Mantan Jomblo

Mantan Jomblo
Mendapatkan Restu


__ADS_3

Hal yang lebih menakutkan dari tiba-tiba di suruh maju mengerjakan soal matematika adalah bertemu dengan keluarga pasangan hidup mu.


~ Dina yang sedang gugup ~


Dodit menggenggam tangan Dina yang dingin sambil melangkah memasuki rumah keluarga Eyang Soeroso. Dodit tahu Dina sangat gugup karena ini pertama kalinya ia mengenalkan keluarganya kepada Dina. Tidak tanggung-tanggung ia bahkan langsung mengenalkan Dina kepada keluarga besar nya yang terkenal tajir melintir.


"Mas, tunggu bentar." Ucap Dina memelas sambil menahan tangan Dodit yang hendak membuka pintu rumahnya. Dodit menolehkan kepalanya menatap Dina.


"Gu... A aku beneran gugup mas, kalau mereka gak suka sama aku gimana?" Tanya Dina dengan mata berkaca-kaca. Hampir saja ia kelepasan menyebut dirinya gue.


Dodit hendak tertawa melihat ekspresi istrinya tetapi dia harus menahannya karena Dina membutuhkan dukungannya. Ya biar pun cuma drama tapi kan harus maksimal sempurna.


"Mereka pasti akan menerima kamu. Kamu itu istriku. Bapak, ibu, sepupuku tadi saja sudah pasti menerima kamu. It's okay, cukup jadi dirimu sendiri. Percaya kan sama mas?" Dodit menatap Dina tepat di manik mata istrinya itu. Walau masih memiliki keraguan tetapi Dina menganggukkan kepalanya karena dia memercayai Dodit tidak akan meninggalkan dirinya sendirian di kandang macan seperti ini.


"Ayo masuk, mas akan nemenin kamu." Ajak Dodit lembut.


"Aku pasti akan di terima kan mas?" Tanya Dina yang langsung di jawab anggukan dari Dodit tanpa berpikir dua kali.


"Tenang aja, mereka gak punya pilihan menolak perempuan yang sudah terlanjur jadi istri ku ini." Kelakar Dodit yang langsung membuat Dina memukul lengan Dodit lalu kemudian mereka tertawa.


Begitu Dodit membuka pintu kehebohan langsung terdengar. Siapa lagi kalau bukan suara ibu dan Ningrum, budhe nya yang menyambut kedatangan mereka.


Sebenarnya di dalam relung hati Ningrum, budhe Dodit terbersit rasa kecewa karena Dodit tidak mau menikahi putrinya, Yola tetapi tidak ada yang bisa menolak takdir cinta. Pengalaman dirinya di masa muda yang tidak mendapatkan restu kedua orangtuanya hingga melarikan diri ke kota dan berakhir meninggalkannya sang suami lalu dengan penuh rasa malu ia kembali lagi ke rumah ini membuatnya tak ingin mempermasalahkan hal itu. Ia juga berharap kelak Yola akan mendapatkan jodoh yang sesuai dengan hatinya.


"Dina." Panggil Hani, ibunda Dodit kepada menantunya.


"Anak ibu tuh gugup mau ketemu keluarga Eyang Soeroso sampai hampir nangis di depan." Adu Dodit dan dengan santainya dia pergi meninggalkan Dina


Katanya mau nemenin?! Gumam Dina kesal, rasanya ia ingin melempar flatshoes yang dipakainya ke kepala Dodit. Dan Dina menyesal kenapa tadi tidak memakai high heels saja tadi?


"Ayo, Dina harus bisa mendapatkan hati eyang putri. Jawab semua pertanyaan yang diajukan eyang putri." Hani menyemangati menantunya.


"Tapi Bu, Dina gak bawa apa-apa." Ucap Dina meremas tangannya gugup. Hani tertawa.


"Siapa bilang? Dodit sudah mengirimkan kain songket buat eyang putri. Sebentar Ibu ambilkan." Ucap Hani kemudian berlalu pergi.


