
Rencana Dodit semula yang ingin menyusul istrinya mengikuti kegiatan charity yayasan amal milik keluarga Eyang Soeroso tidak dapat ia lakukan karena begitu tiba di rumah ia terpaksa terpekur di depan laptop mengamati semua laporan yang diberikan oleh Andri.
Dua bulan mendapat kepercayaan menjadi pemimpin anak perusahaan Eyang Soeroso membuat Dodit lambat laun menyadari adanya indikasi kecurangan di perusahaan tersebut. Mulai dari laporan divisi keuangan memperlihatkan manipulasi data dan merugikan dana perusahaan, sikap para petinggi perusahaan yang tidak bekerja dengan benar dan hanya datang setiap kali ia melakukan inspeksi saja, terakhir yang menurutnya fatal adanya pihak yang mencampur bahan makanan berbahaya bagi kesehatan konsumennya.
Satu persatu Dodit mengurai masalah ini agar tidak salah mengambil keputusan lalu melaporkan hasilnya kepada Eyang Soeroso. Untuk itulah ia membutuhkan keahlian Andri dalam meretas cctv kantor dan pabrik yang merekam aksi pihak yang melakukan hal busuk tersebut.
Di sela-sela kesibukannya itu sebenarnya ia masih ingin menghibur diri dengan mencoba menghubungi istrinya sekadar mendengar suaranya tetapi sejak tadi selalu di reject. Hm, ada yang salah memang. Pikir Dodit karena tak biasanya Dina seperti itu.
"Assalamualaikum, Eyang. Maaf saya hanya ingin memastikan apakah Eyang sudah di tempat acara charity atau belum?" Otak buntu Dodit terpaksa membuatnya melakukan panggilan telepon dengan Eyang Soeroso yang ia ketahui berada di tempat yang sama dengan istrinya mengingat ibu nya juga di telepon malah mati ponselnya.
"Walaikum salam. Kamu jadi mau datang?" Tanya Eyang Soeroso tanpa banyak basa-basi.
"Ekhem, maaf Eyang..." Dodit kesulitan berkelit. Dan tentu saja Eyang Soeroso mengetahui semua hal yang dilakukan oleh cucunya itu di ruang kerja nya.
Dina yang berada tepat di sebelah kanan posisi duduk Eyang Soeroso sedikit terganggu dengan panggilan telepon Eyang Soeroso yang bahkan sosok itu menyodorkan ponselnya lantaran sang suami katanya ingin berbicara kepadanya. Huh, kalau sudah begini kan mau tidak mau harus bicara. Runtuk Dina kesal karena masih kesal terhadap suaminya.
"Hm," sahut Dina begitu ia mendengar suaminya meminta maaf karena tidak bisa datang karena sedang sibuk.
"Bee..." Dodit masih rindu ingin bicara dengan istrinya itu. Ya, hari-harinya yang biasa mendengar celotehan istrinya kini terasa sunyi lantaran sang pemilik suara benar-benar menghindarinya.
"Walaikum salam." Dina berpura-pura menutup telepon dan mengembalikan ponselnya kepada Eyang Soeroso yang tersenyum geli mengetahui romantika cucu dan cucu menantunya.
"Dodit bicara apa?" Pancing Eyang Soeroso.
"Mm, dia minta maaf gak bisa datang kesini." Dina tidak berbohong pada bagian ini.
"Kenapa cepat tutup telepon nya?" Kembali Eyang Soeroso ingin melihat reaksi Dina.
"Dia sibuk, Eyang." Jawab Dina.
"Tidak mudah memang bagi seorang yang terbiasa bekerja tanpa ritme kerja tetap seperti kami." ucap Eyang Soeroso.
"Maksudnya, Eyang?" Dina menolehkan kepalanya ke arah Eyang Soeroso karena tiba-tiba saja terdengar seperti suara orang berkeluh-kesah. Hal yang tidak ia sangka dari seorang Eyang Soeroso.
"Bertahanlah dengan cucuku apapun halangan yang ada di depan kalian." Ucap Eyang Soeroso dengan tatapan lembut.
Bagaimana aku harus bertahan hidup bersama orang yang hanya menganggap ku sekedar...
"Jiwa muda kadang kala memang terlalu menggebu untuk sepihak menilai perasaan satu sama lain, tetapi Eyang hanya bisa meminta, bertahanlah karena suami mu sangat membutuhkan kehadiran mu disisinya." Pinta Eyang Soeroso terlihat serius.
Gleg
Dina kesulitan menelan saliva nya karena merasa permintaan Eyang Soeroso terlalu berat mengingat dirinya memang berencana ingin meninggalkan sosok itu ketika kondisi babeh Rojali membaik.
Dina kembali ke rumahnya dalam kondisi sepi karena Jaka berada di kamar babeh Rojali sedangkan suaminya entah kemana ia tidak tahu karena memang sengaja memutuskan komunikasi dengannya.
Pagi menjelang
Dina merasakan perutnya berat lantaran ada tangan yang memeluknya erat. Perlahan ia mencoba untuk melepas tangan tersebut tetapi malah sang pemilik tangan itu terbangun.
__ADS_1
"Hngh... Bee, please jangan kemana-mana aku mau meluk kamu." Pinta Dodit memelas.
Dina terpaksa membiarkan tangan itu tetapi lama kelamaan ia merasakan pergerakan agresif yang mulai memancing gairah nya.
