Mantan Jomblo

Mantan Jomblo
Panas Dingin


__ADS_3

Dina menepati janjinya untuk membantu Siska memeriksa neraca keuangan perusahaan sekaligus membantunya mengerjakan laporan.


"Wow, cepat banget cara loe selesaikan semua nya? Gue aja masih ngeraba dan bingung tapi loe..." Puji Siska yang tidak menyangka akan kemampuan Dina.


"Loe lupa apa dulu siapa murid kesayangan Pak Kalu?" Dina jumawa.


"Eh iya, dulu Rara sama elo jago banget urusan beginian. Etapi loe kalah rajin kalo ngerjain tugas pasti Genk an loe yang mikir." Cibir Siska.


"Sengaja biar mereka gak nyontek mulu, tapi gue ngumpulin tugas kok buktinya Pak Kalu ngasih nilai bagus di rapot." Dina tak mau diremehkan oleh Siska.


"Ah, itu mah loe aja yang jago ngerayu..." Ledek Siska.


"Asembarangan loe... biar muka gue santuy tapi gue tuh cum laude ManKeu UI." Ucap Dina.


"Yakin loe? Etapi emang gue gak pernah dengar kabar apapun sih tentang loe setelah kita lulus SMA." Siska tak mau langsung percaya karena dulu mereka memang tidak terlalu dekat.


"Terserah... Eh, ada vc nih dari Rara, Hilda sama Rosa." Dina memekik kegirangan mendapatkan panggilan video call gabungan. Jemari lentiknya langsung mengusap simbol warna hijau.


"Heiiii.... kenapa loe pada gak telepon gue? malah loe telepon Dina?" Siska langsung merebut ponsel dari tangan Dina karena mereka cemburu sahabatnya melewatkan dirinya.


"Sorry, gak gitu, Sis..." Ucap Rara.


"Baper loe ah... kita cuman gak mau loe nanti salting dengar obrolan kita yang dewasa. Hahaha..." Gurau Rosa tak berperasaan.


"Aku juga niatnya tadi mau telepon kamu kok, Sis..." Ucap Hilda bermaksud ingin menjaga perasaan Siska.


"Halah, loe pada emang jahad!" Dina mengompori sambil terkekeh geli.


"Din, gue mau lanjut kerja lagi ya..." Siska merengut kesal.


"Dih, jangan gitu lah iseng banget gue sendirian." Dina menarik tangan Siska yang hendak beranjak bangun dari tempat duduknya.


"Elaaahhh... loe kek baru kenal sama emak-emak aja kang rumpi." Rara bersuara.


"Iya loe mah gitu amat dah." Ucap Rosa.


Siska pun akhirnya melunak dan obrolan berlanjut membahas mengenai kehidupan keseharian mereka semua dengan diiringi canda dan tawa seperti biasanya.


"Gue bakalan pastikan kalo pasokan stok sereal campuran..." Ucapan Andri terhenti ketika dia tanpa mengetuk pintu ruangan Dodit terperangah melihat kehadiran Siska sedang tertawa lepas bersama Dina. Sebuah pemandangan indah yang lama tak dia saksikan, tetap sejenak kemudian ekspresi murka terlihat jelas dari wajahnya.


"Apa maksud loe ngajak dia disini?!" Bentak Andri.


"Loe ngomong sama siapa? sopan dikit dong ini ruang kerja." Ketus Dina yang memang sudah memperkirakan akan terjadi drama penolakan Andri.


"Dit, loe bisa jelasin?! Loe yakin dia bakalan bisa profesional kerja disini?!" Solot Andri ke arah Dodit.

__ADS_1


"Gue yang ngerengek biar laki gue kasih izin Siska kerja disini karena basic nya dia keuangan jadi bisa atasi kecurangan divisi itu." Dina maju untuk membela suaminya.


"Bee, tenang sayang... ingat kamu lagi hamil anak kita." Ucap Dodit lembut sambil mengusap perut datar istrinya.


