
Keesokan paginya
Pasangan pengantin baru awkward itu menghabiskan sarapannya dalam suasana hening lantaran memang sudah lewat dari waktu nya. Iya, mereka kini sarapan di atas jam 9 pagi, jadi jelas para penghuni rumah ini sudah menyelesaikan sarapannya sejak tadi.
Jangan tanyakan mengapa mereka terlambat karena Dodit lah penyebabnya. Dengan alasan sebagai istri Dina harus mengenal baik adik kandung Dodit.
Mereka berjalan dengan tangan yang saling menggenggam keluar kamar.
"Kok sepi?" Dina celingukan mencari sosok penghuni rumah yang tak terlihat di meja makan.
"Hehehe... kita kan keluar kamar udah lewat waktu sarapan." Dodit tertawa.
"Gara-gara e..." Dina hampir menyalahkan suaminya dan mengucapkan sebutan elo kepada Dodit.
Cup
"Satu huruf satu ciuman jadi kalau kamu keseringan lupa tinggal di hitung aja berapa ciuman yang bakalan aku kasih, istri ku." Dodit sumringah.
"Haduuuhhh... kenapa jadi makin gesrek sih?" Keluh Dina akan kelakuan Dodit.
"Lho, kan emang udah dari dulu." Ucap Dodit.
"Oh iya lupa." Sahut Dina seraya membolakan matanya jengah.
"Maaf Den, saya siapkan lagi makanan nya untuk sarapan." Mbok Darmi yang sejak tadi menunggu kedatangan majikannya itu terpaksa menyela pembicaraan mereka yang sudah duduk di meja makan.
"Eh iya Mbok, makasih ya." Ucap Dodit.
"Ah, Den Dodit ini kan memang sudah menjadi tugas si mbok." Ucap Mbok Darmi.
"Mbok, yang lain pada kemana?" Tanya Dodit mencari keberadaan keluarganya.
"Libur seperti ini semua ada di ruang keluarga, den." Jawab Mbok Darmi.
"Wah iya lupa. hehehe..." Dodit menyadari telah melupakan kebiasaan keluarga besar Eyang Soeroso kala libur akhir pekan.
__ADS_1
Sudah menjadi kebiasaan rutin keluarga Eyang Soeroso akan menghabiskan kebersamaan keluarga mereka di waktu weekend, terlebih seminggu lagi adalah acara pelaksanaan resepsi pernikahan Dodit dan Dina di rumah utama.
Suasana di ruang keluarga Eyang Soeroso terlihat sudah ramai oleh semua anggota keluarga besar. Yola yang seharian kemarin tak terlihat kini memaksakan diri agar tidak terkesan menghindar dari masalah, mengikuti saran Ningrum.
Jasmine sebagai cicit satu-satunya di keluarga Eyang Soeroso menjadi bintang utama nya. Tingkah polah lucu nan menggemaskan balita yang memiliki pipi chubby itu begitu menghibur siapa saja yang melihatnya.
"Aunti Plinces Aulola!" Teriak Jasmine ketika melihat kedatangan Dina bersama Dodit bergabung setelah menghabiskan sarapan mereka berdua.
"Hai princess Jasmine..." Dina balas menyapa dengan senyum lebarnya sambil melambaikan tangannya ke arah Jasmine.
"Ma, Jajas mau dudu ama Aunti." Jasmine merengek kepada Mama nya.
"Sayang..." Pandu ingin menolak keinginan putrinya karena belum akrab dengan Dina namun Jasmine malah ingin selalu berada di dekat Dina.
"Jajas mau sama aunti? Sini." Dodit si penyayang balita langsung mengulurkan tangannya ingin menggendong Jasmine dari pangkuan Pandu.
"Hm, kayaknya ada yang ndak sabar mau segera nih..." Gurau Pandu mengomentari sikap Dodit.
"Tunggu tanggal mainnya, calon keponakan idaman lagi Otw. Hehehe." Sahut Dodit ringan.
"Oke, jangan jauh-jauh ya nanti aku rindu." Gombal receh pun keluar dari mulut Dodit.
"Tunggu Jajas pake dulu lotion nya biar gak di gigit nyamuk." Amara sang Mama siaga mengoleskan lotion anti nyamuk secara menyeluruh terlebih dahulu ke kulit putri nya, Jasmine.