"A aku sakit perut." Dina berbohong demi bisa terlepas dari Dodit.
"Aku gendong ya." Dodit bergegas bangkit dari posisinya lalu tanpa aba-aba dia langsung menggendong istrinya bak seorang bayi ke dalam kamar mandi.
Dodit terkekeh melihat istrinya merenggut sebal setelah sesaat yang lalu dirinya berhasil mengajak istrinya war di dalam kamar mandi dengan alasan mandi bersama.
"Awas sana jangan dekat-dekat aku sudah ambil wudhu." Sembur Dina melihat kelakuan nackal suaminya.
"Hehehe... mau sholat mah senyum dong biar adem lihatnya." Ledek Dodit.
Tak mau larut menanggapi gurauan suaminya, Dina memilih untuk menggelar sajadah dan menyiapkan mukena nya untuk sholat. Lirikan matanya pun secara langsung meminta suaminya agar menjadi imam di depannya.
Tak lama kegiatan ibadah itu pun mereka kerjakan dengan khusyu lalu berlanjut dengan mengaji bersama. Hal ini membuat Dodit tak berhenti tersenyum karena begitu bahagia tak pernah mengira kalau sosok yang begitu menyebalkan di masa lampau itu begitu religius kini.
"Bee..." Panggil Dodit ketika melihat Dina telah selesai mengaji dan hendak melipat mukena nya.
"Hm," Sahut Dina sambil tetap melipat mukena dan sajadah yang telah ia pakai.
Grepp
"Jangan jauh-jauh dari aku." Dodit langsung memeluk erat tubuh istrinya.
"Dit," Dina ingin melepaskan diri.
"Lepas." Dina bersikeras ingin melepaskan pelukan hangat suaminya.
"Oke, aku akan lepas tapi kita tetap disini." Dodit memberikan syarat.
"Kamu gak kerja?" Tanya Dina.
"Hari ini weekend, bee..." jawab Dodit.
"Tuan besar kan ritme kerja nya gak kenal waktu." Ucap Dina.
"Oh, ada yang mau nambah kayaknya..." Dodit menggoda Dina.
"Ih, apaan sih! Males ah, kamu pikir aku cewek apaan sih?! seenaknya aja kamu!" Dina tak tahan untuk menumpahkan segala kekesalannya.
"Kamu ya istri ku, tempat ku manja-manja gini." Dodit merekatkan pelukannya.
"Aah sesak." Dina mengaduh.
"Maaf sayang, mana yang sakit? Muaacchhh..." Dodit beralibi dengan menebar kecupan di setiap tubuh istrinya yang sedang merajuk.
"Males ih sama kamu kebanyakan modus." Ucap Dina sambil bersungut-sungut sebal.
__ADS_1
"Hahaha... modus sama istri sendiri mah gak ada larangan, bee..." Dodit semakin senang menggoda istrinya.
"Istri? mau sampai kapan aku jadi istri kamu?" Dina melirik tajam ke arah suaminya.
"Selamanya dong, sayang." Sahut Dodit.
"Halah, paling biar dapat jatah aja." Dina menggigit lengan Dodit.
"Augh, sakit, bee... kamu kenapa sih dari kemarin kok marah mulu sama aku? aku tuh gak kuat bee seharian gak dengar suara kamu kayak berasa banget ada yang hilang." Ungkap Dodit.
"Ekhem," Dina berdehem merasa harus mengungkapkan semua kekesalannya agar dapat terselesaikan dengan baik.
"Bee..." Rajuk Dodit.
"Aku mau kepastian kapan drama kita harus selesai?" Ucap Dina.
"Drama? drama apaan?" Dodit menatap istrinya.
"Muna banget sih! iya drama sok sok an jadi pasutri bahagia gini. Capek tahu!" Keluh Dina sambil mengerucutkan bibirnya.
"Ngapain drama? beneran aja yuk biar gak capek pura-pura bahagia." Ucap Dodit ringan.
"Maksudnya?" Dina tak habis pikir dengan ucapan suaminya itu.
"Iya daripada pura-pura mendingan beneran aja kita jadi pasutri bahagia lahir batin." Dodit menatap lembut istrinya.
"Ya yakin? tapi nanti Rosa..." Dina sangat meragukan kesungguhan hati suaminya.
"Rosa? ke laut aja." Sahut Dodit tak mau ambil pusing.
"Ck, sekarang aja bilang ke laut nanti ketemu juga paling juga bucin nya kumat." Ketus Dina.
"Kalau aku udah micin sama kamu soalnya gurihnya udah bikin bahagia." Dodit merayu istrinya.
Semburat merah terlihat dari wajah Dina mendengar ucapan suaminya.
"Bee, aku mau kita saling bersandar satu sama lain saat kita ada masalah soalnya kalau bersandar di bahu jalan pasti di larang petugas DLLAJ." Seloroh Dodit.
"Kamu tuh kapan sih bisa serius." Gerutu Dina.
"Hehehe... please, stand by me..." Ucap Dodit penuh kesungguhan.
Lalu Dina bisa apa kalau sudah begini?
*****
Makasih untuk kalean yang selalu rajin kasih like, komen, vote dan lempar kembang jadi bikin wangi lapak ini 😘
Kopi mana kopi?
__ADS_1
Krik krik...