Dina termangu di tempatnya. Kain songket? Ah, Dina langsung tersadar kalau raja drama alias suaminya itu pasti sudah mempersiapkan segalanya demi kelancaran drama ini.


"Nah, Dina pegang ini. Ayo ketemu eyang putri di ruang keluarga." Ajak Hani


Dina mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Dodit, namun nihil.


Si al, ingatkan aku untuk menimpuknya nanti.


Duduk di antara gadis yang berusaha menarik perhatian wanita sepuh yang kini duduk di kursi malas membuat Dina merasa tak nyaman apalagi Ibu tadi sempat menyebutnya Sang Kanjeng Ratu itu seolah tak perduli.


Dina menghela nafas, sekarang gilirannya. Gadis sebelumnya yang merupakan kekasih salah satu sepupu Dodit nyaris putus asa.

__ADS_1


"Eyang apa kabar? Sehat?" Tanya Dina lembut lalu duduk di depan kaki sang kanjeng ratu. Wanita sepuh itu menoleh sekilas lalu menganggukkan kepalanya sekali.


Oke, setidaknya ada respon walaupun baru sebatas anggukan kepala.


"Eyang suka kain songket gak? Saya bawa oleh-oleh kain songket untuk eyang." Ucap Dina kemudian ia mengeluarkan kain songket dari tote bag nya. Eyang putri menolehkan kepalanya menatap kain songket yang kini terbentang di pangkuannya.


Tangannya mengelus permukaan kain songket itu kemudian beliau menatap Dina yang tersenyum santai.


"Kamu bisa masak?" Suara lembutnya keluar. Itu yang pertama kali Dina tangkap.


Dina menganggukkan kepalanya. Tentu saja bisa apalagi semenjak Mama nya tiada ia lah yang harus memasak untuk babeh dan adiknya di rumah.


"Kalau bisa berarti kamu bisa membedakan jahe, kunyit, lengkuas dan temulawak." Itu pernyataan, bukan pertanyaan. Sosok itu pun berdiri dari kursi malas nya dan beberapa gadis yang entah itu tulus atau modus membantunya.


Dina ikut berdiri dan mengikuti langkah eyang putri menuju dapur di susul gadis-gadis yang masih berusaha mencari perhatian eyang putri.


Hani ikut melangkah, entah apalagi yang akan dilakukan oleh ibu nya yang selalu menguji semua calon istri cucu-cucunya.


"Bisa kami bedakan? Tanya eyang putri sambil menaruh empat buah rempah yang terlihat sama ke atas meja makan.


Dina tersenyum, tentu saja ia tahu karena sejak kecil Mama nya selalu mengajarinya. Kemudian dengan santainya Dina menjelaskan perbedaan keempat rempah yang terlihat sama itu bahkan sampai menjelaskan manfaat dari keempat rempah itu.


"Nama kamu siapa?" Tanya eyang putri.


"Amalia Faradina." Jawab Dina.


"Terimakasih, eyang." Jawab Dina sambil tersenyum.


"Kamu tahu masakan khas Jawa?" Tanya eyang putri.


Dina mengerjapkan matanya bingung. Yang dia tahu hanya memasak lauk untuk makanan nya saja.


"Saya belum tahu eyang, nanti saya bisa bela..." Dina menyahut ragu


"Bagus, kita akan masak bersama dan bersama ibu nya Dodit juga. Itu akan menjadi hari yang akan menyenangkan." Eyang putri alias Ambar tentu saja merestui pernikahan Dodit dan Dina karena ia masih berat jika kelak garis keturunannya harus terhubung dengan Dodit apabila Yola yang menjadi istri Dodit.


Sebagai istri yang tidak di cintai oleh suaminya Ambar harus selalu tampil ramah dan menyenangkan semua anak cucunya agar semuanya berpihak kepada dirinya.


"Mana anak nakal itu?" Ambar melangkah meninggalkan dapur untuk mencari keberadaan Dodit.