"Iya, enggak akan lama, mas." Sahut Dina berusaha tetap tampil lembut kepada Dodit.
"Ck, umum banget panggilan nya, Mas. Dit, ajarin panggilan nya yang mesra dong. Aku panggil Mama nya Jajas honey, kamu juga jangan mau dong sama panggilan nya dengan yang lain, harus spesial." Pandu memandu Dodit agar memanggil mesra istrinya.
"Hm, Bee..." Dodit tiba-tiba terinspirasi ingin memanggil istrinya Bee. Ia pun langsung tertarik untuk mempraktekkan panggilan Bee untuk istrinya itu.
Dina yang awalnya terkejut lalu menetralkan dirinya bahwa ia harus memasang wajah semanis madu dalam kondisi apapun kepada suaminya di depan keluarga besar Eyang Soeroso.
"Iya Mas." Jawab Dina lembut.
"Dek Dina kenapa gak di sahuti lagi, iya bee, gitu lho. Hehehe." Kelakar Pandu mencairkan suasana seperti biasanya.
__ADS_1
"Mas Dodit kayaknya harus pasang alat peredam suara deh. Aku ngeri malam-malam dengar ada yang kaget sama yang lengket-lengket." Keluh Dimas si tetangga kamar sebelah kanan Dodit yang tak tahu tempat dan situasi kala berbicara.
"Eh, apa Ma yang engket?" Tanya Jasmine memancing semua orang menjadi salah tingkah terutama sang tersangka, Dodit.
"Mm, itu Om Dimas semalam minum teh celup malah tumpah katanya di kamar jadi lengket banyak semut." Otak licin Dodit berhasil menemukan alasan yang bisa di terima akal Jasmine.
Dimas pun merah padam wajahnya karena menjadi kambing hitam dalam penjelasan Dodit.
"Jajas, yuk Mama temenin juga deh ke taman." Amara yang merasa jengah dengan topik pembicaraan para pria itu pun memilih untuk mengikuti putrinya bersama Dina ke taman di samping rumah utama.
Tak lama Dina bersama Jasmine dan di temani Amara berjalan meninggalkan para pria yang masih asyik melempar candaan.
"Dit, menang berapa ronde semalam?" Pancing Pandu yang mendapat tatapan tajam dari Eyang Soeroso.
Ya, di antara semua cucu Eyang Soeroso hanya Pandu, Dodit dan Dimas yang sering bergurau. Eyang Soeroso selaku yang di tua kan merasa malu dan selalu mengatakan tidak pantas membicarakan urusan ranjang selain dengan pasangan sendiri.
"Sudah." Eyang Soeroso mengingatkan cucunya agar tidak bercanda berlebihan.
"Dodit, kamu hari ini sama istri mu langsung ya ukur cincin pernikahan kalian di tempat Pakdhe Darmo." Soeroso mengingatkan Dodit.
"Inggih, Eyang." Dodit menjawab lembut sambil menganggukkan kepalanya.
"Pak, mereka kan sudah resmi menikah jadi sebaiknya tidak perlu dibuatkan acad resepsi..." Bambang si anak pertama Eyang Soeroso keberatan dengan rencana Eyang Soeroso.
"Dodit ini cucuku jadi kedudukannya sama dengan semua cucuku yang lain." Soeroso bersikeras.
"Eyang..." Dodit merasa risih dengan sikap yang selalu menganakemaskan dirinya.
"Menurut ku resepsi di rumah utama keluarga ini jauh kalah mewah dengan resepsi kedua anakmu di hotel kelas satu negeri ini." Rahang Eyang Soeroso tampak mengeras.
"Bambang ini hanya..." Ambar ingin membela putra kesayangannya.
"Dodit, pastikan setelah acara resepsi mu nanti kamu harus mau memilih salah satu anak perusahaan Eyang untuk kamu kelola." Ucap Eyang Soeroso.
"Bapak..." Bambang menekan sofa yang sedang ia duduki.
__ADS_1
"Ini tradisi keluarga karena siapapun nantinya yang sanggup memajukan anak perusahaan dalam waktu lima tahun akan menjadi pewaris tahta keluarga ini." Ucap Soeroso tegas tanpa memperdulikan Bambang yang memilih pergi meninggalkan ruang keluarga dengan penuh rasa kesal.