Tindakan refleks Dodit seketika menyadarkan Andri agar menjaga suasana dan tidak bertindak impulsif. Sedetikpun dia tidak mau menatap ke arah Siska.


"Loe tenang aja gue kemarin masuk kesini sesuai prosedur kok melalui interview HRD, Pak Herman terus pengarahan dari Bu Felly. Jadi Dina cuman bantu gue dapat kerja aja, gak lebih." Siska yang sejak tadi terkejut melihat kehadiran Andri yang ternyata bekerja di perusahaan ini baru tersadar dan tidak terima kesan nepotisme yang dituduhkan oleh Andri.


"Dit, sekarang pilih gue yang angkat kaki dari perusahaan ini atau dia?!" Andri mengajukan pilihan kepada Dodit.


"Heh! Loe Jan jadi pelakor ya di rumah tangga gue? sampai kapanpun Dodit cuman bakalan pilih gue. Siska kerja disini sesuai aturan kok dan gue jamin dia juga males ketemu sama elo!" Bentak Dina bak singa mengaum tak mau suaminya memilih sosok lain selain dirinya.


"Aaarrrgghhh! gue gak bandingkan loe sama gue buat di pilih laki loe." Andri menggusar rambutnya kesal.


"Cemen banget loe sekarang masa ketemu mantan aja lemah. Laki gue dong keren dia gak bisa bersanding sama Rosa tapi jiwa besar mau jadi tamu undangan nya pas nikahan Rosa sama Samudra." Sindir Dina setengah memuji masa lalu suaminya.


"Bee, udah lah gak usah di tanggapi emosi. Yuk, kita langsung cek kandungan kamu aja. Dri, gue cabut ya?" Dodit tak mau ambil pusing dan malah mengajak sang istri untuk keluar ruangan.


Suasana canggung yang tercipta setelah suami istri itu meninggalkan ruangan tampak dari Andri dan Siska. Wajah kesal Andri dan ekspresi tak terbaca Siska mendominasi.


"Loe gak ngusir gue? Gue nunggu di usir nih." Ucap Siska telak karena ingin meminta kepastian... iya, kepastian apakah dia masih tercatat sebagai karyawati divisi keuangan atau otomatis di pecat mengingat posisi Andri sebagai tangan kanan bos besar.


"Terserah..." Lirih Andri.


"Beuh, tadi aja galak bener. Jadi gue masih aman ya kerja disini? awas aja kalo gue udah kerja capek-capek tapi nanti gak di gaji karena loe sentimen." Ucap Siska.


"Dina yang minta. Loe tadi kan dengar sendiri apa alasannya." Ucap Siska.


"Ck, nganter nyawa loe kerja disini." Decak Andri.


"Apa maksud loe?" Desak Siska.


"Loe hati-hati aja jangan sembarang ngomong cewek mulut comberan." Dengus Siska.


"Dih, udah hilang tuh sikap manis loe ke gue waktu minta nikah sama gue? dasar boncabe." Siska terpancing emosi mendengar julukan lama nya terucap dari bibir Andri.


"Loe gak pantes gue perlakuan manis." Ucap Andri.


"Gue juga gak butuh ya perlakuan manis dari loe. Ngeri diabetes gue." Dengus Siska yang melangkah ke arah pintu dan menghilang dari pandangan Andri.


Andri nyaris mengulum senyumnya karena sejak dulu memang begitulah hubungan mereka, panas dingin.


@ Kediaman keluarga Eyang Soeroso


Sepasang insan yang sedang tertawa riang di bangku taman itu tidak memperhatikan dari balik jendela ruang tamu seorang pria seumuran mereka mengamati gerak-gerik pasangan itu.

__ADS_1


Segera ketika salah satunya masuk ke dalam ruang sosok itu mendekati ke arah tempat tersebut. Langkahnya ternyata memancing perhatian sehingga senyuman menyambutnya.


