadian rem blong." Suara Andri semakin resah mengkhawatirkan keselamatan sahabatnya.


"Santuy bro. Jawab aja pertanyaan gue tadi tentang cara ngatasin rem blong?" Senyum Dodit semakin kecut melihat wajah pias Dina disampingnya.


"Loe pompa terus rem nya biar tekanannya normal lagi. Biarin aja dia beralih ke anti locking braking atau ABS terus pompa aja." Andri mulai mencerna situasi dan memberikan solusi.


"Iya udah dari tadi tapi rem nya berasa kasar nih." Ucap Dodit.


"Loe nyetir sendirian gak? Kalau ada teman di samping loe coba tolong cek pedal nya ada trouble gak." Andri kembali memberikan pengarahan.


"Bee, kamu bisa nyetir gak?" Tanya Dodit menolehkan kepalanya ke arah Dina.


"Bi bisa." Jawab Dina dengan gugup.


"Hey, santai sayang. Ingat kalau ada apa-apa yang penting kita udah gak jomblo lagi." Rayu Dodit seperti tak ada masalah besar yang mereka hadapi.


"Sirik? Bilang bos! Hahaha." Dodit tertawa.


"Dit, awas aja ya kalo loe balik kesini tinggal nama cuman gara-gara rem blong tapi loe malah tepe ke cewek!" Ancam Andri mulai geram dengan kelakuan Dodit.


"Gi gimana caranya aku gantiin kamu nyetir? Aku takut." Dina kehabisan akal.


"Bee, kalau kita menghadapi masalah cuma bisa nangis gak bakalan kelar. Relaks dan pelan-pelan kamu kesini gantiin aku karena kalo aku nyuruh kamu cek pedal pasti bakalan gak ngerti juga apa yang harus dilakukan." Dodit mencoba menenangkan istrinya itu.


"Ka kalau aku panik terus malah nabrak sembarangan gimana?" Dina meremas tangannya.


"Anggap aja dari awal kamu yang nyetir dan gak ada kendala apapun. Oke?" tangan kiri Dodit menarik lembut tangan Dina.


"O oke." Dina terpaksa menyetujui ide suaminya demi keselamatan mereka berdua.


"Sini kamu pelan-pelan duduk dulu di pangkuanku." Ucap Dodit.


"Heh, loe ngapain berdua? Jirrr... Loe beneran apa sekarang pada jadian? Hah, jauh-jauh pulang kampung malah ketemu nya sama mantan si Jodi." Cerca Andri.

__ADS_1


"Watch your mouth, bro!" Dodit geram mendengar ucapan Andri.


"A aku ngeri gimana ini posisinya?" Tanya Dina kebingungan bagaimana harus memulai menggantikan posisi Dodit untuk menyetir mobil dalam kondisi rem blong seperti ini.


"Pelan-pelan aja sini." Dodit mengarahkan Dina mendekatinya.


Dan baru sepersekian detik Dina berhasil duduk di pangkuan Dodit baru lah Dodit menyesal karena adik kandungnya merasa keenakan mendapatkan akses masuk ke dalam sarang yang masih berbalut celana berbahan denim.


"Enggghhh..." Dodit mengerang.


"Beibb... Ih, entar malem aja sih!" Dina merasa risih karena kegiatan mereka tiba-tiba terlihat oleh Andri yang sudah mengalihkan panggilan telepon menjadi video call.


"Duh, mau lepasin kamu kok kentang ya? Huh!" Dodit ngos-ngosan.


"Woyyy otak jomblo jiwa merana! Fokus itu rem blong nyawa loe berdua bisa melayang!" Teriak Andri mengomentari sahabatnya.


"Set an loe gak ngerasain sih kalo otak udah gak bisa konek tuh gimana!" Solot Dodit.


"Beibb... Ini gimana bentaran lagi kan arah jalan utama biasanya rame tapi kita gak bisa berhenti." Dina cemas luar biasa.


Terlihat arloji Dodit berkedip-kedip menyala warna merah. Lalu terdengar suara Riyadi sang bodyguard kepercayaan Eyang Soeroso.


"Den, maaf saya perhatikan mobil..." Riyadi mengkhawatirkan kondisi Dodit.


"Rem mobil gue blong! Tolong bantu kosongkan jalan utama karena mobil ini gak bisa berhenti kalo macet sekalipun." Dodit tak bisa berbasa-basi lagi.


"Arrggghhh..." Dodit akhirnya bisa mengeluarkan dirinya dari bangku kemudi yang telah di ambil alih Dina.


"Nyet, lihat nih pedal sekilas aja ada yang gak beres." Dodit mengarahkan kamera ponselnya ke pedal mobilnya.


"Sabotase itu, bro." Ucap Andri setelah mengamati wujud pedal.


"Beibb itu gak pake lama ya benerin pedal soalnya aku ngeri." Pekik Dina sambil tetap mengemudikan mobil.


"Beres bee..." Dodit menganggukkan kepalanya.


"Bang keeeee beb bi beb bi..." Kembali Andri memekik emosi.


"Hahaha... Sakit ya?" Dodit tertawa sambil fokus mengatasi benda yang mengganjal di pedal nya.


"Ck, ini bodyguard Eyang Soeroso yang namanya Maryadi apa Riyadi itu mana sih? Kok jalanan masih rame tuh kayaknya." Decak Dina dengan keringat dingin khawatir dirinya akan menabrak mobil lain yang terlihat macet dan ramai.

__ADS_1


******


Daaaaannnn akoh ngantuk gak sanggup ngetik cerita ini lagi. Nice dream all...


__ADS_2