Hani merentangkan tangannya. "Selamat datang di keluarga besar eyang Soeroso, nak."


Dina tersenyum lega dan memeluk Hani dengan erat. Tanpa terasa air matanya menetes karena terharu bisa merasakan kembali kehangatan pelukan seorang ibu.


"Biasanya akan sulit sekali menarik perhatian eyang putri. Kamu memang anak baik nduk, makannya bisa secepat ini. Ibu senang sekali." Ucap Hani.


Dina mengangguk dan ia lebih senang dan tak menyangka akan langsung di terima oleh eyang putri.

__ADS_1


Dodit yang sedang menggendong Jasmine, keponakannya menolehkan kepalanya saat mendengar Sang Kanjeng Ratu memanggil namanya.


"Kenapa eyang?" Tanya Dodit lembut kemudian ia mencium wajah Jasmine yang kegelian dan berusaha mendorong wajah Dodit menjauh.


"Cepat kamu antar istri mu ke butik keluarga kita untuk memastikan ukuran gaun pengantin nya." Titah eyang putri.


Ucapan eyang putri membuat senyum di wajah Dodit terbit dan dia berhenti menciumi wajah Jasmine.


Dodit melangkah menuju ruang tamu dan sempat bersitatap dengan eyang putri yang kembali di kerumuni oleh para calon istri sepupunya.


Dina tersenyum lebar menatap Jasmine dan gadis kecil itu langsung merentangkan tangannya meminta di gendong.


"Halo sayang, nama kamu siapa? Kamu ngegemesin banget sih?" Ucap Dina lalu ia mencium kedua pipi Jasmine yang montok.


"Aunti cantik kayak plinces Aulola." Celetuk Jasmine yang sudah masuk sekolah Kelompok Bermain Bilingual.


Dina tertawa dan ia memeluk Jasmine dalam gendongannya.


"Jasmine juga cantik kayak princess Jasmine." Puji Dina yang langsung di balas anggukan oleh Jasmine.


"Kata uncle Dimas juga Jajas cantik, tapi katanya milip pelayan nya plinces, dan Aunty Tali jadi plinces Jasmine nya." Ucap Jasmine yang di sambut gelak tawa keluarga Soeroso.


Setelah bermain dan makan siang bersama, Dina pamit masuk ke dalam kamar di antar oleh Dodit.


"Mm, sebenarnya tadi aku mau marah sama kamu mas." Ucap Dina saat mengingat bagaimana tadi Dodit meninggalkan dirinya begitu saja tadi pagi. Dodit menolehkan kepalanya.


"Kok marah?" Tanya Dodit bingung.


"Kamu tadi ninggalin aku. Katanya mau nemenin? Bohong banget." Ucap Dina.


"Kan tadi disitu perempuan semua, yang ada juga nanti malah aku yang di uji sama eyang. Aku kan enggak pernah tahu rempah-rempah." Jawab Dodit. Dina melengos tak percaya. Tukang ngeles.


"Kalau gitu aku mau minta hadiah." Ucap Dina sambil bersedekap.


"Kalau mau minta hadiah ya tinggal minta gak usah pake marah." Gumam Dodit.


Dina mendorong bahu Dodit dengan kesal. "Aku emang beneran kesal tadi!" Jawab Dina yang mendengar gumaman Dodit.


Dodit menepuk puncak kepala Dina dengan lembut.


"Iya maaf ya mas tadi gak nemenin. Jadi kamu mau hadiah apa?" Dodit menolehkan kepalanya kepada Dina.


"Es krim!" Jawab Dina antusias.


Dan demi apapun, jantung Dodit berdetak kencang melihat binar di mata hitam pekat Dina, dan senyuman yang tersungging lebar hingga memperlihatkan kedua lesung pipinya yang selama ini tersembunyi karena Dina tak pernah tersenyum selebar itu.


"O oke, kita beli es krim." Ucap Dodit yang sedikit gugup membuat Dina bersorak riang. Dodit tersenyum dan Dina membalas tersenyum.

__ADS_1


__ADS_2