"Mas Pandu tumben di rumah." Panji berbasa-basi.


"Hm, aku baru tadi pagi pulang seminar dari Padang." Jawab Pandu.


"Wah, sibuk sekali rupanya Pak dosen kita." Panji merangkul bahu Pandu.


"Ji, kamu sendiri?" Agak ragu pertanyaan itu dia ucapkan.


"Umm, aku..." Panji kesulitan mencari alasan yang tepat. Otak cerdasnya tak berfungsi.


"Mas tidak pernah mencampuri apapun urusan mu, hanya saja tidak pantas kalau terlalu sering kamu meninggalkan urusan kantor demi bisa ngobrol berdua adikmu disini." Pandu sengaja tida menyebutkan nama Yola melainkan adikmu agar Panji lebih menyadari status persaudaraan dia antar mereka.


"Telinga ku panas, mas." Ucap Panji


"Panas?" Ulang Pandu.


"Iya telinga ku panas mendengar semua perintah bapak yang ndak sesuai keinginan ku." Aku Panji.


"Hahaha... kenapa kamu tidak jujur saja." Pandu tertawa mendengar jawaban tak terduga dari bibir Panji.


"Mustahil. Mas Pandu seharusnya yang berada di posisi aku tetapi mas memilih menjadi dosen. Sementara aku satu-satunya harapan bapak menjadi penerus perusahaan." Panji memang sejak kecil sangat dekat dengan Pandu sehingga ringan saja baginya mengakui apa yang dia rasakan.


"Huft, kita tidak pantas meributkan harta dan tahta yang memang bukan milik kita sendiri." Ucap Pandu disertai hembusan nafas kasar.


"Cucu kesayangan Eyang tidak boleh seenaknya mengambil apa yang menjadi milik kita sejak awal." Panji mengetatkan rahang nya menunjukkan seberapa dalam rasa tidak sukanya kepada Dodit.


"Mas rasa Dodit tak pantas kita perlakukan buruk. Hidupnya selama ini dihabiskan dengan menjauh dari keluarga kita hanya karena tak mau di anggap sebagai pencuri perhatian Eyang." Ucap Pandu yang bersikap obyektif.


"Tapi aku tidak rela kalau dia menguasai harta Eyang." Panji tersulut.


"Kamu tidak tahu saja kalau dia punya kesempatan pasti akan dia lakukan untuk melepas harta dan tahta keluarga Eyang Soeroso." Ucap Pandu.


"Impossible. Adik kandung mas itu aku atau Dodit?" Protes Panji yang tak bisa berpikir jernih lantaran tak satu frekuensi.Mungkin sinyal penghantar rasa kemanusiaan miliknya terhalang oleh ambisi sang bapak.


"Mas, tidak mau kehidupan mu hanya disia-siakan oleh ambisi yang ndak semestinya." Pandu menepuk pelan bahu Panji.


"Ekhem, Ji, apa bapak sudah memberitahu mu kenyataan kalau... kita ini sebenarnya bukan cucu kandung Eyang Soeroso?" Pandu agak ragu mengatakan hal ini.


"A apa? mas jangan asal bicara..." Panji tak percaya dengan ucapan Pandu.


"Hm, sudah ku duga kamu belum tahu. Mas tahu ini karena ndak sengaja pernah dengar bapak dan Eyang putri membahas ini. Intinya mereka tetap mau mempertahankan harta yang ada bahkan kalau perlu semua milik Eyang Soeroso menjadi milik kita." Pandu menghembuskan nafasnya kasar.


Panji terdiam dan hatinya terasa sakit karena secara tidak langsung dia menyadari apa yang selama ini dilakukannya adalah suatu kesalahan besar. Ego dan akal sehatnya bertarung hebat panas dingin.

__ADS_1


******


up di jam Kunti gini ada yang baca gak ya? 🤭😂


__ADS_2